
[Kediaman Zordi]
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Mereka akan melakukan ritual paginya yaitu sarapan pagi bersama.
Sarapan pagi kali ini mereka bersama cucu dan keponakan kesayangan. Siapa lagi kalau bukan Erica Zordi.
Erica memakai delapan marga di belakang namanya dikarenakan dirinya diangkat atau diadopsi sekaligus delapan orang ayah. Marga tersebut akan terselip di belakang namanya jika dirinya berada dan tinggal di rumah salah satu ayah angkatnya.
"Bagaimana tidurnya cucu Oma?"
"Nyenyak, Oma. Sangat nyenyak."
Mendengar jawaban dari Erica membuat Revina tersenyum. Begitu juga dengan Valeo, Cakra, Rendy dan Rehan.
"Oma senang mendengarnya."
"Sudah siap untuk sekolah hari ini, hum?" tanya Valeo sembari tersenyum menatap cucunya.
Erica tidak langsung menjawab pertanyaan dari kakeknya. Justru Erica menatap wajah ayah angkatnya dengan tatapan sedikit takut dan ada sedikit trauma.
Rehan yang melihat putri angkatnya itu menatap dirinya, ditambah lagi ketika melihat tatapan mata putri angkatnya itu. Rehan paham bahwa putri angkatnya itu masih ada rasa takut untuk masuk sekolah. Putri angkatnya itu tidak ingin bertemu dengan teman-temannya yang sudah membully dirinya, terutama para orang tua.
Rehan tersenyum bersamaan dengan tangannya mengusap lembut kepala belakang putri angkatnya.
"Papa tahu apa yang sedang Erica pikirkan. Papa juga tahu akan perasaan Erica ketika nanti berada di sekolah." Rehan berbicara sembari tangannya masih terus bermain-main di kepala belakang putrinya bahkan sesekali mengusap lembut pipi putih putrinya itu.
Erica hanya diam dengan kepala menunduk sehingga membuat Valeo, Revina, Cakra, Rendy dan Rehan khawatir.
"Sayang, lihat Papa."
Erica langsung melihat wajah ayahnya. Dapat dirinya lihat bahwa ayahnya itu tersenyum padanya.
"Dengarkan Papa. Semuanya akan baik-baik saja. Papa jamin tidak akan ada yang ganggu kamu lagi selama kamu di sekolah. Papa dan Papa-Papa kamu yang lainnya sudah menyelesaikan masalah tersebut. Jadi, Erica tidak usah takut."
"Jadi, bagaimana? Sudah siap sekolah hari ini, hum?" tanya Rehan untuk memastikan.
Erica menatap wajah Valeo, Revina, Cakra, Rendy dan terakhir Rehan. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya.
Melihat senyuman manis Erica membuat hati Rehan menghangat. Begitu juga dengan Valeo, Revina, Cakra dan Rendy.
"Siap, Papa!"
"Gadis pintar. Ini baru putrinya Papa Rehan." Rehan berucap sembari mengacak-acak rambut putrinya gemas.
"Masih ingat dengan pesan Paman, hum?" tanya Cakra kepada Erica.
"Masih."
"Apa?"
"Erica tidak boleh takut dengan hal apapun di dunia ini. Selama Erica tidak salah, Erica harus menjadi manusia yang pemberani. Jika ada yang ganggu atau nyakitin Erica, maka Erica berhak untuk membela diri sekali pun nanti orang tersebut terluka."
Cakra seketika tersenyum lebar ketika mendengar ucapan lantang dari keponakannya itu. Begitu juga dengan Valeo, Revina dan Rendy.
"Bagus. Itu yang Paman inginkan dari kamu," ucap Cakra.
__ADS_1
"Hm." Erica menganggukkan kepalanya sembari berdehem.
"Ya, sudah. Sekarang Erica habiskan sarapannya biar nanti tidak terlambat ke sekolahnya."
"Baik, Oma!" jawab Erica.
Erica melihat kearah Rendy. "Paman Rendy."
"Ya, Sayang!"
"Mau nggak Paman antar Erica ke sekolah?"
"Oke, dengan senang hati." Rendy langsung mengiyakan permintaan dari Erica.
"Yeeeyy! Paman Rendy akan antar Erica ke sekolah!" seru Erica semangat.
Semuanya tersenyum ketika melihat raut bahagia di wajah Erica.
Setelah itu, mereka semua pun melanjutkan sarapan paginya dengan penuh kebahagiaan.
***
[Kediaman Smith]
Darren bersama semua anggota keluarganya saat ini berada di ruang tengah. Mereka kini tengah membahas masalah Erica yang sudah lima hari tidak masuk sekolah pasca kejadian dihina, dimarahi dan dibentak oleh orang tua dari teman sekolahnya.
"Apa keputusan kamu sekarang, Ren?" tanya Andra.
"Bagaimana pun Erica harus tetap sekolah. Jika Erica tidak ingin sekolah di sekolah lama, kita pindahkan saja Erica ke sekolah baru," ucap Dzaky.
