
[KEDIAMAN SMITH]
Darren saat ini berada di dalam kamarnya. Dirinya benar-benar marah akan sikap anggota keluarganya, terutama pada Davin.
"Kalian benar-benar menjijikkan, penjilat dan tidak tahu malu." Darren berucap penuh kebencian.
"Kalian sudah menyakitiku. Kalian memperlakukanku dengan sangat buruk. Kalian yang sudah membuatku pergi dari rumah. Disaat aku sudah bahagia dengan kehidupanku sendiri. Justru kalian datang mengusik kehidupanku lagi," ucap Darren dengan nada yang begitu marah.
"Seharusnya kalian sebagai orang tua dan sebagai kakak tidak akan meninggalkan anaknya dan adiknya disaat mendapatkan masalah, tapi kalian justru menambahkan masalah."
"Aku sebenarnya tidak membenci kalian. Aku hanya kecewa pada kalian semua. Kalian semua berubah menjadi penjahat yang kejam dan menghakimiku dengan apa yang tidak aku lakukan."
"Tidak biasanya aku kehilangan kesabaranku. Tapi kalau aku mulai marah, aku bisa menjadi menyeramkan. Bisa tidak kalian tidak mengusikku sehingga aku tidak harus bersikap kasar pada kalian."
"Jauh lebih mudah memaafkan seorang musuh dari pada memaafkan seorang yang memiliki hubungan darah."
Darren saat ini sedang berdiri di depan cermin. Dirinya benar-benar muak dengan keadaannya saat ini. Banyak masalah yang dihadapinya.
"Aarrrggghhh!" teriak Darren
PRAANNGGG!
Darren memukul kuat cermin yang ada di hadapannya sehingga pecahan cermin itu berserakan di lantai. Tubuh Darren seketikamerosot ke lantai dengan buliran kristal bening membasahi wajah tampannya. Darren tidak mempedulikan luka di tangannya.
"Hiks... Hiks... Hiks." Darren menangis terisak sembari terduduk di lantai kamarnya.
"Mama... hiks... aku merindukanmu... hiks."
^^^
Setelah pertengkaran dan perkelahian Darren dan Davin. Kini mereka duduk di sofa ruang tengah, kecuali Darren.
Carissa menatap tajam kearah Davin. Dirinya benar-benar kecewa dan marah akan sikap Davin pada Darren.
"Bibi benar-benar kecewa padamu, Davin. Bisa-bisa kau bersikap seperti itu pada Darren."
"Carissa," tegur Erland.
"Kenapa? Apa kakak mau membela putra kakak itu, hah?!" tanya Carissa ketus.
__ADS_1
"Carissa, bukan begitu." Erland menyela.
"Maafkan aku, Bi." Davin berucap lirih.
"Seharusnya kau tidak bersikap seperti itu pada Darren. Seharusnya kau bisa lebih sabar menghadapinya," kata Carissa.
"Kemarin Andra yang membentak Darren dikarenakan Darren yang tidak sopan dengan Ayah kalian. Sekarang giliran kau yang bersikap kasar pada Darren. Kalau gini kejadiannya, Bibi benar-benar menyesal membujuk Darren untuk pulang ke rumah ini."
Mendengar perkataan dari Carissa membuatmu mereka semua, kecuali Evan, Daffa, Tristan dan Davian terdiam seketika.
Andra menundukkan kepalanya saat sang Bibi mengingat perlakuannya kemarin pada adiknya.
"Tapi aku melakukan hal itu karena aku tidak ingin Darren kenapa-kenapa, Bi! Darren kan baru sembuh dari demamnya kemarin," sela Davin.
"Iya, Bibi tahu. Tapi caramu itu salah. Kau hanya memaksakan keinginanmu untuk menjadi kakak yang baik untuk Darren sehingga tanpa sadar kau menyakitinya. Kau mencekal tangannya. Kau menggenggam tangannya terlalu kuat. Apa kau tidak dengar saat Darren mengeluh kesakitan?"
Mendengar penuturan dari Carissa membuat Davin makin bersalah. Davin menundukkan kepalanya. Dalam hatinya, Davin membenarkan perkataan Bibinya itu jika dirinya tanpa sadar telah menyakiti adiknya. Davib teringat akan perkataan adiknya ketika mereka berkelahi.
"Lepaskan tanganku, brengsek! Ini sakit. Apa kau memang sengaja ingin melukai tanganku, hah?!" teriak Darren.
"Maafkan kakak, Darren. Kakak tidak sengaja dan kakak tidak sadar," batin Davin.
