
Berjam-jam proses perkuliahan di kelas Darren dan ketujuh sahabatnya dan akhirnya selesai juga. Para mahasiswa dan mahasiswi dengan antusias menyambut kepulangannya. Mereka semua benar-benar lelah dan ingin segera sampai di rumah.
Darren berjalan dengan santai menuju mobilnya yang di parkir di parkiran diikuti oleh ketujuh sahabatnya.
Saat sampai di parkiran, Darren dan ketujuh sahabatnya dihadang oleh Chintia dan ketujuh sahabatnya.
Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menatap tak suka kearah Chintia dan ketujuh sahabatnya.
Dan tanpa ada rasa malu sama sekali, Chintia langsung menggelayut manja di lengan Darren.
"Ren, antar aku pulang ya." Chintia berucap dengan nada manjanya.
Chintia dan ketujuh sahabatnya itu adalah mahasiswi baru di kampus Darren. Dua bulan yang lalu Chintia dan ketujuh sahabatnya resmi menjadi mahasiswi baru di kampus tersebut.
Bukan itu saja, Chintia dan ketujuh sahabatnya itu adalah mantan teman-teman satu SMA nya Darren, Brenda dan para ketujuh sahabatnya. Chintia sudah sangat lama menaruh hati terhadap Darren namun terhalang akan hubungan persahabatan Darren dan Brenda.
Ketika tahu bahwa Darren berkuliah di kampus elit dan terkenal di Jerman. Di tambah lagi musuhnya yaitu Brenda Wilson berada di kampus yang sama sehingga membuat Chintia pindah kuliah.
Melihat Chintia yang berhasil bermanja-manja ria dengan pujaan hatinya. Ketujuh sahabatnya yaitu Chloe, Ella, Grace, Kiara, Moona, Virly dan Aayla juga ikut menghampiri para pujaan hati mereka masing-masing. Mereka melakukan hal yang sama seperti Chintia.
Namun bukan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel namanya jika tubuh mereka disentuh apalagi dipeluk oleh para manusia-manusia murahan seperti Chloe, Ella, Grace, Kiara, Moona, Virly dan Aayla.
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung mendorong kuat tubuh Chloe, Ella, Grace, Kiara, Moona, Virly dan Aayla hingga terhuyung ke belakang.
"Lepas!" Darren langsung menyentak kasar tangan Chintia.
"Kamu kasar banget, Ren!" rengek Chintia sembari kesal.
Darren tidak mempedulikan rengekan dan kekesalan Chintia. Bahkan Darren akan lebih kasar terhadap perempuan jika perempuan itu masih saja mengganggunya.
Darren melangkah menghampiri mobilnya. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
Setelah berada di dekat mobilnya. Baik Darren, Qenan, Willy, Axel maupun Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel langsung memasuki mobil masing-masing.
Melihat kepergian Darren dan ketujuh sahabatnya membuat Chintia, Chloe, Ella, Grace, Kiara, Moona, Virly dan Aayla marah.
"Gue nggak akan nyerah untuk dapatin lo, Darrendra Smith! Bagaimana pun caranya, lo harus jadi milik gue. Gue nggak peduli lo udah punya kekasih. Gue bakalan singkirkan setiap yang menghalangi gue buat dapetin lo," batin Chintia.
"Ayo, pergi!" seru Chintia kepada sahabat-sahabatnya.
***
Di markas The Crips semua para ketua mafia telah berkumpul. Mereka tengah membahas masalah Rolando Santa dan pemuda yang akan menjadi Darren.
Rencana pertama dan kedua sudah mereka jalankan. Kedua rencana itu adalah mereka mengerahkan masing-masing tiga tangan kanan dan tiga puluh anggota mafiosonya untuk mencari tahu kelemahan, sumber kekuatan dan juga pendukung dari Rolando Santa.
Sementara dua tangan kanannya yang tersisa akan menyelidiki dan mencari tahu siapa orang yang akan menjadi Darren.
Ketika mereka tengah berdiskusi tentang rencana-rencana mereka, tiba-tiba salah satu anggota yang memang bertugas mengawasi Darren, ketujuh sahabatnya beserta anggota keluarga datang untuk memberikan laporan.
