KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Rencana Darren


__ADS_3

Setelah mengingat kejadian di parkiran mall dua hari yang lalu. Kini Anthony dan Emily benar-benar menyesali sikap buruk mereka terhadap putri bungsunya.


Selama ini Emily dan Anthony kerap kali bersikap kasar terhadap putri mereka. Bahkan keduanya selalu menyalahkan Bianca dan selalu membanding-bandingkan dengan Zora putri sulungnya.


Selama Bianca tinggal bersama mereka. Yang didapatkan oleh Bianca adalah penghinaan, makan dan tamparan. Mereka tidak pernah memberikan perhatian dan kasih sayang kepada Bianca. Bahkan pelukan pun tidak mereka berikan.


"Sayang, bagaimana sekarang? Apa yang harus kita perbuat? Bianca sudah tidak mau mengakui kita orang tuanya lagi," ucap dan tanya Emily dengan berurai air mata.


"Aku juga tidak tahu sayang. Selama ini kita tidak pernah memberikan kasih sayang, pelukan, ciuman dan juga perhatian kepada Bianca. Kita hanya memberikan kesedihan kepada Bianca. Kita sudah membuat hatinya terluka akan sikap buruk kita selama ini," ucap Anthony yang juga sudah menangis.


Baik Anthony maupun Emily saat ini kembali ke masa-masa dimana mereka sering bersikap buruk terhadap putri mereka sendiri. Mereka memarahi Bianca, memukul Bianca dan juga memaki Bianca. Bahkan mereka selalu menyebut Bianca anak pembawa sial.


"Hiks... Bianca. Maafkan Mama, sayang!" isak Emily.


Anthony memeluk tubuh istrinya. "Maafkan aku, sayang. Ini semua salahku. Aku yang selalu memancing keributan disaat Bianca pulang ke rumah," ucap Emily lirih.


"Bukan kamu saja yang salah disini. Aku juga salah. Aku ikut andil dalam menyakiti putriku. Yang aku takutkan sekarang adalah Zora."


"Maksud kamu?"


"Zora belum mengetahui perihal Bianca yang sudah tidak tinggal bersama kita. Zora tidak tahu jika kita ribut dengan Bianca. Bahkan Zora tidak tahu bahwa kita mengusir Bianca sehingga berakhir Bianca memutuskan hubungannya dengan kita."


Seketika Emily menyadari bahwa Zora putri sulungnya itu begitu sangat menyayangi adik perempuannya. Zora selalu ada untuk Bianca.


Namun pada saat kejadian itu, Zora tidak berada di rumah. Zora berada di luar kota karena sedang membangun perusahaan cabang di kota Berlin. Zora pergi bersama lima belas karyawannya.


Zora dan lima belas karyawannya hanya enam bulan saja di kota Berlin. Dan bulan depan Zora dan lima belas karyawannya akan kembali ke kota Hamburg.


"Apa yang harus kita katakan kepada Zora? Jika kita berbohong kepada Zora, takutnya Zora tahu kebenarannya dari orang lain. Atau bisa juga Zora bertemu dengan Bianca. Dan Bianca pasti akan menceritakan hal itu kepada Zora. Aku tidak mau dibenci oleh Zora. Hubunganku dengan Bianca sudah memburuk. Aku tidak ingin hubunganku dengan Zora juga ikut memburuk."


"Kita akan berkata jujur kepada Zora. Jangan ada satu pun yang kita sembunyikan darinya. Itulah satu-satunya cara agar hubungan kita tidak semakin hancur. Aku tidak peduli jika Zora membenciku."


"Setidaknya dengan aku berkata jujur kepada Zora tentang kesalahanku terhadap Bianca sedikit berkurang. Aku juga akan meminta maaf kepada Zora karena gagal menjadi ayah untuk adik perempuan kesayangannya. Zora begitu menyayangi Bianca. Dan Bianca begitu menghormati Zora."


Mendengar perkataan dari suaminya. Emily menganggukkan kepalanya setuju. Sepulang putri sulungnya itu, Emily akan meminta maaf kepada putrinya itu dan mengaku salah karena sudah menyakiti Bianca.


***


Darren dan yang lainnya sudah berada di rumah Willy. Saat ini mereka semua berada di dalam kamarnya Willy


"Wil," panggil Darren.


Mendengar panggilan dari Darren. Willy langsung melihat kearah Darren.


"Iya," jawab Willy.


"Apa yang terjadi di mall kemarin? Kenapa kamu sampai nekat mencekik leher Kathy?" tanya Darren.