"Carissa, sudahlah. Jangan terlalu menyalahkan Davin atau pun yang lainnya. Apa kau tidak kasihan melihat mereka? Mereka sudah cukup menderita atas sikap acuh, sikap dingin dan sikap kasar dari Darren. Jangan kau menambahkannya juga dengan cara menyalahkan mereka. Kita ini keluarga, Carissa. Mereka adalah keponakanmu, kakakmu." Evan berbicara lembut terhadap istrinya sembari menegur istrinya.
Carissa hanya diam mendengar penuturan dari suaminya. Sebenarnya Carissa juga tidak ingin menyalahkan kakak laki-lakinya, kakak iparnya dan keponakan-keponakannya. Tapi Carissa tidak ingin keponakan manisnya selalu menangis dan tersakiti. Sudah cukup keponakan manisnya menderita selama ini. Dirinya hanya ingin keponakannya bahagia dengan caranya sendiri.
"Aku tahu, sayang. Jujur aku juga tidak ingin menyalahkan kakakku dan keponakanku. Tapi aku kasihan melihat Darren. Aku tidak ingin melihat Darren menangis lagi. Aku tidak ingin melihat Darren menderita lagi. Sudah cukup Darren selama ini tidak bahagia saat bersama kita. Biarkan Darren bahagia dengan caranya sendiri. Dan biarkan waktu yang mengobati luka dihatinya. Aku juga yakin, suatu saat nanti Darren pasti akan kembali pada kita semua dan melupakan dendamnya," tutur Carissa yang berlinang air mata.
Erland dan yang lainnya melihat Carissa menangis menjadi tidak tega. Mereka semua makin merasa bersalah.
"Maafkan kami, Bibi Carissa!" seru Davin dan adik-adiknya.
Saat mereka semua sedang merutuki kebodohan mereka masing-masing. Disaat mereka semua sedang memikirkan Darren. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan dan suara pecahan dari kamar Darren
"Aarrggghhhhh!"
PRAANNGGG!
"Papa, Mama. Suara itu berasal dari kamar Darren!" seru Darka.
__ADS_1
Lalu mereka semua pergi menuju kamar Darren yang ada di lantai dua. Mereka semua panik dan khawatir akan kondisi Darren saat ini.
^^^
Di kamar, Darren terduduk di lantai dengan punggung bersandar di tempat tidur. Darren membenamkan kepalanya di kedua lipatan lututnya dengan lengan kirinya sebagai tumpuannya.
BRAAKK
BRAAKK
Pintu dibuka dengan cara didobrak oleh Evan dan Erland, karena pintu dikunci oleh Darren dari dalam. Dengan dua kali dobrakan, pintu itu berhasil terbuka.
Saat pintu kamar Darren terbuka. Mereka semua langsung melangkah masuk. Ketika tiba di dalam kamar Darren, mata mereka membelalak sempurna saat melihat kamar Darren yang berantakan dan juga pecahan kaca yang berserakan di lantai.
Mereka melangkah menuju kearah pecahan kaca tersebut. Saat tiba disana, mereka semua terkejut saat melihat kondisi Darren.
"Ya, Tuhan. Darren!" teriak mereka semua.
Mereka menghampiri Darren, lalu berjongkok di hadapannya. Erland membelai lembut kepala putranya.
"Hiks... sayang. Kenapa seperti ini sayang? Kenapa kamu melukai diri kamu sendiri?"
Andra merobek bajunya, lalu menutup luka di tangan Darren agar darah tidak terus keluar. Sedangkan Agneta sudah berlari keluar untuk mengambil kotak p3k.
"Darren," panggil Darka. Darka membelai rambut adiknya itu. Dan tak lupa memberikan kecupan di kepala adiknya itu.
Hening..
Tidak ada jawaban apapun yang diberikan oleh Darren.
"Darren. Apa kamu dengar kakak?" Kini Gilang yang bertanya.
Masih sama. Tidak ada jawaban yang mereka dapatkan. Mereka semua benar-benar panik dan khawatir saat ini.
Erland menyentuh kedua pipi Darren, lalu mendongakkan kepalanya ke atas agar dirinya bisa melihat wajah putranya itu. Mereka semua terkejut saat melihat wajah Darren yang pucat dengan mata yang terpejam.
"Sayang, Darren. " Erland memanggil putranya dengan memukul-mukul pelan pipinya.
Erland memukul-mukul pelan pipi putranya agar putranya membuka matanya. Namun putranya sama sekali tidak membuka kedua matanya itu.
__ADS_1
Erland menarik tubuh putranya ke dalam pelukannya. Hatinya benar-benar sakit saat ini. Tak jauh beda dengan anggota keluarganya yang lain. Mereka menangis saat melihat Darren yang sekarang ini. Lagi-lagi mereka kembali melihat Darren yang merasakan kesakitan.