
Mendapatkan tamparan keras dari ayahnya membuat Darren makin menatap ayahnya dengan penuh amarah dan juga penuh kebencian.
Jika di hadapannya ini bukan ayahnya atau dengan kata lain orang yang berdiri di hadapannya ini adalah ayah tirinya, maka hari ini juga Darren mungkin akan membunuhnya. Darren tidak lagi memandang statusnya sebagai seorang ayah.
Darren makin menatap nyalang ayahnya. Di dalam hati dan pikirannya saat ini sudah tidak ada lagi yang namanya sopan santun. Bahkan rasa hormat pun sudah hilang dalam diri Darren terhadap ayahnya.
Saat ini yang Darren rasakan adalah kebencian yang begitu besar. Benci terhadap orang yang dulu begitu dihormati dalam hidupnya.
"Apa begini cara kau mendidik putra-putramu, Tuan? Pantas saja mereka..." tunjuk Darren pada kelima kakaknya. "Bersikap kasar padaku. Ternyata belajar dari anda."
"Darren," batin Erland lirih.
Darren berlahan melangkah mundur. Air matanya tidak bisa lagi ditahan. Darren menangis. Menangis dalam diam tanpa isakan.
"Aku kecewa dengan kalian semua. Kalian memperlakukan aku seperti penjahat di rumah ini. Tidak ada satupun dari kalian yang mempercayaiku. Kalian lebih percaya dengan video yang kalian tonton itu sebelum kalian menyelidiki kebenarannya. Untuk apa lagi aku berada di rumah ini. Lebih baik aku pergi dari rumah ini." Darren berbicara dengan menatap penuh amarah dan penuh kebencian anggota keluarganya.
Setelah itu, Darren pergi meninggalkan anggota keluarganya menuju kamarnya di lantai dua.
Melihat kepergian Darren menuju kamarnya. Carissa berdiri dari duduknya dan menatap amarah kepada anggota keluarganya.
"Sudah puas kalian!" bentak Carissa selaku adik perempuan Erland. "Aku muak dengan sikap kalian seperti ini. Kalian semua tidak pantas disebut sebagai manusia. Kalian lebih pantas disebut sebagai binatang!"
Setelah mengatakan hal itu, Carissa pergi menuju kamarnya dan disusul oleh suaminya Evan dan ketiga putranya.
"Sudahlah, Papa! Jangan dipikirkan apa yang dikatakan, Bibi! Bibi seperti itu karena terlalu memanjakan anak tak tahu diri itu," ucap Davin.
__ADS_1
"Dan Papa juga tidak perlu menanggapi ucapan Darren barusan. Aku yakin Darren tidak akan pergi meninggalkan rumah ini. Kalau pun Darren pergi. Dia akan tinggal dimana? Bersama siapa?" kata Andra.
"Apa yang dikatakan kak Andra benar, Papa! Darren tidak akan pergi kemana-mana," kata Gilang.
Saat mereka tengah sibuk memikirkan perkataan Darren yang ingin pergi dari rumah. Mereka dikejutkan suara langkah kaki menuruni anak tangga
TAP!!
TAP!!
TAP!!
Mereka semua mengalihkan pandangan melihat kearah Darren. Dan mereka semua terkejut saat melihat Darren yang menyeret dua koper.
Agneta yang melihat hal itu langsung berdiri dan ingin menghampiri Darren, tapi Darren sudah terlebih dahulu berteriak.
Mendengar perkataan kejam dari Darren seketika air mata Agneta jatuh membasahi wajahnya. Hatinya benar-benar sakit ketika putranya menolak untuk didekati.
Darren menatap tajam dan penuh kebencian anggota keluarganya. "Seperti yang aku katakan barusan. Aku akan pergi dari rumah neraka ini. Untuk apa aku berada di rumah ini kalau hanya untuk disakiti. Kalau aku masih tetap berada di rumah ini, bisa-bisa aku mati tertekan dan tersiksa akan sikap kalian padaku," sahut Darren.
"Dengarkan aku baik-baik dan jangan pernah kalian lupakan sedikit pun. Mulai detik dan seterusnya namaku Darrendra bukan Darrendra Smith lagi. Aku akan melepaskan marga Smith di belakang namaku, karena aku sudah tidak sudi lagi memakainya."
