KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Air Mata Davin


__ADS_3

Darren dan ketujuh sahabatnya saat ini berada di tempat kerja masing-masing. Setelah selesai mengikut materi kuliah yang terakhir, mereka memutuskan untuk menuju kantornya.


Darren, Qenan dan Willy ke perusahaan Accenture. Darel dan Rehan ke DARREN GALERY OF ART. Sedangkan Jerry, Axel dan Dylan ke bengkel mobil untuk mengerjakan mobil baru.


Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya sengaja langsung meninggalkan kampus setelah selesai mengikuti materi kuliahnya, karena mereka tidak ingin bertemu dengan sang rektor. Apalagi ketujuh sahabatnya.


Hampir setiap hari rektornya itu meminta mereka menghadap. Dan hampir setiap hari mereka diminta untuk membujuk Darren agar Darren mau memberikan kesempatan padanya dan kembali menjabat sebagai ketua organisasi kampus.


Di lokasi dan di tempat yang berbeda namun waktu yang sama. Darren dan ketujuh sahabatnya tampak sibuk.


Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Semua pekerjaan yang mereka kerjakan adalah semuanya kejar target.


Darren, Qenan dan Willy tengah menyelesaikan proposal dan beberapa berkas untuk proyek besar lima hari lagi.


Darel dan Rehan tengah mempersiapkan lukisan-lukisan baru untuk acara pameran satu minggu lagi.


Jerry, Axel dan Dylan tengah memodifikasi mobil baru mereka yang telah diselesaikan oleh Darren beberapa hari yang lalu. Mereka hanya menyelesaikan sisanya.


Beberapa jam kemudian, baik Darren maupun ketujuh sahabatnya akhirnya selesai mengerjakan semua pekerjaannya. Mereka bisa istirahat selama lima hari ke depan tanpa memikirkan masalah pekerjaannya. Dan sisanya mereka serahkan kepada karyawan, anggota dan empat orang kepercayaannya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Darren dan ketujuh sahabatnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


***


Darren sudah sampai di gerbang rumahnya.


Ketika mobilnya berhenti di gerbang rumahnya, seorang security berlari untuk membuka pintu gerbang untuknya.


Setelah pintu gerbang terbuka, Darren langsung memasuki mobilnya menuju halaman luas dan besar itu secara berlahan. Darren membuka kaca mobilnya.


"Selamat sore, tuan muda!"


"Sore juga Paman. Terima kasih, Paman!"


"Sama-sama, tuan muda."


Security itu pun kemudian menutup kembali gerbang tersebut.


Darren keluar setelah memarkirkan mobilnya. Ketika sudah berada di luar. Datang seorang yang bertugas menjadi keamanan di rumahnya.


"Bos."


Darren langsung melihat kearah pemuda itu. "Ada apa? Apa ada masalah?"


"Semuanya baik-baik saja, Bos. Hanya saja saya hanya ingin menyampaikan pesan dari seseorang."


"Pesan? Dari siapa?"


"Pemuda itu mengaku bernama Steven, Bos."


Mendengar nama Steven dari Fito selaku kepala keamanan dan juga orang kepercayaan di rumahnya membuat Darren langsung mengerti.


"Apa pesan dari Steven?"


"Katanya, Bos disuruh datang ke perusahaan Micro Sinopec besok sekitar pukul 8 pagi."


"Baiklah. Terima kasih sudah memberitahuku."


"Sama-sama, Bos!"


"Oh iya. Bagaimana kabar dari keluarga yang anaknya bermasalah dengan Adrian dan Mathew?"


"Sampai detik ini masih terlihat aman, Bos. Anggotaku tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan dari keluarga itu."


"Terus awasi pergerakan mereka. Yang paling penting awasi dan lindungi Adrian dan Mathew dimana pun dan kapan pun."


"Pasti, Bos. Kalau begitu saya permisi dulu."

__ADS_1


"Hm." Darren mengangguk.


Setelah ini, baik Darren maupun Fito melangkah menuju ke tempat masing-masing.


^^^


Darren sudah berada di ruang tengah. Ketika melihat sofa, Darren langsung menghempaskan tubuhnya di sofa itu.


Dan tak butuh lama, Darren pun tertidur.


Beberapa detik kemudian, keenam kakaknya keluar dari kamar masing-masing setelah melakukan beberapa pekerjaannya di dalam kamar.