"Itu dia masalahnya, kak! Aku sudah membahas ini dengan Erica sebelumnya. Tapi tetap saja, Erica tetap tidak mau sekolah." Darren menjawab perkataan dari Dzaky.
"Ini semua salah mereka. Mereka yang sudah buat Erica takut untuk masuk sekolah lagi. Jika Erica tidak mau sekolah lagi karena takut. Sebagai hukumannya, anak-anak yang sudah membully Erica juga tidak diperbolehkan sekolah lagi," sahut Darka.
"Kakak setuju dengan Darka, Ren! Anak-anak itu juga harus merasakan apa yang dirasakan oleh Erica," ucap Gilang dengan menatap wajah Darren.
Ketika Darren hendak menjawab perkataan dari Darka dan Gilang, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara dering ponselnya.
Darren mengambil ponselnya yang kebetulan di atas meja.
Ketika ponselnya sudah di genggamannya, tatapan matanya melihat nama 'Rehan' di layar ponselnya itu.
Tanpa menunggu lama, Darren pun menjawab panggilan dari Rehan.
"Hallo, Han!"
"Lo dimana?"
"Gue masih di rumah. Sebentar lagi gue akan ke kampus. Kenapa?"
"Gue mau kasih kabar tentang Erica."
Mendengar nama Erica disebut oleh Rehan membuat Darren penasaran. Dirinya ingin segera tahu kabar apa yang akan disampaikan oleh sahabatnya itu.
"Kenapa dengan Erica, Rehan! Erica baik-baik saja kan, Han?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dan suara takut Darren membuat Rehan menjadi tidak tega.
"Hei, tenanglah. Erica baik-baik saja. Gue mau ngasih kabar kalau Erica hari ini akan masuk sekolah lagi. Dia akan diantar sama kak Rendy karena Erica yang minta."
Mendengar ucapan dari Rehan membuat Darren seketika tersenyum. Dirinya benar-benar bahagia ketika sahabatnya itu mengatakan bahwa putri angkatnya masuk sekolah lagi.
"Han, lo sedang tidak lagi bercanda kan? Erica benar-benar masuk sekolah lagi hari ini?"
"Ini masalah Erica, putri angkat kita, Ren. Jadi gue nggak akan bercanda masalah ini. Erica masuk sekolah hari ini. Ya, walau awalnya ada sedikit ketakutan. Tapi gue berhasil membujuknya."
Lagi-lagi Darren tersenyum. Kali ini senyumnya makin lebar. Dirinya bahagia putri angkatnya mau sekolah lagi.
"Terima kasih, Han!"
"Lo perlu ngucapin itu ke gue, Ren! Erica bukan hanya putri angkat lo aja, tapi Erica putri angkat gue dan putri angkat sahabat-sahabat lo yang lain. Apa yang gue lakuin ke Erica itu adalah tugas gue sebagai seorang ayah."
"Iya, gue ngerti."
"Masalah Erica biar gue dan yang lainnya urus. Tugas lo adalah untuk memberikan pelajaran kepada orang-orang yang sudah buat Erica ketakutan dan sempat trauma, walau tidak parah."
"Gue sudah mikirin hal itu. Pembalasan kedua akan menanti mereka."
"Semua keputusan ada ditangan lo. Gue dan yang lainnya ikut lo."
"Baiklah."
"Ya, sudah. Gue tutup teleponnya. Gue mau siap-siap dulu."
"Baiklah."
Setelah mengatakan itu, baik Rehan maupun Darren sama-sama mematikan panggilannya.
"Darren, Sayang." Erland memanggil putranya dengan lembut.
"Iya, Pa!"
"Rehan ngomong apa sama kamu? Terus tadi kamu sempat nyebut nama Erica. Kenapa Erica, nak?" ucap dan tanya Erland dengan raut khawatir.
"Rehan bilang padaku bahwa hari ini Erica masuk sekolah. Dan kak Rendy yang akan antar Erica ke sekolah."
Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Darren membuat Erland, Agneta dan semua anggota keluarga tersenyum bahagia.
"Benarkah itu, Ren?" tanya Evan.
"Iya, Paman. Seperti itulah yang disampaikan oleh Rehan kepadaku."
"Ach, syukurlah. Paman senang mendengarnya," ucap Evan dengan wajah bahagianya.
"Awalnya Erica sempat takut dan sedikit trauma. Tak butuh waktu lama, Rehan berhasil membujuk dan memberikan keyakinan kepada Erica," ucap Darren.
"Papa senang mendengar cucu Papa mau kembali masuk sekolah."
"Mama juga, Sayang! Sedih rasanya melihat Erica yang selalu sedih dan murung setiap kita membahas masalah sekolah."
"Dan sekarang rasa khawatir kita sudah hilang karena Erica sudah mau sekolah lagi," ucap Carissa.
__ADS_1
"Sekarang tinggal melakukan pembalasan kedua untuk orang-orang yang sudah membuat Erica ketakutan dan trauma!" seru Adnan.
"Hm!" Davin, Andra, Dzaky, Gilang, Darka, Daffa, Tristan dan Davian bersamaan.