
Di markas LATIN KING, Devian Aldebaran dan 3000 mafiosonya tengah bersiap-siap untuk menyerang markas kelompok COSA NOSTRA. Devian dan para tangan kanannya sudah mempersiapkan segalanya dengan sempurna.
"Apa semuanya telah siapa?" tanya Devian.
"Siap King," jawab para tangan kanannya dan para mafiosonya.
"Baiklah. Mari kita pergi. Pastikan jangan ada yang terluka. Kalian semua harus kembali ke markas dalam keadaan selamat."
"Baik King," jawab mereka dengan kompak.
"Ingat saat kalian menyerang mereka setelah tiba di markas COSA NOSTRA." Devian mengingatkan kembali strategi penyerangan tersebut.
"Siap King. Kami akan mengingatnya dengan baik." para tangan kanannya dan para mafioso mengangguk dengan penuh keyakinan dan persiapan
"Baiklah."
Setelah itu, Devin dan para tangan kanannya. Serta para mafioso pun pergi meninggalkan markas LATIN KING untuk pergi menyerang markas utama COSA NOSTRA.
***
Di markas ALMIGHTY BLACK, Enzo Federico juga tengah bersiap-siap untuk pergi menyerang markas kelompok YAKUZA. Sama seperti Devian. Enzo dan para tangan kanannya sudah mempersiapkan segala persiapan dan strategi penyerangan mereka ketika tiba di markas kelompok YAKUZA.
"Ingat. Tiba di sana kalian semua harus berhati-hati dan waspada. Jangan ada yang lengah." Enzo memperingati para tangan kanannya dan para mafiosonya.
Enzo mengerahkan 3000 mafiosonya untuk menyerang markas besar dan juga markas utama YAKUZA.
Enzo mendapatkan informasi dari para tangan kanannya. Sementara para tangan kanannya mendapatkan informasi tersebut dari anggota masing-masing.
Informasi itu berisi jika kelompok COSA NOSTRA dan YAKUZA memiliki satu markas utama. Dan kedua kelompok tersebut hanya memiliki sekitar 5000 mafioso. Kekurangan kedua kelompok itu adalah baik COSA NOSTRA maupun YAKUZA tidak memiliki markas cadangan. Enzo sudah mendapatkan kelemahan dua kelompok itu. Itu adalah hal yang sangat menguntungkan untuk kelompok mafianya dan juga kelompok mafia sahabat-sahabatnya.
"Baik King," jawab mantap para tangan kanannya dan para mafiosonya.
"Baiklah. Ayo, kita pergi!"
Enzo, para tangan kanannya dan para mafiosonya pun pergi meninggalkan markas ALMIGHTY BLACK untuk menyerang markas utama YAKUZA.
***
Kini Devian dan para tangan kanannya serta 3000 mafiosonya telah tiba di markas COSA NOSTRA.
"Kalian siapa?" tanya Devian.
"Siap," jawab para tangan kanannya dan para mafiosonya.
"Serang!"
Mereka semua pun menyerang markas COSA NOSTRA dengan penuh amarah. Mereka membagi beberapa kelompok dan mengepung markas tersebut.
BRAAKK!
Pintu tersebut hancur karena tendangan mereka. Sementara orang-orang yang berada di dalam terkejut saat mendapatkan serangan yang tiba-tiba.
DOR! DOR!
BAGH! BUGH! DUUAAGGHH!
SREEKK! JLEB! KKREEETTT!
GEDEBAG! BRUUKK! BRUUKK!
Semua para mafioso dari kelompok COSA NOSTRA mati dengan mengenaskan, termasuk sang ketua.
Setelah ketua kelompok mafia COSA NOSTRA dan para mafiosonya tewas. Devian memerintahkan para mafiosonya untuk membakar markas tersebut.
***
Di markas YAKUZA, telah terjadi pertempuran sengit. Pertempuran antara kelompok mafia ALMIGHTY BLACK melawan kelompok mafia YAKUZA.
Kelompok mafia ALMIGHTY BLACK menyerang secara kejam dan tanpa ampun para tangan kanan dan para mafioso YAKUZA.
DOR! DOR!
BAGH! BUGH! DUUAAGGHH! DUUAARRR!
SREEKK! JLEB! KREEETTT! GEDEBUG!
