KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Membahas Perusahaan ER


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah selesai melakukan makan malam, anggota keluarga Smith memutuskan untuk berkumpul di ruang tengah termasuk Erica.


Mereka menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol dan bercerita tentang kegiatan masing-masing sebelum memasuki kamar untuk istirahat.


Erica saat ini tengah bersama Adrian dan keempat adik laki-lakinya. Sedari tadi Adrian dan keempat adik laki-lakinya terus membuat lelucon sehingga membuat Erica tertawa.


Mendengar lelucon dari Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Serta mendengar tawa dari Erica membuat Erland, Agneta dan yang lainnya ikut tertawa.


Ketika mereka semua tengah tertawa, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara Darren.


"Asyik nih!"


Mereka yang mendengar suara Darren langsung melihat kearah Darren.


"Ren."


"Kakak Darren."


"Papa!" teriak Erica yang langsung menerjang tubuh Darren.


"Erica rindu, Papa!"


"Papa juga rindu Erica. Maafkan Papa beberapa hari ini sibuk."


"Erica ngerti. Dan Erica nggak marah sama Papa."


Mendengar jawaban dari putri angkatnya, Darren tersenyum bahagia. Begitu juga dengan anggota keluarganya. Mereka semua bersyukur memiliki Erica ditengah-tengah mereka semua.


Darren menggendong tubuh putri angkatnya, lalu membawanya duduk di sofa.


"Kalian sedang bahas apa sih? Dari tadi aku perhatiin serius amat?" tanya Darren sembari tangannya mengelus kepala Erica.


"Kita lagi bahas masalah perusahaan ER, Ren!" ucap Davin.


Mendengar kakak tertuanya menyebut perusahaan ER, perusahaan milik ayahnya. Seketika Darren menatap lekat wajah ayahnya itu.


"Kenapa, Papa? Apa ada masalah?" tanya Darren.


Erland tersenyum menatap wajah khawatir putra bungsu dari istri pertamanya itu. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Tidak ada masalah apa-apa, sayang. Semuanya baik-baik saja," jawab Erland.


"Terus tadi kakak Davin bilang sedang membahas perusahaan ER?" tanya Darren lagi.


"Iya, Ren! Kakak memang bilang tengah membahas masalah perusahaan ER, tapi bukan membahas perusahaan ER dalam masalah. Ini masalah lain," jawab Davin.


"Masalah lain? Masalah apa?" tanya Darren bingung.


"Masalah karyawan baru di perusahaan ER." Andra yang menjawabnya.

__ADS_1


"Oh, calon kakak iparku itu ya!" seru Darren sembari menggoda Darka.


Darka yang mendengar godaan dari adiknya seketika malu.


"Aish! Apaan sih kamu, Ren!" Darka benar-benar malu akan kelakuan adiknya itu.


"Cie... Cie! Kakak Darka yang malu-malu nih!" seru Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.


"Ih, kalian nggak usah ikut-ikutan kakak kelinci kalian ini," sahut Darka kesal.


Darren mendengus kesal ketika mendengar perkataan dari kakak aliennya itu.


Darren menatap wajah ayahnya dan wajah kedua kakak tertuanya itu. Darren menatap lekat ketiganya.


"Kalau aku boleh tahu kenapa kalian membicarakan soal karyawan baru itu?"


"Kita bangga aja sama dia. Kerjaannya rapi, bagus, teliti dan nggak ada kesalahan sama sekali." Andra berucap.


"Semenjak Kathleen memegang jabatan sebagai Manager Keuangan di perusahaan ER. Keuntungan perusahaan dua kali lipat," ucap Davin.


"Bahkan pemasukan lebih besar dari sebelumnya dari pada pengeluaran," ucap Andra.


"Sebelum kak Kathleen bekerja di perusahaan ER, berapa jumlah pengeluaran dan pemasukkan perusahaan ER?" tanya Darren.


"Tidak sampai 100%, sayang. Jangankan 100%. Mencapai 80% saja tidak. Sementara pengeluaran melebihi itu," jawab Erland.


"Bahkan hampir bangkrut," sela Andra.


Mendengar perkataan dari Andra, seketika Darren membelalakkan kedua matanya. Dirinya tidak menyangka jika perusahaan ayahnya akan mengalami hal itu.


"Tapi semenjak Kathleen memegang posisi Manager Keuangan. Keuangan perusahaan menjadi stabil. Bahkan meningkat menjadi 150%," ucap Davin.


"Berarti ada yang tidak beres di perusahaan Papa," sahut Darren langsung.


Mendengar hal itu, mereka semua menatah wajah Darren.


"Apa maksud kamu, sayang?" tanya Erland.


