KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kesedihan Liana Akan Cerita Brenda


__ADS_3

Kini Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya berada si ruang latihan tinju. Di ruangan itu juga ada sahabat-sahabatnya Brenda.


Baik Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel maupun Alice, Elsa, Milly, Lenny, Vania, Felisa dan Tania menatap khawatir Darren.


Setelah kejadian di halaman kampus. Setelah Axel memeluk Darren. Seketika Darren jatuh tak sadarkan diri.


Melihat Darren yang tiba-tiba jatuh pingsan membuat mereka semua khawatir dan takut, terutama ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Ren," lirih Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


Ketika mereka sedang menatap khawatir Darren, tiba-tiba ponsel milik Rehan berbunyi.


Rehan yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya itu di saku celananya.


Rehan melihat nama 'kakak Zoya' di layar ponselnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rehan langsung menjawab panggilan dari Zoya salah satu tangan kanannya Noe Afredo.


"Hallo, kakak Zoya. Ada apa?"


"Kau ada dimana? Dan ponselnya Darren kenapa tidak bisa dihubungi?"


"Aku dan yang lainnya berada di kampus. Lebih tepatnya di ruang latihan tinju. Untuk ponsel Darren memang tidak aktif. Ada masalah sedikit di kampus. Kenapa kakak Zoya?"


"Begini. Kakak dapat informasi dari salah satu anggota kakak yang tengah mengawasi pergerakan dari Charlie sepupu laki-laki dari ibunya Brenda. Charlie, istrinya dan anak-anaknya akan mendatangi keluarga Brenda."


"Apa? Kapan?"


"Hari ini mereka akan datang. Sekitar pukul 6 sore mereka sudah berada di kota Berlin. Dan kemungkinan besar pukul 7 malam mereka sudah berada di kediaman keluarga Brenda."


"Baiklah. Sebelum pukul 5 sore. Kami semua sudah berada di rumah Brenda. Dan kita semua akan ada disana dan menyelesaikan masalah keluarga Brenda."


"Baiklah. Kakak tunggu. Beritahu Darren."


"Baik."


Setelah itu, baik Zoya maupun Rehan sama-sama mematikan panggilannya.


Selesai berbicara dengan Zoya. Rehan pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Apa yang dibicarakan sama kakak Zoya?" tanya Dylan.


"Charlie, sepupu laki-lakinya Bibi Liana akan datang hari ini ke Berlin. Tepat pukul 6 sore, mereka sudah berada di kota Berlin. Dan kemungkinan besar pukul 7 malam mereka sudah berada di rumah keluarga Brenda."


"Baiklah. Kita akan kesana dan membantu keluarga Brenda menyelesaikan masalahnya dengan laki-laki bajingan itu," sahut Axel.


"Hm." Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan Alice, Elsa, Milly, Lenny, Vania, Felisa dan Tania.


"Eughh."


Terdengar lenguhan dari bibir Darren. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung melihat kearah Darren. Begitu juga dengan Alice, Elsa, Milly, Lenny, Vania, Felisa dan Tania.


"Ren," panggi mereka secara bersamaan.


Darren berlahan membuka kedua matanya. Ketika Darren membuka matanya. Darren merasakan sakit di kepalanya. Dan tanpa sadar Darren mengerang kesakitannya.


"Aakkhh!"


Darren meremat kuat rambutnya sembari mengumpat dengan penuh amarah. Bahkan Darren mengatakan kata-kata yang membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Alice, Elsa, Milly, Lenny, Vania, Felisa dan Tania terkejut.


"Brengsek! Kenapa rasa sakit ini datang lagi?" tanya Darren kepada dirinya sendiri sembari tangannya masih meremat rambutnya.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menatap Darren dengan wajah khawatir.


Darren belum mengetahui bahwa dirinya saat ini berada di ruang latihan tinju bersama ketujuh sahabat-sahabatnya dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda.


"Kenapa aku harus dilahirkan ke dunia ini jika aku diberikan banyak rasa sakit di tubuhku. Kalau tahu seperti ini, lebih baik aku ikut bersama Mama saat aku koma satu bulan yang lalu. Dengan aku ikut bersama Mama. Aku tidak akan merasakan sakit lagi," ucap Darren. Dan setetes air matanya mengalir dari sudut matanya.

__ADS_1


Tes!


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menangis ketika mendengar perkataan Darren. Hati mereka benar-benar hancur dan terluka.


Di dalan hati Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel mengatakan kenapa Tuhan tidak adil terhadap sahabatnya itu. Padahal selama ini sahabatnya itu selalu berbuat baik kepada siapa pun. Dan sahabatnya itu tidak pernah berbuat jahat. Bahkan sahabatnya itu selalu membantu orang-orang miskin dan anak-anak yatim.


"Ren," lirih Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.


Setelah rasa sakit di kepalanya reda. Darren berusaha bangun dari tidurnya. Setelah tubuhnya dalam keadaan duduk. Seketika Darren terkejut melihat ketujuh sahabat-sahabatnya dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda ada di hadapannya.