__ADS_1
BRUUKK! BRUUKK!
Enzo dan para kelompok mafianya berhasil membunuh semua mafioso, para tangan kanannya dan juga sang ketua.
Sama seperti Devian dan kelompok mafianya. Enzo juga melakukan apa yang dilakukan oleh Devian dan kelompok mafianya yaitu membakar markas milik YAKUZA.
***
Di kediaman keluarga Smith, Darren saat ini tengah duduk di kursi ruang tengah. Darren saat ini tengah fokus dengan laptop miliknya.
Darren saat ini fokus melihat video pembantaian dua kelompok mafia yaitu COSA NOSTRA dan YAKUZA. Pelaku dari pembantaian tersebut adalah dua kedua kakak mafianya yaitu Enzo dan Devian.
Darren tersenyum puas ketika melihat hasil kerja dari kedua kakak mafianya itu.
"Dua kelompok pelindungmu sudah hancur dan musnah, Samuel Frederick. Sekarang tinggal tugasku untuk menghancurkan perusahaan inti milikmu. Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya bermain-main dengan perusahaan milikmu dan juga milik Ayahmu. Dan aku juga ingin melihat penderitaanmu, Samuel!" Darren bergumam sembari tatapan matanya masih fokus pada laptopnya.
Tanpa Darren sadari, Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya memperhatikan Darren yang berada di ruang tengah.
Setelah beberapa menit mereka memperhatikan Darren. Akhirnya mereka memutuskan untuk menghampiri Darren di ruang tengah.
"Darren," panggil Erland.
Darren mengalihkan pandangannya dari laptopnya dan melihat kearah Ayahnya dan juga anggota keluarganya yang kini sudah duduk di sofa.
"Ya, Papa." Darren menjawab panggilan dari Ayahnya dengan lembut lalu kembali menatap layar laptopnya.
"Kamu sedang apa sayang? Dari tadi Papa perhatikan kamu sibuk menatap layar laptopnya," ucap dan tanya Erland.
"Aku sedang menyaksikan sebuah video pemb*ntaian dua kelompok mafia yang melindungi bajingan itu dan Pamannya." Darren menjawab sembari fokus menatap layar laptopnya.
Ketika mendengar jawaban dari Jungkook. Darka dan Gilang langsung menarik laptop milik Darren agar bisa melihat video tersebut.
Setelah laptop tersebut berada di hadapan mereka. Baik Gilang, Darka maupun yang lainnya ikut melihat video tersebut.
Ketika mereka semua, kecuali Darren melihat video tersebut. Mereka semua tersenyum. Setidaknya satu masalah selesai. Itulah yang mereka pikirkan.
Setelah selesai melihat video itu. Mereka melihat kearah Darren, begitu juga dengan Darren.
"Satu masalah selesai. Setelah kedua kelompok mafia itu musnah dan hancur. Apa rencana selanjutnya, Ren?" tanya Evan.
"Kamu mau nanya apa?" tanya Darka.
"Tanyakan saja," sela Gilang.
"Kapan acara BAKSOS nya?" tanya Darren.
Mendengar pertanyaan dari Darren. Gilang dan Darka tersenyum tulus kepada adiknya.
"Acara BAKSOS akan dilakukan lusa. Pukul 7 Pagi." Darka menjawab sembari mengelus kepala adiknya.
"Lokasi di sekitar Kampus." Gilang juga ikut menjawab pertanyaan dari adik laki-lakinya.
"Oh, iya. Tunggu sebentar. Ada sesuatu yang ingin kakak berikan pada kamu!" seru Darka.
Darka langsung beranjak dari duduknya lalu kemudian melangkah menuju kamarnya.
Beberapa menit kemudian, Darka kembali ke ruang tengah dengan membawa sesuatu di tangannya.
Darka menduduki pantatnya di sofa lalu memberikan kamera digital pada Darren.
"Ini. Lihatlah sendiri!"
Darren mengambil kamera digital itu lalu kemudian menghidupkannya. Ketika kamera itu menyala. Terlihat beberapa gambar.
Darren melihat satu persatu gambar-gambar itu. Detik kemudian, terukir senyuman manis di bibirnya.