Ketika mereka telah sampai di bawah. Mereka melihat seseorang tidur di sofa dengan kaki yang menjuntai ke bawah.


Mereka yang penasaran langsung menghampiri orang tersebut. Ketika sampai di dekat orang itu. Mereka semua tersenyum. Mereka akhirnya mengetahui siapa yang tengah tertidur dengan kaki yang menjuntai.


"Sepertinya Darren kelelahan," ucap Dzaky.


"Kau benar, Dzaky. Terlihat sekali bagaimana lelapnya Darren tertidur," sahut Andra dengan tangannya mengusap lembut kepala adiknya itu.


Davin menatap wajah Gilang dan Darka untuk meminta penjelasan mengenai kegiatan Darren selama di kampus.


"Gilang, Darka."


"Iya, kakak Davin!"


"Katakan pada kakak. Apa Darren terlalu lelah selama di kampus?" tanya Davin.


"Setahu kami berdua. Sejak Darren tidak menjabat sebagai ketua organisasi lagi. Darren lebih banyak fokus ke jadwal kuliahnya. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya," sahut Gilang.


"Iya, kakak Davin. Kami tidak pernah lagi melihat Darren yang mondar mandir kesana kemari hanya untuk mengurus kegiatan kampusnya. Bahkan Darren, ketujuh sahabatnya dan yang lainnya lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Kadang di kantin, di ruang latihan tinju, rooftop dan di lobi."


Darka berbicara sembari mengingat kebiasaan Darren ketika bersama dengan kekasihnya, ketujuh sahabatnya dan bersama yang lainnya.


"Kalau bukan lelah karena aktifitas di kampus. Pasti Darren lelahnya di perusahaannya," sela Adnan.


Mereka masih terus menatap wajah lelap Darren dengan senyuman yang mengembang di bibir masing-masing.


Tangan kekar mereka secara bergantian mengusap lembut kepala adik kesayangannya itu sehingga memperlihatkan kening putihnya.


Setelah itu, mereka memberikan kecupan sayang di keningnya itu.


"Apa nggak sebaiknya kita bangunkan saja, Darren? Kasihan jika Darren terlalu lama tidur disini," usul Gilang.


Mendengar usulan Gilang. Mereka pun setuju untuk membangunkan Darren. Mereka tidak ingin tubuh adiknya pegal-pegal sehabis tidur di sofa.


"Ren." Davin membangunkan adiknya dengan lembut sembari tangannya bermain-main di kepalanya.


"Darren," panggil Davin lagi.


Di panggilan kedua Davin membuahkan hasil. Seketika Darren membuka matanya.


Melihat Darren membuka matanya membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka tersenyum.


Ketika matanya telah terbuka sempurna, Darren langsung menduduki tubuhnya.


"Kakak," sapa Darren dengan suara khas bangun tidur.


"Kenapa tidur disini?" tanya Davin.


"Nggak niat sih. Aku hanya ingin melepaskan rasa lelahku setelah berperang dengan pekerjaan di kantor. Eh, tahunya ketiduran!"


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua tersenyum.


"Emangnya banyak kerjaannya?" tanya Darka.


"Banyak. Dan nggak kehitung. Dan semuanya harus diselesaikan hari ini juga," jawab Darren.

__ADS_1


"Memangnya nggak bisa dikerjakan besok atau besoknya. Apa harus diselesaikan hari ini juga?" tanya Andra.


"Nggak bisa, kakak Andra. Pekerjaanku di perusahaan Accenture untuk proyek lima hari lagi. Tadi udah kelar semuanya bersama Qenan dan Willy. Seminggu lagi akan ada pameran lukisan. Rehan dan Darel juga selesai mempersiapkan semuanya. Dan untuk Jerry, Axel dan Dylan juga tengah menyelesaikan sisa memodifikasi mobil keluaran terbaru. Jadi dengan begitu kami bisa terbebas dari semua itu untuk lima hari ke depannya."


"Jika bisa dikerjakan hari ini, kenapa nunggu besok."


Mereka semua tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Darren. Mereka semua bangga akan kepintaran dan kejeniusan yang dimiliki oleh Darren.


Davin mengusap lembut wajah adiknya itu. Tatapan mata Davin menyenduh kala menatap secara dekat wajah adiknya.


