KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Bercerita


__ADS_3

"Ren, aku bosan." Brenda berucap sambil meletakkan kedua kakinya di paha Darren.


"Kamu maunya apa?" tanya Darren yang matanya fokus menatap layar laptopnya. Darren sedang mengecek beberapa laporan dari tangan kanannya dan juga asistennya.


"Jalan yuk. Ke mall atau kemana kek," ajak Brenda dengan menatap wajah tampan Darren.


"Ya, udah! Pergi sana. Ajak aja tuh para tujuh kunti bersama kamu," jawab Darren yang tatapan matanya masih menatap layar laptopnya.


"Kok gitu sih jawabnya? Nggak romantis banget jadi cowok. Kamu nyebelin, Ren!" Brenda berucap kesal.


Brenda menatap wajah Darren dengan melototkan matanya.


Dan detik kemudian, Brenda mencubit pinggang Darren dengan tanpa perasaan sehingga membuat Darren meringis.


Darren menatap Brenda dengan matanya yang membelalak menahan sakit di pinggangnya.


Sementara Brenda hanya memperlihatkan senyuman manisnya di hadapan Darren.


Tanpa Darren dan Brenda ketahui, anggota keluarganya sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Mereka tersenyum gemas ketika melihat interaksi keduanya.


Setelah puas mencubit pinggang Darren, Brenda langsung berdiri dari duduknya.


Sementara Darren seketika langsung mengusap-ngusap pinggangnya.


Ketika Darren tengah mengusap-ngusap pinggangnya sembari menggumam, Erland dan yang lainnya menghampirinya.


"Eheem!" Davin dan Andra berdehem.


Darren yang masih mengusap-ngusap pinggangnya seketika terkejut. Kemudian Darren melihat ke asal suara. Dapat Darren lihat, kedua orang tuanya, keenam kakaknya serta kelima adiknya telah duduk di sofa dengan menatap kearah dirinya.


"Kenapa?" tanya Darka.


"Apanya?" tanya Darren.


Darka tersenyum mendengar pertanyaan dari Darren. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Nggak usah malu. Bilang aja kalau pinggang kamu itu sakit karena dicubit sama Brenda," ucap Gilang menggoda adiknya.


Mendengar perkataan dari Gilang membuat Darren mendengus. Darren memberikan tatapan tajam nya kearah Gilang.


"Kakak Gilang hati-hati. Nanti sebentar lagi kakak Darren bakal menerkam kakak Gilang!" seru Melvin.


"Tuh lihat. Sebentar lagi bola mata kakak Darren bakal keluar," sahut Ivan.


Mendengar perkataan dari dua adiknya. Darren langsung mengalihkan perhatian dengan menatap kearah Ivan dan Melvin.


"Kalian yang bakal aku telan hidup-hidup terlebih dahulu. Setelah itu, baru kakak bantet kalian itu!" seru Darren dengan tatapan tajamnya.


Mendengar perkataan dan melihat tatapan mata Darren. Seketika nyali Ivan dan Melvin menciut. Mereka dengan kompak mengatub mulutnya masing-masing. Sedangkan Gilang mendengus


Sementara Erland dan yang lainnya tersenyum gemas ketika melihat wajah takut Ivan dan Melvin.


"Darren, sayang." Erland memanggil putranya lembut.


Darren mendengar panggilan dari ayahnya langsung mengalihkan perhatiannya menatap wajah sang ayah.


"Iya, Papa."


"Bagaimana kondisi kamu saat ini? Apa sudah tidak apa-apa, hum?" tanya Erland.


"Aku sudah tidak apa-apa, Papa! Tubuhku udah enak kan sekarang," jawab Darren.


"Kamu lagi nggak bohongkan, sayang?" tanya Erland yang benar-benar menatap khawatir putra bungsunya dari istri pertamanya.


Darren menatap lekat wajah ayahnya. Terlihat gurat kekhawatiran disana yang tertuju untuknya.


"Papa tidak perlu khawatir. Aku sudah baikan sekarang," ucap Darren meyakinkan ayahnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi sayang? Kenapa kemarin kamu pulang dalam keadaan tak baik-baik saja bersama Brenda?" tanya Agneta yang juga menatap khawatir Darren.


"Iya, Ren! Tolong katakan pada kami. Apa yang terjadi?" Davin ikut bersuara.


Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka menatap khawatir Darren. Begitu juga dengan kelima adik laki-lakinya.


Darren yang melihat tatapan khawatir kedua orang tuanya dan keenam kakaknya beserta kelima adiknya hanya bisa pasrah. Dan pada akhirnya, Darren pun menceritakan kejadian kemarin bersama Brenda.

