KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kebahagiaan Celsea


__ADS_3

Sementara di alam bawah sadar Darren. Darren saat ini bersama dengan ibunya. Saat ini Darren tengah menangis


"Mama... Hiks," isak tangis Darren.


"Sayang, dengarkan Mama. Kamu jangan seperti ini. Belum waktunya kamu berada disini. Perjalanan kamu masih panjang. Usia kamu juga masih muda. Kamu nggak bisa nyerah dengan cara seperti ini. Kamu jangan pikirkan diri kamu sendiri. Pikirkan juga orang-orang terdekat kamu, terutama ketujuh sahabat-sahabat kamu. Apa kamu nggak kasihan sama mereka? Apa kamu tega ninggalin mereka dengan cara seperti ini?"


Darren menundukkan kepalanya. Darren menangis sembari sesekali sesegukkan. Di dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh ibunya. Jika dirinya pergi pasti ketujuh sahabat-sahabat akan menangisinya.


Melihat putranya menangis, Belva menarik tubuh putranya dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Mama mengerti dan paham apa yang menjadi alasan kamu yang tidak ingin pulang dan memilih tinggal disini bersama Mama. Kalau Mama boleh jujur, Mama juga ingin kamu tetap disini bersama Mama. Tapi Mama nggak mau egois."


Belva melepaskan pelukannya, lalu tangannya menyentuh dagu putranya dan kemudian mengangkatnya ke atas agar dirinya bisa menatap wajah tampan putranya itu.


"Alasan Mama menyuruh kamu kembali adalah kamu itu masih muda, perjalanan kamu masih panjang, masih banyak rencana kamu bersama ketujuh sahabat-sahabat kamu yang belum terlaksanakan. Ditambah lagi kamu pernah berjanji kepada Papa kamu kalau kamu tidak akan pergi kemana-mana. Kamu akan selalu berada di sisi Papa kamu."


Darren hanya diam mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut ibunya. Dan jangan lupa air matanya yang terus mengalir membasahi wajahnya.


"Coba lihat disana," ucap Belva sambil menunjuk ke arah dimana anggota keluarga Smith, ketujuh sahabat-sahabatnya dan kelima kakak-kakak mafia mengerubungi ranjangnya sembari menangis dan menyebut namanya.


Darren melihat kearah tunjuk ibunya. Dapat dilihat olehnya, anggota keluarganya, ketujuh sahabat-sahabatnya dan kelima kakak-kakak mafianya kini tengah menangisinya. Dan tak lupa namanya yang disebut-sebut oleh mereka semua.


"Apa kamu nggak kasihan melihat mereka semua? Mereka semua pasti hancur melihat kepergian kamu, terutama Papa kamu dan keenam kakak kamu."


Belva menyentuh wajah putranya, lalu membawanya untuk menatap wajahnya.


"Dengarkan Mama. Kembalilah. Di sini bukan tempatmu. Di sanalah tempatmu yang sebenarnya."


"Tapi...."


"Jika Papamu, keenam kakak kamu dan Mama Agneta kembali menyakitimu. Mama berjanji akan menjemputmu dan membawamu pergi bersama Mama. Dan Mama tidak akan mengizinkan mereka untuk bertemu kamu lagi."


"Janji."


"Mama janji."


"Baiklah. Aku akan pulang."


Mendengar jawaban dari putranya membuat Belva bernafas lega. Akhirnya usahanya membujuk putranya membuahkan hasil.


BRAAKKK!


Pintu di buka paksa oleh Celsea. Setelah itu, Celsea masuk ke dalam ruang rawat Darren diikuti tiga perawat dan Axel di belakang.


Melihat kedatangan Celsea. Semuanya menatap Celsea penuh harap dan mereka semua memberikan ruang untuk Celsea.

__ADS_1


"Lebih baik kalian keluar dulu," ucap Celsea.


"Tolong selamatkan putraku," ucap lirih dan memohon Erland menatap wajah Celsea.


"Aku akan berusaha," jawab Celsea.


Setelah itu, mereka semua pun keluar meninggalkan ruang rawat Darren dengan raut wajah ketakutan.


Celsea menatap dengan air mata keadaan Darren saat ini. Dirinya tidak tahu kenapa Darren tiba-tiba menjadi seperti ini. Kemarin ketika dirinya memeriksa keadaan Darren. Semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun.


"Sayang, ada apa denganmu? Kenapa jadi seperti ini?"


"Siapkan alat Defibrillator. Sekarang!"


Tiga perawat itu pun langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Celsea.


Beberapa detik kemudian, alat yang diminta oleh Celsea telah selesai disiapkan. Dan kini alat itu sudah berada di tangan Celsea.