"Maaf, King!"
Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico langsung melihat kearah anggota tersebut.
"Iya, ada apa?" tanya Ziggy.
"Saya sudah mendapatkan wajah dari pemuda yang akan menjadi tuan Darren," jawab pemuda itu.
Mendengar jawaban dari anggota mafiosonya membuat Ziggy menatap tak percaya anggotanya itu. Begitu juga dengan Noe, Enzo, Devian dan Chico.
"Apa informasi itu benar?" tanya Noe.
"Benar, King! Ini, lihat sendiri videonya."
Pemuda itu memberikan ponselnya kepada Caleb, lalu dari Caleb langsung diberikan kepada Ziggy.
Baik Ziggy, Noe maupun Devian, Enzo dan Chico langsung melihat video tersebut.
"Wah! Besar juga nyali bajingan itu," ucap Devian.
"Berani juga dia menantang Darren," ucap Enzo.
"Bajingan itu sudah salah mencari lawan. Dia tidak tahu seperti apa kemarahan dan kekejaman Darren jika sudah menyangkut keluarganya," sahut Chico.
"Bukan hanya Darren. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel juga sama seperti Darren. Mereka akan berubah kejam jika ada yang berani mengganggu orang-orang terdekatnya," ucap Enzo.
Mereka terus menonton video itu dimana pemuda yang mengaku sebagai Darren bersikap kasar terhadap Darren.
"Baiklah. Dilihat dari video ini. Darren sudah menyiapkan sebuah rencana. Jadi untuk saat ini kita akan mengikuti cara bermainnya Darren," sahut Ziggy.
Mendengar ucapan dari Ziggy para tangan kanannya langsung menganggukkan kepalanya.
"Aku sangat yakin jika rencana yang dibuat oleh Darren kali ini untuk memancing Rolando Santa keluar dari persembunyiannya," ujar Chico.
__ADS_1
"Aku sependapat dengan Chico," sela Devian.
"Dan inti dari rencana Darren itu adalah untuk mencari tahu apa hubungan pemuda itu dengan Rolando Santa!" seru Enzo.
"Hm!"
Mereka semua bergumam sembari menganggukkan kepalanya masing-masing.
"Baiklah. Berarti kita akan mengikuti permainan Darren," ucap Ziggy.
"Iya." mereka menjawab dengan kompak.
Ziggy mengembalikan ponsel tersebut kepada anggotanya itu sembari memberikan perintah.
"Kembalilah ke lokasi. Pantau dan awasi terus Darren, ketujuh sahabatnya beserta anggota keluarga mereka," perintah Ziggy.
"Baik, King!"
"Katakan juga kepada yang lainnya. Perketat semua penyelidikan, pengawasan dan penjagaan. Jangan lengah," ucap Chico.
"Baik, King!"
Baik Ziggy, Noe maupun Enzo, Devian dan Chico saling bekerja sama. Mereka meminta para tangan kanannya dan para anggota mafiosonya saling bekerja sama dan saling membantu. Tidak ada yang bekerja sendiri-sendiri untuk selalu menjaga dan melindungi orang-orang terdekat mereka. Mereka saling melindungi orang-orang terdekatnya.
***
Darren sudah berada di rumahnya. Ketika dia tiba di rumahnya, keempat kakaknya menyambut kepulangannya. Mereka adalah Dzaky, Adnan Gilang dan Darka.
Gilang dan Darka pulang ke rumah lebih dulu dari Darren. Jam kuliah Darren lebih banyak dari pada Gilang dan Darka.
Kini mereka berkumpul di ruang tengah setelah beberapa menit yang lalu mereka selesai makan siang bersama.
"Bagaimana kuliah kamu hari ini? Lancar?" tanya Adnan.
"Lancar. Tapi ada sedikit masalah di kampus," jawab Darren dengan mimik wajah yang sudah berubah.
Dzaky berpindah duduk di samping adik laki-lakinya itu. Tangannya terangkat untuk mengusap lembut kepalanya.
"Masalah apa? Katakan kepada kakak."
"Aku sudah tahu siapa orang yang akan menjadi diriku di keluarga Smith," jawab Darren dengan wajah sedihnya.
Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka terkejut. Baik Dzaky, Adnan maupun Gilang dan Darka tidak menyangka bahwa Darren akan bertemu dengan orang yang akan menjadi dirinya.
"Iya. Bajingan itu satu kampus dengan kita, kakak Darka!"
"Apa kita mengenalnya juga?" tanya Gilang.
"Kakak Gilang dan kakak Darka tidak mengenalinya. Secara dia mahasiswa baru di kampus kita. Dia tidak sendirian, melainkan bersama ketujuh sahabatnya. Dan aku rasa bajingan itu memiliki rencana lain selain menjadi diriku di keluarga Smith."
Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka sedikit takut dan khawatir akan kondisi Darren. Mereka tidak ingin hal-hal yang buruk terjadi terhadap Darren.
"Apa kamu sudah memikirkan rencana? Atau kamu sudah melakukan sesuatu?" tanya Adnan yang tahu akan sifat adik laki-lakinya itu.
Mendengar pertanyaan dari kakak keempatnya itu, seketika Darren tersenyum dengan tatapan matanya menatap wajah Adnan.
Adnan yang melihat senyuman manis dan tatapan mata adik laki-lakinya itu seketika langsung paham. Begitu juga dengan Dzaky, Gilang dan Darka.
"Kalau masalah rencana... Eemm... Aku sudah memikirkannya, kakak Adnan! Aku akan mengikuti semua permainan dari bajingan itu ketika berada di kediaman Smith. Tujuanku hanya satu. Aku ingin mengetahui siapa dia dan apa hubungan dia dengan Rolando Santa? Dalam rencanaku ini, aku akan melibatkan kakak Dzaky, kakak Adnan, kakak Gilang, kakak Darka dan yang lainnya."
Mendengar ucapan dan juga penjelasan dari adik laki-laki membuat Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka langsung paham dan menyetujui apa yang direncanakan oleh adik laki-lakinya itu.
"Baiklah. Kami akan masuk ke dalam permainanmu. Tapi kakak minta sama kamu. Kamu harus dalam keadaan baik-baik saja. Jangan sampai terluka," ucap Dzaky memohon.
"Kakak Dzaky jangan khawatir. Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya. Kekuatanku dan semangat hidupku terletak pada orang-orang yang aku sayangi. Kakak Dzaky pasti sudah tahu siapa saja mereka."
Mendengar ucapan dari adiknya, Dzaky langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, kakak Dzaky tahu. Mereka adalah keluarga kita, ketujuh sahabat kamu, kelima kakak-kakak mafia kamu. Dan anggota keluarga dari ketujuh sahabat kamu."
Darren tersenyum mendengar kakak laki-lakinya itu menyebutkan satu persatu orang terdekat dalam hidupnya.
Ketika Darren dan keempat kakak laki-lakinya tengah membahas rencana untuk menjebak pemuda yang mengaku sebagai Darren, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan kedatangan Adrian dan Mathew dengan wajah yang sedikit babak belur.
Adrian dan Mathew langsung menduduki pantatnya di sofa. Sementara Darren, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka menatap penasaran Adrian dan Mathew.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Dzaky.
"Kenapa dengan wajah kalian itu?" tanya Adnan.
"Kalian berkelahi lagi?" tanya Darka.
Mendengar pertanyaan dan tuduhan dari Darka membuat Adrian dan Mathew langsung melihat kearah Darka.
"Kakak Darka pasti seperti itu terus setiap kali kami pulang dalam keadaan seperti ini," ucap Adrian.
__ADS_1
"Apa kami seburuk itu ya di matanya kakak Darka?" tanya Mathew dengan matanya yang berkaca-kaca.
Mendengar ucapan dari kedua adiknya membuat Darka merutuki kebodohannya yang telah menuduh adik laki-lakinya itu.
Sementara Dzaky, Adnan, Gilang dan Darren langsung memberikan pelototan tajam kearah Darka.
"Jangan dengarkan perkataan dari kakak laki-laki kalian yang aneh itu," sahut Gilang.
