
Darren dan ketujuh sahabatnya berada di kampus. Setelah istirahat di rumah beberapa hari dan setelah dinyatakan sembuh, Darren pun diizinkan masuk kuliah oleh anggota keluarganya, terutama ayahnya.
Saat ini Darren dan ketujuh sahabatnya berada di perpustakaan. Awalnya hanya Darren yang akan ke perpustakaan sendirian. Darren kesana untuk mencari buku yang menyangkut materi kuliahnya hari ini.
Namun ketika Darren hendak pergi, ketujuh sahabatnya dengan tak berperasaan mengikutinya.
Sejujurnya, tujuan Darren ke perpustakaan bukan hanya mencari buku. Melainkan Darren ingin berduaan dengan Brenda sang kekasih. Dan menghabiskan waktu berduaan.
Di perpustakaan itu ada empat ruangan pribadi. Siapa saja boleh kesana untuk menenangkan pikiran.
Menenangkan pikiran bukan dalam artian ada masalah. Tapi menenangkan pikiran agar bisa konsentrasi memahami materi yang mereka kerjakan.
"Hah!" Darren menghela nafasnya karena terlalu banyak tugas yang harus dikerjakan.
Mendengar helaan nafas dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung melihat kearah Darren.
Mereka dapat melihat wajah Darren terlihat stres dan tertekan akan semua tugas-tugas kuliahnya. Belum lagi tugasnya sebagai ketua organisasi di kampus dan statusnya sebagai CEO.
"Kalau tidak selesai hari ini. Nanti aja lagi diselesaikan, Ren! Jangan dipaksakan untuk selesai hari ini," ucap Jerry.
"Kalau perlu nanti kita bantuin menyelesaikan semuanya," ucap Rehan.
Darren menatap wajah ketujuh sahabatnya. Terlihat raut khawatir dari sorot mata ketujuh sahabatnya itu.
Seketika Darren tersenyum melihat kekhawatiran wajah-wajah ketujuh sahabatnya itu.
"Terima kasih atas perhatian dan kepedulian kalian terhadapku," ucap Darren.
Mendengar ucapan terima kasih dari Darren. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tersenyum tulus menatap wajah Darren.
"Kau adalah sahabat sekaligus saudara kami. Jadi, sudah seharusnya kami peduli dan perhatian padamu." Darel berucap sembari menatap wajah Darren.
"Hm." Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry dan Rehan bergumam sembari menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba Qenan berdiri dari duduknya sembari memegang perutnya.
Melihat Qenan yang tiba-tiba berdiri dengan memegang perutnya membuat Darren, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel khawatir.
"Nan, lo kenapa?" tanya Willy.
"Ach, gue udah nggak tahan!"
Qenan langsung berlari keluar meninggalkan perpustakaan untuk menuju toilet.
Mendengar perkataan dan melihat Qenan yang tiba-tiba berlari seketika mereka semua tertawa.
"Hahahaha."
***
Kelly keluar dari ruang BK. Kelly dipanggil kesana karena ketahuan membully salah satu teman kampusnya sehingga membuat teman kampusnya itu pingsan.
Dosen yang bernama Lista menceramahi habis-habisan terhadap mahasiswinya yang super nakal. Kenalannya tersebut sungguh luar biasa.
Seminggu yang lalu keenam teman-temannya yang mendapatkan hukuman dari Dosen Lista. Kini gilirannya.
__ADS_1
Semenjak kepemimpinan kampus dipegang oleh Darren. Setiap ada pembullyan di kampus pasti langsung terbongkar. Dan lebih parahnya, bukti pembullyan tersebut langsung terkirim ke ruangan BK dan langsung dilihat oleh Dosen Lista.
Dosen Lista menjabat sebagai ketua kedisiplinan di kampus. Dia tidak sendirian, melainkan bersama wakilnya yaitu Dosen Evita.
Dosen Lista memiliki sifat tegas dan keras. Kedua sifatnya itu sudah mendarah daging di tubuhnya. Sifat Dosen Lista itu sama seperti Darren.
