KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menceritakan Kejadian Di Mall


__ADS_3

Darren sudah berada di rumahnya. Saat ini Darren berada di ruang tengah bersama dengan kelima adik laki-lakinya.


Ketika Darren sendirian duduk di sofa ruang tengah, kelima adiknya datang mengganggunya.


"Kakak Darren," panggil Melvin.


"Hm." Darren menjawab dengan deheman tanpa melihat wajah adiknya itu.


"Kakak Darren mau nggak datang ke sekolah aku dan Ivan?" tanya Melvin.


Mendengar pertanyaan dari Melvin, adiknya. Darren langsung melihat kearah adiknya yang kini tengah menatapnya penuh harap.


"Kenapa? Apa ada yang mengganggu kalian?" tanya Darren.


"Tidak ada, kakak Darren!" Ivan dan Melvin menjawab dengan kompak.


"Terus?" tanya Darren dengan menatap wajah Ivan dan Melvin bergantian.


"Gini, kakak Darren. Sekolahku akan mengadakan acara ulang tahun ke 20 tahun usia sekolah. Konsep dari acara ulang tahun itu adalah hubungan persaudaraan antara adik dengan kakaknya," jawab Ivan.


"Kenapa aku dan Ivan milih kakak Darren, karena kakak Darren adalah kakak kesayangan dan juga kakak favorit kami," sahut Melvin.


"Ditambah lagi kita harus milih satu saja. Nggak boleh lebih. Maka dari itulah kami milihnya kakak Darren," ucap Ivan.


Ivan dan Melvin menatap wajah Darren penuh harap. Mereka berdua berharap kakak kesayangannya itu mau mengabulkan keinginan mereka.


"Mau ya, kakak Darren!" seru Ivan dan Melvin bersamaan.


"Pergilah, Ren!" seru Davin.


Mendengar seruan dari Davin. Baik Darren maupun kelima adiknya melihat kearah Davin dimana Davin tengah melangkah menuju ruang tengah bersama dengan anggota keluarganya yang lain.


Setelah tiba di ruang tengah, mereka semua menduduki pantatnya di sofa.


"Kabulkan keinginan mereka, Ren!" ucap Andra.


"Coba lihat wajah mereka berdua. Apa kamu nggak kasihan dengan mereka?" ucap dan tanya Dzaky.


"Kamu adalah kakak kesayangan mereka. Kamu adalah kakak favorit mereka. Setiap ada masalah, mereka terbukanya hanya sama kamu bukannya sama kita," ucap Adnan.


"Mereka juga manjanya sama kamu. Bahkan lebih manja sama kamu. Mereka jarang manja dengan kita. Walau pun ada, itupun jarang," ucap Gilang.


"Iya, Ren! Kabulkanlah keinginan mereka. Kamu udah jarang ada waktu buat mereka. Bahkan waktu buat kamu sendiri aja, nggak ada!" Darka juga ikut bersuara.


Mendengar ucapan demi ucapan dari keenam kakak-kakaknya membuat Darren menatap iba kelima adiknya yang kini menatap dirinya.


"Kapan acaranya?" tanya Darren.


"Hari sabtu, kakak Darren!" jawab Ivan dan Melvin bersamaan.


"Baiklah. Kakak akan datang sekitar jam 9 pagi. Nggak terlambatkan kalau kakak datangnya jam segitu?" ucap dan tanya Darren.


Ivan dan Melvin seketika tersenyum lebar. "Nggak, kakak Darren. Kakak Darren nggak terlambat sama sekali. Acaranya mulai jam 10 pagi," jawab Ivan dengan raut kebahagiaan.


"Baiklah, kakak akan datang."

__ADS_1


Mendengar itu, Ivan dan Melvin beranjak dari duduknya. Keduanya berpindah duduk di samping kakak kesayangannya itu.


Dan detik kemudian...


Grep!


Ivan dan Melvin memeluk tubuh kakak kesayangannya dengan erat.


"Terima kasih, kakak Darren. Kami menyayangi kakak Darren. Selamanya!" seru Ivan dan Melvin bersamaan.


Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian tersenyum bahagia melihat bagaimana besarnya rasa sayang Ivan dan Melvin terhadap Darren. Begitu juga dengan Adrian, Mathew dan Nathan.