"Maafkan kakak Davin, ya! Jika dulu kakak Davin tidak bersikap buruk kepadamu. Jika dulu kakak Davin peka dengan keadaan sekitarnya dan kakak Davin tahu bahwa kamu membutuhkan kakak. Maka kamu nggak akan seperti ini. Papa, kakak Davin, Andra, Dzaky dan Adnan bekerja untukmu, untuk Gilang, untuk Darka dan untuk kelima adik laki-laki kita. Seharusnya kamu bersenang-senang dengan uang yang kami berikan. Tapi...."


Davin menghentikan perkataannya. Dan detik kemudian, air mata Davin jatuh membasahi wajah tampannya.


Melihat kakak laki-laki tertuanya sudah menangis membuat Darren menjadi tidak tega.


Darren seketika memeluk tubuh kakaknya itu dengan erat. Dirinya tahu bahwa kakaknya sampai detik ini masih menyimpan rasa bersalah terhadap dirinya.


Bukan hanya kakak tertuanya saja. Untuk kakak-kakaknya yang lainnya juga begitu. Semua kakak laki-laki masih menyimpan rasa bersalahnya terhadap dirinya.


"Sudahlah, kakak Davin. Kakak nggak usah ingat-ingat lagi apa yang sudah terjadi dulu. Aku menjadi seperti ini bukan karena kakak Davin atau pun yang lainnya. Ini murni niat aku sendiri yang ingin membuka usaha sendiri. Apalagi ini semua juga dorongan dari ketujuh sahabat aku."


Darren berusaha untuk menghibur kakaknya dan juga kakak-kakaknya yang lainnya.


Darren melepaskan pelukannya. Setelah pelukan terlepas, Darren menatap wajah tampan kakaknya itu.


"Udah, ya! Lupakan dan jangan diingat lagi."


Darren menatap wajah Andra, Dzaky dan Adnan. "Kalian juga. Jangan diingat lagi kejadian itu. Lupakan!"


"Baiklah, sayang!" seru mereka bersamaan.


"Walau pun aku sudah bekerja dan punya uang sendiri. Bukan berarti aku nggak akan minta ini itu sama kakak Davin dan kalian semua. Aku akan tetap minta. Dan kalian semua harus mengabulkan semua permintaanku," ucap Darren.


Mereka semua tersenyum mendengar perkataan dari Darren. Di dalam hati mereka masing-masing akan berusaha untuk menjadi kakak yang baik untuk Darren, salah satunya adalah memenuhi semua keinginan adiknya itu.


"Pasti! Apapun yang kamu minta. Kita semua akan mengabulkannya," sahut Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.


Mendengar perkataan kompak dari keenam kakak-kakaknya membuat Darren tersenyum bahagia.


"Baik. Aku pegang kata-kata kalian. Jika kalian langgar. Apalagi sampai ingkar janji, maka kita akan musuhan." Darren berucap sembari menatap wajah kakak-kakaknya satu persatu.


Mendengar perkataan sekaligus ancaman dari Darren membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka sontak membelalakkan matanya. Sementara Darren tersenyum geli melihat wajah terkejut keenam kakak-kakaknya itu.


Dan detik kemudian..


Kruukk!


Kruukk!


Mereka semua mendengar suara perut yang sedang kelaparan. Seketika tatapan mata keenam kakak-kakak menatap kearah perut Darren.


Sementara Darren yang kini tengah memegang perutnya yang berbunyi hanya memperlihatkan senyumannya.


"Pasti belum makan," ujar Gilang.


"Hehehehe. Iya," jawab Darren.


"Hah." mereka semua menghela nafasnya ketika mendengar jawaban dari Darren.


"Ya, sudah. Kakak Davin akan buatkan makanan untuk kamu. Sekarang kamu ke kamar dan bersih-bersih," ucap Davin.


"Siap, kapten Davin!" seru Darren langsung berdiri dari duduknya dan memberikan hormat kepada kakaknya itu.


Setelah itu, Darren langsung pergi meninggalkan semua kakak-kakaknya di ruang tengah dengan tersenyum bahagia.


Sementara keenam kakaknya juga tersenyum bahagia melihat semangat dan raut kebahagiaan di wajah Darren.

__ADS_1


__ADS_2