Dan detik kemudian, Darren mengutuk dirinya sendiri atas apa yang barusan diucapkan olehnya.


"Ka-kalian? Kapan kalian berada disini?" tanya Darren dengan menatap satu persatu ketujuh sahabat-sahabatnya dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda.


Mendengar pertanyaan dari Darren. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel saling memberikan tatapan. Setelah itu, mereka pun kembali menatap wajah Darren.


"Kita baru datang kok. Ketika kita buka pintu dan kita masuk. Kita semua melihat kamu udah sadar," jawab Willy.


"Iya, Ren!" seru Rehan dan Darel.


"Tadi kamu pingsan. Dan baju kamu juga sudah diganti dengan yang baru, karena baju kamu udah nggak layak dipake. Setelah itu, kita ninggalin kamu disini." Jerry juga ikut berbohong di hadapan Darren.


"Selesai kita ngikutin kelas. Kita pun buru-buru kesini liatin kamu," ujar Dylan.


Sedangkan Alice, Elsa, Milly, Lenny, Vania, Felisa dan Tania tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


Baik Qenan, Willy, Axel maupun Dylan, Jerry, Rehan dan Darel terpaksa berbohong di hadapan Darren. Mereka tidak ingin Darren makin tidak nyaman dan juga tertekan jika apa yang disembunyikannya diketahui oleh orang lain. Sekali pun orang itu adalah sahabat-sahabatnya dan keluarganya sendiri.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tahu sifat dan karakter Darren yang sebenarnya. Darren itu orangnya tidak suka memperlihatkan sisi rapuhnya kepada orang lain. Sebisa mungkin Darren akan menyembunyikannya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Willy.


Darren tersenyum menatap Willy. "Aku baik-baik saja, Wil!"


"Nggak ada. Walaupun ada. Sakitnya hanya sedikit. Kamu nggak perlu khawatir, oke!"


"Baiklah. Jika ada yang sakit. Katakan padaku atau yang lainnya," ucap Qenan.


"Baiklah," jawab Darren.


"Oh iya, Ren! Ada sesuatu yang ingin kita sampaikan padamu," sahut Axel.


Darren melihat kearah Axel. "Ada apa, Axel?"


"Barusan kakak Zoya menghubungiku. Kata kakak Zoya bahwa Charlie, istrinya dan anak-anak akan datang ke Berlin. Pukul 6 sore mereka sudah tiba di Berlin. Dan kemungkinan pukul 7 malam mereka sudah berada di rumah Brenda," ucap Rehan.


"Sekarang pukul berapa?" tanya Darren.


"Pukul 12 siang," jawab Darel.


"Materi kuliah kita apa aja?" tanya Darren lagi.


"Hanya dua. Bahasa inggris dan komputer," jawab Dylan.


"Berarti kita selesai pukul 3 sore. Selesai dua materi itu kita langsung ke rumah Brenda," ucap Darren.


"Baiklah," jawab Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


"Baik, Ren!" seru Alice, Elsa, Milly, Lenny, Vania, Felisa dan Tania bersamaan.


***


Di kediaman Wilson terlihat seorang gadis tengah duduk di sofa yang ada di kamarnya. Gadis itu adalah Brenda Wilson.


Brenda saat ini tengah menangis sembari memikirkan perkataan Darren ketika di rooftop. Ketika Brenda mengingat semua itu, hati Brenda benar-benar hancur.

__ADS_1


"Ren, gue cinta sama lo. Cinta gue nggak main-main sama lo. Jadi lo nggak perlu takut jika gue bakal ninggalin lo sama seperti Helena yang udah ninggalin lo. Gue bukan Helena. Gue Brenda Wilson." Brenda berbicara sembari menatap foto Darren.


"Ren, lo mau tahu nggak alasan gue yang akan selalu ada di samping lo. Alasan utama gue adalah gue pengen menjadi seperti Mama yang setia sama Papa. Suka dan duka Mama dan Papa selalu bersama-sama. Mama selalu ada di samping Papa. Mama selalu menguatkan Papa ketika Papa mendapatkan masalah besar. Aku akan menjadi milik kamu selamanya. Aku akan selalu ada di samping kamu. Aku akan menjadi penyemangat untuk kamu. Aku tidak akan pernah ninggalin kamu sekali pun kamu yang minta. Kita akan hidup bersama sampai tua."


"Kamu laki-laki terbaik yang dikirimkan Tuhan untukku. Maka dari itu, aku tidak akan menyia-nyiakan kamu. Kamu akan aku jadikan laki-laki special di hati aku."


Brenda menangis ketika mengatakan kata-kata indah itu yang ditujukan untuk Darren.


Ketika Brenda sedang berbicara sambil menatap foto Darren, tiba-tiba pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.


Orang itu adalah ibunya Liana Wilson. Kemudian Liana melangkah masuk ke dalam kamar.


