KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Terbongkarnya Identitas Manager Keuangan Lama


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Di kediaman Darren tampak ramai dimana semua anggota keluarga tengah berkumpul, kecuali Erica yang sudah tidur dan ditemani oleh kelima adik laki-lakinya Darren.


Setelah selesai makan malam bersama, mereka semua memutuskan untuk berkumpul di ruang tengah.


"Papa," panggil Darren.


Mendengar panggilan dari putra kesayangannya itu, Erland langsung menoleh. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Iya, sayang."


"Ini." Darren memberikan sebuah map berwarna merah kepada ayahnya.


"Apa ini sayang?" tanya Erland.


Darren tersenyum. "Papa lihatlah sendiri. Nanti Papa akan tahu."


Mendengar jawaban dari putranya, Erland hanya menurut saja sembari menerima map yang diberikan oleh putranya itu.


Erland membuka map tersebut. Setelah map itu terbuka, Erland pun membaca isinya.


Seketika Erland membelalakkan matanya ketika mengetahui satu fakta yang tertulis dalam map itu.


Melihat keterkejutan ayahnya membuat Davin dan Andra penasaran. Keduanya berpindah duduk di samping ayahnya itu.


Baik Davin maupun Andra memiringkan kepalanya ke sampai agar bisa ikut membaca isi dari map itu.


"Brengsek! Ternyata dia yang selama ini melakukan kecurangan di perusahaan," ucap Davin marah.


"Dasar perempuan murahan," umpat kesal Andra.


"Perempuan itu selama ini menggunakan data diri palsu dan berhasil meraup keuntungan besar dari perusahaan Papa," sahut Darren.


"Nama asli dari mantan Manager Keuangan Papa itu adalah Carlita Agatha Charly," ucap Darren lagi.


"Jadi perempuan itu berasal dari keluarga Charly?" tanya Evan.


"Iya, Paman Evan."


"Papa pasti akan lebih terkejut lagi jika aku menyampaikan hal ini," ujar Darren dengan tatapan matanya menatap wajah ayahnya.


"Apa itu, sayang? Katakanlah," ucap Erland.


"Dari hasil menipu di perusahaan Papa. Perempuan itu sekarang telah berhasil mendirikan satu perusahaan yang bergerak di bidang tekstil. Perusahaannya itu sudah cukup terkenal. Nama perusahaannya adalah CHA'Ly Corp."


"Bukan itu saja, perusahaan keluarganya dulu sempat berhenti beroperasi. Dan sekarang perusahaan itu sudah kembali berjaya. Semua itu mereka dapatkan dari hasil menipu di perusahaan Papa."


Mendengar informasi dari Darren mengenai mantan Manager Keuangannya dulu membuat Erland benar-benar terkejut. Begitu juga dengan Davin dan Andra.


Erland, Davin dan Andra tidak menyangka bahwa selama itu, perempuan tersebut telah menipunya mentah-mentah.


"Ren," panggil Andra.


"Iya, kakak Andra."


"Bukannya kecurigaan kamu ada dua pengkhianat di perusahaan. Satu pengkhianat lagi siapa? Apa dia?" ucap dan tanya Andra.


"Dia?" tanya balik Darren dan anggota keluarga bersamaan.


Darren menatap lekat wajah kakak keduanya itu.


"Dia siapa maksud kakak Andra?" tanya Darren.


"Soviana, bagian Divisi." Andra menjawab pertanyaan dari adiknya.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Andra membuat mereka semua menatapnya, terutama Erland dan Davin.


"Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu, sayang?" tanya Erland.


"Kamu curiga sama Soviana? Apa alasan kamu?" tanya Davin.


"Aku curiga sama dia karena sifatnya yang buruk," jawab Andra.


"Hanya karena sikapnya yang buruk, kamu langsung curiga kalau dia pengkhianat?" tanya Davin.


"Iya," jawab Andra.


"Kenapa kamu bisa mencurigai Soviana?" tanya Erland.


"Karena aku melihat sifatnya yang tak menyukai hasil kerja dari Kathleen Johnson sebagai Manager Keuangan baru," jawab Andra.


Mendengar jawaban dari Andra sembari menyebut nama Kathleen Johnson membuat mereka semua makin penasaran.


"Apa yang sudah dilakukan oleh Soviana terhadap Kathleen, kakak Andra?" tanya Darka tiba-tiba.


Andra menatap wajah adik keenamnya itu. Dapat Andra lihat dari sorot matanya terlihat amarah disana.


Andra mengeluarkan ponselnya, lalu membuka sebuah video. Setelah itu, Andra memperlihat video itu kepada ayahnya.


"Coba Papa lihat ini."


Erland mengambil ponsel putranya itu, lalu melihat sebuah video disana.


Setelah selesai menonton video itu, Erland meletakkan ponsel Andra di atas atas meja.


"Kenapa Soviana bersikap seperti itu kepada Kathleen? Apa dia merasa tersaingi dengan Kathleen?" tanya Erland pada dirinya sendiri.


Mendengar pertanyaan dan melihat wajah sedih ayahnya membuat Andra dan saudara-saudaranya ikut merasakan kesedihan yang sama.


"Kakak Davin. Berikan ponselnya kakak Andra padaku. Aku juga ingin melihatnya," ucap Darka.


Davin memberikan ponsel Andra kepada Darka. Dan Darka menerima ponsel tersebut.


Baik Darka maupun Gilang melihat secara bersamaan video yang ada di dalam ponsel Andra.