Sebelum menempelkan Defibrillator ke dada Darren. Celsea terlebih dahulu menggosok-gosok bagian lempengannya.


Ketika Celsea hendak menempelkan Defibrillator tersebut ke dada Darren tiba-tiba salah satu perawat berseru.


"Dok, tunggu! Lihatlah!" perawat itu menunjuk kearah layar monitor EKG.


Mendengar seruan dari salah satu perawatnya. Celsea langsung melihat kearah tunjuk perawat itu.


Bukan itu saja, Celsea juga bisa melihat dari monitor EKG bahwa irama nafas, kadar oksigen, tensi, suhu tubuh, tekanan darah dan sistem pernafasan Darren semuanya dalam kondisi normal.


Melihat semua hasil yang ditunjukkan monitor EKG seketika air mata Celsea jatuh membasahi wajah cantiknya. Celsea menatap wajah Darren dengan berlinang air mata. Air mata kali ini adalah air mata kebahagiaan.


Celsea mengusap lembut kepala Darren sehingga memperlihatkan kening putih Darren. Dan detik kemudian, Celsea memberikan kecupan sayang di kening itu.


Celsea menatap kembali wajah Darren. "Bibi sejak awal sudah sangat yakin kalau kamu tidak akan menyerah begitu saja. Kamu adalah pemuda yang kuat. Kamu tidak akan pergi kemana-mana. Kamu tidak akan pergi meninggalkan kita semua." Celsea mengusap lembut pipi kiri Darren.


"Terima kasih sayang telah kembali," ucap Celsea lagi.


Setelah mengatakan itu, Celsea menatap ketiga perawatnya.


"Lepaskan semua alat-alat yang ada di tubuhnya, wajahnya dan juga di jari telunjuknya," perintah Celsea.


"Baik, Dok!"


Ketiga perawat itu pun langsung menjalankan perintah dari Celsea. Mereka melepaskan alat-alat yang ada di tubuh, wajah dan jari telunjuk Darren secara berlahan-lahan dan juga hati-hati.


"Untuk masker oksigennya ganti dengan selang canula," ucap Celsea.

__ADS_1


"Baik, Dok!"


Setelah itu, Celsea keluar meninggalkan ruang rawat Darren untuk menemui anggota keluarga Smith, sahabat-sahabatnya Darren, termasuk putra ketiganya dan kelima kakak-kakak mafianya.


^^^


Sementara anggota keluarga Smith, ketujuh sahabat Darren dan kelima para ketua mafia menunggu dengan pikiran yang kacau dan juga ketakutan.


Mereka saat ini benar-benar mengkhawatirkan Darren. Mereka semua menangis sembari menyebut nama Darren dalam doa mereka.


Ketika mereka semua memikirkan kondisi Darren, tiba-tiba pintu ruang rawat Darren terbuka.


Mendengar suara pintu ruang rawat Darren terbuka. Mereka semua langsung melihat kearah pintu tersebut.


"Mama!"


"Bibi Celsea!"


"Celsea!"


"Kak Celsea!"


Mereka semua menatap penuh harap dan juga was-was. Mereka semua berharap mendapatkan kabar baik dari Celsea tentang kondisi Darren.


"Bagaimana putraku, Celsea?" tanya Erland.


Celsea menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya. Detik kemudian, Celsea tersenyum.


"Kondisi Darren sudah membaik. Tidak ada masalah apapun. Kemungkinan malam ini atau besok. Darren akan membuka kedua matanya."


Mendengar perkataan dari Celsea membuat mereka semua meneteskan air matanya. Air mata mereka kali ini adalah air mata kebahagiaan.


Axel melangkah mendekati ibunya. Dirinya saat ini benar-benar tidak bisa membendung air matanya. Axel menangis terisak kala mendengar perkataan ibunya mengenai kondisi sahabat terbaiknya.


"Ma-mama. I-ini beneran? Mama tidak bohongkan? Aku tahu siapa Mama," ucap Axel dengan air matanya yang masih terus mengalir.


Celsea tersenyum kala melihat putranya dalam keadaan menangis. Tangannya kemudian terangkat untuk menghapus air mata putranya itu.


"Sahabat kamu itu kondisinya sudah membaik sayang. Tidak ada masalah apapun. Kita hanya menunggunya sadar saja," sahut Celsea.


"Mama."


GREP!


Axel langsung memeluk tubuh ibunya. Dan isak tangisnya pun seketika pecah.

__ADS_1


"Hiks... Terima kasih Mama. Terima kasih Mama sudah berjuang untuk sahabatku. Terima kasih untuk semuanya."


Celsea tersenyum mendengar perkataan dari putranya. Tangannya mengusap lembut punggung putranya itu.


__ADS_2