Baik Darka, Gilang maupun anggota keluarga lainnya tersenyum bahagia ketika melihat senyuman manis yang terpampang di bibir Darren.
"Kak Darka. Ini bagus sekali!" seru Darren dengan antusiasnya.
"Kamu suka?" tanya Gilang.
"Sangat," jawab Darren.
Darka dan Gilang tersenyum bahagia ketika adiknya menyukai hasil kerja kerasnya bersama tim yang lainnya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu suka. Justru Kakak dan Darka takut jika kamu tidak menyukainya," ucap Gilang.
"Tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyukai hasil kerja kak Darka dan kak Gilang. Aku justru percaya jika Kakak Darka dan kakak Gilang akan melakukan yang terbaik untuk Kampus kita." Darren berbicara dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya dan matanya yang masih fokus melihat gambar-gambar di layar kamera digital.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Darka dan Gilang tersenyum. Mereka dari awal sudah yakin jika adiknya pasti menyukai hasil kerjanya.
Ketika Darren dan anggota keluarganya tengah asyik dengan dunianya, tiba-tiba Darren dikejutkan dengan bunyi ponselnya. Mendengar bunyi ponselnya. Darren langsung mengambil ponselnya dan melihat di layar ponselnya tertera nama 'Kakak Chico'.
Melihat nama Chico di layar ponselnya. Darren pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, kakak Chico."
"Hallo, Ren. Apa kau sudah melihat video kehancuran dua kelompok pelindung Samuel dan Pamannya?"
"Tentu. Aku baru saja selesai menyaksikan pertunjukan para tikus-tikus busuk yang telah selesai dimusnahkan oleh para singa kelaparan."
Darka, Gilang, Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari Darren.
"Apa rencana selanjutnya, Ren?"
"Aku ingin bermain-main dengan perusahaan inti milik bajing*n itu."
"Itu bagus. Kakak setuju akan rencanamu itu. Kapan kau akan melakukannya?"
"Setelah kegiatan BAKSOS ku di Kampus."
"Baiklah. Beritahu Kakak jika kau butuh sesuatu."
"Hm."
"Ya, sudah. Kalau begitu Kakak tutup teleponnya."
Ketika Chico ingin menutup teleponnya, tiba-tiba Darren bersuara.
"Kak Chico, tunggu!"
"Ada apa, Ren?"
"Aku butuh bantuanmu, kakak!"
"Apa itu? Katakan!"
"Lusa acara BAKSOS Kampusku. Aku butuh beberapa orang untuk menjadi keamanan di acara itu. Untuk jaga-jaga saja."
"Dengan senang hati. Kau tidak perlu khawatir. Kakak juga akan ikut mengawasi acara BAKSOS di Kampusmu."
"Terima kasih, kak"
"Oke! Ya, sudah. Kakak tutup teleponnya."
TUTT!
TUTT!
***
Keesokan harinya anggota keluarga Smith sudah berkumpul di meja makan. Mereka akan sarapan pagi bersama. Sarapan pagi kali mereka ditemani oleh Darren. Mereka semua tampak bahagia ketika Darren bersedia sarapan pagi bersama.
"Papa sangat bahagia pagi ini. Sarapan pagi Papa terasa sangat lengkap."
Mereka yang mendengar ucapan dari Erland tersenyum bahagia. Mereka juga ikut bahagia ketika melihat Darren yang ikut sarapan pagi bersama.
Erland menatap wajah putra bungsunya dari istri pertamanya. Dirinya sangat bahagia ketika bisa melihat putranya sarapan pagi bersamanya dan juga yang lainnya.
"Darren sayang," panggil Erland.
Darren menatap wajah tampan Ayahnya lalu kemudian Darren tersenyum.
"Ya, Papa."
"Terima kasih sayang. Kamu sudah melengkapi sarapan pagi Papa pagi ini. Kamu ikut sarapan bersama Papa dan yang lainnya." Erland berbicara dengan lembut dan tersenyum manis.
"Sama-sama, Papa." Darren juga bahagia ketika melihat Ayahnya tersenyum bahagia.
Dan setelah itu, mereka semua pun menyantap sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, semua anggota keluarga telah sampai menyantap sarapan paginya. Dan mereka semua pun bersiap-siap untuk melakukan aktivitas mereka masing-masing.