KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kemarahan Darren Dan Ketujuh sahabat-sahabatnya 2


__ADS_3

Setelah melihat kearah Nathan dan Melvin, mereka kembali melihat kearah Helena, Ibunya Helena dan kedua pamannya Helena.


"Kalian benar-benar keterlaluan!" bentak Willy.


"Axel, bawa Nathan ke ruangan ibumu!" seru Darren.


"Baik, Ren!"


Axel langsung menggendong tubuh Nathan dan membawanya ke ruangan ibunya.


"Ka-kakak Darren," lirih Melvin dengan menatap kearah Darren.


"Pergilah bersama Axel. Temani Nathan disana. Jangan khawatirkan kakak disini. Sahabat-sahabat Kakak sudah disini." Darren berbicara lembut sembari memberikan ketenangan pada adiknya itu. Darren tahu bahwa adiknya itu saat ini tengah ketakutan.


"Pergilah. Kakak Darren kamu akan baik-baik saja bersama kami," sahut Rehan.


"Baiklah. Kak Darren, Melvin pergi! Kakak jangan terluka ya," ucap Melvin.


"Hm." Darren berdehem sembari menganggukkan kepalanya.


Baik Darren, Willy, Qenan, Darel, Rehan, Jerry, Dylan dan Brenda memberikan tatapan tajam kearah Helena, Riana ibunya Helena dan kedua pamannya.


"Kami benar-benar tidak menyangka jika kalian akan senekat ini datang ke rumah sakit hanya untuk membunuh sahabat kami," sahut Darel.


"Sebenarnya kesalahan sahabat kami itu apa terhadap kalian? Seingat kami, sahabat kami yang bernama Darrendra Smith tidak pernah melakukan kesalahan apapun terhadap kalian. Tetapi kenapa kalian mengusiknya dan bahkan kalian ingin membunuhnya?" ucap Dylan dengan menatap marah kearah Helena, ibunya Helena dan kedua Paman nya Helena.


"Apa kau bilang, hah?! Sahabat kamu tidak bersalah? Lalu apa yang telah dilakukan oleh sahabat kamu itu terhadap suami saya! Dan apa yang telah dilakukan oleh sahabat kamu itu terhadap putri saya! Sahabat kamu itu sudah melukai suami saya hingga koma. Sahabat kamu itu sudah membuat putri lumpuh!" teriak Riana dengan menunjuk kearah wajah Dylan.


Mendengar pertanyaan dari ibunya Helena. Willy, Qenan, Darel, Rehan, Jerry, Dylan dan Brenda menatap jijik ibunya Helena. Sampai detik ini, mereka masih saja tidak mau mengakui kesalahan. Justru malah sebaliknya seenaknya menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa keluarganya.


"Hei, nyonya. Bisa-bisanya anda menyalahkan sahabat kami. Apa nyonya tidak sadar, hah! Semua ini berawal dari suami dan putri nyonya. Mereka yang terlebih dahulu mencari masalah dengan sahabat kami. Bahkan kepada kami juga," sahut Rehan.


Willy menatap nyalang kearah Helena. "Dan kau Helena. Saat kejadian itu kau ada disana bukan? Kau melihat dan kau mendengar semua apa yang dilakukan dan apa yang diucapkan oleh ayahmu untuk keluarga Darren? Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya pada ibumu bahwa ayahmu telah menghina, memaki dan mempermalukan keluarga Darren didepan banyak orang. Bahkan ayahmu berani menghina ibu kandung Darren yang sudah meninggal."


"Dan kau juga terlibat dalam aksi sabotase mobil-mobil yang sudah kami buat. Kau bersengkokol dengan Samuel untuk membunuh kami dengan mobil yang sudah kalian sabotase itu." Dylan ikut berbicara. Dylan menatap marah Helena, ibunya Helena dan kedua Paman nya Helena.


"Bahkan kami sudah memperlihatkan semua bukti kejahatanmu. Baik kejahatanmu sendiri maupun kejahatanmu bersama dengan Samuel ketika kami mendatangimu di rumah sakit. Dan bahkan Darren sudah memberikan peringatan padamu. Tapi kau dan ibumu benar-benar tidak ada kata jera dan takut sama sekali. Justru kalian berdua makin menjadi-jadi," ucap Qenan.


