
Sudah sejak dua puluh menit yang lalu Kathleen terus berkutat di depan lemarinya. Padahal tinggal sepuluh menit lagi Darka akan menjemputnya untuk segera ke cafe untuk dinner.
Namun sampai sekarang Kathleen tidak dapat menemukan pakaian yang pas untuk dia kenakan di acara dinnernya bersama Darka. Di lempari semua pakaiannya dari dalam lemari ke atas ranjang, lalu Kathleen menghampiri ranjang dan mulai memilah-milah pakaian yang bagus namun terkesan sopan.
Kathleen berdecak karena dia tidak menemukan pakaian yang diinginkannya. Bukannya apa karena Kathleen memang paling banyak memiliki pakaian seksi yang memperlihatkan sebagian lekuk tubuhnya. Dan tentu saja dia tidak mungkin menggunakan pakaian itu. Yang ada nanti Darka akan mengecap dirinya sebagai perempuan yang tidak baik-baik.
Kathleen menggeleng. Dirinya tidak ingin dicap seperti itu. Apalagi itu merupakan calon masa depannya. Tidak ada salahnya kan jika seorang Kathleen berharap seperti itu.
Kembali lagi Kathleen memilah-milah pakaian yang pas untuk dia pakai. Bahkan sekarang lemarinya kosong karena sudah dirinya keluarkan semua isinya.
Bunyi ponsel di atas nakas membuat perhatian Kathleen teralihkan. Kathleen itu beranjak dari ranjang untuk mengambil ponselnya. Dan menampilkan satu panggilan masuk dari Darka.
"Hallo."
"I - iya hallo."
"Aku sudah di depan gerbang."
"Kamu sudah sampai?"
"Iya."
"Oke, aku akan segera turun."
"Baiklah."
Setelah mengatakan itu, Kathleen langsung mematikan panggilannya sembari keluar meninggalkan kamarnya setelah mendapatkan pakaian yang cocok.
Kathleen sudah berada di depan gerbang, lalu meminta security untuk membukakan gerbangnya.
Sementara Darka yang melihat Kathleen sedari tatapan matanya tak lepas menatap kecantikan Kathleen.
"Cantik," batin Darka.
Kathleen yang ditatap seperti itu oleh Darka seketika berubah menjadi malu. Dirinya malu jika pakaian tak sopan atau terlalu mencolok.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Kathleen.
Darka yang sedari menatap wajah cantik Kathleen seketika tersadar. Dan detik kemudian, Darka berusaha menormalkan detak jantungnya.
"Tidak. Aku hanya kagum akan kecantikan kamu. Ditambah lagi pakaian kamu yang cocok sama tubuhmu," jawab Darka jujur.
Mendengar perkataan dari Darka membuat Kathleen seketika tersenyum di dalam hatinya.
Kathleen menatap wajah tampan Darka. "Benarkah?"
"Benar. Pakaianmu begitu indah dan cocok dengan tubuhmu. Dan kecantikanmu bertambah karena pakaian yang kamu kenakan itu."
Seketika Kathleen tersenyum ketika mendengar jawaban jujur dari Darka. Tatapan matanya menatap wajah tampan Darka.
__ADS_1
"Bisa kita berangkat sekarang?" tanya Darka ketika melihat Kathleen yang tengah menatap dirinya.
Mendengar pertanyaan dari Darka, seketika membuat Kathleen terkejut. Sementara Darka tersenyum melihat wajah terkejut Kathleen.
Setelah itu, Darka dan Kathleen pun pergi meninggalkan kediaman Johnson.
***
Atalaric bersama anggota keluarga besar Radmilo saat ini sudah berkumpul di ruang tengah. Bahkan Atalaric serta Danesh sudah menceritakan pertemuan mereka dengan Elzaro Adelino.
Seluruh anggota Radmilo terkejut ketika mendengar cerita dari Atalaric yang mengatakan bahwa Lino melihat kejadian dimana Atalaric dan Mita tertembak.
"Hiks... Lino, sayang. Mami rindu kamu, Nak! Alin, kamu dimana sayang?"
Mita menangis terisak kala merindukan kedua anak kembarnya yang diculik ketika berusia 9 tahun.
Atalaric beserta keluarga besar Radmilo juga merasakan kesedihan yang sama seperti Mita. Mereka juga sangat merindukan sikembar kesayangannya.
Grep!
Atalaric seketika menarik tubuh istrinya dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Besok aku dan Danesh akan membawa Lino pulang. Dan untuk Alin. Aku berjanji untuk terus mencari keberadaannya. Kamu tenang, oke!"
"Kamu jangan takut Mita. Kita pasti akan menemukan keberadaan dimana Alin berada," ucap Damian.
