KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Terlalu Percaya Diri


__ADS_3

Setelah selesai makan pagi. Kini Darren berada di ruang tengah. Darren saat ini tengah fokus menatap ke arah laptopnya. Darren sedang mengawasi Perusahaan Accenture dan Galeri miliknya.


Darren tersenyum ketika melihat semua alat pelindung yaitu berupa laser dua warna yaitu warna merah dan warna hijau telah dalam keadaan aktif.


Pelindung laser yang dipasang oleh Darren itu bukanlah laser sembarangan. Laser tersebut sangat berbahaya jika tersentuh tubuh seseorang. Sekali pun orang itu berpakaian tebal atau pakaian anti laser dan memakai topeng. Laser itu takan bisa menembus kulit orang tersebut.


Laser yang dipasang oleh Darren sangat canggih. Laser warna merah sebagai pelacak identitas. Jika seseorang terkena laser merah itu, maka laser itu akan langsung memblokir orang tersebut dengan cara melukai salah satu anggota tubuh orang itu.


Setelah orang itu mendapatkan luka di tubuhnya, maka laser merah secara otomatis telah memberikan koneksinya kepada laser hijau. Jika hal itu terjadi, maka orang itu harus mengucapkan selamat tinggal kepada dunia karena laser hijau tersebut akan menghancurkan tubuh orang itu dalam sekejap.


Laser dua warna itu dipasang oleh Darren di setiap ruangan dan di setiap koridor yang ada di Perusahaan dan di Galerinya. Baik di luar mau di dalam.


Satu ruangan dipasang masing-masing 25 laser. Jadi ada 50 laser di setiap ruangan dan di setiap koridor di dalam dan di luar Perusahaan dan Galeri milik Darren.


Di layar laptopnya itu terlihat para pegawainya dan ketujuh sahabatnya sedang sibuk melakukan tugas masing-masing. Salah satunya mereka tengah berusaha mengawasi keamanan Perusahaan dan Galeri.


Axel dan Dylan membantu Qenan dan Willy di Perusahaan Accenture. Sementara Jerry membantu Darel dan Rehan di Galeri.


"Kali ini aku tidak akan membiarkan bajingan itu menghancurkan milikku yang lainnya," batin Darren.


"Samuel. Tunggu sebentar lagi. Kau akan menerima kejutan dariku," batin Darren lagi.


Ketika Darren sedang fokus menatap layar laptopnya dan juga sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba Darren dikejutkan dengan kedatangan kelima adik-adiknya yang memang berniat untuk mengejutkannya.


PUK!


"Kakak Darren!"


Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin secara bersamaan berteriak memanggil namanya. Dan jangan lupa tepukan di bahunya.


Setelah itu, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin langsung duduk di sofa.


Mendengar teriakan dan tepukan di bahunya membuat Darren terkejut. Melihat sang kakak terkejut bukannya takut atau merasa bersalah. Justru Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin tersenyum bak anak kecil berusia lima tahun.


Melihat kelima adik-adiknya yang sama sekali tidak ada rasa takut dan juga rasa bersalah sama sekali padanya. Darren hanya bisa pasrah. Bagaimana tidak? Kelima adiknya itu sudah terlebih dahulu memasang wajah seperti anak kecil. Dan jangan lupakan senyuman manis yang tercetak di bibir masing-masing.


Sementara Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya tersenyum gemas melihat tingkah jahil Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Dan wajah pasrah Darren.


Kini semuanya telah duduk di sofa ruang tengah. Mereka ikut bergabung dengan Darren, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.


"Kakak Darren sedang apa?" tanya Melvin.


"Sedang main," jawab Darren asal.


Mendengar jawaban asal dari Darren membuat Melvin merengut kesal. "Selalu jawabnya seperti itu."


Darren melirik sekilas ke arah Melvin. Setelah itu kembali menatap layar laptopnya.


"Lalu kamu mau aku jawab apa?" tanya Darren.


"Kakak Darren kan bisa jawab seperti ini. Kakak Darren sedang mengecek tugas-tugas kakak melalui laptop Melvin, adek laki-lakinya kakak Darren yang paling tampan." Melvin berbicara sembari memperlihatkan wajah imutnya.


Mendengar perkataan dari Melvin membuat mereka semua menatap cengo, termasuk Darren. Darren menatap adiknya itu dengan mata yang kadang-kadang melebar dan kadang-kadang menyipit.