Mendengar pertanyaan dari Darren. Willy tidak langsung menjawabnya. Seketika Willy melihat kearah Alice kekasihnya.


Melihat Willy yang melihat kearah Alice. Darren dan yang lainnya sudah yakin jika ada kata-kata yang kurang mengenakkan yang keluar dari mulut Kathy sehingga membuat Willy nekat melakukan hal itu kepada Kathy.


"Apa Kathy mengatakan sesuatu yang kejam untuk Alice?" tanya Darren langsung intinya.


Willy langsung mengalihkan perhatiannya dari menatap wajah Alice kini beralih menatap wajah sahabat terbaiknya.


Willy mengalihkan tatapan matanya ke depan. Seketika kejadian di mall itu berputar di kepalanya.


Willy mengepal kuat tangannya ketika mengingat kejadian tersebut. Darren dan yang lainnya melihat tatapan mata dan mimik wajah Willy. Dan juga melihat kedua tangan Willy yang mengepal kuat. Mereka yakin jika saat ini Willy kembali teringat kejadian kemarin.


Darren bangkit dari duduknya, lalu berpindah duduk di samping sahabatnya itu.


Puk!

__ADS_1


Darren menepuk pelan bahu Willy sehingga membuat Willy menundukkan kepalanya. Dan detik kemudian, terdengar isak tangis Willy.


Mendengar isakan dari Willy membuat Darren dan sahabat-sahabatnya yang lain merasakan sesak di dada masing-masing. Begitu juga dengan Brenda dan sahabat-sahabatnya. Terutama Alice selaku kekasih Willy.


"Ceritalah! Berbagilah padaku," ucap Darren.


"Perempuan sialan itu sudah melewati batasannya, Ren! Dia berani memelukku di tempat umum dan mengklaim bahwa aku adalah pacarnya. Dia mengatakan di depan orang-orang bahwa aku dan dia sepasang kekasih. Dia juga mengatakan kepada orang-orang kalau kalung berlian yang aku beli untuk Alice untuk dia." Willy menangis ketika menceritakan kejadian itu kepada Darren.


"Perempuan sialan itu merebut kalung itu, Ren! Ketika dia ingin memakai kalung itu. Aku sudah terlebih dahulu merebutnya. Memasukkannya ke dalam kotak. Dan setelah itu, aku menyimpannya di saku celanaku."


"Saat itu Alice kemana? Kenapa kalian misah?" tanya Axel.


"Aku pamit ke toilet." Alice langsung menjawab pertanyaan dari Axel.


"Terus apa yang terjadi setelah kamu merebut kalung berlian itu dari tangan Kathy?" tanya Darren.


"Perempuan sialan itu memelukku dua kali. Pelukan kedua, aku membalasnya dengan mendorong kuat tubuhnya hingga tersungkur di lantai sehingga para pengunjung mall datang berhamburan untuk melihat."


"Awalnya para pengunjung mall menghinaku dan menyebutku laki-laki brengsek. Ketika mendengar pertengkaranku dengan perempuan sialan itu. Ditambah lagi mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulutnya. Dari situlah para pengunjung mall tahu kalau aku tidak salah. Setelah aku puas mendorongnya hingga tersungkur di lantai. Aku pergi untuk mencari Alice di toilet.


"Baru beberapa langkah, perempuan sialan itu berteriak dengan menyebut Alice..." Willy tidak sanggup untuk meneruskannya. Air matanya makin deras membasahi wajahnya.


Darren mengusap-ngusap lembut punggung Willy. Dia tahu perasaan Willy saat ini.


"Aku sudah tahu apa yang dikatakan oleh Kathy untuk Alice. Apa yang kamu rasakan kemarin dan hari ini. Sama seperti yang aku rasakan dulu ketika kedua orang Jessica menghina ibuku. Kau sudah melakukan hal yang benar. Jadi tidak perlu merasa bersalah. Kita sebagai laki-laki harus kuat karena kita memiliki tanggung jawab yang besar."


"Tugas kita sebagai laki-laki adalah untuk melindungi orang-orang yang kita sayangi. Terutama para wanita yang ada di dalam kehidupan kita. Dan kau tahu siapa mereka?"


Willy menatap wajah Darren. Dan detik kemudian, terukir senyuman di bibir Willy. "Ya. Aku tahu siapa mereka. Dan aku akan menjaga dan melindungi mereka," ucap Willy.


Mereka semua tersenyum ketika mendengar ucapan dari Willy. Mereka semua tersenyum bahagia ketika melihat wajah segar Willy.


Drrt!


