
Darren, Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan. Serta Brenda, Milly, Felisa, Tania, Lenny, Alice, Vania dan Elsa saat ini berada di lapangan kampus. Mereka saat ini sedang mengobrol dan tertawa.
Posisi duduk mereka saat ini adalah berpasang-pasangan. Brenda duduk di samping Darren, Elsa di samping Qenan, Alice di samping Willy, Vania di samping Dylan, Tania di samping Jerry, Lenny di samping Axel, Milly di samping Rehan dan Felisa di samping Darel.
Hubungan mereka sudah semakin dekat. Sudah ada benih-benih cinta yang tumbuh di hati mereka masing-masing, walau mereka belum meresmikan hubungan tersebut. Yang sudah resmi pacaran diantara mereka adalah Darren dan Brenda, Jerry dan Tania.
Baik Darren, Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan maupun Brenda, Milly, Felisa, Tania, Lenny, Alice, Vania dan Elsa tengah bercerita masa-masa mereka sekolah dulu. Bahkan mereka saling membuka aib satu sama lainnya. Yang menjadi korbannya adalah Dylan, Rehan dan Darel. Bahkan Darren tak luput dari sasaran para cewek-cewek.
Ketika Darren, Brenda dan para sahabat-sahabatnya tengah mengobrol dan tertawa. Kelompok Jessica pun datang merusak suasana.
"Hei, Darren!" Jessica menyapa Darren sembari memperlihatkan senyuman manisnya.
Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori, dan Wanda melihat kearah pujaan hati mereka masing-masing yaitu Jerry, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan dan Axel.
"Ada perlu apa?" tanya Darren langsung.
Jessica tersenyum bahagia ketika mendengar pertanyaan dari Darren. Bagi Jessica ini adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Darren setelah sekian lama Jessica berusaha untuk mengobrol dengannya.
"Ntar malam aku ulang tahun. Ini undangan untuk kamu dan juga undangan untuk sahabat-sahabat kamu." Jessica berbicara sambil memberikan delapan undangan ulang tahun kepada Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Darren menerima undangan tersebut. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan.
"Aku berharap kamu mau datang. Begitu juga dengan sahabat-sahabat kamu," ucap Jessica.
"Jerry, kamu mau ya jadi pasangan aku di acara ulang tahunnya Jessica." Arianna menatap penuh harap Jerry.
"Tentu," jawab Jerry tanpa melihat wajah Arianna.
Mendengar jawaban dari Jerry membuat Arianna berteriak bahagia di dalam hatinya. Dirinya tidak menyangka jika Jerry mau menerima ajakannya menjadi pasangannya.
"Aku akan buat kamu tunduk sama aku, Jerry. Dan setelah acara ulang tahunnya Jessica berakhir, kamu sepenuhnya akan menjadi milikku." Arianna berbicara di dalam hatinya.
"Qenan, kamu mau juga ya menjadi pasanganku di acara ulang tahunnya Jessica?" tanya Kelly menatap harap Qenan.
"Oke! Aku mau menjadi pasanganmu. Tapi aku tidak bisa jemput kamu," jawab Qenan.
Mendengar jawaban dari Qenan membuat Kelly tersenyum bahagia. "Wah! Qenan mau menjadi pasangan aku di acara ulang tahunnya Jessica. Nggak bisa ngebayangin betapa bahagianya aku," batin Kelly.
"Terima kasih, Qenan. Kita ketemu di rumah Jessica aja," ucap Kelly.
"Hm." Qenan hanya berdehem.
Kathy melihat kearah Willy. Dirinya juga berharap Willy mau menjadi pasangannya di acara ulang tahunnya Jessica.
"Willy. Kamu..."
"Aku mau menjadi pasangan kamu di acara ulang tahun Jessica. Aku akan jemput kamu. Kasih tahu dimana alamat rumah kamu," ucap Willy.
Kathy menatap Willy tak percaya. Dirinya belum meminta, tapi Willy sudah terlebih dahulu menawarkan diri.
"Benarkah?" tanya Kathy.
__ADS_1
"Iya. Kenapa? Kamu nggak percaya?" tanya Willy.
"Ach, nggak. Aku percaya. Ini alamat rumahku," ucap Kathy sembari memberikan kartu nama kepada Willy. Dan Willy mengambil kartu nama itu.
Rehan, Darel, Dylan dan Axel melihat kearah Pamela, Janet, Lori dan Wanda.
"Apa kalian tidak ingin menjadi pasangan kami!" tanya Rehan, Darel, Dylan dan Axel bersamaan.
Mendengar pertanyaan dari Rehan, Darel, Dylan dan Axel membuat Pamela, Janet, Lori dan Wanda terkejut.
Pamela, Janet, Lori dan Wanda menatap wajah Rehan, Darel, Dylan dan Axel. Dan dapat mereka lihat dan keseriusan di mata Rehan, Darel, Dylan dan Axel.
"Benarkah?" tanya Pamela dan Janet bersamaan.
"Kalian mau jadi pasangan kami?" tanya Lori dan Wanda bersamaan.
"Iya, kami mau!" jawab Rehan dan Darel.
"Itupun kalau kalian mau dan bersedia," jawab Dylan.
"Kalau kalian nggak mau juga nggak apa-apa. Kita nggak masalah," ucap Axel.
"Kita mau," jawab Pamela, Janet, Lori dan Wanda bersamaan.
"Berikan alamat rumah kalian. Kami akan menjemput kalian," ucap Dylan.
