KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Pembalasan Kathleen


__ADS_3

Di kediaman keluarga Smith terlihat semua anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah setelah selesai menyelesaikan makan siang bersama.


"Kenapa Darren belum juga pulang? Papa benar-benar khawatir. Ditambah lagi ponselnya tak aktif," ucap dan tanya Erland yang belum melihat tanda-tanda putra bungsunya dari istri pertamanya kembali. Serta raut wajahnya yang terlihat khawatir.


"Papa tenanglah. Siapa tahu Darren saat ini masih di rumah mengerjakan sesuatu," ucap Andra sembari menenangkan ayahnya.


"Aku setuju apa yang dikatakan Andra, Papa! Papa tahukan jika tujuan Darren pulang ke rumahnya untuk mengambil lukisannya. Siapa tahu lukisan yang akan Darren ambil banyak. Jadi memakan waktu lama," sahut Davin yang ikut menenangkan ayahnya.


"Hahahaha."


Tiba-tiba Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin tertawa keras. Mereka tertawa karena tiba-tiba memikirkan reaksi kakak laki-laki kesayangannya ketika bertemu dengan seorang gadis di rumahnya.


Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin juga memikirkan bahwa kakak laki-laki kesayangannya itu pasti mengumpat dan menyumpahi kakak laki-lakinya yang lain yaitu Gilang.


Mereka juga memikirkan ekspresi wajah kakaknya Gilang ketika berhadapan dengan kakak laki-laki kesayangannya.


Membayangkan wajah kakaknya Gilang saja sudah membuat mereka tidak bisa menahan tawanya.


Sementara Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka seketika melihat kearah Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin dengan tatapan bingung.


"Hei, kalian kenapa?" tanya Dzaky.


"Kenapa kalian tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Adnan.


Mendengar suara dan pertanyaan dari kedua kakak laki-lakinya. Seketika Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin berhenti tertawa. Kelimanya langsung menatap satu persatu wajah anggota keluarganya dan berakhir menatap wajah Gilang.


Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin senyam senyum menatap wajah Gilang. Sedangkan Gilang menatap kelima adik laki-lakinya itu dengan tatapan mencurigakan.


Gilang menatap horor kelima adik laki-lakinya yang senyam senyum menatapnya.


"Kenapa?" tanya Gilang ketus.


"Tidak ada," jawab Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.


"Kalau tidak ada apa-apa. Kenapa kalian senyam senyum seperti itu?" tanya Gilang.


Darka menatap wajah kelima adik laki-lakinya itu intens. Sesekali Darka melirik sekilas kearah Gilang. Kemudian kembali menatap kelima adik laki-lakinya itu.


Dan seketika Darka langsung mengerti akan sikap kelima adik laki-lakinya itu.


"Eheemm!"


Darka berdehem sehingga mengalihkan perhatian semuanya tertuju kepadanya.


"Kalian pasti saat ini tengah membayangkan wajah kesal bercampur marah kakak laki-laki kesayangan kalian itu kan?"


Mendengar pertanyaan dari kakak keenamnya. Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin saling memberikan tatapan.


Setelah itu, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin kembali menatap wajah Darka.


Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin secara bersamaan menganggukkan kepalanya. Dan jangan lupa senyumannya yang makin melebar.


"Dan kalian juga sedang membayangkan wajah sepet, wajah takut dan wajah tak berkutiknya  kakaklaki-laki kalian Gilang ketika berhadapan dengan kakak laki-laki kesayangan kalian itu?" tanya Darka sembari melirik kearah Gilang.


Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin lagi-lagi menganggukkan kepalanya secara bersamaan ketika mendengar pertanyaan dari Darka.


"Bagaimana wajah Gilang di dalam bayangan pikiran kalian?" tanya Darka penasaran.

__ADS_1


Gilang langsung melemparkan bantal sofa kearah Darka yang berada di sampingnya sehingga bantal sofa itu mengenai wajah Darka.


Gilang menatap horor kelima adik laki-lakinya. "Berani kalian buka mulut. Maka putus hubungan persaudaraan kita hari ini juga!"


Seketika Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin membelalakkan kedua matanya ketika mendengar ucapan sekaligus ancaman dari kakak kelimanya.


"Ka-kakak Gi-gilang!" seru Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.


"Ucapan kakak Gilang serius. Tidak main-main."


Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin seketika menelan ludahnya kasar.


