
Ketika kedua pria itu tengah mengobrol membahas rencana mereka untuk mendapatkan tanda tangan dan juga kerja sama dengan perusahaan Accenture, diluar Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya bersama kedua tangan kanan Ziggy dan Chico beserta beberapa anggota mafiosonya membunuh orang-orang yang berjaga di sekitar rumah.
Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya, dua tangan kanan Ziggy dan Chico yaitu Daksa dan Caleb serta anggota mafiosonya menghabisi orang-orang yang berjaga-jaga di sekitar rumah itu dengan kejamnya.
Mereka menghabisi dengan cara menembak dengan peluru tanpa suara, menembak dengan anak panah. Bahkan mereka juga menembak dengan anak panah yang tajam. Ujung anak panah yang tajam itu diletakkan di pematik yang memang khusus untuk benda itu, lalu ditembakkan tepat di kepala musuh.
Semua tembakkan mereka tepat sasaran mengenai kepala dan jantung. Kepala dan jantung para musuh nembus dan berlobang.
Setelah semuanya mati. Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya, Caleb, Daksa dan para anggota mafioso masuk ke dalam rumah dengan cara menendang pintu rumah itu dengan keras.
Brak!
Brak!
Dua kali tendangan dari Caleb dan Daksa. Pintu rumah itu terbuka dan hancur.
Kedua pria yang tadinya sedang asyik mengobrol di ruang tengah menjadi terkejut. Keduanya berdiri dan hendak melangkah menuju keasal suara pintu yang dibuka paksa itu.
Namun seketika mereka menghentikan langkahnya ketika melihat beberapa orang bersenjata lengkap masuk menuju ruang tengah.
Dan kedua pria itu terkejut dengan mata yang membelalak sempurna ketika melihat di hadapannya berdiri pemilik perusahaan Accenture bersama dua sahabatnya yang tak lain sebagai penanggung jawabnya.
"Selamat malam, tuan-tuan!" sapa Willy.
"Apa kami mengganggu waktu istirahat tuan-tuan?" ejek Qenan.
Sementara Darren menatap tajam kedua pria yang ada di hadapannya itu dengan tangannya memegang kuat pisau dan senjata di kedua tangannya.
Darren melangkahkan kakinya menghampiri kedua pria yang saat ini masih berdiri mematung. Dan diikuti oleh ketujuh sahabat-sahabatnya dan dua tangan kanan dari Ziggy dan Chico. Kedua pria itu tidak percaya jika pemilik perusahaan Accenture dan kedua sahabat-sahabatnya datang ke rumahnya.
"Sepertinya kalian berdua baru saja merencanakan untuk mendapatkan tanda tanganku dan juga berkas kerja sama. Bukan begitu, tuan-tuan?" tanya Darren dengan menatap wajah kedua pria itu.
Mendengar perkataan dari Darren sontak membuat kedua pria itu terkejut. Di dalam hati keduanya berkata, "Dari mana laki-laki ini tahu dengan rencanaku dan saudaraku," batin keduanya.
Sementara Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya, Caleb dan Daksa menatap dengan tatapan meremehkan.
"Oh, iya! Kenapa hanya kalian berdua saja. Mana yang satunya lagi?" tanya Willy.
"Bukankah ketika bertemu di cafe beberapa hari yang lalu kalian bertiga. Bahkan bukan bertiga saja. Melainkan kalian ada sekitar enam orang," sela Qenan.
Kedua pria itu hanya diam. Mereka tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dan juga perkataan dari Qenan dan Willy.
Melihat keterdiaman kedua pria yang ada di hadapannya itu membuat Qenan dan Willy marah.
Dan detik kemudian...
Dor! Dor!
Bruk! Bruk!
Qenan dan Willy memberikan masing-masing satu tembakkan di kaki kedua pria itu sehingga membuat kedua pria itu terjatuh dengan posisi bersimpuh.
Mendengar suara tembakkan di dalam rumah. Para penghuni lainnya terbangun, termasuk pria ketiga yang dicari Willy.
"Sayang!"
"Papa!"
"Paman!"
Suara-suara panggilan dari anggota keluarganya sembari berlari menuruni anak tangga. Dan ada juga yang kamarnya di bawah.
Setelah semua anggota keluarganya berada di ruang tengah. Mereka semua terkejut ketika melihat banyak laki-laki bersenjata lengkap berdiri di ruang tengah. Dan yang lebih terkejut lagi, putri bungsu dari salah satu pria yang saat ini tengah terluka berteriak.
"Papa!"
__ADS_1
Semua anggota keluarganya melihat ke arah kedua pria itu. Mereka semua juga berteriak histeris ketika melihat kedua orang yang mereka sayangi sedang dalam keadaan terluka.
"Sayang!"