"Asal kau tahu saja Helena. Niat awal kami adalah ingin menjebloskan kamu ke penjara, karena perbuatanmu sudah menyebabkan aku dan Darren hampir kehilangan nyawa. Begitu juga dengan ayahmu. Tapi kami mengurungkan niat kami. Kami masih punya hati. Maka dari itulah kami tidak membawa masalah tersebut ke polisi. Darren hanya memberikan ancaman padamu agar kau berhenti mengganggunya," ucap Jerry.


"Kami pikir kau akan takut atau menyadari kesalahanmu. Begitu juga dengan ibumu. Tapi ternyata kami salah. Baik kamu maupun ibumu malah justru ingin membalaskan dendam kepada Darren. Rencana pertamamu adalah kau menyuruh Brenda untuk menjadi kekasih Darren. Dan lama kelamaan terobsesi ingin membunuh Darren," ucap Dylan.


Helena terkejut ketika mendengar perkataan Dylan yang mengatakan bahwa dirinya meminta Brenda untuk menjadi kekasih Darren.

__ADS_1


Brenda menatap wajah terkejut Helena dengan senyuman manisnya. Detik kemudian, Brenda melangkah mendekati kursi roda Helena.


Melihat Brenda berjalan mendekati Helena. Darren melepaskan tali infus yang melilit di leher Helena, lalu mendorong kursi roda Helena kearah Brenda.


Sedangkan Brenda langsung menangkapnya dan menahannya dengan sangat bagus.


"Bren-brenda," ucap Helena gugup.


"Kenapa? Kaget ya?" tanya Brenda tersenyum di sudut bibirnya.


"Maafkan aku ya Helena sayang. Aku tidak bermaksud mengkhianati kamu. Tapi lebih tepatnya aku ini adalah sahabatnya Darren. Darren adalah sahabat aku. Aku dan Darren sudah saling mengenal satu sama lain. Kita berkenalan dan menjadi sahabat ketika sama-sama masuk ke sekolah SMP. Sekali lagi maafkan aku karena aku tidak memberitahu kamu."


Mendengar pengakuan dari Brenda membuat Helena benar-benar tidak menyangka. Selama ini dirinya telah ditipu mentah-mentah oleh orang yang sudah dirinya anggap sebagai sahabat.


"Kenapa Brenda? Kenapa kamu nggak jujur dari awal?" tanya Helena.


Brenda hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Helena. "Terus bagaimana dengan kamu? Apakah selama kita berteman ketika di Australia. Apa kau sudah bersikap jujur padaku? Apa kau sudah menceritakan tentang kehidupanmu padaku? Yang aku tahu, selama kita berteman. Kau tidak pernah terbuka padaku. Apalagi membahas masalah kekasih. Jadi bagaimana bisa aku bersikap jujur padamu. Sementara kau tidak pernah jujur padaku?"


Mendengar perkataan dari Brenda membuat Helena telak bungkam. Di dalam hatinya membenarkan apa yang diucapkan oleh Brenda. Selama berteman dengan Brenda. Dirinya tidak pernah jujur kepada Brenda.


Ketika mereka semua tengah menatap amarah kearah Helena, ibunya Helena dan kedua Paman nya Helena, mereka semua dikejutkan dengan kedatangan Adrian, Mathew dan Ivan bersamaan.


Baik Adrian maupun Mathew dan Ivan terkejut ketika melihat pintu ruang rawat kakak kesayangannya terbuka lebar.


Darren, Willy, Qenan, Darel, Rehan, Jerry, Dylan dan Brenda melihat kearah Adrian, Mathew dan Ivan. Dapat mereka lihat wajah ketakutan ketiganya.


"Kalian dari mana saja?" tanya Darren.


"Maafkan kami, Kakak Darren!"