Dan seketika Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin mengatub bibirnya. Mereka benar-benar takut akan ancaman dari Gilang.


Melihat kepatuhan dan juga ketakutan dari kelima adik laki-lakinya. Gilang tersenyum kemenangan.


"Aish! Baru diancam gitu saja kalian sudah ciut," ejek Darka.


"Jangan menambah-nambah bumbu, alien sialan!" Gilang berucap dengan kejamnya.


Mendengar perkataan disertai umpatan dari Gilang. Darka menatap Gilang dengan cengiran khasnya.


Sementara Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky dan Adnan hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat pertunjukkan yang dimainkan oleh Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin, Gilang dan Darka.


***


Di kediaman Johnson dimana Nino bersama istri dan kedua anaknya tengah bersantai di ruang tengah. Mereka tengah menonton televisi.


Ketika mereka asyik menonton televisi, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seseorang.


Nino dan Donita langsung melihat kearah orang yang memanggilnya. Begitu juga dengan Satria dan Safira.


Seketika mereka membulatkan kedua matanya saat melihat Kathleen lengkap dengan dua kopornya di samping kanan dan kiri.


Dan detik kemudian, terukir senyuman manis di bibir Donita, Satria dan Safira.


"Akhirnya angkat kaki juga dia dari rumah ini," batin ketiganya kompak.


"Sebelum aku pergi dari rumah ini. Ada tiga hal yang akan aku sampaikan kepada kalian," ucap Kathleen.


Mendengar perkataan Kathleen. Donita, Safira dan Satria menatap jijik Kathleen.


Safira ingin membuka mulutnya hendak melawan kata dari Kathleen. Namun Kathleen sudah terlebih dahulu membungkam mulutnya dengan kata-katanya.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengar ocehan sampah darimu, nona Safira!"


Mendengar perkataan kejam dari Kathleen membuat Safira terkejut. Begitu juga dengan Donita, Satria dan Nino.


Kathleen mengeluarkan sebuah map dalam tas kerjanya, lalu memberikannya kepada Nino.


"Tanda tangan berkas ini."


"Berkas apa ini, Kathleen?" tanya Nino.


"Anda punya mata kan? Anda juga bisa membaca kan? Lihat dan bacalah," ujar Kathleen.


Setelah itu, Nino membuka map itu lalu membacanya. Begitu juga dengan Donita, Satria dan Safira. Mereka ikut membaca isi dari map itu.

__ADS_1


"Aku mau kalian mendatangi di atas kertas itu. Sementara untuk anda, tuan Nino! Bubuhkan tanda tangan anda diatas materai itu."


"Kami tidak mau," jawab Safira dan Satria.


"Baiklah jika kalian tidak mau, maka aku akan tetap berada disini. Selamanya! Dan kalian jangan mencari masalah denganku selama aku tinggal disini."


Mendengar perkataan dan juga ancaman dari Kathleen membuat Satria, Safira dan Donita menatap tajam Kathleen.


"Dasar benalu tidak tahu diri!" bentak Safira.


"Hei, jangan ucapan anda Nona Safira! Anda menyebut saya benalu di rumah ini? Apa anda, kedua orang tua anda dan adik laki-laki anda sudah bercermin terlebih dahulu sebelum mengatakan saya sebagai benalu di rumah ini?" tanya Kathleen menantang dengan tatapan matanya yang menajam.


Seketika Safira menciut ketika melihat tatapan tajam dan menusuk yang diberikan Kathleen.


"Aku beritahu anda ya nona. Dan juga kalian. Kalian bisa hidup sampai sekarang ini karena kerja kerasku. Kalian bisa makan enak dan bisa membeli pakaian mahal, semua itu uang dariku. Kalian tinggal di rumah ini, uang sewanya aku yang bayar setiap bulan. Sekarang katakan padaku. Dimana letak bahwa aku hanya benalu di rumah ini?" ucap dan tanya Kathleen dengan menatap satu persatu wajah keempat orang yang ada di hadapannya dengan tersenyum menyeringai.


Mendengar perkataan dari Kathleen membuat Nino, Donita, Safira dan Satria seketika bungkam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Kathleen barusan.


"Sekarang tanda tangan berkas itu. Disana sudah ada nama kalian masing-masing," ucap Kathleen.


Dan pada akhirnya, Nino beserta istri dan kedua anaknya pun menanda tangani berkas yang diberikan oleh Kathleen.


