KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kemarahan Zora


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dan sebentar lagi anggota keluarga Smith akan melaksanakan makan malamnya. Dan kini semuanya sudah berkumpul di ruang tengah lengkap dengan Darren.


"Papa," panggil Erica lalu duduk di pangkuan ayah angkatnya.


Darren memberikan ciuman di kedua pipi putri angkatnya lalu tangannya membelai lembut rambut hitamnya.


"Ada apa, hum?"


"Besok Erica libur."


"Terus?"


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan. Ajak Bibi Brenda."


Mendengar ucapan sekaligus permintaan Erica membuat Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya tersenyum.


"Memangnya Erica mau jalan-jalan kemana?" tanya Darren.


"Kemana saja. Asal bersama Papa dan Bibi Brenda."


Darren kembali memberikan ciuman di pipi Erica. Dirinya benar-benar bangga memiliki Erica di dalam hidupnya. Putrinya ini tidak banyak keinginan. Jika ingin sesuatu, ujung-ujungnya putrinya akan menyerahkan semua keputusan padanya.


"Baiklah. Papa akan kosongkan jadwal Papa besok di perusahaan. Jadi jadwal Papa hanya ke kampus saja."


"Benarkah, Papa?"


"Iya."


Cup..


Erica seketika memberikan ciuman di pipi Darren. Dia benar-benar bahagia karena ayah angkatnya itu langsung mengabulkan permintaannya.


"Papa yang terbaik."


Mereka semua tersenyum ketika mendengar ucapan Erica. Begitu juga dengan Darren. Kemudian Darren memberikan ciuman di pipi putri angkatnya itu.


"Kakak Darren," panggil Adrian dan Mathew bersamaan.


Mendengar panggilan dari kedua adiknya membuat Darren langsung melihat kearah keduanya. Darren melihat bahwa kedua adiknya itu menatap dirinya dengan tatapan menyesal.


"Kakak Darren maafkan aku. Maafkan aku yang tidak memahami kesibukan kakak. Dan maafkan aku yang bersikap kanak-kanak," ucap Adrian tulus.


"Kakak Darren maafkan aku dan kakak Adrian. Kita berdua mengaku salah. Maafkan kita yang sudah buat kakak Darren marah dan kecewa. Kakak Darren jangan lama-lama marahnya," ucap Mathew.

__ADS_1


Mendengar ucapan demi ucapan dari Adrian dan Mathew membuat Erland, Agneta serta yang lainnya menatap kedua dengan tatapan sedih dan iba.


Darren menatap kedua adiknya itu dengan tatapan matanya yang tajam seolah-olah ingin memakan hidup-hidup kedua adiknya itu.


Adrian dan Mathew seketika menelan kasar air ludahnya ketika melihat tatapan tajam yang diberikan oleh kakak kesayangannya itu. Sedangkan Erland, Agneta dan yang lainnya tersenyum gemas melihat wajah takut Adrian dan Mathew ditatap oleh Darren.


"Ka-kakak Da-darren," lirih Adrian dan Mathew bersamaan.


Seketika Darren merubah ekspresi wajah dan tatapan matanya. Kini tatapan mata Darren sudah melembut. Tidak beberapa menit yang lalu.


"Kakak berikan kalian maaf, tapi belum maaf yang sesungguhnya."


Seketika kedua orang tuanya, keenam kakak-kakaknya, Paman dan Bibinya, ketiga kakak sepupunya dan kelima adik-adiknya menatap bingung kearah dirinya akan perkataannya barusan.


"Ma-maksud kakak Darren?" tanya Adrian dan Mathew bersamaan.


"Maaf uji coba," jawab Darren langsung.


"Maaf uji coba?!" tanya mereka semuanya secara bersamaan.


"Memang bisa begitu?" tanya Dzaky bingung.


"Bisa. Kan barusan aku bilang begitu," jawab Darren.


"Kakak kasih kalian kesempatan untuk bisa menjadi laki-laki dewasa dan bertanggung jawab. Karena bagaimana pun tidak selamanya keinginan kita itu selalu dikabulkan. Tidak selamanya orang tersebut akan ada untuk kita. Intinya, orang itu akan melakukan hal yang terbaik untuk orang-orang terdekatnya. Dia akan berusaha menjadi yang terbaik untuk orang-orang yang dia sayangi."


Mendengar ucapan dari Darren membuat Adrian dan Mathew langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Bahkan mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren.


"Kami mengerti kakak Darren. Maafkan kami!"


Darren tersenyum mendengar ucapan disertai permintaan maaf dari kedua adiknya itu.


"Permisi nyonya, tuan!"


Seorang pelayan wanita datang menghampiri semua anggota keluarga yang ada di ruang tengah.


"Iya, Bi!"


