KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Usapan Lembut Dari Sang Ayah


__ADS_3

Davin beserta anggota keluarganya tengah berkumpul di ruang tengah, kecuali Darren. Darren berada di kamarnya.


Davin sudah menceritakan masalah yang dihadapi Darren dan ketujuh sahabatnya.


Mendengar cerita dari Davin membuat Erland dan yang lainnya merasakan ketakutan terdalam terhadap Darren.


"Papa. Kita harus lakukan sesuatu. Kita jangan berdiam diri saja. Kita harus bantu menyelesaikan masalah Darren," ucap Darka.


"Iya, Papa! Sudah cukup selama ini Darren menyelesaikan masalahnya tanpa melibatkan kita. Sudah cukup Darren yang terus-terusan melindungi keluarga kita dan juga ikut membantu menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Sekarang giliran kita ikut masuk dalam masalah Darren dan ikut menyelesaikannya." Gilang berbicara sembari menatap keempat kakak-kakaknya.


"Kita nggak bisa berpangku tangan dan membiarkan Darren sendirian menyelesaikan masalahnya. Sekali pun Darren tidak sendirian. Dia masih memiliki tujuh sahabatnya dan lima kakak-kakak mafianya yang siap kapan pun membantunya. Itu urusan mereka."


"Disini kita adalah keluarganya. Kita tidak bisa terus meneru mengandalkan orang lain untuk membantu kita," sahut Darka.


Mendengar perkataan dari Darka dan Gilang membuat mereka semua sedih. Mereka membenarkan apa yang barusan dikatakan oleh keduanya. Selama ini Darren lah yang banyak membantu keluarganya.


Erland tiba-tiba saja mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah mendapatkan ponselnya, Erland menekan nomor seseorang.


"Hallo, tuan."


"Hallo, Marcoz. Apa kau sibuk hari ini dan untuk beberapa hari ke depannya?"


"Tidak, tuan. Ada apa, tuan?"


"Aku ingin kau melakukan sesuatu."


"Apa itu, tuan? Katakan."


"Aku ingin kau menyelidiki tentang geng motor Vagos."


"Baik, tuan. Ada lagi, tuan?"


"Ada. Ini tentang salah satu dari sahabat putraku yang dikeroyok oleh beberapa orang. Namun dari pengakuannya mengatakan bahwa yang mengeroyoknya bukan geng motor Vagos. Sementara pelaku pengeroyokan itu memakai jaket Vagos."


"Baik, tuan. Saya akan menyelidiki masalah itu. Tuan jangan khawatir. Saya akan mengabari tuan jika saya sudah mendapatkannya."


"Terima kasih, Marcoz. Aku mengandalkanmu."


"Sama-sama, tuan. Itu sudah tugas saya."


"Baiklah. Kalau begitu saya tutup teleponnya."


"Baik, tuan."


Setelah itu, Erland pun mematikan panggilannya. Kemudian meletakkan ponselnya di atas meja.


Erland menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.

__ADS_1


"Kakak Erland menghubungi siapa barusan?" tanya Evan.


"Dia adalah Marcoz salah satu tangan kananku. Marcoz bekerja di belakang layar. Dan tidak pernah menampakkan wajahnya kepada siapa pun."


"Marcoz juga sudah banyak membantu Papa dalam melindungi perusahaan ER, salah satu saat perusahaan ER hampir bangkrut ketika Darren masih SMA dulu."


"Apa itu termasuk ketika perusahaan ER yang mengalami kerugian saat Manager Keuangannya dipegang sama Carlita?" tanya Davin.


"Iya, sayang. Marcoz membantu perusahaan ER untuk tetap stabil, walau saat itu belum diketahui jika Carlita telah berkhianat," jawab Erland.


Gilang berdiri dari duduknya dan disusul oleh Darka.


Melihat Gilang dan Darka yang tiba-tiba berdiri, mereka semua menatap kearah keduanya.


"Kalian mau kemana?" tanya Adnan.


"Mau ke kamar Darren," jawab Gilang.


"Pasti saat ini Darren memikirkan dalang yang sudah mengeroyok Rehan," ucap Darka.


Setelah itu, Gilang dan Darka pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar adik kesayangannya.


Melihat Gilang dan Darka menuju kamar Darren. Mereka semua pun juga memutuskan untuk ke kamar Darren.


^^^


Darren saat ini masih memikirkan dalang dari pengeroyokan yang dialami oleh Rehan sahabatnya.


"Siapa mereka? Kenapa mereka menyerang Rehan?" tanya Darren kepada dirinya sendiri.