"Sekarang, katakan kepada kami. Apa yang terjadi? Kenapa kalian pulang dengan wajah yang setengah hancur. Dan kenapa orang itu hanya menyisakan sedikit wajah kalian yang tampan?" tanya Adnan yang memang sengaja menjahili kedua adiknya itu.
Mendengar ucapan dan pertanyaan dari kakak keempatnya membuat Adrian dan Mathew membelalakkan matanya. Keduanya tidak menyangka jika kakak laki-lakinya itu akan berbicara seperti itu.
Sementara Dzaky, Darren, Gilang dan Darka tersenyum melihat wajah syok Adrian dan Mathew ketika mendengar perkataan dari Adnan.
"Sekarang bersihkan dulu wajah kalian. Setelah itu, kalian makan siang. Selesai makan siang, kalian ceritakan apa yang terjadi kepada kami." Dzaky berucap lembut kepada kedua adik laki-lakinya itu.
"Baik, kakak Dzaky!"
Adrian dan Mathew langsung pergi menuju kamar yang sudah menjadi kamar favorit mereka ketika menginap di rumah Darren. Bahkan di kamar itu sudah ada pakaian mereka masing-masing.
***
Davin saat ini berada di kamarnya. Sementara Andra bersama kedua orang tuanya, Paman dan Bibinya serta ketiga saudara sepupunya berada di ruang tengah.
Mereka selalu menyempatkan diri untuk berkumpul di ruang tengah hanya untuk menghabiskan waktu bersama.
"Ini sudah pukul 3 sore. Kenapa Adrian dan Mathew belum pulang juga," sahut Evan yang menyadari kedua keponakannya itu tidak terlihat.
"Eh, iya iya! Kenapa Adrian dan Mathew belum pulang dari sekolahnya," sela Agneta yang baru menyadari bahwa kedua putranya belum pulang.
"Aku akan menghubungi salah satunya!" seru Andra.
Andra mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah itu, Andra menekan nomor ponsel Adrian.
Beberapa detik kemudian..
"Hallo, kakak Andra."
"Kamu dimana? Kenapa belum pulang juga. Ini sudah jam berapa?"
"Aku sudah pulang dari tadi, kakak Andra."
"Kalau kamu sudah pulang. Kenapa kakak, Mama dan yang lainnya tidak melihat kamu dan Mathew?"
"Hehehehe. Jelaslah kakak Andra tidak bisa melihatku dan Mathew. Kita pulangnya ke rumah kakak Darren."
Mendengar jawaban dari adik laki-laki itu membuat Andra seketika kesal. Kenapa tidak dari tadi adik laki-lakinya itu mengatakan bahwa dia berada di rumah Darren.
Sementara anggota keluarganya yang mendengar pembicaraan Andra dan Adrian di seberang telepon hanya tersenyum.
"Kenapa nggak ngasih kabar, hah?!"
"Namanya juga lupa."
"Alasan."
"Terserah kakak Andra saja. Percaya silakan. Nggak percaya juga nggak apa-apa. Nggak rugi juga."
Lagi-lagi Andra mendengus kesal mendengar ucapan demi ucapan dari adik laki-lakinya itu.
"Kamu sama saja dengan kakak kamu yang keras kepala itu," sahut Andra.
"Siapa?" tanya Adrian.
"Siapa lagi kalau bukan kakak kesayangan kamu itu."
"Kakak Darren?"
"Iya. Siapa lagi?"
"Memangnya kenapa dengan kakak Darren?"
"Kamu dan kakak Darren kamu itu sama-sama keras kepala, tidak mau mengalah dan ingin menang sendiri."
Setelah mengatakan itu, semuanya tampak hening. Bahkan Adrian yang di seberang telepon, seketika membisu tanpa suara.
Andra dan anggota keluarga lainnya menunggu jawaban dari Adrian dengan jantung berdebar-debar, terutama Andra. Pikiran Andra sudah traveling kemana-mana.
Detik kemudian...
"Aku akan mogok bicara dengan kakak Andra selama satu bulan penuh!"
Tutt!
__ADS_1
Panggilan terputus secara sepihak. Sementara anggota keluarganya termasuk Andra seketika membelalakkan matanya ketika mendengar suara seseorang di seberang telepon. Dan orang itu adalah Darrendra Smith.