Pamela, Janet, Lori dan Wanda langsung mengeluarkan kartu nama mereka masing-masing dari dompet mereka. Setelah itu, mereka memberikan kartu nama itu kepada Rehan, Darel, Dylan dan Axel.
"Ini."
"Berdandanlah dengan cantik," ucap Darel dan Axel.
"Tentu. Terima kasih," jawab Pamela, Janet, Lori dan Wanda.
Setelah selesai urusan mereka dengan Darren dan sahabat-sahabatnya. Jessica dan teman-temannya pun pergi dengan raut kebahagiaan yang terpancar di wajah masing-masing.
Sementara Brenda, Milly, Felisa, Tania, Lenny, Alice, Vania dan Elsa sedari tadi berusaha untuk tidak tertawa.
Darren, Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan saling menatap satu sama lainnya.
Dan detik kemudian...
Srekk!
Srekk!
Darren, Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan merobek undangan ulang tahun dari Jessica dan juga kartu nama dari teman-temannya Jessica.
"Kasihan anak perempuan orang tuh dikadalin oleh kalian," sahut Alice.
"Bodoh amat," jawab Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.
__ADS_1
"Gue ngebayangin wajah-wajah mereka ketika berjam-jam nungguin kalian yang nggak datang-datang. Pasti lucu banget," ucap Brenda.
"Aku juga ngebayangin Jessica yang lagi nungguin Darren dan juga teman-temannya. Secara yang datang terlebih dahulu kan Arianna dan Kelly. Sementara yang lainnya akan dijemput oleh pangeran kadal mereka. Pasti kesal banget tuh Jessica orang yang ditunggu-tunggu nggak muncul-muncul." Alice ikut berbicara.
"Kekesalan Jessica makin nambah karena teman-temannya juga datang terlambat," sela Elsa.
"Hahahahaha."
Mereka semua tertawa membayangkan malam penuh penantian Jessica dan teman-temannya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dan sebentar lagi anggota keluarga akan melaksanakan makan malam bersama.
Gilang saat ini berada di ruang tengah. Sejak pulang kuliah pukul 3 sore. Gilang hanya menghabiskan waktu di dalam kamarnya.
Setelah waktu menunjukkan pukul setengah tujuh malam, barulah Gilang keluar kamar dan duduk di ruang tengah. Gilang duduk di ruang tengah dengan memikirkan banyak hal.
"Kenapa masalah selalu datang menghampiri keluargaku? Tak hanya satu. Bahkan masalah datang secara silih berganti. Masalah Adrian dan Mathew saja belum selesai. Sekarang datang masalah baru," batin Gilang.
"Kamu bisa Gilang. Kamu bisa melindungi keluargamu. Jangan biarkan orang-orang jahat diluar sana berhasil menghancurkan kebahagiaan keluargamu," batin Gilang lagi.
Disaat Gilang tengah melamun. Di sisi lain anggota keluarganya, termasuk Darren sedari tadi memperhatikannya. Bahkan mereka semua sudah tahu dari salah satu pelayan bahwa Gilang sudah sejak setengah jam berada di ruang tengah dengan keadaan melamun.
Setelah puas memperhatikan Gilang dari jauh. Erland dan yang lainnya memutuskan untuk menghampiri Gilang di ruang tengah.
Kini mereka semua sudah berada di ruang tengah. Darka langsung menduduki pantatnya di samping Gilang.
PUK!
Darka memukul pelan bahu Gilang sehingga membuat Gilang terkejut. Gilang langsung melihat kearah Darka.
"Ada apa? Kenapa melamun? Apa ada masalah?" tanya Darka.
Gilang tidak langsung menjawab. Gilang justru menatap satu persatu anggota keluarganya yang kini sudah duduk di sofa.
"Ada apa, sayang? Dari tadi Papa dan kita semua memperhatikan kamu. Kamu sedari tadi melamun. Kamu mikirin apa, hum?"
"Aku tidak mikirin apa-apa, Papa! Hanya saja aku sedikit lelah dengan tugas-tugas kampus. Apalagi aku sekarang sudah semester 6. Dan sebentar lagi nyusun skripsi," ucap Gilang.
"Bawa istirahat. Jangan terlalu dipaksakan. Papa tidak mau kamu jatuh sakit."
"Iya, Papa!"
"Untuk kamu juga Darka. Dan kamu juga sayang," ucap Erland pada Darka dan Darren.
"Kami mengerti, Papa!" jawab Darren dan Darka.
Darren menatap wajah Gilang. Darren dapat melihat bahwa kakaknya itu tengah menyimpan sesuatu. Dan Darren juga bisa pastikan bahwa kakaknya itu tengah merencanakan sesuatu.
"Kakak Gilang bisa membohongi Papa dan yang lainnya. Tapi kakak Gilang nggak bisa bohongi aku. Kakak Gilang pasti menyembunyikan sesuatu. Lebih tepatnya kakak Gilang tengah merencanakan sesuatu. Dan aku tahu ini pasti berhubungan dengan perempuan itu." Darren berbicara di dalam hatinya dengan tatapan matanya menatap wajah Gilang.
__ADS_1
Davin dan Darka yang melihat Darren yang menatap lekat wajah Gilang menaruh curiga. Davin dan Darka berpikir bahwa adiknya itu mencurigai Gilang. Davin dan Darka juga berpikir bahwa adiknya itu mengetahui bahwa Gilang menyembunyikan sesuatu.
"Kamu pasti mengetahui sesuatu tentang Gilang, Darren!" batin Davin dan Darka.