Mereka semua tahu bagaimana dekatnya Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin kepada Darren. Setiap ada masalah, orang pertama yang mereka cari adalah Darren. Hanya kepada Darren mereka mau terbuka dan juga mengadu.


"Ya, sudah! Sekarang kalian pergilah ke kamar. Ini sudah jam 8 malam. Besok kalian sekolah," ucap Darren.


"Baiklah, kakak Darren!" Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menjawab bersamaan.


Setelah itu, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar masing-masing.


Mereka semua tersenyum ketika melihat kepatuhan dari Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin terhadap perintah Darren.


"Darren, sayang!" Agneta memanggil putranya.


Darren melihat kearah ibunya itu sembari tersenyum. "Iya, Mama. Ada apa?"


"Terima kasih ya, sayang."


"Untuk apa?"


Mendengar jawaban dari ibunya, Darren tersenyum. "Tidak ada kata terima kasih jika itu menyangkut keluarga, Mama! Mereka adalah adikku, walau kita beda ibu. Mama adalah adik perempuannya Mama Belva, ibu kandungku. Mama begitu menyayangi dan menghormati Mama Belva. Jadi apa yang aku lakukan terhadap Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin itu semata-mata tanggung jawab aku sebagai kakak untuk mereka. Itu udah tugas aku."


Mendengar jawaban panjang yang diberikan oleh Darren membuat Erland, Agneta dan yang lainnya meneteskan air matanya. Mereka semua menangis. Mereka menangis karena bahagia. Mereka semua bahagia, karena Tuhan telah memberikan sosok malaikat yang baik. Malaikat tak bersayap seperti Darren.


Agneta berpindah duduk di samping putranya itu. Detik kemudian, Agneta memberikan kecupan sayang di kedua pipinya dan juga kening putranya itu.


"Mama menyayangimu. Selamanya!"


"Aku juga menyayangi, Mama! Tetaplah bersamaku. Tetaplah menyayangiku, walaupun nanti aku sudah memiliki keluarga sendiri."


"Tentu. Kau adalah putra Mama. Kasih sayang Mama tidak akan pernah putus sampai nanti kamu menikah."


"Kami juga. Kasih sayang kami tidak akan pernah putus untukmu. Kami akan selalu menyayangimu," ucap Erland, Evan dan Carissa.


"Selamanya kami menyayangimu. Kau adalah adik kesayangan kami!" seru Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Daffa, Tristan dan Davian.


***


Di kediaman Wilson tampak ramai dan juga heboh. Bagaimana tidak heboh. Liana dan anak-anaknya yaitu Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya dibuat bingung, melongo dan tak percaya melihat banyak barang yang menumpuk di ruang tengah.


Semua barang-barang itu adalah barang-barang belanjaan belanjaan dari anak perempuannya/adik perempuannya/kakak perempuannya yang diantara oleh dua karyawan toko dengan menggunakan mobil Box.


Kini Liana dan semua anak-anak, termasuk Brenda sudah duduk di sofa ruang tengah. Baik Liana, Maura, Rangga maupun Barra, Riana dan Raya kini menatap horor Brenda. Mereka semua meminta penjelasan kepada Brenda.


"Katakan pada Mama, Brenda. Kenapa kamu belanja sebanyak ini? Mau kamu apakan barang-barang ini?" tanya Liana yang menatap dengan geleng-geleng kepala kearah barang-barang yang menumpuk di hadapannya itu.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari ibunya membuat Brenda juga ikut pusing. Bukan ibunya dan saudara-saudaranya saja yang pusing melihat semua barang-barang itu, dirinya juga pusing melihat barang-barang tersebut.


"Mama, jangan marah-marah dong!" sahut Brenda.


"Mama tidak marah, sayang. Mama hanya bertanya sama kamu," jawab Liana.


"Barang-barang itu bukan milik aku aja," sahut Brenda.


"Maksud kamu?" tanya Maura.


"Barang-barang itu semua juga miliknya Vania, Alice, Elsa, Lenny, Felisa, Tania dan Milly." Brenda menjelaskan kepada ibunya dan saudara-saudaranya bahwa barang-barang belanjaan itu juga milik sahabat-sahabatnya.


"Bagaimana caranya?" tanya Rangga.


"Setelah selesai mengikuti materi kuliah yang terakhir. Aku, Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya Darren dan ketujuh sahabat-sahabatku memutuskan untuk jalan-jalan dulu. Tujuan pertama adalah mall. Acara jalan-jalan ini adalah idenya Darren. Bahkan Darren mengatakan bahwa dia akan traktir kita semua."