"Pengkhianat! Ada pengkhianat di perusahaan Papa. Kemungkinan dugaanku, ada dua karyawan Papa yang telah berkhianat dan yang satunya sudah pergi meninggalkan perusahaan setelah mendapatkan apa yang diincarnya selama ini."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Erland, Davin dan Andra terkejut dan juga syok.


"Ja-jadi maksud kamu kalau Manager Keuangan yang dulu yang telah mengkhianati perusahaan ER?" tanya Davin.


"Aku belum bisa bilang iya, karena aku tidak punya bukti. Aku mengatakan seperti itu, karena mendengar cerita kalian."


"Kalian mengatakan bahwa perusahaan ER selalu mengalami kerugian besar. Bahkan hampir bangkrut sejak dipegang sama Manager Keuangan yang lama. Sekarang perusahaan ER maju pesat ketika dipegang sama Manager Keuangan baru," ucap Darren.


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren, terutama Erland, Davin dan Andra.

__ADS_1


"Terus apa yang harus kita lakukan, sayang? Papa tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap perusahaan Papa." ucap dan tanya Erland dengan menatap sedih putranya itu.


"Papa tidak perlu khawatir. Aku akan bantu menyelediki masalah ini. Aku hanya butuh data-data dari Mantan Manager Keuangan. Berikan padaku besok."


"Baiklah, Ren!" seru Davin dan Andra.


"Lalu bagaimana dengan pengkhianat yang masih ada di dalam perusahaan, Ren? Bukankah kecurigaan kamu ada dua?" tanya Andra.


"Nanti kakak Andra tahu sendiri siapa orangnya. Kalian akan tahu dari kamera yang terpasang di setiap ruangan dan tempat-tempat yang banyak aktifitasnya dan alat-alat penyadap suara."


"Itupun kalau kalian sudah memasangnya saat aku menyuruh kalian untuk memasangnya dulu," ucap Darren.


"Sudah, Ren! Kita sudah melakukannya," jawab Davin dan Andra bersamaan.


"Kalau sudah. Kalian tinggal tunggu orang itu masuk ke dalam rekaman dari kamera-kamera yang terpasang itu," ucap Darren.


"Oh iya, Ren!" seru Darka.


Darren melihat kearah Darka. "Ada apa, kakak Darka?"


"Begini Ren. Jika memang selama ini ada pengkhianat di perusahaannya Papa. Seharusnya kita tahu dari awal. Bukankah kita sudah memasang kamera-kamera itu?" tanya Darka.


"Sebelum aku menjawab pertanyaan dari kakak Darka. Terlebih dahulu aku bertanya kepada Papa, kakak Davin dan kakak Andra," sahut Darren.


"Iya, Ren. Silahkan!" seru Davin dan Andra bersamaan.


"Sejak kapan Manager Keuangan itu memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan ER?" tanya Darren.


"Sejak satu tahun yang lalu," jawab Andra.


"Dan sudah berapa lama posisi Manager Keuangan kosong?"


"Sama. Satu tahun sejak Manager Keuangan yang lama mengundurkan diri," jawab Davin.


"Lalu kapan aku meminta kalian untuk memasang beberapa kamera dan alat penyadap di semua tempat dan ruangan yang tidak bisa diketahui oleh siapa pun kecuali orang yang memasangnya?" tanya Darren lagi.


"Sejak kamu kembali ke rumah setelah keluar dari rumah sakit. Saat itu ada sedikit masalah yang kita hadapi. Dan kamu juga bilang jika kita harus hati-hati ketika mau menandatangani berkas kerja sama," ucap Andra.


"Disitulah kamu nyuruh kakak dan Andra buat memasang kamera-kamera dan alat penyadap di semua tempat dan ruangan yang ada di perusahaan," ujar Davin.


"Berarti dengan kata lain. Pengkhianat yang satu sudah terlebih dahulu mengundurkan diri dari perusahaan dan meninggalkan rekannya. Sementara untuk kamera-kamera dan alat penyadap itu terpasang setelah kejadian itu terjadi. Kalian kecolongan selama satu tahun belakangan ini." Darren berbicara sambil menatap wajah ayah dan kedua kakak tertuanya.


"Dan Kathleen, Manager Keuangan baru itu sebagai dewa penyelamat perusahaan ER!" seru Evan.


"Hm." mereka semua mengangguk.


Mendengar semua penjelasan dari adiknya membuat Andra curiga dengan satu karyawannya. Bahkan Andra sudah sangat yakin jika karyawannya itu yang telah mengkhianati dirinya, kakaknya dan ayahnya.


"Aku tidak akan mengampunimu jika dugaanku benar akan dirimu sebagai pengkhianat," batin Andra.

__ADS_1


__ADS_2