Setiba di dalam kamar putrinya. Liana terkejut ketika melihat putrinya yang menangis sambil menatap sebuah foto. Liana berpikir bahwa putrinya masih memikirkan suaminya.


Liana mendekati putrinya, lalu menduduki pantatnya di samping putrinya itu.


Brenda yang menyadari kehadiran seseorang langsung melihat ke samping. Seketika senyuman manis mengembang di bibir Brenda ketika melihat ibunya sudah duduk di sampingnya.


"Ada apa, hum?" tanya Liana dengan matanya melirik foto Darren. "Apa kamu dan Darren bertengkar?"


Brenda langsung menggelengkan kepalanya ketika ibunya bertanya apakah dirinya dan Darren bertengkar.


"Terus apa? Katakan pada Mama," ucap Liana lembut sambil tangannya mengelus lembut kepala belakang putrinya.


"Darren sedang sakit, Mama! Darren dalam keadaan tak baik-baik saja saat ini," jawab Brenda dengan kembali menangis.


"Sakit? Sakit apa, sayang? Bukankah Darren memang memiliki satu masalah dalam tubuhnya yaitu jantungnya. Dan kita semua sudah tahu itukan."


"Mama benar. Kita semua sudah tahu tentang kondisi Darren selama ini. Tapi... Hiks," ucap Brenda disela isakannya.


"Tapi apa, sayang?"


"Selain jantungnya. Darren memiliki sakit yang lain. Beberapa hari ini Darren sering merasakan sakit di kepalanya," ucap Brenda.


"Apa?" Liana terkejut mendengar perkataan dari putrinya. "Kamu tahu dari mana?"


"Aku dengar sendiri dari mulut Darren. Saat itu aku ada di rooftop karena aku nggak fokus mengikut materi kuliahku. Saat aku di rooftop, tiba-tiba Darren datang. Darren nggak tahu aku ada disana juga, karena aku bersembunyi. Jika Darren tahu, maka Darren bakal marah."


"Darren mengeluarkan semua keluh kesah dan juga kesedihannya. Semua yang dirasakan oleh Darren dikeluarkan semuanya oleh Darren. Bahkan Darren mengadukan masalahnya sama ibunya yang sudah meninggal. Darren benar-benar hancur saat itu, Mama!"


"Dari situlah aku tahu semuanya. Ketika mengetahui semua itu. Hati aku benar-benar sakit. Sifatnya yang tegas, keras kepala dan juga kejam. Namun dibalik itu semua tersimpan sisi rapuhnya. Bahkan Darren takut jika suatu saat nanti aku bakal pergi ninggalin dia. Padahal aku nggak bakal ninggalin dia. Aku bakal selalu ada untuk dia."


Mendengar cerita dari Brenda membuat Liana menangis. Liana tidak menyangka jika kehidupan Darren akan seperti ini. Liana begitu menyayangi Darren.


"Darren, sayang! Kenapa nasib kamu seperti ini, Nak? Kamu pemuda yang baik, sopan dan ramah. Kamu juga pemuda yang bertanggung jawab dan suka menolong orang. Tapi kenapa Tuhan tidak adil sama kamu. Kenapa Tuhan memberikan rasa sakit yang begitu besar padamu. Bibi percaya sama kamu! Kamu bisa melewati semuanya. Tuhan memberikan rasa sakit padamu, karena Tuhan percaya dan yakin kamu bisa melewati semuanya."


Liana berbicara di dalam hatinya sembari berdoa untuk Darren. Liana berharap Darren bisa melewati semuanya tanpa ada kata menyerah.


Liana menatap wajah cantik putrinya, lalu tangannya mengusap lembut air mata putrinya itu.


"Mama bangga sama kamu. Jadilah wanita yang setia. Jangan menjadi wanita jahat. Apalagi menjadi seorang wanita pengkhianat dengan meninggalkan pasangannya hanya karena kondisi pasangannya tak baik-baik saja," ucap Liana sembari menasehati putrinya.


"Mama tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Seperti yang aku katakan barusan. Dalam keadaan apapun. Dalam kondisi apapun. Aku tidak akan pernah ninggalin Darren. Aku akan selalu ada untuk Darren. Aku akan selalu bersama Darren."


Mendengar perkataan dari putrinya. Liana langsung percaya. Liana dapat melihat kesungguhan dan ketulusan di tatapan mata putrinya ketika putrinya mengatakan kata-kata itu.


"Mama percaya sama kamu. Ya, sudah! Mama mau kembali ke bawah. Mama kesini hanya ingin memanggil kamu untuk makan siang. Sudah waktu kita makan siang. Yang lainnya sudah menunggu di meja makan."


"Baik, Mama. Aku mau ke kamar mandi dulu. Aku mau cuci mula dulu takut mereka melihat wajahku."


"Baiklah, sayang!"


Setelah itu, Liana pun pergi meninggalkan kamar putrinya untuk menuju lantai bawah.


Sedangkan Brenda pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya agar tidak terlihat wajah yang habis menangis.

__ADS_1


__ADS_2