"Terus apa yang terjadi?" tanya Barra.


"Ketika aku, Vania, Alice, Elsa, Lenny, Felisa, Tania dan Milly selesai memilih-milih barang dan akan segera dibayar, tiba-tiba datang tiga orang gadis. Mereka langsung main comot semua barang-barang kita yang udah ada di kasir. Bahkan mereka akan membayar semua barang-barang milik kita itu."


"Mereka bertiga menghina aku, Vania, Alice, Elsa, Lenny, Felisa, Tania dan Milly didepan pelayan toko itu dan mengatakan bahwa kita nggak akan sanggup membayar semua barang-barang itu. Toko yang kami kunjungi itu termasuk toko yang menjual barang-barang bermerek dan juga mahal."


"Yang bikin aku, Vania, Alice, Elsa, Lenny, Felisa, Tania dan Milly geram dan marah. Pelayan toko itu langsung mengiyakan permintaan ketiga gadis itu dengan memberikan semua barang-barang kami kepada ketiga gadis itu dengan alasan bahwa ketiga gadis itu adalah pelanggan tetap toko itu."


Mendengar cerita dari Brenda membuat Maura, Rangga, Barra dan Riana marah. Yang paling marah disini adalah Rangga dan Barra.


"Perkataan ketiga gadis itu benar-benar menyakitkan. Ketiga gadis itu sengaja berbicara dengan suara yang dibesarkan sehingga pengunjung toko yang ada di toko lain mendengarnya dan langsung berhamburan menonton perdebatan aku, Vania, Alice, Elsa, Lenny, Felisa, Tania, Milly dengan ketiga gadis itu."


"Ketika mendengar ucapan demi ucapan dari ketiga gadis itu, para pengunjung tersebut itu ikut-ikutan menghina aku, Vania, Alice, Elsa, Lenny, Felisa, Tania dan Milly."


"Saat ketiga gadis itu mengatakan bahwa aku, Vania, Alice, Elsa, Lenny, Felisa, Tania dan Milly tidak bisa membayar semua barang-barang belanjaan kami. Begitu juga dengan para pengunjung lainnya yang menatap jijik aku dan ketujuh sahabat-sahabatku. Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya datang."


"Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya memberikan pertanyaan kepada ketiga gadis itu dan kepada para pengunjung tersebut dengan nada mengancam."


"Apa? Darren menanyakan apa kepada para sampah itu?" tanya Barra.


"Darren bertanya 'apa yang akan kalian berikan kepada para kekasih kami jika para kekasih kami mampu membayar barang-barang belanjaan dan semua barang-barang yang ada di dalam toko itu'."


"Intinya, Darren memintaku, Vania, Alice, Elsa, Lenny, Felisa, Tania dan Milly untuk membayar semua barang-barang belanjaan beserta semua barang-barang yang ada di dalam toko itu. Tujuannya adalah untuk membungkam orang-orang yang sudah menghina kami."


"Setelah itu, barulah Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya bertindak sehingga membuat para sampah itu membisu dan tak berkutik sama sekali."


"Apa yang dilakukan oleh Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya?" tanya Riana.


"Menghancurkan mereka semua sampai keakar-akarnya. Ucapkan selamat tinggal dengan kemewahan dan kekayaan. Dan ucapkan selamat datang dengan kemiskinan. Itulah yang diucapkan Darren sebelum pergi meninggalkan toko tersebut."


Mendengar cerita dari Brenda membuat Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya tersenyum bahagia. Bahagia akan kehancuran orang-orang sombong dan belagu.


"Kak Maura suka dengan cara Darren. Darren langsung bertindak untuk membela orang-orang terdekatnya dan juga orang-orang yang disayanginya," ucap Maura.


"Iya, kak Maura. Aku juga bangga dengan Darren. Darren orangnya sangat perhatian dan peduli dengan orang-orang terdekatnya. Darren tidak akan tinggal diam melihat orang-orang terdekatnya dan orang-orang yang disayanginya disakiti, dihina dan juga dilecehkan. Darren akan langsung membalasnya," ucap Barra.


"Hm."


Mereka semua berdehem sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari Barra.

__ADS_1


__ADS_2