
Setelah puas memberikan kecupan-kecupan sayang d kening Darren dan juga membisikkan kata-kata semangat di telinga Darren. Kedua orang tua Darren, keenam kakak-kakaknya, kelima adik-adiknya, ketujuh sahabat-sahabat Darren dan anggota keluarga dari ketujuh sahabat-sahabat Darren, termasuk Brenda kini duduk di sofa yang ada di ruang rawat Darren. Ruangan rawat Darren begitu luas. Jadi bisa menampung banyak orang.
Erland, Agneta, kesebelas putra-putranya, Carissa, Evan dan putranya yaitu Daffa, Tristan dan Davian kini tengah mengobrol dengan Brenda. Mereka semua berusaha untuk lebih dekat lagi dengan gadis yang begitu mencintai kesayangan mereka.
Baik Erland, Agneta, Carissa, Evan maupun putra-putra mereka yaitu Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, Melvin, Daffa, Tristan dan Davian sudah mengetahui bagaimana kedekatan Brenda dan Darren. Mereka semua mengetahuinya dari ketujuh sahabat-sahabat Darren. Dan ditambah dengan penjelasan dari ayah Darel dan Rehan yaitu Dellano dan Valeo.
Dellano dan Valeo menceritakan kepada Erland dan keluarga Smith bahwa mereka dan yang lainnya sudah mengenal Brenda dari ketika Darren, putra-putra mereka dan Brenda sejak masih duduk di bangku SMP. Bahkan mereka juga kenal dengan keluarga Brenda.
Mendengar cerita dari Dellano dan Valeo membuat Erland kembali menyalahkan dirinya. Begitu banyak yang tidak diketahui olehnya dan keluarganya tentang kehidupan putranya dan juga orang-orang yang ada sekitar putranya.
Hanya dirinya dan keluarganya yang tidak mengetahuinya. Sementara untuk ketujuh sahabatnya, mereka semua tahu apa yang dilakukan dan dikerjakan oleh putra-putra mereka di luar sana. Bahkan ketujuh sahabat-sahabatnya itu juga tahu tentang semuanya, termasuk putranya sendiri.
Erland menangis. Begitu juga dengan Agneta dan keenam putranya yaitu Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.
Agneta membelai lembut wajah cantik Brenda. Dan detik kemudian, Agneta memberikan kecupan sayang di kening Brenda.
"Apa bibi boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Agneta lembut.
"Bi-bibi mau bertanya apa padaku?" tanya Brenda balik.
Mereka semua tersenyum mendengar pertanyaan dari Brenda.
"Seperti yang dikatakan oleh Willy beberapa menit yang lalu bahwa kamu begitu mencintai Darren putra Bibi. Apa itu benar, hum?" ucap dan tanya Agneta dengan senyuman manisnya menatap Brenda yang saat ini tengah gugup.
Brenda tidak tahu harus menjawab apa. Jujur di hati kecilnya jika dirinya memang benar sangat mencintai Darren sejak duduk di bangku SMP. Dan rasa cinta itu masih ada dan masih sama sampai sekarang.
Mereka semua terus melihat diamnya Brenda. Mereka semua paham jika Brenda malu dan juga tidak tahu harus mengatakan apa.
"Katakan saja sayang. Jika kamu beneran cinta atau kamu tidak mencintai Darren. Kita tidak mempermasalahkan hal itu." Carissa ikut berbicara.
"Tapi kami semua lebih bahagia jika kamu benar-benar mencintai Darren," sahut Evan.
Brenda memberanikan menatap Agneta dan Erland selaku orang tua Darren.
"I-iya. Aku sangat mencintai Darren. Rasa cintaku ini tumbuh sejak pertama kali kenal dan dekat dengan Darren. Lebih tepatnya sejak SMP."
Mendengar penuturan dari Brenda membuat mereka semua tersenyum bahagia, terutama Erland, Agneta dan keenam kakak-kakak laki-laki Darren.
"Apa Darren tahu kalau kamu mencintai dia?" tanya Davin.
Brenda langsung menggelengkan kepalanya." Darren tidak tahu."
"Kamu nggak kasih tahu Darren?" tanya Darka.
"Nggak," jawab Brenda.
"Kenapa?" tanya Andra.