__ADS_1


Baik Darren maupun anggota keluarga lainnya menatap Melvin dengan geleng-geleng kepala. Mereka tak habis pikir akan kelakuan Melvin saat ini.


"Ogah." Darren menjawab perkataan Melvin, lalu kembali menatap ke layar laptopnya.


"Hahahaha." Gilang dan Darka tertawa keras.


"Aish!" Melvin benar-benar kesal saat ini.


Darren tersenyum ketika mendengar perkataan kesal Melvin. Dirinya berhasil membuat adiknya itu kesal. Tanpa Darren sadari, sifat jahilnya terhadap kelima adiknya itu berlahan kembali.


Melihat senyuman manis di bibir Darren membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka merasakan kehangatan di hati mereka masing-masing, terutama untuk Davin, Andra, Dzaky dan Adnan.


Baik Davin, Andra maupun Dzaky dan Adnan tahu jika Darren tidak menyadari bahwa sifat jahilnya itu telah kembali. Tapi mereka tidak mempersalahkan hal itu. Bagi mereka baik adik laki-lakinya itu sadar atau tidak. Asalkan adiknya itu nyaman dan bahagia. Itu sudah lebih dari cukup.


Davin, Andra, Dzaky dan Adnan sudah memutuskan untuk membahagiakan adik bungsunya itu. Mereka tidak akan membuat adik bungsunya itu bersedih apalagi terluka untuk yang kedua kalinya.


Ketika mereka dalam suasana bahagia, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ponsel milik Darren yang berdering.


DRTT!


DRTT!


Darren yang mendengar ponselnya berdering langsung melirik ke samping. Dapat Darren lihat di layar ponselnya nomor tak di kenal. Darren mengerutkan keningnya ketika melihat dan menatap lekat nomor tersebut.


Beberapa detik kemudian, terukir senyuman manis di bibirnya. Setelah itu, Darren pun langsung menjawab panggilan tersebut.


Sementara anggota keluarganya memperhatikan dan memasang telinganya mendengar apa yang akan dibicarakan oleh Darren bersama orang di seberang telepon itu.


"Hei, bung. Santai dong. Jangan marah-marah dulu. Ini masih pagi. Simpan saja dulu marahnya."


Darren dapat mendengar dengan jelas nada menyindir dari si penelpon.


"Apa maumu?"


"Hahahaha. Kau dari dulu tidak pernah berubah Darren. Kau memang sama seperti ayahmu. Keras kepala, arogan, sombong dan tidak bisa diajak bicara baik-baik."


"Jika kau sudah tahu semua itu, kenapa kau masih saja mengusikku, hum? Apa kau sudah kehabisan ide untuk membuatku hancur sehingga kau menghubungiku?"


"Kau terlalu percaya diri Darren!"


"Bukan percaya diri. Tapi apa yang aku katakan itu adalah kenyataan. Sampai kapan pun kau dan pamanmu itu tidak akan pernah bisa mengalahkanku dan juga tidak akan bisa mendapatkan apa yang kau mau."


"Brengsek!"


"Hahahaha. Kenapa? Apa kau mau mengaku kalah sekarang?"


"Jangan harap. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengaku kalah padamu. Dan kau jangan pernah merasa menang dulu sebelum kita mencapai endingnya."


"Ingat Darren! Aku sudah mendapatkan satu poin diatasmu. Aku berhasil menghancurkanmu melalui SHOWROOM milikmu yang telah kau bangun selama 8 tahun. Dan sekarang tersisa Perusahaan Accenture dan Galeri milikmu."


"Baru satu poin, Samuel. Ingat! Aku memang kehilangan SHOWROOM. Tapi aku masih memiliki Perusahaan Accenture dan Galeri. Sementara kau dan pamanmu. Perusahaan kalian tidak bisa beroperasi lagi, karena semua pengusaha-pengusaha terkenal di luar sana sudah mencabut sahamnya dan memutuskan kerja samanya dengan Perusahaanmu dan Perusahaan milikmu. Dan bukan itu saja, Perusahaanmu dan Perusahaan milik pamanmu itu sudah masuk ke dalam daftar hitam di dunia bisnis. Jadi dengan kata lain tidak akan ada yang mau menjalin hubungan kerja sama dengan Perusahaanmu dan Perusahaan milik pamanmu."