"Papa!"
"Paman!"
Istri dari salah satu pria yang terluka itu melihat kearah dimana Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya, Caleb dan Daksa berdiri.
Wanita paruh baya itu berjalan sembari mengambil pas buka yang ada di sekitarnya. Wanita itu ingin memukul kepala Darren dengan menggunakan vas bunga itu.
"Brengsek, kau!" teriak wanita itu.
Ketika wanita itu sedikit lagi sampai di hadapan Darren. Tanpa membuang membuang-buang waktu lagi. Caleb dan Daksa langsung memberikan tembakkan kepada wanita itu tepat di jantung dan di kepalanya.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Bruk!
Tubuh wanita itu seketika jatuh di lantai dan meninggal dengan luka tembak di kepala dan di jantungnya.
Melihat itu membuat anggota keluarganya, terutaman suami dan anak-anaknya berteriak.
"Tidak! Mama!"
"Sayang!"
"Bibi!"
Salah satu pria itu melihat dengan penuh amarah kearah Darren, Qenan dan Willy.
"Brengsek! Apa yang kalian lakukan, hah?!"
"Jangan salahkan kami atas apa yang terjadi pada istrimu. Istrimu yang terlebih dahulu ingin menyakiti sahabat kami!" bentak Qenan.
"Apa maksud kalian? Kami tidak mengerti!" teriak salah satu pria yang berstatus adik laki-laki dari laki-laki yang istrinya telah dibunuh.
Willy menatap tajam kearah pria itu. Begitu juga dengan Darren, Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel. Serta Caleb dan Daksa.
"Sudah salah, tapi tidak mau mengakuinya." Jerry berucap dengan tatapan tajamnya.
"Apa kalian tahu alasanku langsung menolak kerja sama dengan perusahaan kalian ketika aku baru menemui kalian, hah?!" bentak Willy.
"Aku menolak kerja sama itu karena kalian sudah menggunakan identitas palsu. Kalian menggunakan identitas milik orang lain. Kalian mengaku sebagai rekan kerja kami dari tiga negara yang berbeda itu. Sementara tiga rekan kerja kami dari tiga negara yang asli itu kalian sekap di sebuah markas kelompok mafia!" bentak Willy.
Mendengar perkataan dari Willy membuat kedua pria dan juga pria yang satunya saat ini masih berdiri bersama anggota keluarga lainnya terkejut. Mereka tidak menyangka jika rencana jahat mereka diketahui.
Namun mereka berusaha bersikap seperti tidak tahu apa-apa. Dan seolah-olah mereka tidak melakukan apa-apa.
"Apa maksud kamu, hah?! Jangan asal menuduh. Kami tidak serendah itu melakukan kecurangan dengan menipu orang!" bentak adik laki-laki dari pria itu.
Mendengar perkataan dari salah satu pria itu membuat Qenan, Willy dan sahabat-sahabatnya tertawa.
"Hahahahaha."
"Hei, tuan. Anda pikir kami ini jahat dan licik dengan menuduh orang tanpa ada bukti," ucap Rehan.
"Kami tidak akan sembarangan menuduh orang lain jika kami tidak memiliki bukti lengkap," ucap Dylan.
"Apa tuan-tuan ingin aku memperlihatkan buktinya, hum?" tanya Willy dengan seringainya.
Kedua pria itu dan juga satu pria lainnya hanya diam ketika mendengar pertanyaan dari Willy.
Sedangkan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya menatap dengan tersenyum di sudut bibirnya masing-masing.
__ADS_1
"Eemm! Sepertinya kalian berdua ingin aku memperlihatkan bukti-bukti itu kepada kalian agar kalian tahu bahwa kami tidak salah datang kesini," ucap Willy.
Willy kemudian meminta salah satu anggota mafioso dari Daksa untuk memutar VCD itu.
"Tolong putar kan video ini di VCD milik keluarga ini," pinta Willy sambil memberikan VCD itu kepada salah satu anggota mafioso Daksa.
"Baik," jawab salah satu anggota mafioso itu.
Dua anggota itu mendatangi anggota keluarga dari kedua pria itu dengan menodongkan senjata di kepala masing-masing.
"Dimana vcdnya?!" bentak salah satu anggota itu.
"I-itu," tunjuk seorang wanita paruh baya yang berstatus istri dari adik laki-laki dari pria yang istrinya dibunuh itu.
Setelah melihat VCD itu, salah satunya mendekat. Dan kemudian memasukkan kaset VCD yang diberikan oleh Willy ke dalamnya.
Beberapa detik kemudian...
"Kalian lihat rekaman itu agar kalian tahu bahwa kami memiliki bukti akan kelicikan kalian!" bentak Willy.