"Bukan kata itu yang ingin aku dengar. Kalian habis dari mana? Dan kenapa meninggalkan Nathan dan Melvin berdua saja. Jika kalian tidak berniat untuk menjagaku di rumah sakit. Pulang saja sana. Mending kalian di rumah. Dan kalian bisa belajar! Dari pada di rumah sakit, tapi kalian kelayapan!" bentak Darren.


Mendengar nada bicara dan bentakkan dari Darren membuat Adrian, Mathew dan Ivan menangis. Mereka menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap wajah Darren.


Sementara Willy, Qenan, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Brenda menatap tajam Darren yang langsung memarahi ketiga adik laki-lakinya tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Darren," tegur Qenan dan Willy bersamaan.


Darren melirik sekilas kearah Qenan dan Willy. Dan dapat Darren lihat kedua sahabatnya itu menatap tajam kearahnya.


Setelah itu, Darren kembali menatap ketiga adiknya itu. Darren menatap ketiga adiknya itu dengan tatapan bersalah.


"Maafkan kakak. Seharusnya kakak bertanya baik-baik kepada kalian. Tidak marah-marah seperti tadi," ucap Darren lembut.

__ADS_1


Mendengar permintaan maaf dari kakak kesayangannya itu. Dan ditambah lagi suara lembut dari kakak kesayangannya itu ketika meminta maaf pada mereka, Adrian, Mathew dan Ivan memberanikan diri untuk menatap wajah Darren.


"Sekarang katakan pada kakak. Dari mana kalian?"


"Aku pergi beli makan malam untukku, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin," jawab Adrian.


"Sepuluh menit kepergian kakak Adrian. Masuk seorang perawat perempuan. Perawat perempuan itu bilang Dokter yang merawat Kakak Darren ingin menyampaikan sesuatu tentang kondisi kakak Darren. Aku nggak berani pergi sendirian dan berakhir Ivan menawarkan diri ingin menemaniku. Bahkan sebelum pergi. Aku sudah bilang kepada Nathan dan Melvin untuk tidak pergi ninggalin kakak Darren sendirian."


"Terus apa yang terjadi?" kini Rehan yang bertanya.


"Ada orang yang mukulin kami dari belakang sehingga membuat kami pingsan," jawab Ivan.


Mendengar cerita dari Mathew dan Ivan membuat Darren marah.


"Brengsek!" teriak Darren.


"Ya, sudah! Kalian pergilah ke ruangannya Bibi Celsea. Kalian tahukan letak ruangannya dimana? Nathan ada disana sedang diobati," sahut Dylan.


Mendengar perkataan Dylan membuat Adrian, Mathew dan Ivan terkejut.


"Kakak Dylan, Kakak Nathan kenapa?" tanya Ivan.


"Hanya luka kecil di kepalanya. Ada seekor singa yang masuk ke ruangan kakak Darren kalian lalu menggigit Nathan," jawab Dylan asal.


Sementara Darren, Qenan, Willy, Jerry, Darel, Rehan dan Brenda tertawa ketika mendengar perkataan kejam dari Dylan.


Sedangkan Helena, ibunya Helena dan kedua Paman nya Helena mengepalkan kuat kedua tangannya tak terima perkataan Dylan.


"Apa benar kakak Darren kalau ada seekor singa masuk ke ruang rawat kakak Darren, lalu menggigit Nathan?" tanya Mathew dengan wajah polosnya.


Darren langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya. Dirinya berusaha untuk tidak tertawa. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry dan Brenda.


"Masa sih!" seru Adrian.


"Masa iya rumah sakit semewah ini bisa kemasukan seekor singa," sahut Ivan.


"Hahahahaha."


Pada akhirnya tawa Darren, Willy, Qenan, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Brenda akhirnya pecah ketika mendengar pertanyaan-pertanyaan serta ucapan dari Adrian, Mathew dan Ivan.


"Sudah cukup bertanyanya. Sekarang kalian pergilah ke ruangannya Bibi Celsea," suruh Darren.


"Baik, Kak Darren!"

__ADS_1


Setelah itu, Adrian, Mathew dan Ivan pergi meninggalkan ruang rawat Darren untuk menuju ruangannya Celsea.


__ADS_2