
[Di Perjalanan]
Dzaky dan Adnan saat ini sedang dalam perjalanan dari perusahaan musik miliknya hendak pulang ke rumah adik laki-lakinya yaitu Darren.
Baik Dzaky maupun Adnan menggunakan mobil masing-masing. Dzaky menggunakan mobil Honda BR-V. Sedangkan Adnan menggunakan mobil Mitsubishi Eclipse R/SD.
Ketika Dzaky dan Adnan tengah fokus mengendarai mobilnya, tiba-tiba mobil milik Dzaky dihadang beberapa motor. Kebetulan mobil Dzaky berada di depan. Sedangkan mobil Adnan berada di belakang.
Dzaky yang melihat ada beberapa motor yang menghadang mobilnya. Seketika Dazky menginjak rem mobilnya. Dan otomatis Adnan yang ada di belakang pun ikut menginjak rem mobilnya.
"Kenapa Dzaky menghentikan mobilnya," gumam Adnan.
***
[Bengkel Mobil]
Darren dan ketiga sahabatnya yaitu Dylan, Axel dan Jerry saat ini berada di bengkel.
Selesai mengadakan rapat dadakan di kampusnya. Darren dan ketiga sahabatnya memutuskan untuk ke bengkel, karena jadwal kuliah mereka juga sudah selesai.
Sementara untuk Qenan, Willy, Rehan dan Darel ke perusahaan Accenture dan Galeri
Untuk Darka dan Gilang masih berada di Kampus, karena keduanya masih ada dua materi kuliah lagi.
Darren saat ini duduk di kursi kerjanya dengan laptop di hadapannya. Laptop yang dipakai oleh Darren saat ini adalah laptop khusus untuk mengecek mesin yang dipasangkan ke mobil yang sudah dirakit.
Darren, Axel, Jerry dan Dylan tengah mengecek kecocokan mesin yang sudah terpasang di tiga mobil BMW seri terbaru beberapa jam yang lalu.
Setelah hasilnya menunjukkan dengan hasil yang baik. Dan tidak ada masalah sama sekali. Darren, Axel, Jerry dan Dylan memutuskan mulai memasang desain interior mobil yang sudah dibuat beberapa hari yang lalu.
Ketika Darren, Axel, Jerry dan Dylan tengah fokus memasang desain interior mobil, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.
Mendengar ponselnya berbunyi, Darren langsung berhenti dari kegiatannya dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
Ketika ponselnya sudah berada di tangannya. Darren melihat nama tangan kanannya di layar ponselnya.
Tanpa buang-buang waktu lagi. Darren segera menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.
"Hallo."
"Hallo, Bos. Gawat!"
Wajah Darren seketika berubah ketika mendengar perkataan dari tangan kanannya.
Jerry sempat melirik sekilas kearah Darren dan melihat perubahan wajah Darren. Jerry pun langsung menghentikan kegiatannya dan menatap kearah Darren.
"Ren," panggil Jerry.
Dylan dan Axel juga ikut berhenti dari kegiatannya dan melihat kearah Jerry dan Darren.
"Gawat kenapa? Katakan!"
"Begini. Bos! Saya melihat ada sekitar 12 motor yang menghadang mobilnya tuan Dzaky. Dan di belakang mobil tuan Dzaky ada mobil tuan Adnan."
"Apa?!" teriak Darren.
Mendengar teriakan Darren membuat Axel, Jerry dan Dylan tampak khawatir.
"Ren, kenapa? Ada apa?" tanya Dylan.
"Berapa jumlah mereka?"
"24, bos."
"Brengsek," umpat Darren. "Apa yang terjadi sekarang?"
"Yang jelas saat ini tuan Dzaky dan tuan Adnan tengah bertarung dengan kedua puluh empat orang-orang itu Bos."
"Ren, ada apa?" tanya Axel.
__ADS_1
Darren melihat kearah Axel, Jerry dan Dylan. Begitu juga dengan Axel, Jerry dan Dylan.