Melihat adegan demi adegan di dalam video itu membuat kedua pria itu, termasuk pria satunya lagi terkejut. Mereka tidak menyangka jika kebusukan, kecurangan dan kelicikan mereka diketahui oleh salah satu penanggung jawab di perusahaan Accenture.
Setelah selesai menyaksikan video itu, anggota mafioso itu mengeluarkan kembali kaset itu dan membawanya. Setelah itu, kaset itu dikembalikan lagi kepada Willy.
"Bagaimana? Kalian sudah melihatnya bukan? Berarti dengan kata lain, kalian sudah tahukan alasan kedatanganku, ketujuh sahabat-sahabatku dan kedua kakak-kakakku kesini?" tanya Darren dengan menatap marah kedua pria itu.
"Dan kalian juga tahukan apa konsekuensinya jika coba-coba bermain curang denganku," ucap Darren dengan wajah datar dan dinginnya.
"Niat kedatanganku, ketujuh sahabat-sahabatku dan kedua kakak-kakaku kemari ingin membunuh kalian dan juga semua anggota keluarga kalian. Tapi kami merubah niat itu. Kami tidak jadi membunuh kalian semua!" teriak Darren dengan menatap satu persatu wajah para musuhnya.
"Jika kedua kakak-kakaku telah membunuh istri anda. Itu dikarenakan istri anda ingin melukaiku. Kedua kakak-kakakku hanya melindungiku," ujar Darren.
"Sebagai hukuman untuk kalian adalah aku akan menghancurkan kalian semua dengan cara kalian akan kehilangan segalanya. Mulai dari perusahaan milik kalian dan juga milik semua anggota keluarga kalian, usaha-usaha yang kalian kelola selama ini, rumah mewah ini dan harta kekayaan kalian. Kalian akan hidup menggembel diluar sana."
"Aku juga akan membuat kalian semua kehilangan kontak dari para pengusaha-pengusaha diluar sana. Identitas kalian semua dan nama anggota keluarga kalian akan aku masukkan kedalam daftar hitam seluruh dunia. Aku juga akan membuat kalian kehilangan kontak sehingga kalian tidak bisa melakukan komunikasi dengan siapa pun. Dengan begitu kalian tidak akan ada lagi pendukung."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat kedua pria itu dan seluruh anggota keluarganya terkejut.
"Kau tidak punya hak melakukan hal itu kepada kami!" bentak anak pertama dari pria yang istrinya dibunuh itu.
"Kalian tidak bisa melakukan hal itu kepada kami. Bagaimana pun kami berhak untuk terus hidup di dalam rumah ini?" bentak anak dari adik laki-laki dari pria yang istrinya dibunuh itu.
"Kalian benar-benar brengsek!" teriak anak laki-laki dari pria yang berstatus adik laki-laki dari pria yang istrinya dibunuh.
Pemuda itu berlari ingin menyerang Darren. Namun niatnya langsung dihentikan oleh Caleb dan Daksa.
Dor! Dor!
Caleb dan Daksa langsung memberikan tembakkan tepat di perut pemuda itu sehingga tubuh pemuda itu mati seketika.
"Tidak, Vincent!" teriak pria itu histeris ketika melihat putranya sudah tak bernyawa lagi.
"Itu akibatnya jika kalian melawan kami," ucap Axel.
"Kami kesini hanya ingin menghancurkan kalian agar kalian tidak berbuat curang lagi kepada orang-orang diluar sana," ucap Darel.
"Kami tidak ada niat untuk membunuh kalian. Tapi kalianlah yang menginginkannya," ucap Qenan.
"Jangan pernah lagi kalian mengusikku, keluargaku, sahabat-sahabatku, keluarga dari sahabat-sahabatku dan juga orang-orang terdekatku. Menjauhlah dari kami semua." Darren berbicara dengan menatap penuh ancaman dan peringatan.
"Jika kalian semua masih saja mengusikku, keluargaku, sahabat-sahabatku, keluarga dari sahabat-sahabatku dan orang-orang terdekatku, maka aku bisa pastikan kalian semua akan mati ditangan kedua kakak-kakakku ini. Bisa juga kalian akan mati ditangan kakak-kakakku yang lainnya."
Setelah mengatakan itu, Darren pun pergi meninggalkan rumah tersebut. Dan disusul oleh ketujuh sahabat-sahabatnya, Caleb, Daksa dan para anggota mafioso.
Sebelum pergi, ketujuh sahabat-sahabatnya Darren memberikan pesan terakhir untuk keluarga tersebut.
__ADS_1
"Ucapkan selamat tinggal untuk rumah, perusahaan dan harta kekayaan kalian yang lainnya," ucap Qenan.
"Dan selamat datang di dunia baru kalian yaitu dunia kemiskinan," ucap Willy.