__ADS_1


Flashback On


Dor! Dor!


Bunyi suara tembakkan yang mengarah ke mobil milik Darren. Sekitar tujuh motor dengan penumpangnya masing-masing dua orang. Dan bisa dikatakan sekitar 14 orang yang mengejar mobil yang ditumpangi Darren.


"Ren, siapa mereka?" tanya Brenda.


"Aku juga tidak tahu," jawab Darren yang fokus membawa mobil.


Brenda," panggil Darren.


"Iya."


"Tukar posisi. Kamu yang nyetir."


"Baiklah."


Setelah itu, Brenda beranjak dari duduknya dan berlahan berpindah duduk di kursi kemudi. Begitu juga dengan Darren berpindah duduk ke kursi yang diduduki oleh Brenda.


"Fokus saja ke depan. Jangan pikirkan yang lain," ujar Darren.


"Baik."


Darren mengambil senjatanya yang selalu disimpan di mobilnya. Setelah mendapatkan senjata itu, Darren langsung menembakkan peluru yang ada di dalam senjata tersebut kearah tujuh pengendara motor tersebut.


Dor! Dor!


Dor! Dor!


Tembakkan kedua, ketiga dan keempat, Darren berhasil menjatuhkan empat lawannya. Peluru itu tepat mengenai kepala pengendara motor tersebut sehingga membuat motor yang dibawa terjatuh bersama penumpang di belakang.


Peluru yang Darren gunakan bukan peluru biasa. Melainkan peluru yang bisa menembus benda apapun. Sekali pun orang itu pakai pelindung. Baik di tubuhnya maupun di kepalanya. Peluru tersebut akan tetap bisa menembusnya sehingga membuat musuh langsung mati ditempat. Bahkan peluru itu sudah mengandung racun ketika dibuat.


Ketika Darren fokus menembak para musik di belakang mobilnya. Brenda yang fokus menyetir, tiba-tiba menghentikan laju mobilnya sehingga membuat senjata yang dipegang oleh Darren terjatuh.


"Sial!" umpat Darren.


Darren melihat kearah depan. Dan dapat Darren lihat ada sekitar 15 motor dengan masing-masing dua penumpang di setiap motor. Sekita 30 orang yang ada di hadapan mobil Darren.


"Kamu tenang, oke! Semua akan baik-baik saja."


Darren keluar dari mobilnya, namun ditahan oleh Brenda.


"Kamu mau kemana? Jangan keluar. Tetap disini," ucap Brenda.


"Jika aku tetap disini. Mereka semua akan membunuh kita. Jadi aku harus keluar dan kamu tetap di dalam mobil. Jangan keluar apapun yang terjadi."


"Tapi aku tidak mau kamu terluka, Ren!"


"Aku janji. Aku akan baik-baik saja." Darren berucap sambil memberikan ciuman di bibir Brenda.


Setelah itu, Darren keluar dari dalam mobil. Berlahan Darren berjalan ke depan mobilnya.


Dan saat ini Darren sudah berdiri di depan mobilnya dengan menatap tajam orang-orang yang ada di hadapannya.


"Siapa kalian? Dan mau apa, hah?!" teriak Darren.


"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Yang kami inginkan saat ini adalah perusahaan CDS!" teriak salah satu pengendara motor yang berstatus sebagai ketua.


Mendengar teriakan dan ucapan dari pria itu membuat Darren terkejut.


"Perusahaan CDS? Kenapa dengan perusahaan itu?!" tanya Darren.


"Kami ingin kau menyerahkan perusahaan CDS itu kepada bos kami!"


"Hah!"


Darren menatap tak percaya orang-orang yang ada di hadapannya. Dalam hatinya mengatakan 'Bagaimana bisa mereka memintanya untuk menyerahkan perusahaan yang sudah dibangunnya selama 5 tahun ini'.


"Hahahahaha!"


Seketika Darren tertawa keras ketika mendengar permintaan pria itu.


"Hei, tuan! Tidak semudah itu aku menyerahkan perusahaan CDS kepada Bos kalian yang sampah itu. Kau pikir Bos mu itu siapa? Aku sudah susah payah mendirikan perusahaan itu sehingga berkembang sampai saat ini. Dan Bos mu yang tidak tahu diri itu seenaknya memintaku untuk menyerahkannya padanya. Enak saja."

__ADS_1


Mendengar perkataan dan juga penolakan dari Darren membuat pria itu menatap marah kearah Darren. Begitu juga dengan anggotanya.


"Brengsek! Berani kau menghina dan menolak permintaan Bos kami, hah?!"


"Lah, sejak kapan aku takut pada kalian. Apalagi takut dengan Bos kalian yang sampah itu," jawab Darren.


