
Sejak melihat dan mengetahui berita pesawat yang ditumpangi oleh Erland kecelakaan, sejak itulah Darren mengurung diri di dalam kamarnya. Hatinya hancur, sakit dan terpukul ketika mengetahui pesawat yang ditumpangi ayahnya jatuh ketika hendak lepas landas.
Bukan hanya Darren yang terlihat hancur. Agneta, keenam kakaknya, kelima adiknya, Paman serta Bibinya, ketiga saudara sepupunya juga merasakan hal yang sama. Apalagi Davin dan Andra. Keduanya tampak terpukul setelah mendengar perkataan Darren.
Kini di kediaman Smith tampak ramai. Ketujuh sahabat-sahabatnya Erland, ketujuh sahabatnya Darren, kelima kakak-kakak mafia Darren, Brenda, ketujuh sahabatnya Brenda keluarga Radmilo dan kelima sahabatnya Elzaro. Bahkan keluarga dari Brenda juga turut hadir disana.
Kehadiran mereka untuk memberikan dukungan, semangat serta kekuatan kepada anggota keluarga Smith, terutama untuk Agneta dan anak-anaknya.
Setelah usaha Agneta, Carissa, Evan, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan ketiga saudara sepupunya yang gagal membujuk Darren untuk mau membukakan pintu kamarnya. Kini giliran Gilang dan Darka.
Gilang dan Darka melakukan segala cara untuk membujuk adiknya itu agar mau keluar dari dalam kamarnya. Setidaknya adiknya itu membukakan pintu untuk mereka berdua.
Sampai saat ini dan sampai detik ini, Gilang dan Darka masih berada di depan pintu kamar Darren. Keduanya masih berusaha membujuk adiknya agar mau membukakan pintu. Mereka benar-benar sangat mengkhawatirkan kondisi Darren saat ini.
"Ren, kakak Gilang mohon sama kamu. Buka dong pintunya. Biarkan kakak Gilang masuk agar kakak Gilang bisa menemani kamu di dalam," ucap Gilang disela isakannya.
"Ren, kakak Darka mohon. Buka pintunya sayang."
Hati Darka benar-benar hancur saat ini. Dia sudah kehilangan ibu kandungnya, sekarang ayahnya entah dimana. Apakah selamat atau telah meninggal akibat kecelakaan itu. Dan sekarang adik kesayangannya mengurung diri di dalam kamarnya. Darka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap adik laki-lakinya itu.
Davin serta adik-adiknya yang lain, ketujuh sahabat Darren beserta anggota keluarganya, kelima saudara-saudara mafia Darren, keluarga Radmilo dan semua yang hadir di kediaman Smith menangis ketika mendengar suara dan perkataan Gilang dan Darka yang masih berusaha untuk membujuk Darren agar mau keluar dari kamarnya.
Mereka semua berharap agar Darren mau membuka pintu kamarnya dan membiarkan salah satu dari mereka masuk dan memeluknya.
Melihat semua orang menangis, melihat semua orang terpuruk membuat Erica merasakan kesedihan berkali-kali lipat. Erica kini di dalam pelukan Bella, ibunya Darel.
Seketika Erica melepaskan pelukan Bella sehingga membuat Bella terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya.
Setelah berhasil melepaskan diri dari pelukan Bella. Erica berjalan menuju lantai dua dimana kamar ayah angkatnya berada.
Mereka yang melihat Erica berjalan menuju lantai dua langsung mengerti. Mereka menangis menatap punggung Erica. Mereka berharap usaha Erica untuk membujuk Darren membuahkan hasil.
__ADS_1
Gilang dan Darka yang melihat kehadiran Erica antara menangis dan tersenyum. Keduanya memeluk Erica.
"Apa Erica ingin membujuk Papa untuk keluar dari kamarnya, hum?" tanya Darka.
Mendengar pertanyaan dari Pamannya itu membuat Erica langsung menganggukkan kepalanya.
Gilang dan Darka tersenyum. Keduanya berharap usaha Erica untuk membujuk Darren membuahkan hasil. Begitu juga dengan Agneta, kelima kakak-kakaknya dan yang lainnya.
Setelah itu, Erica berdiri di depan pintu kamar Darren. Air matanya sudah berlomba-lomba keluar membasahi pipinya. Erica kembali teringat akan kematian kedua orang tua kandungnya beserta semua orang yang ada di rumahnya itu.