Drrt!


Setelah ponselnya berada di tangannya, Darren melihat nama 'Vicky' di layar ponselnya.


Tanpa membuang-buang waktu, Darren langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Vicky."


Mendengar perkataan dari Darren yang menyebut nama Vicky. Willy, Qenan, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan saling memberikan tatapan seakan-akan mereka bertanya 'ada apa?'


"Hallo, Vicky. Ada apa?"


"Hallo, Bos. Aku ada informasi."


"Informasi apa?"


"Ini ada hubungannya dengan Bos Willy, nona Alice dan perempuan yang bernama Kathy."


"Katakan!"


"Ketika nona Alice pamit ingin ke toilet. Ada sepuluh pria yang menghadang nona Alice. Bahkan mereka membawa pergi nona Alice."


"Iya. Itu aku sudah tahu dari Rehan dan Darel."


"Bos pasti penasarankan siapa yang menyuruh kesepuluh pria-pria itu?"


"Iya. Katakan padaku siapa yang telah menyuruh kesepuluh laki-laki itu ingin membawa Alice keluar dari mall."


Deg!

__ADS_1


Willy seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren yang mengatakan bahwa kesepuluh laki-laki ingin membawa Alice keluar dari mall.


"Perempuan yang bernama Kathy, Bos!"


"Apa?! Kau yakin kalau dia yang telah menyuruh kesepuluh laki-laki itu untuk membawa Alice?"


"Jika aku tidak yakin. Aku tidak akan menghubungimu Bos. Bahkan keberadaan Bos Willy dan nona Alice di mall sudah diketahui oleh perempuan itu."


"Jadi maksud kamu jika dia telah mengawasi pergerakan Willy dan Alice?"


"Benar, Bos!"


"Brengsek!"


Mendengar ucapan umpatan dan amarah dari Darren membuat Willy, Qenan, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan menatap penasaran dan khawatir Darren.


"Pasti perempuan murahan itu memiliki rencana hingga melakukan hal itu?"


"Bos benar sekali. Perempuan itu ingin membuat nona Alice kehilangan kehormatannya dengan cara kesepuluh laki-laki itu meniduri nona Alice secara bergilir. Jadi dengan begitu Bos Willy akan merasa jijik terhadap nona Alice sehingga Bos Willy pergi meninggalkan nona Alice."


Seketika Darren berdiri dari duduknya ketika mendengar perkataan dari Vicky. Tersirat amarah dari sorot matanya.


"Baiklah jika begitu ceritanya. Apa kau memiliki videonya, Vicky?"


"Ada Bos."


"Bagus. Kirim video itu padaku. Sekarang!"


"Dengan video itu aku akan menghancurkan perempuan tak tahu diri itu. Bahkan keluarganya."


"Baik, Bos!"


"Kathy. Kau sudah terlalu jauh bertindak. Dan tindakanmu kali ini tidak bisa dimaafkan," batin Darren.


Ting!


Terdengar notifikasi masuk ke ponsel milik Darren. Darren yang mendengar itu langsung membuka dan melihat notifikasi itu.


Sebuah video kiriman dari Vicky tentang rencana Kathy yang ingin menghancurkan masa depan Alice.


"Tunggu kejutan dariku, Kathy!" batin Darren.


"Ren, ada apa? Vicky bicara apa padamu?" tanya Willy.


Darren menatap wajah Willy. Dapat Darren lihat dari tatapan mata Willy yang butuh jawaban darinya.


"Aku kasih tahu kamu. Tapi kamu harus janji padaku untuk bersabar dan tidak tersulut emosi," ucap Darren dengan menatap wajah Willy.


"Baik. Aku janji sama kamu untuk tidak tersulut emosi," ucap Willy.


"Lihat ini," ucap Darren dengan menunjukkan video kiriman dari Vicky kepada Willy.


Willy menatap layar ponselnya Darren yang mana di layar ponsel itu sebuah video. Begitu juga dengan sahabat Darren yang lainnya.


"Kita tidak perlu buang-buang energi. Kita langsung datangi keluarga perempuan sialan itu. Setelah tiba disana, kita hancur mereka semua," ucap Darren.


Mendengar usulan dan ide dari Darren membuat Willy dan sahabat-sahabatnya yang lainnya tersenyum menyeringai.


"Baiklah. Ide yang bagus. Aku setuju!" seru Willy.


"Kapan kita melakukannya?" tanya Willy.


"Besok pukul 1 siang," jawab Darren.

__ADS_1


"Baik," jawab Willy.


__ADS_2