Setelah menandatangani berkas itu, Nino mengembalikan map itu kepada Kathleen.


Kini map tersebut sudah berpindah ke tangan Kathleen.


"Kalian tahu apa alasanku menyuruh kalian untuk menandatangani berkas ini, hum?"


Donita, Satria dan Safira tidak menjawab perkataan dari Kathleen. Mereka menatap tajam Kathleen. Sementara Nino hanya diam dengan menatap sendi Kathleen.


"Baiklah jika kalian tidak mau menjawab pertanyaanku. Aku akan beritahu kalian arti dari berkas yang kalian tanda tangan ini. Berkas ini aku buat beberapa hari yang lalu bersama pengacaraku. Seperti yang sudah kalian lihat barusan. Ada dua tanga tangan disana sebelum kalian menandatangani berkas ini. Berkas ini adalah berkas perjanjian antara aku dengan kalian. Dengan adanya berkas ini, berarti kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Kita tidak saling mengenal satu sama lain. Jadi....!"


Kathleen menghentikan ucapannya sejenak. Matanya menatap tajam Donita, Satria dan Safira. Serta sedikit melirik kearah Nino.


"Jadi jika kalian kembali mengusikku, kembali menggangguku, kembali mencari masalah denganku setelah aku pergi meninggalkan rumah ini. Maka aku akan melaporkan kalian ke polisi dengan membawa berkas ini. Aku akan menceritakan semuanya kepada polisi sembari memperlihatkan isi berkas ini kepada pihak kepolisian. Jika itu terjadi, kalian akan mendekam dalan penjara selama yang aku inginkan."


Deg!


Donita, Safira dan Satria terkejut ketika mendengar ucapan dan ancaman dari Kathleen.


"Aku tidak main-main dengan ucapanku. Dan ucapanku barusan bukan hanya sekedar ancaman belaka. Selama ini aku sudah cukup sabar menerima perlakuan buruk dari kalian. Padahal aku yang memenuhi semua kebutuhan kalian di rumah ini. Kalian tidak pernah menghargai semua usahaku. Jadi aku tidak akan membiarkan kalian melakukan hal buruk lagi padaku setelah aku keluar dari rumah ini."


"Satu hal yang harus kalian ingat. Seorang Kathleen Adelia tidak pernah takut kepada kalian. Kalau aku mau, sudah sejak dulu aku membalas kalian. Tapi aku tidak melakukannya karena aku masih menghormati kalian semua. Dan aku masih menganggap kalian keluargaku."


Kathleen menatap tajam Donita, Safira dan Safira. "Dikarenakan kalian sudah membangunkan sisi lain dari dalam diriku, makanya hari ini aku memberikan sedikit pelajaran untuk kalian sebelum aku pergi.


"Aku sudah tahu semuanya. Pertama, kalian berniat untuk mengusirku dari rumah ini. Kedua, aku tahu bahwa rumah ini adalah rumahku. Rumah pemberian dari seorang bernama Arman yang tak lain adalah Bos dari tuan Nino. Ketiga, kalian sudah menipuku tentang rumah ini dengan mengatakan bahwa rumah ini adalah rumah sewa sehingga aku membayarnya setiap bulan. Semua uang itu masih tersimpan dengan utuh. Uang itu akan kalian gunakan untuk membayar seorang pengacara agar kalian bisa merubah nama rumah ini menjadi milik kalian."


Mendengar perkataan panjang dari Kathleen membuat Nino, Donita, Satria dan Safira sontak terkejut. Mereka benar-benar terkejut akan apa yang mereka dengar barusan. Bahkan mereka tidak menyangka jika Kathleen mengetahui semuanya.


Kathleen tersenyum puas ketika wajah panik, wajah khawatir dan juga wajah takut dari Nino, Donita, Safira dan Satria.


"Setelah aku pergi dari rumah ini. Kalian akan mendapatkan kejutan besar. Aku sangat yakin kalian akan lebih terkejut lagi nantinya. Jadi, persiapkan mental kalian dari sekarang!"


Setelah mengatakan itu, Kathleen menyeret dua kopornya pergi meninggalkan rumah yang selama ini di tempatinya.


Sementara Nino, Donita, Satria dan Safira berdiri mematung dengan tatapan matanya menatap punggung Kathleen yang kian menjauh.

__ADS_1


__ADS_2