Mendengar perkataan Darren membuat Samuel murka. Samuel benar-benar marah saat ini.

__ADS_1


"Oke! Aku akui kau menang Darrendra Smith dan aku mengaku kalah. Tapi kau jangan senang dulu. Aku beritahu padamu sebentar lagi Perusahaan Accenture dan Galeri milikmu akan menyusul. Keduanya akan bernasib sama seperti SHOWROOM."


"Silahkan. Aku justru ingin melihat bagaimana caramu untuk menghancurkan Perusahaan Accenture dan Galeri milikku. Ingat saudara Samuel! Kau memang berhasil membakar SHOWROOM milikku. Tapi untuk kali ini kau tidak akan bisa menghancurkan Perusahaan Accenture dan Galeri milikku. Jangankan untuk menghancurkannya. Menyentuhnya saja kau tidak akan bisa Samuel." Darren berbicara dengan nada ketus dan wajah dinginnya.


Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya menatap khawatir Darren. Mereka takut jika terjadi sesuatu terhadap Darren.


"Hahahaha. Kau terlalu sombong Darren. Jujur saja padaku kalau kau takutkan saat ini, makanya kau berbicara seperti itu."


"Terserah padamu. Aku tidak peduli. Silahkan lakukan apa yang ingin kau lakukan. Semoga kau tidak menyesal saudara Samuel."


Setelah mengatakan itu, Darren langsung mematikan teleponnya. "Kau tidak akan bisa menghancurkan milikku, Samuel! Kita lihat apa yang sedang menantimu." Darren berucap dengan wajah dinginnya.


"Darren, sayang." Erland memanggil putranya lembut.


Darren seketika tersadar dari lamunannya, lalu menolehkan kepalanya ke arah ayahnya.


"Iya, Papa!"


"Ada apa, sayang? Apa ada masalah? Katakan pada Papa, Nak! Jangan menyembunyikan apapun kepada Papa."


Mendengar perkataan dan melihat wajah khawatir Ayahnya membuat Darren menjadi tidak tega.


"Darren, kita adalah keluarga. Jadi tolong katakan pada kami. Berbagilah kepada kami," sahut Tristan.


"Iya, Ren. Kakak mohon, katakanlah." Darka menatap khawatir adiknya itu.


Darren memperhatikan satu persatu wajah anggota keluarganya. Terlihat jelas oleh Darren tersirat rasa takut dan khawatir di wajah anggota keluarganya.


"Samuel mengincar Perusahaan Accenture dan Galeri milikku," ucap Darren.


Mendengar penuturan dari Darren membuat mereka semua terkejut. Mereka semua tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Samuel.


"Apa yang akan dilakukan oleh bajingan itu sayang?" tanya Erland.


"Sama seperti yang dilakukannya terhadap Shoowrom millikku," jawab Darren lirih.


Mereka semua terkejut mendengar jawaban dari Darren.


"Lalu apa rencana kamu sayang?" tanya Evan kepada keponakannya.


"Aku dan yang lainnya sudah mengatur semuanya. Kalian semuanya tidak perlu khawatir masalah ini." Darren menjawab pertanyaan dari Evan dengan memperlihatkan senyuman di bibirnya.


***


Di kediaman Samuel. Kini Samuel berada di ruang tengah sembari menikmati segelas wine di tangannya.


Setelah berbicara denga Darren di telepon satu jam yang lalu. Samuel tersenyum puas dan juga penuh kemenangan. Dirinya saat ini benar-benar tidak sabaran menunggu kabar dari anak buahnya. Kabar mengenai kehancuran Perusahaan Accenture dan Galeri milik Darren.


"Sebentar lagi aku akan mendapatkan kejutan dari anak buahku. Aku sudah tidak sabaran menunggu kabar tersebut."


"Darren! Ucapkan selamat tinggal dengan Perusahaan Accenture dan Galeri milikmu. Setelah kehancuran kedua usahamu itu, maka kau sudah tidak memiliki apa-apa lagi." monolog Samuel.


Setelah mengatakan itu, Samuel beranjak dari duduknya dan bersiap-siap untuk menemui pamannya di kediamannya. Sampai di sana, Samuel dan pamannya akan merencanakan untuk menghancurkan Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya beserta anggota keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2