Baik Dosen Lista maupun Darren, keduanya sama-sana memiliki sifat tegas, keras dan tidak bisa dibantahkan. Sifat keduanya seketika berubah jika sudah berhadapan dengan orang-orang terdekatnya.
Sifat tegas, keras dan tidak bisa dibantah hanya berlaku untuk orang-orang yang selalu melakukan sesuatu sesuka hatinya, salah satunya membully.
^^^
Setelah dua jam diceramahi Dosen Lista. Kelly akhirnya bisa kembali membuang napas dengan lega.
Ketika berada diluar, Kelly sempat berpikir kenapa dia bisa berakhir di ruang BK. Padahal saat membully teman kampusnya, dia membully di tempat yang sepi.
"Siapa yang beritahu Dosen Lista tentang kelakuan gue yang habis membully anak culun itu? Apa saat gue membully anak culun itu ada yang melihatnya?" tanya Kelly pada dirinya sendiri.
Kelly menatap sekitarnya sambil pikirannya menebak-nebak dalang pelapor yang sudah melaporkan kelakuannya kepada Dosen Lista.
Ketika Kelly tengah melihat-lihat sekitarnya, tak sengaja matanya melihat Qenan yang baru saja kembali dari toilet.
Melihat pemuda yang begitu dia cintai. Dengan gerakan cepat Kelly merapikan rambut dan seragam kampusnya.
Setelah dalam keadaan rapi, tak lupa Kelly berdeham sejenak agar nanti dia terlihat cantik di hadapan Qenan.
" Hai, Qenan!" Kelly menyapa Qenan setelah Qenan telah berada di hadapannya.
Namun sayangnya, orang yang disapa hanya diam dengan tatapan mata menatap tak suka kearahnya.
Kelly melontarkan pertanyaan yang tidak seharusnya dia lontarkan kepada Qenan. Sudah jelas dia mengetahui bahwa Qenan memang ingin ke kelasnya.
Kelly melontarkan pertanyaan itu kepada Qenan hanya sekedar berbasa-basi saja agar dia bisa berbicara dengan pujaan hatinya.
Qenan menatap intens wajah Kelly. Tatapan matanya itu mengisyaratkan tatapan tak suka dan juga tatapan tak minat terhadap Kelly.
Qenan sudah memiliki seseorang di hatinya. Seorang gadis cantik, manis, baik, sopan dan dari keluarga baik-baik. Gadis itu adalah Elsa Caldwell. Qenan pernah meninggalkan kekasihnya hanya demi gadis lain.
Melihat Qenan yang hanya diam dan tidak berniat untuk balik menyapanya membuat Kelly tidak menyerah begitu saja. Kelly berusaha untuk terus membuat Qenan mengatakan sesuatu padanya.
"Qenan? Hallo? Lo denger gue nggak?"
Kelly menggoyangkan tangannya didepan wajah lelaki itu.
"Gue dengar apa yang lo bicarakan. Dan gue nggak tuli!" Qenan menjawab dengan datar dan dingin.
"Akhirnya ngomong juga lo," batin Kelly.
"Oh, sorry. Maaf gue nggak bermaksud buat lo tersinggung," ucap Kelly.
"Gue mau ke kelas. Minggir!" Qenan berucap dengan ketus.
Mendengar perkataan ketus dari Qenan membuat Kelly berdecak kesal dengan tatapan matanya menatap wajah tampan Qenan.
"Masih saja jutek dan ketus sama gue," batin Kelly.
__ADS_1
Melihat Kelly yang masih di posisinya tanpa ada niat untuk memberikannya jalan membuat Qenan mencari inisiatif lain.
Qenan kembali melanjutkan langkahnya dengan berjalan kearah lain dengan tatapan matanya menatap lurus ke depan.
Kelly yang melihat kepergian Qenan seketika langsung berlari. Dia mengejar Qenan. Kali ini Kelly tidak akan melepaskan Qenan. Dan Kelly akan menjadikan Qenan miliknya.
Kelly terus mengejar Qenan sembari memanggil namanya. Tepat di belokan, Kelly langsung menghadang Qenan karena Kelly mencari jalan cepat agar bisa mendahului Qenan.