"Brengsek! Serang!"


Dan akhirnya terjadi pertarungan tak seimbang antara Darren melawan 40 orang.


Sepuluh dari 40 orang-orang tersebut terkapar di aspal akibat pukulan dan tendangan tak main-main dari Darren. Tersisa 30 orang lagi.


Melihat bela diri Darren membuat 30 laki-laki itu terpana dan juga tertegung.  Mereka tidak menyangka jika musuhnya begitu hebat dalan bela diri.


Flashback Off


"Aku menghajar orang-orang itu sendirian."


"Ketika aku sedang fokus melawan mereka, sakit sialan ini datang sehingga membuatku sedikit kesusahan untuk melawan."


"Melihat keadaanku yang tak baik-baik saja. Mereka menggunakan kesempatan itu untuk menyerangku secara bersamaan sehingga membuatku kewalahan. Ketika mereka hendak melukaiku dengan cara ingin memukulku dengan senjata yang mereka bawa. Terdengar suara tembakkan dari arah belakang mereka."


"Brenda datang dan langsung menarikku untuk menjauh dari mereka semua untuk menuju mobil. Setelah berada di dalam mobil, Brenda langsung menjalankan mobilnya. Aku meminta Brenda untuk pulang ke rumah Papa karena jarak menuju rumahku terlalu jauh. Saat itu aku benar-benar sudah tidak kuat lagi menahan sakit di jantungku."


Mendengar cerita dari Darren membuat mereka semua terkejut dan juga syok. Mereka tidak menyangka jika kesayangan mereka hampir meregang nyawa.


Di dalam hati mereka semua bersyukur kesayangan mereka tidak kenapa-kenapa. Mereka semua meyakini ini semua pasti ada campur tangan Brenda.


"Pasti Brenda menghubungi salah satu kakak-kakak mafia kamu, Ren!" seru Dzaky.


"Dan Brenda meminta mereka untuk datang menyelamatkan kamu," ucap Adnan.


Mendengar perkataan dari Dzaky dan Adnan membuat Erland, Agneta, Davin, Andra, Gilang dan Darka mengangguk membenarkan.


"Iya. Aku rasa memang Brenda menghubungi salah satu kakak-kakak mafiaku. Karena Brenda adalah salah satu tangannya kakak Ziggy. Sudah dipastikan Brenda menghubungi kakak Ziggy," sahut Darren.


"Ren, apa orang-orang yang menyerang kamu itu adalah orang yang sama ketika menyerang kakak dan Adnan saat itu?" tanya Dzaky.


"Masalah itu aku juga nggak tahu, kakak Dzaky. Mungkin masalah ini sedang diselidiki oleh kelima kakak-kakak mafiaku."


Ketika mereka tengah membahas masalah penyerangan terhadap Darren dan Brenda, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.


Mendengar bunyi ponselnya. Darren mengambil ponselnya yang ada di atas meja.


Ketika ponselnya sudah berada di tangannya. Darren melihat nama 'Bibi Liana' di layar ponselnya.


Tanpa membuang-buang waktu, Darren langsung menjawab panggilan dari Liana, ibunya Brenda.


"Hallo, Bibi Liana."


"Hallo, sayang. Brenda ada bersama kamu? Bibi sudah berulang kali menghubunginya. Tapi ponselnya tidak aktif. Bahkan Brenda tidak pulang dari semalam.


Mendengar perkataan dari Liana membuat Darren terkejut.


"Jadi Brenda tidak mengabari Bibi Liana? Keterlaluan tuh anak. Awas saja, aku akan memberikan hukuman padanya," batin Darren.


"Brenda berada di rumah keluargaku, Bibi Liana! Saat ini Brenda sedang di kamarnya."


"Jadi Brenda saat ini berada di rumah orang tua kamu, sayang?"


"Iya, Bibi Liana. Apa Brenda tidak mengabari Bibi kemarin?"


"Brenda sama sekali tidak memberitahu Bibi, sayang! Justru Bibi dan kedua kakak laki-lakinya sudah berulang kali menghubungi Brenda. Tapi tidak bisa."


"Memang kurang ajar tuh anak. Aku pikir Brenda sudah memberitahu Bibi jika dia akan menginap disini. Ternyata belum."


"Ya, sudah kalau begitu. Bibi sudah lega jika Brenda ada di rumah orang tua kamu."


"Apa aku boleh mewakilkan Bibi untuk memberikan hukuman kepada Brenda?"


"Tentu."


"Terima kasih."


Setelah mengatakan hal ini, baik Liana maupun Darren sama-sama mematikan panggilannya.

__ADS_1


__ADS_2