"Mami jangan sedih ya. Aku pasti akan menemukan adik perempuanku," ucap Danesh.
***
Di sebuah cafe ternama dan terkenal di kota Hamburg, Jerman. Terlihat delapan pemuda yang tengah meminum minumannya sembari menunggu kedatangan seseorang.
Kedelapan pemuda itu adalah Darren dan ketujuh sahabatnya.
Ketika Darren dan ketujuh sahabatnya tengah menunggu kedatangan seseorang sembari menikmati minumannya, tiba-tiba orang yang mereka tunggu pun datang.
"Maaf, aku terlambat!"
Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya langsung melihat keasal suara. Dapat mereka lihat Elzaro Adelino telah berdiri di hadapannya.
"Tidak. Kau tidak terlambat. Mari duduk," ucap Darren sembari mempersilahkan Elzaro untuk duduk.
"Langsung saja. Ada apa?" tanya Rehan.
"Kenapa kau mengajak sahabatku untuk bertemu denganmu?" tanya Darel.
Lino tidak langsung menjawab pertanyaan dari Rehan dan Darel. Justru tatapan matanya menatap wajah Darren.
"Aku minta maaf padamu dan anggota Bruiser. Maaf karena aku telah menuduhmu membunuh kakak angkatku," ucap Elzaro.
__ADS_1
Mendengar perkataan maaf dari Elzaro membuat Darren bingung sekaligus bahagia. Darren bahagia karena masalahnya gengnya dengan geng Vagos selesai.
"Kenapa kau minta maaf padaku dan geng Bruiser?" tanya Darren.
Darren menatap wajah Elzaro, lebih tepatnya manik hitamnya. begitu juga dengan ketujuh sahabatnya Darren.
"Aku sudah tahu penyebab kematian kakak angkatku. Dan aku juga sudah tahu bahwa ketua pertama dari Vagos dan Bruiser dulunya sudah berdamai.
Mendengar jawaban dari Elzaro membuat Darren terkejut. Begitu juga dengan sahabat-sahabat Darren.
"Aku sudah menyelidiki masalah ini. Aku mulai menyelidikinya setelah bertemu denganmu beberapa hari yang lalu," ucap Elzaro.
Seketika terukir senyuman di bibir Darren ketika mendengar perkataan Elzaro yang mengatakan bahwa dia sudah mengetahui semuanya.
"Aku senang akhirnya kau mengetahui kebenarannya. Sekarang apa yang akan kau lakukan?" ucap dan tanya Darren.
"Sebelum aku menjawab pertanyaan darimu. Aku ingin bertanya terlebih dahulu padamu," ucap Elzaro.
"Silahkan," sahut Darren.
"Apa kau sudah memiliki rencana?" tanya Elzaro dengan menatap wajah Darren.
"Rencanaku adalah aku akan tetap mengikuti rencana orang itu," jawab Darren.
"Maksud kamu kalau kita tidak mengetahui apa-apa. Dan kita akan mengikuti permainan dia, seperti percaya setiap perkataan dia dan berakhir pertarungan. Begitu?" ucap dan tanya Elzaro.
"Iya. Seperti itulah rencanaku," jawab Darren.
Mendengar perkataan dan juga jawaban dari Darren membuat Elzaro seketika menganggukkan kepalanya. Dirinya seketika setuju dengan ide yang diutarakan oleh Darren.
"Bagaimana dengan ketujuh sahabat kamu? Apa mereka setuju?" tanya Elzaro.
"Kami semua sudah tahu rencana Darren," sahut Qenan langsung.
"Dan kami juga sudah membahasnya," sela Willy.
"Tinggal kau yang membahas masalah ini dengan kelima sahabatmu dan juga geng motormu," ujar Axel.
Lino terdiam mendengar ucapan demi ucapan dari Darren dan ketujuh sahabatnya membuat Elzaro bertekad untuk membalaskan rasa sakitnya selama ini. Bahkan Elzaro langsung menyetujui rencana dari Darren itu.
"Aku juga setuju dengan rencanamu. Dan aku mau kita kerjasama," ucap Elzaro mantap dan penuh keyakinan.
Darren dan ketujuh sahabatnya langsung tersenyum ketika mendengar perkataan dari Elzaro.
"Apa kau yakin ingin mengikuti rencana dariku?" tanya Darren dengan menatap wajah Elzaro.
"Iya, aku yakin. Dan sangat yakin," jawab Elzaro.
"Baiklah. Jika kau yakin ingin mengikuti rencana dariku. Terlebih dahulu kau harus membahas ini dengan anggotamu. Setelah itu, permainan akan secara otomatis akan berjalan," ucap Darren.
__ADS_1
"Baiklah, " jawab Elzaro.
Elzaro menjawab perkataan dari Darren dengan penuh keyakinan.