Dan detik kemudian...


"Dasar perempuan sialan. Sama-sama berstatus pegawai di perusahaan, tapi kelakuannya sudah seperti anak pemilik perusahaan saja," ucap Darka marah.


"Kau benar, Darka. Aku saja jijik melihat perempuan itu. Coba saja lihat bagaimana cara dia berbicara dengan Kathleen. Ditambah lagi cara berpakaiannya. Pakaiannya itu tak sesuai dengan apa yang sudah ditentukan oleh perusahaan. Bahkan cara dia menatap Kathleen saja seakan-akan merendahkan."


Gilang berbicara sembari matanya tak lepas menatap Soviana yang berbicara dengan Kathleen di dalam video itu.


Mendengar perkataan dan nada marah Darka dan Gilang membuat mereka semua menatap kearah keduanya. Mereka semua tahu bahwa Darka sangat menyukai Kathleen.


Sementara Gilang adalah orang yang akan selalu memberikan dukungan kepada saudara-saudaranya.


Gilang adalah orang pertama yang akan merasakan kebahagiaan jika melihat salah satu saudaranya menyukai seseorang.


Dan Gilang akan berada di garda depan jika ada seseorang yang menyakiti orang yang disukai oleh saudara-saudaranya itu.


Sifat Darka dan Gilang itu hampir sama dengan sifat yang dimiliki Darren. Baik Darka, Gilang maupun Darren memiliki sisi kejam jika sudah menyangkut orang-orang yang disayanginya. Ketiganya akan langsung memberikan pembalasan kepada orang yang telah mengusik orang-orang terdekatnya.


Darren yang sedari tadi diam dan memperhatikan sekitarnya seketika bersuara. Darren tahu suasana sudah tidak mengenakkan setelah membahas tentang pengkhianat yang ada di perusahaan ER.


"Masalah karyawan yang bernama Soviana itu, kecurigaan kakak Andra tidak tepat. Soviana bersih. Dia tidak berkhianat," sahut Darren dengan mengalihkan tatapan mata kedua kakak kesayangannya itu dari layar ponsel milik Andra.


Mendengar perkataan dari Darren. Mereka semua menatap wajah Darren intens terutama Erland, Davin dan Andra.

__ADS_1


"Kamu yakin, Ren?" tanya Davin.


"100% yakin, kakak Davin."


"Lalu siapa pengkhianat satunya lagi, Ren?" tanya Dzaky.


"Dia seorang laki-laki. Dan laki-laki itu ada hubungannya dengan Carlita, mantan Manager Keuangan yang lama."


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua terkejut.


"Siapa dia, sayang? Katakan pada Papa," sahut Erland.


"Untuk masalah ini. Serahkan padaku. Biarkan aku yang menanganinya. Aku sudah mengatur semuanya dengan baik," ucap Darren.


"Apa rencana kamu, sayang?" tanya Erland.


Darren tersenyum mendengar pertanyaan dari ayahnya. "Yang jelas laki-laki itu akan masuk ke dalam permainannya sendiri," jawab Darren.


"Jadi kamu sudah tahu siapa dia? Dan kamu juga sudah tahu apa rencananya?" tanya Darka dengan menatap wajah adik laki-lakinya itu.


"Hm!" Darren menganggukkan kepalanya.


"Lalu bagaimana dengan Carlita, mantan Manager Keuangan itu? Kita tidak akan membiarkan perempuan itu begitu sajakan?" tanya Carissa.


"Bibi tenang saja. Seperti yang aku katakan barusan. Sebentar lagi mereka akan hancur," jawab Darren.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat mereka semua tersenyum bangga. Mereka tidak menyangka bahwa Darren sudah merencanakan semuanya.


Erland berdiri dari duduknya, lalu melangkah menghampiri putra bungsunya dari Belva.


Setelah itu, Erland duduk di samping putranya itu.


Dan detik kemudian...


Grep!


Erland memeluk tubuh putranya itu dengan erat.


"Terima kasih, sayang! Papa benar-benar bahagia dan bersyukur memilikimu dalam hidup Papa. Tanpa Papa ketahui, kau sudah menyiapkan semuanya."


Mendengar perkataan dan ucapan terima kasih dari Ayahnya membuat Darren tersenyum.


"Papa adalah Papaku. Aku akan melakukan apapun untuk melindungi milik Papa. Aku tidak akan membiarkan siapa pun untuk merebut apa yang sudah Papa raih selama ini."


Erland tersenyum bahagia ketika melihat mendengar jawaban dari putranya.


Erland berlahan melepaskan pelukannya. Setelah pelukannya terlepas, Erland menatap wajah tampan putranya itu.


Tangannya membelai kedua wajah putranya dan juga pucuk kepalanya sehingga memperlihatkan kening putih putranya. Kemudian Erland mengecup keningnya itu.


"Papa sayang kamu. Tetaplah sehat."


"Aku juga sayang Papa. Papa juga. Tetaplah sehat."


Melihat interaksi antara Erland dan Darren membuat semuanya tersenyum bahagia.


Bukan hanya Erland saja yang bangga akan kepintaran Darren. Mereka semua juga bangga akan kepintaran dan cara kerja Darren.


"Tetaplah sehat, Ren! " batin para kakak-kakanya.


"Tetaplah sehat. Dan berbahagialah, sayang!" batin Agneta.


"Kami menyayangimu," batin Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian.

__ADS_1


__ADS_2