"Aku... Aku takut jika Darren bakal marah sama aku. Secarakan kedekatan kita hanya sebatas persahabatan doang. Nggak lebih. Dan aku nggak mau Darren sampai membenci aku dan mengakibatkan persahabatan kita hancur. Jadi aku memilih memendam semua perasaan aku selama ini. Dan berusaha bersikap layaknya seorang sahabat di depan Darren."
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Adnan.
"Setelah lulus SMA. Aku memutuskan untuk kuliah di Australia dimana negara Australia adalah negara asal Papa. Aku tinggal di rumah besar milik keluarga Papa. Semua tinggal disana," ujar Brenda.
"Jadi Papa kamu berasal dari negara Australia?" tanya Dzaky.
"Iya, kakak Dzaky." Brenda menjawab perkataan Dzaky sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sejak aku memutuskan kuliah di Australia. Sejak itulah aku tidak lagi berkomunikasi dengan Darren. Kita berdua putus kontak. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel."
"Selama aku di Australia, aku berusaha untuk membuang semua perasaan dan rasa cinta aku terhadap Darren. Aku akan berusaha untuk tetap menganggap Darren sebagai sahabat aku, karena aku tidak ingin kehilangan Darren. Aku ingin Darren selamanya menjadi sahabat aku. Begitu juga dengan yang lainnya. Tapi sekeras apa pun usaha aku untuk membuang jauh semua perasaan cintaku terhadap Darren. Tapi tetap saja perasaan ini selalu muncul. Bahkan perasaan ini bertambah berkali lipat."
"Setelah selesai ujian semester kedua. Aku memutuskan kembali ke Jerman. Dan kuliah di Jerman. Dan ditambah lagi aku sudah sangat merindukan Mama dan kelima saudara dan saudariku yang memang menetap di Jerman," ucap Brenda.
"Apa Papa kamu nggak ikut bersama kamu pulang ke Jerman?" tanya Gilang.
Mendengar pertanyaan dari Gilang. Seketika raut wajah Brenda berubah. Erland, Agneta dan keluarga Smith lainnya menatap Brenda bingung.
"Kakak Gilang," panggil Qenan.
Gilang langsung melihat kearah Qenan. Begitu juga dengan yang lainnya. Qenan memberikan kode dengan menggelengkan kepalanya.
Melihat Qenan yang menggelengkan kepalanya. Dan ditambah lagi dengan ekspresi wajah Qenan. Seketika Gilang dan anggota keluarga Smith langsung paham.
Gilang dan anggota keluarganya menatap bersalah kearah Brenda, terutama Gilang.
"Brenda, maaf. Kakak tidak tahu masalah itu." Gilang benar-benar menyesal telah bertanya masalah Ayahnya kepada Brenda.
Brenda tersenyum menatap wajah Gilang. "Tidak apa, kak Gilang. Kak Gilang kan nggak tahu. Jika kak Gilang tahu. Nggak mungkin kak Gilang akan bertanya seperti itu padaku."
Mereka semua tersenyum ketika mendengar ucapan dari Brenda.
Ketika mereka semua tengah mengobrol, tiba-tiba ponsel milik Brenda berbunyi.
Brenda yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambilnya di saku jacketnya.
Setelah ponselnya berada di tangannya, Brenda melihat nama kakak keduanya yaitu Rangga di layar ponselnya. Seketika Brenda membelalakkan matanya.
"Mampus. Sebentar lagi bakal kena ceramah nih," gumam Brenda.
"Hallo, kakak Ra..." perkataan Brenda terpotong dikarenakan Rangga telah bersuara terlebih dahulu di seberang telepon.
"Hei, bocah edan. Lo dimana, hah?!" teriak Rangga.
Brenda langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya sembari tangannya mengusap-ngusap telinganya.
"Aish! Selalu seperti itu setiap menelponku," ucap Brenda.
"Yaelah! Nggak usah protes dan nggak usah ngeluh. Lo juga sama kaya kakak lo itu. Lupa lo bagaimana kelakuan lo setiap menghubungi pujaan hati lo. Lo dan kakak lo tuh nggak jauh beda.. Sama-sama tu..." perkataan Dylan terpotong.
Mendengar perkataan dari Dylan. Brenda langsung memberikan tatapan mautnya kearah Dylan.
Melihat tatapan mata Brenda. Justru membuat Dylan balik menatap wajah Brenda. Tatapan matanya tak kalah dengan tatapan matanya Brenda.