"Makan malam sudah selesai dihidangkan."


"Baiklah Bi. Terima kasih ya."


Setelah itu, sang pelayan pun kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


***


"Kalian benar-benar keterlaluan! Kalian tidak layak disebut sebagai manusia!" teriak Zora kepada kedua orang tuanya.


Sementara Antony dan Emilia hanya bisa diam ketika mendengar ucapan dan bentakan yang diberikan oleh putri sulungnya.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika kalian berubah menjadi sosok iblis terhadap putri kandung kalian sendiri! Apa yang ada di otak kalian!" teriak Zora.


"Sayang," lirih Emilia.


"Kenapa? Kenapa kalian berlaku buruk kepada Bianca? Apa salah Bianca kepada kalian? Asal kalian tahu tidak ada seorang anak di dunia ini yang minta dilahirkan ke dunia ini. Adanya seorang anak di dunia ini itu karena permintaan para pasangan suami istri termasuk kalian. Jadi, kehadiranku dan Bianca itu adalah keinginan kalian. Tapi kalian bersikap buruk terhadap Bianca yang notabene adalah darah daging kalian sendiri!" teriak Zora dengan berlinang air mata.


Zora menatap marah dan juga kecewa terhadap perlakuan kedua orang tuanya terhadap adik perempuannya. Hatinya sakit ketika mendengar setiap rentetan aduan yang keluar dari mulut adik perempuannya itu.


Saat pertemuan Zora dengan Bianca adik perempuannya, Zora memaksa adiknya itu untuk mengatakan yang sebenarnya alasannya pergi meninggalkan rumah karena Zora sudah tahu tabiat kedua orang tuanya sejak mereka kecil-kecil dulu. Keduanya orang tuanya lebih memihak padanya, lebih menyayangi dirinya, lebih peduli padanya dan sering membanding-bandingkan dirinya dengan adiknya. Zora juga tahu bahwa kedua orang tuanya selalu bersikap kasar dan sering main tangan kepada adiknya.


"Zora, Maafkan Mama. Mama akui Mama salah, nak! Mama adalah Mama yang paling buruk untuk adikmu."


"Iya, Nak! Papa juga mau minta maaf padamu karena sudah menyakiti adikmu."


"Aku akan memaafkan kesalahan kalian jika Bianca sudah memberikan maaf untuk kalian dan kembali lagi ke rumah ini. Selama Bianca belum memberikan maaf kepada kalian. Jangan harap aku akan memaafkan kalian. Aku bahkan akan pergi dari rumah ini dan tinggal bersama Bianca."


"Tidak, sayang! Tidak!" teriak histeris Emilia.


"Ini sudah keputusanku."


Setelah mengatakan itu, Zora pergi meninggalkan kedua orang tuanya untuk menuju kamarnya. Dirinya saat ini benar-benar marah terhadap kedua orang tuanya.


"Hiks...Zora... Maafkan Mama. Maafkan Mama... Hiks," isak Emilia.


Mendengar isakan dari istrinya, Antony langsung memeluk tubuh istrinya itu. Hatinya benar-benar hancur ketika mendengar isak tangis istrinya. Hatinya bahkan bertambah hancur berkali-kali lipat dengan kebenaran kebencian kedua putrinya.


"Bianca, maafkan Papa sayang. Apa yang harus Papa lakukan agar kamu mau memaafkan kesalahan Papa padamu? Jangan hukum Papa seperti ini. Jika kamu ingin marah, silahkan. Papa terima. Jika kamu ingin memukul Papa juga silahkan. Asal jangan benci Papa."


"Hiks... Bianca maafkan Mama, nak! Mama akan melakukan apa saja untukmu asal kamu mau memaafkan Mama. Bianca... Hiks."


"Sayang, bagaimana ini? Kedua putri kita membenci kita. Kita belum berhasil mendapatkan maaf dari Bianca. Dan sekarang Zora ikut membenci kita. Sayang, aku tidak ingin kehilangan kedua anak-anakku. Aku ingin mereka selalu bersamaku, terutama Bianca! Aku akan menjadi ibu yang baik untuk Bianca."


Antony makin mengeratkan pelukannya. Dapat Antony rasakan bahwa tubuh istrinya bergetar dan juga terdengar isakan-isakan yang keluar dari mulut istrinya.


"Kita akan terus berusaha dan mencoba untuk mendapatkan maaf dari Bianca. Aku yakin sebenci-bencinya Bianca pada kita, di hati kecil Bianca pasti masih ada rasa sayang untuk kita. Percayalah!"


Antony berusaha menghibur istrinya sembari meyakini dirinya sendiri bahwa putri bungsunya itu memiliki hati yang baik. Antony juga yakin di dalam hati putri bungsunya itu masih memiliki rasa sayang untuknya dan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2