
Brenda dan ketujuh sahabatnya saat ini berada di ruang yang biasa digunakan oleh para anggota organisasi untuk kepentingan kegiatan kampus.
Sedangkan Darren dan ketujuh sahabatnya berada di ruang latihan Bela Diri.
"Aku nggak ngerti jalan pikiran kamu, Sa! Bisa-bisanya kamu lebih percaya ketika melihat Qenan dan Kelly berpelukan! Padahal kamu tahu bagaimana sifatnya Kelly dan rasa cintanya terhadap Qenan. Dan kamu juga tahu kalau Qenan hanya cinta sama kamu bukan sama Kelly! Tapi kamu justru berlaku buruk terhadap Qenan yang sama sekali nggak tahu apa-apa." Brenda berucap sembari menatap kearah Elsa dengan tatapan kecewanya.
"Di tambah lagi kamu nggak cerita masalah tersebut kepada kami. Kamu bahkan lebih memilih menyembunyikannya," ucap Alice yang juga kecewa akan sikap Elsa.
"Dan lebih kejamnya lagi, kamu lebih memilih menceritakan masalah kamu yang cemburu ketika melihat Qenan dan Kelly berpelukan kepada saudara sepupu kamu dari pada menceritakannya kepada kita, sahabat-sahabat kamu sendiri." Tania juga kecewa terhadap sikap Elsa.
"Dan lihat hasilnya. Karena kamu lebih memilih menceritakan masalah kamu kepada saudara sepupu kamu. Masalahnya makin runyam. Saudara sepupu kamu itu justru menambah masalah baru dengan mengatakan bahwa dia adalah pacar kamu. Mendengar perkataan dari saudara sepupu kamu itu membuat Qenan berpikir bahwa kamu telah mengkhianati dia. Dan terbukti dengan kamu tidak membalas chat dan menolak panggilan dari Qenan!" ucap Felisa.
"Bukan hanya Qenan yang tersakiti karena sikap kamu, Elsa! Darren dan sahabatnya yang lain juga ikut tersakiti. Apa kamu tidak lihat bagaimana marahnya Darel dan Rehan ketika kakak Rivo menghina Qenan dan menyebut Qenan sebagai laki-laki brengsek?" Vania berbicara dengan tatapan matanya menatap sendu Elsa.
"Kita nggak nyalahin kamu dan membela Qenan. Hanya saja, kita benar-benar kecewa akan sikap kamu, Elsa!" Milly berucap.
"Elsa, apa kamu masih ingat apa yang aku katakan ketika kita mengetahui bahwa Tania dan Jerry sudah jadian?" tanya Brenda.
Mendapatkan pertanyaan dari Brenda membuat Elsa seketika mengingat perkataan Brenda kala mengetahui tentang Tania dan Jerry yang sudah resmi jadian.
Ketika mengingat itu, Elsa menundukkan kepalanya. Elsa menangis akan sikap yang terlalu kekanak-kanakan.
Melihat Elsa yang sudah dalam keadaan tak baik-baik saja membuat Brenda dan yang lainnya menjadi kasihan.
Mereka tidak marah. Apalagi membenci Elsa. Hanya saja, mereka kecewa akan sikap Elsa yang terhadap Qenan. Dan di tambah sikap ketidakpercayaan Elsa terhadap Qenan.
"Elsa! Dalam sebuah hubungan itu harus ada yang namanya kepercayaan. Karena kepercayaan itu sangatlah besar harganya dan juga teramat penting dalam sebuah hubungan."
"Jika kepercayaan itu tidak ada dalam diri kita, maka hubungan yang kita bangun bersama dengan pasangan kita akan rusak dan hancur."
"Benar apa yang dikatakan Brenda, Sa! Kepercayaan itu sangatlah besar dalam sebuah hubungan. Bukan hanya dalam hubungan sepasang kekasih, tapi juga dalam hubungan keluarga dan persahabatan. Semua itu harus ada yang namanya kepercayaan." Lenny berbicara lembut sembari tangannya mengusap punggung Elsa.
"Ini adalah pembelajaran untuk kita. Apa yang telah diperbuat oleh Elsa, jangan sampai kita melakukannya juga. Cukup kita jadikan contoh ke depannya. Kita harus mempercayai pasangan kita masing-masing, apapun yang terjadi. Masalah cemburu, itu hal yang wajar. Siapa pun pasti akan cemburu jika melihat orang yang kita cintai berdekatan atau berduaan dengan orang lain. Tapi jangan sampai kecemburuan kita menghancurkan semuanya."