"Apa lo liat-liat gue? Naksir lo sama gue. Terus si anak kelinci ini mau lo buang kemana?" tanya Dylan menantang.
Mendengar perkataan seenak jidatnya dari Dylan membuat Brenda mendengus kesal.
Sementara anggota keluarga Smith, anggota keluarga Dylan dan anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya dan keenam sahabatnya hanya geleng-geleng kepala mendengar perdebatan antara Brenda dan Dylan.
Ketika Brenda ingin menjawab perkataan dari Dylan. Dylan sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Tu kakak lo udah jamuran nungguin jawaban dari lo. Jawab noh!"
Seketika Brenda tersadar bahwa kakaknya Rangga kini menelpon dirinya. Dan Brenda pun kembali berbicara dengan sang kakak.
__ADS_1
"Hallo, kakak Rangga."
"Kamu dimana? Kenapa belum pulang juga? Kamu udah pandai berbohong ya sekarang?"
DEG!
Mendengar perkataan terakhir kakaknya yang mengatakan bahwa dirinya telah berbohong membuat Brenda seketika merasakan rasa bersalah di dalam hatinya. Brenda akui jika selama ini dirinya membohongi keluarganya dan tidak memberitahu keluarganya bahwa dirinya telah bergabung dengan sebuah kelompok mafia.
Apakah kakak laki-lakinya itu tahu akan hal itu? Itulah yang dipikirkan oleh Brenda saat ini.
"Mak-maksud kakak Rangga apa? Aku sama sekali tidak pernah bohongin kakak, Mama dan yang lainnya."
"Jika kamu tidak pernah berbohong. Lalu kenapa kamu bilang ke Mama kalau kamu bantuin teman kamu di perusahaan. Perusahaan yang mana, Brenda? Ini sudah pukul berapa? Mana ada Perusahaan yang masih buka jam segini? Dimana-mana perusahaan itu tutup jam 8 malam, itu pun kalau ada karyawan yang lembur."
"Sekarang jawab kakak. Kamu dimana sekarang?"
"Maafkan aku, kakak Rangga."
Mendengar kata maaf dari adik perempuannya. Dan ditambah lagi mendengar suara lirih adik perempuannya itu membuat Rangga hanya bisa menghela nafas. Inilah kelemahan Rangga.
"Oke, Kakak maafkan kamu. Sekarang kamu dimana?"
"Aku di rumah sakit. Darren masuk rumah sakit."
Mendengar jawaban dari Brenda membuat Rangga seketika terkejut.
"Apa yang terjadi Brenda? Kenapa Darren masuk rumah sakit? Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Kakak Rangga. Nanti saja ketika di rumah aku ceritakan. Dan aku juga mau mengatakan sesuatu sama kakak Rangga, Mama dan juga sama yang lainnya."
"Baiklah. Apa perlu kakak jemput kamu?"
"Nggak usah kak. Qenan sama Willy tadi janji sama aku. Mereka bakal antar aku pulang."
"Ya, udah. Kakak tunggu kamu di rumah. Bilang sama Qenan dan Willy. Hati-hati disaat bawa mobil."
"Iya, kak. Aku akan sampaikan."
"Ya, sudah. Kakak tutup teleponnya."
"Iya, kak."
Setelah itu, Rangga pun mematikan panggilannya.
Brenda menatap wajah orang-orang yang ada di ruang rawat Darren satu persatu.
"Paman, Bibi, kakak. Aku pamit pulang ya. Kalau aku masih tetap disini. Bisa-bisa semua saudara-saudari aku bakal terus menelponku. Dan bisa-bisa istirahat Darren jadi terganggu."
Mereka semua tersenyum mendengar perkataan dari Brenda.
"Kirim salam buat Mama kamu ya." Agneta berbicara dengan menatap wajah cantik Brenda.
"Iya, Bibi."
"Ya, sudah kalau begitu. Kami pamit untuk mengantar si kuntilanak ini pulang!" seru Willy.
"Ayo, buruan kuntilanak kita pulang!" seru Qenan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
__ADS_1
Mendengar perkataan kejam dari Willy dan Qenan membuat Brenda mengumpat kesal.
Sedangkan anggota keluarga mereka hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar perkataan dari Qenan dan Willy.