Grep!
Kelly berhasil memeluk tubuh Qenan dari depan dan tak lupa Kelly mengkaitkan kedua tangannya di belakang tubuh Qenan agar dia tidak kabur.
Sementara Qenan yang mendapatkan pelukan dari Kelly terkejut dan juga marah.
Qenan berusaha untuk melepaskan pelukannya Kelly dengan cara melepas kaitan tangannya di pinggangnya, namun Kelly begitu kuat mengkaitkan kedua tangannya di belakang tubuhnya.
Tanpa Qenan dan Kelly ketahui, ada seorang gadis yang melihat adegan pelukan tersebut.
Gadis itu menatap sedih kearah Qenan dan Kelly. Dalam pandangan gadis itu, Qenan yang memeluk Kelly dengan kedua tangannya memegang tangan Kelly. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Qenan sedang berusaha melepaskan pelukan tersebut.
Setelah puas melihat adegan pelukan itu, gadis itu berlari sambil menangis. Hatinya begitu sakit ketika melihat kekasihnya berpelukan dengan gadis lain.
Melihat Kelly yang tak kunjung melepaskan pelukannya membuat Qenan kehabisan kesabarannya. Qenan benar-benar marah akan kelakuan menjijikkan yang dilakukan Kelly.
Dengan penuh amarah dan juga emosi, Qenan melepaskan tangan Kelly dengan kasar sehingga membuat Kelly meringis kesakitan.
Setelah kaitan kedua tangan Kelly terlepas. Tanpa perasaan Qenan mendorong kuat tubuh Kelly sehingga tubuh Kelly tersungkur di lantai.
Bruk..
Qenan menatap tajam kearah Kelly. Dia benar-benar marah saat ini.
"Berani sekali lo meluk gue, hah! Lo pikir gue ini pacar lo yang seenaknya lo peluk gitu aja! Sadar Kelly, lo bukan siapa-siapa gue!" bentak Qenan.
Kelly berdiri dari jatuhnya. Setelah itu, Kelly menatap wajah Qenan.
"Kenapa lo bersikap seperti ini sama gue, Qenan? Apa salah gue? Apa gue kurang cantik sehingga lo terus saja menolak gue? Apa karena wanita murahan itu sehingga lo nggak bisa buka hati lo untuk gue," ucap Kelly dengan menyebut wanita murahan untuk gadisnya.
Plak..
"Aakkhhh!"
Qenan memberikan tamparan keras di pipi Kelly. Dia benar-benar marah kekasihnya disebut wanita murahan oleh Kelly.
"Jangan beraninya lo nyebut Elsa sebagai wanita murahan. Yang murahan itu lo. Lo selalu ngejar-ngejar gue. Berulang kali gue nolak lo, berulang kali juga lo terus ngejar-ngejar gue!" bentak Qenan dengan jari telunjuknya menunjuk ke wajah Kelly.
"Dengarkan gue baik-baik, Kelly Paxton! Menjauhlah dari kehidupan gue. Jangan ganggu gue lagi. Gue sudah punya kekasih. Dan kekasih gue itu adalah Elsa Cadwell. Bahkan lo sudah tahu berapa lama gue dan Elsa jadian." Qenan berbicara dengan menatap tajam Kelly.
"Jika lo tidak ingin terjadi hal yang buruk terhadap keluarga lo. Gue sarankan untuk tidak mengusik hubungan gue dan Elsa. Lo nggak mau kan apa yang telah terjadi sama Jessica dan Kathy beserta keluarganya terjadi juga dengan lo dan keluarga lo? Lo pasti sudah tahukan apa yang terjadi terhadap mereka?"
Mendengar perkataan dan ancaman dari Qenan membuatnya Kelly terkejut dan juga ketakutan. Seketika tubuh Kelly bergetar.
"Jika lo dan keluarga lo ingin aman. Menjauhlah dari gue dan Elsa. Jangan coba-coba untuk meruska hubungan kami."
Setelah mengatakan itu, Qenan pergi meninggalkan Kelly yang saat ini ketakutan.
__ADS_1