KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Pekan Perkenalan Kampus


__ADS_3

[Kampus]


Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya beserta kekasihnya masing-masing masih di Kampus. Mereka saat ini berada di lobi lengkap dengan jas Almamater melekat di tubuhnya.


"Hari ini adalah hari terakhir bagi mahasiswa dan mahasiswi baru dalam kegiatan Pekan Pengenalan Kampus," sahut Qenan.


Selama tujuh hari, para mahasiswa atau mahasiswi baru kenalan sama yang namanya kampus. Baik berkenalan dengan para senior (kakak tingkat/kating), mengetahui tata letak Kampus, mengetahui visi-misinya, sistemnya, fakultasnya, dosennya, kegiatan organisasi, teman sekelas atau teman sejurusan dan katingnya.


"Apa rencana lo, Ren?" tanya Willy.


"Kumpulkan semua mahasiswa baru di lapangan. Setelah itu, kalian kumpulkan tugas-tugas mereka. Akan ada hukumannya jika kedapatan tidak menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Senior."


"Baiklah!" Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan menjawab bersamaan.


Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan lobi untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Darren.


"Dan untuk kalian para gadis!" seru Darren menatap Brenda, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania. "Tugas kalian juga sama seperti Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan. Kumpulan para mahasiswi di lapangan. Akan ada dua kubu di lapangan nanti. Kubu Mahasiswa dan kubu mahasiswi."


"Baik!" jawab Brenda, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania.


***


[Apartemen Elzaro]


Kini Elzaro berada di Apartemen miliknya. Dia datang mengunjungi Saskia dan ibunya.


Elzaro tidak datang sendirian, melainkan dia datang bersama Samantha. Jika Elzaro sudah berada di dalam, sementara Samantha menunggu diluar. Tujuannya adalah untuk memberikan kejutan kepada Saskia dan ibunya. Baik Saskia dan ibunya maupun Samantha, mereka saling merindukan satu sama lainnya.


"Lino, aku senang kamu datang. Beberapa hari ini kamu nggak datang mengunjungi aku dan Mama."


Elzaro tersenyum ketika mendengar ucapan sekaligus aksi protes dari Saskia.  Begitu juga dengan Shireen. Wanita itu tersenyum gemas ketika melihat wajah dan mendengar ucapan putrinya itu.


"Maafkan aku ya karena beberapa hari ini tidak datang berkunjung. Aku sedang mengurus sesuatu." Elzaro berucap sembari tangannya mengusap lembut kepala Saskia.


Shireen yang melihat bagaimana cara Elzaro yang berbicara dan memperlakukan putrinya dengan sangat lembut membuat hatinya benar-benar bahagia. Dia tidak menyesal telah memberikan restu kepada Elzaro untuk menjalin hubungan dengan putrinya.


Elzaro menatap Shireen dan Saskia bergantian. Dan jangan lupa senyuman manisnya yang tercetak di bibirnya.


"Aku ada kejutan untuk kalian. Dan aku sangat yakin kejutan ini akan membuat kalian merasakan kebahagiaan berkali-kali lipat."


Mendengar ucapan dari Elzaro bahkan melihat wajah berserinya membuat Shireen dan Saskia penasaran.


"Kejutan apa, nak?"


"Iya, Lino! Kejutan apa? Jangan buat aku sama Mama penasaran."


Elzaro tersenyum melihat wajah penasaran Saskia dan ibunya. Dan setelah itu, Elzaro berteriak sembari menyuruh seseorang masuk.


"Bibi, masuklah!"


Detik kemudian...


Cklek..


Pintu dibuka oleh seseorang sehingga membuat Saskia dan ibunya langsung melihat keasal suara tersebut.


Deg..


Saskia dan Shireen seketika menangis ketika melihat seorang wanita cantik berdiri tak jauh dari hadapannya.


"Samantha!"

__ADS_1


"Bibi Samantha!"


Saskia dan ibunya berucap secara bersamaan.


Mendengar sapaan dari kakak iparnya dan keponakannya membuat Samantha meneteskan air matanya.


"Kak Shireen! Saskia!"


Saskia langsung memberikan pelukannya terhadap Bibi kesayangannya itu. Dia benar-benar merindukan bibinya.


"Aku merindukan Bibi."


Samantha tersenyum bersamaan tangannya mengusap-usap lembut punggung Saskia.


"Bibi juga merindukan kamu, Sas!"


Setelah puas memeluk bibinya, Saskia pun melepaskan pelukannya itu.


Setelah pelukan terlepas, Samantha berjalan menghampiri kakak iparnya. Dan detik kemudian..


Grep..


Samantha langsung memberikan pelukan kepada kakak iparnya itu. Dan seketika, isak tangis keduanya pecah.


"Maafkan aku yang baru datang sekarang. Jika aku datang lebih awal, maka kakak dan Saskia tidak akan mengalami hal buruk."


Shireen kemudian melepaskan pelukannya. Setelah itu, Shireen menatap wajah cantik adik iparnya.


"Kamu tidak salah, Sayang! Mereka saja yang terlalu tamak dan serakah sehingga lupa akan kedudukan asli mereka."


"Iya, kakak benar."


***


Bagaimana tidak frustasi? Secara para juniornya mengerjakan tugas-tugas yang diberikan tidak selesai dan ngumpulnya terlambat. Para juniornya mengerjakan tugas-tugas tersebut banyak ketawanya dari pada seriusnya.


"Ini kenapa banyak yang salah? Bahkan ini untuk yang ketiga kalinya," ucap Qenan yang sudah keluar asap di kepalanya.