"Jer, hubungan kakak Enzo. Sekarang!"
"Baiklah."
Jerry langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya ada di tangannya. Jerry langsung mencari nama kontak 'kakak Enzo'.
Setelah mendapatkannya, Jerry langsung menghubungi sipemilik nomor tersebut. Jerry pun tak lupa meloundspeaker panggilannya.
"Lokasi kedua kakakku itu dimana?"
"Jalan Flamboyan, Bos!"
Setelah mendapatkan lokasi kedua kakaknya. Darren langsung mematikan panggilannya.
"Hallo, kak Enzo."
"Hallo, Jerry. Ada apa?"
"Ini Darren mau bicara."
Jerry mendekatkan ponselnya ke hadapan Darren. Darren pun langsung berbicara.
"Hallo, kak Enzo. Aku butuh bantuanmu. Kak Dzaky dan kak Adnan dalam bahaya. Ada sekitar dua puluh empat orang yang saat ini tengah bertarung dengan mereka."
Axel, Jerry dan Dylan terkejut ketika mendengar perkataan Darren yang mengatakan bahwa kedua kakaknya dalam bahaya.
"Dimana lokasi mereka sekarang?"
"Di jalan Flamboyan."
"Baiklah. Kakak akan mengutus Zee dan Lian untuk segera ke lokasi."
"Terima kasih kak Enzo."
"Iya. Aku tahu. Tapi bagaimana pun rasa khawatir seorang adik terhadap kakaknya itu akan tetap ada sekali pun kakakku itu jago bela diri."
"Iya, kakak mengerti. Kakak janji sama kamu. Nggak akan terjadi apa-apa terhadap kedua kakak kamu itu."
"Hm."
Setelah itu, baik Darren maupun Enzo sama-sama mematikan panggilannya. Kemudian Darren mengembalikan ponsel tersebut kepada Jerry.
***
[Di Perjalanan]
Dzaky dan Adnan sedang bertarung menghadapi 24 laki-laki yang tak dikenali oleh mereka.
"Siapa kalian?!" teriak Dzaky. Dzaky memberikan pukulan dan tendangan kepada laki-laki itu.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami," jawab laki-laki itu dengan membalas setiap pukulan dan tendangan dari Dzaky.
"Apa mau kalian sebenarnya, hah?!" bentak Adnan.
"Mau kami adalah kau dan saudaramu itu memutuskan kerja sama dengan perusahaan musik BMG Rights Management," jawab laki-laki yang menjadi lawan tarung Adnan.
Mendengar jawaban dari laki-laki itu membuat Dzaky dan Adnan terkejut. Adnan melihat kearah Dzaky. Begitu juga Dzaky.
Detik kemudian...
"Hahahahaha."
Dzaky dan Adnan tertawa keras ketika mendengar jawaban dari laki-laki itu.
"Hey, bung. Anda pikir anda itu siapa. Seenaknya saja memberikan perintah padaku dan saudaraku," ucap Adnan dengan tatapan remehnya.
"Aku tahu sekarang. Pasti ini ulah dari bajingan itukan? Bajingan itukan yang menyuruh kalian untuk mencegat kami lalu mengancam kami untuk memutuskan kerja sama dengan BMG Rights Management," sahut Dzaky yang langsung mengetahui dalang yang telah membayar beberapa orang untuk menyerangnya dan juga saudaranya.
__ADS_1
Sementara ketua dari pimpinan kelompok tersebut menatap marah kearah Dzaky karena telah menghina Bos nya.
"Brengsek. Beraninya kau menghina Bos ku, hah!"
"Kau pikir aku takut. Jawabnya tentu saja tidak," jawab Dzaky dengan senyuman mengejeknya.
"Sekali pecundang tetaplah pecundang," sahut Adnan.
"Hahahaha."
Dzaky dan Adnan tertawa keras dengan menatap remeh orang-orang yang masih terus menyerangnya.
"Brengsek!"