Brenda berbicara dengan menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya.
Mendengar perkataan dari Brenda membuat Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Brenda merangkul pundaknya Elsa, lalu membawanya ke pelukannya. Dan seketika tangis Elsa pecah.
"Maafkan aku... Maafkan aku," ucap Elsa disertai isakannya
Mendengar isak tangis Elsa membuat Brenda dan yang lainnya merasakan sesak di dada mereka.
Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa berhamburan dan ikut memeluk Elsa.
"Kamu nggak perlu khawatir, oke! Aku yakin Qenan tidak benar-benar marah sama kamu. Qenan hanya kecewa saja akan sikap kamu," ucap Vania.
"Jika kamu benar-benar menyesal. Kamu temui Qenan dan bicaralah baik-baik dengannya," ucap Milly.
"Tapi kalau....," perkataan Elsa terpotong karena Brenda sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Percayalah. Jika kamu benar-benar menyesal dan tulus meminta maaf kepada Qenan. Qenan pasti akan memaafkan kamu. Cukup kamu jujur kepada Qenan dan katakan apa yang menjadi alasan kamu bersikap seperti itu kepadanya," ucap Brenda.
"Baiklah," jawab Elsa.
^^^
Kini di ruang latihan Bela Diri terlihat delapan pemuda tampan tengah duduk di sebuah sofa panjang yang ada di dalam ruangan tersebut. Tidak ada yang bersuara dan tidak yang berbicara. Bahkan tidak ada satu pun suara-suara yang membuat keributan di dalam ruangan tersebut. Semuanya diam tanpa kata-kata.
Detik kemudian, Darren tiba-tiba berdiri sambil berteriak sehingga sukses membuat ketujuh sahabatnya terkejut dan menatap dirinya.
"Tidak!"
"Ren, lo kenapa?" tanya Willy dan Axel bersamaan.
Willy dan Axel langsung berdiri dan diikuti oleh Qenan, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel berdiri.
Darren menatap wajah ketujuh sahabatnya yang saat ini menatap dirinya khawatir.
Dan setelah itu, Darren kembali menduduki pantatnya di sofa. Dan diikuti oleh ketujuh sahabatnya itu. Mereka masih menatap Darren khawatir dan juga bingung.
"Ren," panggil Jerry.
"Kenapa?" tanya Darren dengan wajah yang tak terlihat bersalah sama sekali.
__ADS_1
"Lo kenapa?" tanya Jerry.
"Gue?" tanya Darren sembari menunjuk kearah dirinya sendiri dan dengan tatapan matanya menatap ketujuh sahabatnya bergantian.
"Iya, lo! Kenapa?" tanya Jerry lagi.
"Memangnya gue kenapa?" tanya Darren yang pura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi.
"Lo tadi teriak, bodoh!" teriak Qenan, Axel dan Rehan bersamaan. Dan jangan lupa tatapan matanya yang menatap tajam Darren.
"Kalian juga ngapain teriak? Kompak lagi," ucap dan tanya Darren.
"Karena lo yang teriak duluan," jawab Darel.
"Dan kita semua bertanya sama lo," ucap Dylan.
Darren menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya. Dan setelah itu, terukir senyuman manis di bibirnya.
Melihat senyuman manis di bibir Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel hany bisa menghembuskan nafas kasarnya.
"Aku berteriak hanya untuk menyadarkan tujuh manusia tampan yang sedari tadi diam tak bersuara. Apalagi aku perhatikan wajah tujuh manusia tampan itu sudah seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Sumpek, jelek, dekil dan sepet.
"Dengan sekali teriakan, aku berhasil membuat ketujuh manusia tampan itu tersadar dan kembali keasalnya."
Mendengar perkataan dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel membelalakkan matanya. Mereka semua menatap horor Darren.
Sementara Darren hanya memasang wajah tertampannya sehingga membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel memutar bola matanya.
"Dasar siluman kelinci gila!" seru Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.
Darren yang mendengar ejekan dari ketujuh sahabatnya tersenyum.
"Terima kasih atas pujiannya tuan mingtem, tuan tiang listrik, tuan kurus satu, tuan kurus dua, tuan jangkung satu, tuan jangkung dua, tuan bibir seksi." Darren membalas pujian dari ketujuh sahabatnya itu.
Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka haru kembali menghembuskan nafas kasarnya.
Dan pada akhirnya, mereka memilih untuk diam dan berhenti membalas perkataan Darren.
__ADS_1
Jika mereka terus membalas setiap perkataan Darren, maka mereka tidak akan menang melawannya.