"Bukankah kemarin sudah dijelaskan yang benar? Kenapa masih salah?" ucap dan tanya Brenda.


"Ya, bagaimana dong kak Brenda. Kan kita nggak ngerti harus dibikin seperti itu," jawab Imel.


"Lagian kita udah berusaha kak Qenan. Tapi itulah hasilnya," jawab Tora.


Mendengar jawaban dari adik kelasnya membuat Qenan dan Brenda hanya bisa mengusap wajahnya.


"Ya, sudah kak. Nggak apa-apa. Lagian jika dihukum. Dihukumnya juga rame-rame kan?" ucap dan tanya Cindy.


Mendengar ucapan dari Cindy membuat Qenan dan Brenda membelalakkan matanya tak percaya. Begitu juga dengan Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania.


Alice yang sudah benar-benar dikuras habis kesabarannya sama anak-anaknya di kelompoknya pun menghampiri Qenan dan juga Brenda. Begitu dengan yang lainnya. Mereka sama seperti Qenan dan Brenda yang mendapatkan junior-junior nakal.


"Qenan, Brenda! gimana sih! Kenapa anak-anak gue dihukum?" tanya Alice.


"Lo kalau mau menghukum anak-anak lo, hukum aja. Jangan bawa-bawa anak-anak gue," ucap Jerry.


"Iya, nih! Lagian kan itu kan tugas kita," sela Tania.


Mendengar aksi protes dari Alice, Jerry dan Tania membuat Qenan dan Brenda mendengus.


"Jika mau protes. Noh!" tunjuk Qenan pada kelompoknya masing-masing.

__ADS_1


"Nanyanya langsung ke anak-anak kalian. Kalian pasti stres," ucap Brenda.


"Ini aja satu kelompok udah bikin gerah. Salah mulu. Pasti anak-anak kalian juga sama kan?" ucap dan tanya Qenan sembari menatap kearah Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania bergantian.


Sementara para adik-adik kelasnya menatap dengan tatapan jengah melihat perdebatan kakak-kakak seniornya.


"Kak, udah selesai belum bertengkarnya?" tanya Imran, anaknya Dylan.


"Ini kita udah lapar," sahut Iren, anaknya Milly.


"Boleh istirahat, nggak?" tanya Tirta, anaknya Axel.


Mendengar pertanyaan dari para anak-anaknya membuat Dylan, Milly dan Axel melotot. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Ya, sudah! Kalian break dulu sana!" seru Rehan.


Mendengar jawaban dari salah satu kakak tingkatnya membuat semuanya tersenyum dan bersorak.


Setelah itu, mereka semua beranjak dari duduknya untuk pergi menuju kantin. Namun seketika mereka kembali menduduki pantatnya di posisi awal ketika mendengar suara seseorang yang menurut mereka begitu mengerikan.


"Siapa yang menyuruh kalian pergi!"


Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Brenda, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania mengalihkan pandangannya menatap keasal suara. Begitu juga semua mahasiswa dan mahasiswi baru tersebut.


"Ren!"


Yah! Seseorang yang berbicara tersebut adalah Darrendra Smith.


Kini Darren telah berdiri di hadapan para adik kelasnya. Tatapan matanya menatap satu persatu wajah adik-adik kelasnya itu. Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Brenda, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania berdiri berjejeran.


"Kalian masuk kampus ini serius atau hanya main-main?"


"Jika kalian hanya sekedar main-main, silahkan tinggalkan kampus ini."


Semuanya hening dan tak ada satu pun yang bersuara. Bahkan menatap wajah Darren saja, para mahasiswa dan mahasiswi baru itu takut-takut.


"Aku akan menghukum kalian dengan cara yaitu kalian harus mendapatkan tanda tangan dari semua anggota Organisasi yang ada di Kampus ini. Aku tidak peduli bagaimana cara kalian mendapatkannya."


Seketika para mahasiswa dan alumni baru itu membelalakkan matanya. Bagi mereka hukuman yang diberikan oleh ketua SENAT, ketua BEM sekaligus pemimpin Kampus yaitu Darrendra Smith sangatlah berat. Secara mereka semua belum tahu siapa saja yang menjadi anggota-anggota organisasi. Bahkan bukan hanya ada satu, melainkan ada sekitar 15 kelompok organisasi di kampus ini.


"Aku beri waktu kalian selama satu bulan untuk mengumpulkan semua tanda tangan dari semua kelompok Organisasi di kampus ini."


"Contoh, jika jumlah anggota Organisasi ada 50, sementara kalian mendapatkan tanda tangannya hanya 48. Kalian dianggap lulus. Tapi jika kalian hanya mendapatkan 48 ke bawah, maka dengan sangat menyesal kalian harus mengulang dari awal."


"Apa kalian mengerti!"


"Mengerti, kak!"


"Sekarang kalian boleh istirahat."


Mendengar kata 'istirahat' membuat semua mahasiswa dan mahasiswi baru tersebut langsung membubarkan diri.


Kini tinggal Darren bersama ketujuh sahabat-sahabatnya dan para kekasihnya.


"Apa lo nggak terlalu keras, Ren?" tanya Darel.


"Bukan gue yang terlalu keras, tapi kalian yang terlalu lembek."


Setelah mengatakan itu, Darren pergi begitu saja meninggalkan mereka semua dengan tangannya menarik tangan Brenda.


Sementara Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania seketika mendengus mendengar jawaban dari Darren.

__ADS_1


__ADS_2