Laki-laki itu dan anak buahnya menyerang Dzaky dan Adnan membabi buta. Mereka menyerang tanpa jeda sama sekali.
Baik Dzaky maupun Adnan memberikan pukulan dan tendangan kuat mereka ke wajah dan perut para musuhnya sehingga membuat para musuhnya mendapatkan pukulan dan tendangan secara beruntun dari Dzaky dan Adnan.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara letusan senjata api itu mengenai tepat sasaran di kepala, jantung dan perut orang-orang yang menghajar Dzaky dan Adnan. Sekitar tujuh belas orang mati seketika.
Melihat rekan-rekannya terkapar dengan luka tembak di kepala, jantung dan perut membuat sang pemimpin dan enam anak buahnya yang tersisa terkejut.
Sementara Dzaky dan Adnan langsung melangkah mundur ketika mendengar suara tembakkan.
"Lebih baik kalian pergi dari sini!" seru seseorang yang datang ntah dari mana dengan menodongkan senjatanya kearah pemimpin dan enam anak buahnya yang tersisa.
Orang itu datang bersama rekannya dengan membawa sepuluh anggotanya.
Orang itu adalah Zee dan rekannya adalah Lian. Keduanya adalah tangan kanannya Enzo.
"Siapa kalian? Kenapa kalian ikut campur pekerjaan kami?!" teriak pemimpin itu.
"Jika kau dan kelompokmu itu tidak mengganggu kedua pemuda itu. Maka kami juga tidak akan ikut campur dalam pekerjaan kalian," jawab Lian.
"Kau dan kelompokmu sudah berani mengusik dua kakakĀ dari adik laki-laki kesayangan bos kami," sahut Zee.
Mendengar perkataan dari Zee membuat Dzaky dan Adnan langsung mengerti. Dzaky dan Adnan yakin jika adik bungsunya itu yang telah menghubungi salah satu kakak-kakak mafianya untuk datang membantunya.
"Terima kasih, sayang."
"Darren. Terima kasih, sayang!"
"Ini peringatan terakhir. Menjauhlah dari keluarga Smith. Jangan mengusik mereka. Kalau kalian atau Bos kalian masih mengusik keluarga Smith. Jangan salahkan kami jika kami akan membantai habis keluarga kalian dan juga keluarga dari Bos kalian itu." Lian berbicara dengan penuh penekanan disetiap kata.
"Sekarang kalian pergi dari sini. Atau kalian ingin mati seperti mereka!" teriak Zee sembari menunjuk kearah mayat yang tergeletak di aspal.
Dan pada akhirnya, pemimpin dan enam anak buahnya yang tersisa pun pergi meninggalkan lokasi.
Kini tinggal Dzaky, Adnan, Zee, Lian dan sepuluh anggotanya.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Lian.
"Kami tidak apa-apa. Terima kasih," ucap Dzaky dan Adnan bersamaan.
"Kalian tidak perlu berterima kasih kepada kami. Kalau bukan informasi dari ketua. Kami tidak akan tahu kalian sedang dalam bahaya," jawab Zee.
"Ketua memberitahu kami bahwa kalian tengah dikeroyok oleh beberapa orang. Mendapatkan kabar dari ketua. Kami langsung bergegas kemari. Kebetulan kami juga berada di lokasi yang tak jauh dari kalian berada saat ini," ucap Lian.
"Apa adikku yang menghubungi ketua kalian?" tanya Dzaky.
"Sepertinya begitu," jawab Zee.
"Ya, sudah. Lebih baik kalian pulanglah. Dan kami akan mengawal kalian dari belakang," ujar Lian.
"Baiklah."
Dzaky dan Adnan pun langsung menuju mobilnya. Setelah tiba di mobilnya, Dzaky dan Adnan pun langsung masuk ke dalam mobil.
Dzaky dan Adnan pergi meninggalkan lokasi tersebut dan diikuti oleh Zee, Lian dan sepuluh anggotanya di belakang.
__ADS_1