"Saat aku pergi keluar dari rumah ini, kita sudah tidak ada hubungan apapun. Kalian bukan anggota keluargaku dan aku bukan anggota keluarga kalian. Aku memutuskan hubunganku dengan kalian semua. Jadi saat kita bertemu di luar atau di jalanan, anggap kita tidak saling mengenal. Aku tidak akan mengusik kehidupan kalian dan aku juga minta pada kalian untuk tidak mengusik kehidupanku!" Darren berbicara sembari berteriak di hadapan semua anggota keluarganya. Semua yang diucapkan oleh Darren diucapkan dengan penuh penekanan.
Mereka semua terkejut akan ucapan Darren barusan. Mereka tidak menyangka kalau Darren akan mengatakan hal seperti itu. Mereka berpikir kalau Darren hanya emosi saat mengatakan akan pergi dari rumah. Tapi pikiran mereka salah. Darren benar-benar melakukannya. Tapi mereka hanya bisa diam dan tidak ada satu pun dari mereka yang berusaha mencegahnya.
__ADS_1
"Aku akan mengingat semua perlakuan kalian hari ini. Dan aku tidak akan pernah melupakannya sampai aku mati. Aku akan buat kalian semua menyesal atas sikap dan perlakuan kalian padaku. Saat kalian mengetahui kebenarannya dan mengetahui siapa pelaku penusukan terhadap tuan Darka dan tuan Melvin, lalu kalian semua menyesal telah menyakitiku dan ingin meminta maaf padaku. Tapi sayangnya semua itu sudah terlambat. Saat hari itu tiba, aku Darren tidak akan pernah memberikan kata maaf pada kalian semua."
"Mulai hari ini dan seterusnya hatiku telah terkunci rapat. Dan yang ada saat ini adalah kebencian dan dendamku pada kalian!" teriak Darren dingin dan ketus.
"Oh iya, satu hal lagi. Mungkin saat ini kalian semua berpikir jika aku pergi meninggalkan rumah sialan ini hidupku akan susah diluar sana. Dan mungkin kalian juga berpikir kalau aku tidak akan bisa hidup tanpa kalian, lalu beberapa hari kemudian aku akan kembali lagi ke rumah ini."
"Jika benar kalian punya pikiran seperti itu, lebih baik kalian buang jauh-jauh pikiran itu. Aku Darrendra tidak akan pernah kembali ke rumah ini. Aku Darrendra bisa hidup sendiri tanpa kalian. Aku Darrendra tidak akan pernah hidup susah diluar sana. Sekali pun aku hidup susah diluar sana. Aku tidak akan pernah sudi lagi menginjakkan kakiku di rumah ini. Aku akan buktikan pada kalian semua jika seorang Darrendra bisa hidup tanpa bantuan kalian."
Setelah mengatakan hal itu Darren pun langsung pergi meninggalkan rumah kediaman Keluarga Smith dengan menyeret dua koper di tangannya.
Sedangkan anggota keluarganya semuanya hanya diam membisu. Mereka semua terkejut dan merasakan sesak di hati masing-masing ketika mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Darren.
Mereka semua juga tidak menyangka jika Darren benar-benar pergi meninggalkan rumah. Hancur sudah kebahagiaan dan kekompakan mereka yang selama ini mereka bangun. Mereka hanya bisa meratapi kebodohan mereka. Hanya karena kemarahan dan keegoisan mereka, mereka harus kehilangan salah satu anggota keluarga.
FLASBACK OFF
Setelah mengingat kejadian tersebut. Erland makin menangis terisak sembari menatap foto putra bungsunya.
"Darren, sayang. Maafkan Papa... Maafkan Papa," ucap Erland disela isakannya. Erland menciumi bingkai foto putranya.
CKLEK!
Pintu dibuka oleh seseorang. Bahkan orang itu terkejut dan juga khawatir melihatnya menangis. Lalu orang itu langsung melangkah masuk.
"Papa."
__ADS_1
Erland yang mendengar seseorang yang memanggilnya langsung mengalihkan pandangannya melihat ke arah orang itu.