Darren menghempaskan punggungnya di punggung sofa dan menidurkan kepalanya di sofa. Seketika Darren memejam matanya sejenak.


Darren merasakan sedikit pusing di kepalanya. Dirinya berharap jika memejamkan mata sejenak, rasa pusing itu akan hilang.


"Sakit ini lagi," ucap Darren.


Disaat Darren sedang berusaha untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya. Tanpa Darren ketahui bahwa Gilang dan Darka sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Dan disusul oleh anggota keluarganya.


Darka dan Gilang menangis ketika mendengar ucapan dari adiknya.


"Ren," lirih Darka dan Gilang.


Darka dan Gilang melangkah memasuki kamar Darren dengan diikuti oleh anggota keluarganya di belakang.


Erland duduk di samping kanan putranya. Tangannya mengusap lembut kepala putranya sehingga terlihat kening putihnya, lalu Erland mencium kening putih putranya itu.


Darren yang merasakan sentuhan di kepalanya dan kecupan di keningnya. Seketika membuka kedua matanya. Darren memiringkan kepalanya ke samping. Dan dapat dilihat olehnya ayahnya yang menatapnya dengan senyuman.

__ADS_1


"Papa," ucap Darren.


"Apa ada yang sakit?" tanya Erland yang tangannya masih bermain-main di kepalanya.


"Maksud Papa?" tanya Darren.


"Papa berharap kamu mau jujur, Nak! Jika kamu merasakan sakit. Katakan pada Papa. Jangan dipendam. Jangan buat Papa tidak berguna untukmu," ucap Darren.


"Papa," lirih Darren.


"Papa mohon sayang. Berbagilah," ucap Erland yang meneteskan air matanya.


"Aku.....,"


Grep!


Erland menarik tubuh putranya ke dalam dekapannya dan memeluknya erat.


"Hiks... Hiks." Darren tiba-tiba terisak.


Mendengar isakan dari Darren membuat mereka menatap Darren khawatir.


"Papa."


"Ada apa, hum?"


"Aku nggak kuat, Pa! Aku benar-benar nggak kuat. Sakit di jantungku sampai sekarang belum hilang. Sewaktu-waktu pasti akan kambuh. Tapi kenapa sakit yang lain menghampiriku? Apa nggak cukup satu aja?"


Air mata Erland makin deras mengalir membasahi wajahnya ketika mendengar perkataan dari putranya. Hatinya benar-benar hancur kala melihat kondisi putranya saat ini.


Tak jauh beda dengan Agneta, keenam kakak-kakaknya, Paman dan Bibinya. Serta ketiga kakak sepupunya. Mereka juga menangis ketika mendengar perkataan dari Darren.


"Kalau Papa boleh tahu. Sakit apa yang kamu rasakan saat ini selain jantungmu, hum?"


Sebenarnya Erland sudah tahu jika sakit yang dirasakan oleh Darren selain jantungnya adalah sakit di kepalanya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua tahu dari Brenda. Hanya saja saat ini Erland ingin mendengar langsung dari mulut putranya.


"Selain jantungku. Aku juga merasakan sakit di kepalaku, Papa! Dan aku tidak tahu apa penyebabnya. Selama ini aku tidak pernah merasakan sakit atau pun pusing di kepala. Sebanyak apapun pekerjaanku. Selelah apapun tubuhku. Aku tidak pernah merasakan sakit di kepala." Darren berucap dengan suara lirihnya.


"Sejak kapan kamu merasakan sakit itu, Ren?" tanya Andra.


"Aku tidak tahu. Tapi rasa sakit itu sudah empat kali aku rasakan. Dan rasa sakitnya luar biasa," ucap Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua menangis. Erland makin menguatkan pelukannya.


"Papa, aku takut... Hiks. Aku tidak mau ada penyakit lain dalam tubuhku. Cukup satu saja yaitu jantungku. Aku nggak mau Papa... Hiks," ucap Darren disela isakannya.


"Tuhan, tolong hilangkan rasa sakit yang dirasakan oleh putraku. Sudah cukup selama ini putraku merasakan kesakitannya. Aku tidak sanggup melihatnya. Jika boleh meminta. Pindahkan semua rasa sakit pada tubuh putraku kepadaku," batin Erland berdoa.

__ADS_1


"Semoga saja rasa sakit yang kamu rasakan di kepalamu hanya sakit biasa. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah!" Erland memberikan keyakinan dan ketenangan kepada putranya. Dan Erland kembali memberikan kecupan di keningnya.


__ADS_2