"Papa, ini Erica!"
Kata-kata itulah yang keluar pertama kalinya dari mulut Erica. Terdengar nada suaranya yang bergetar.
Gilang, Darka dan semua orang yang ada di kediaman keluarga Smith menangis ketika mendengar suara bergetar Erica.
"Papa, Erica mohon. Buka pintunya untuk Erica. Biarkan Erica masuk. Erica kangen Papa, Erica kangen di peluk Papa."
Gilang dan Darka mengusap-usap lembut kepala dan punggung Erica. Bahkan keduanya sudah memeluk tubuh Erica.
"Papa... Erica sayang Papa! Erica sudah nggak punya orang tua lagi. Hanya Papa yang orang tua Erica sekarang, walau semua keluarga Papa dan orang-orang terdekatnya Papa juga sayang sama Erica. Tapi Papa yang terpenting untuk Erica, karena Papa adalah orang tua Erica sekarang."
"Papa, Erica mohon. Buka pintunya. Biarkan...."
Cklek..
Tiba-tiba pintu kamar Darren terbuka. Dan terlihat seorang pemuda telah berdiri di depan pintu.
Grep..
Erica langsung menghamburkan tubuhnya dan memeluk begitu erat tubuh orang yang begitu dia sayangi.
__ADS_1
"Papa," ucap Erica disertai isakannya.
Gilang dan Darka langsung berdiri dari duduknya. Keduanya menatap wajah wajah adiknya itu.
Gilang dan Darka secara bersamaan mengusap pipi putih adiknya itu. Sedangkan Darren menatap kedua kakaknya dengan air mata yang membasahi wajahnya.
Beberapa detik kemudian, Gilang dan Darka masuk ke dalam pelukan tersebut. Mereka memeluk tubuh Darren dan menangis disana.
Sedangkan Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan serta yang lainnya yang berada di bawa tersenyum bahagia karena usaha Erica membuahkan hasil. Darren seketika membuka pintu kamarnya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Erica putri angkatnya.
***
Sudah dua hari sejak kecelakaan pesawat itu terjadi. Sejak itu juga mereka belum mendapatkan hasil apapun mengenai para penumpang pesawat yang selamat atau yang meninggal.
Dan harapan mereka semua saat ini adalah semoga semua penumpang selamat, walau dalam keadaan terluka.
Darren saat ini sudah dalam kondisi baik-baik saja. Dengan kata lain, Darren tidak lagi mengurung diri di dalam kamarnya.
Di kediaman keluarga Smith sampai saat ini masih ramai. Bahkan sebagian dari mereka memutuskan untuk menginap di sana.
Mereka terus memberikan kata-kata semangat, dukungan dan pelukan-pelukan hangat untuk anggota keluarga Smith.
Kelima kakak-kakak mafia Darren sudah memberikan perintah kepada para tangan kanannya untuk menyelidiki kecelakaan pesawat yang menimpa Erland Faith Smith dan penumpang lainnya.
Kini semuanya tengah berkumpul di ruang tengah sembari membahas masalah ke depannya bagaimana.
Darren yang saat ini masih memikirkan ayahnya tidak ikut dalam obrolan anggota keluarganya dan orang-orang terdekatnya. Di dalam hatinya Darren mengatakan bahwa ayahnya itu selamat dalam kecelakaan pesawat itu. Dia tidak akan pernah mempercayai bahwa ayahnya telah meninggal sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri mayat sang ayah.
Darren belum siap untuk kehilangan lagi. Dia sudah kehilangan ibu kandungnya sehingga dia tidak merasakan kasih sayang, pelukan dan kecupan sayang dari sang ibu. Dan dia tidak ingin kehilangan ayahnya. Hanya ayahnya yang tersisa orang tuanya, walau masih ada Agneta yang menggantikan ibu kandungnya.
"Papa! Aku sangat yakin kalau Papa selamat. Papa sudah berjanji kepadaku akan terus ada di sampingku. Jadi, kembalinya dalam keadaan selamat tanpa kurang satu apapun," batin Darren.
__ADS_1
Davin dan yang lainnya yang sedari tadi memperhatikan Darren yang hanya diam dan melamun membuat mereka semua menatap khawatir terhadap dirinya. Mereka semua tidak ingin Darren tertekan akan musibah ini sehingga membuat kesehatan menurun. Apalagi mereka semua tahu Darren memiliki masalah di jantungnya.