
El berdecak malas saat lagi-lagi pintu gerbang kampusnya tertutup rapat.
"Pak, bukain!" teriak El.
Satpam tersebut pun langsung berlari tergopoh-gopoh ke arahnya.
"Aduh, nak El. Kalau telat itu yang manusiawi. Ini udah mau jam istirahat baru datang."
Mendengar perkataan dari satpamnya itu, El mengeluarkan cengiran khasnya.
"Biasa pak. Saya ini orang sibuk."
Peter, satpam kampus dengan tubuh gempal itu hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat tingkah pentolan Universitas WESTERN yang terkenal berandalan itu.
"Saya tidak bisa bukain gerbangnya. Lagian kamu telatnya hampir setiap hari."
El mendengus mendengar ucapan Pak Peter.
"Dah lah pak. Saya bolos aja. Males juga kuliah."
Setelah mengatakan itu, El kembali menaiki motor sportnya. Tidak lupa dia mengenakan helm full face kesayangannya.
***
Bel istirahat menggema di setiap penjuru kampus. Para mahasiswa dan mahasiswi berbondong-bondong keluar kelas. Ada yang pergi ke kantin untuk mengisi energi kembali setelah jam pelajaran yang menguras otak. Ada juga yang duduk-duduk santai di depan kelas sambil menggoda siapa saja yang lewat di depan kelas, atau ada juga yang pergi ke perpustakaan untuk bisa tidur dengan tenang tanpa gangguan.
Pergi ke kantin adalah pilihan Darren dan ketujuh sahabatnya. Rehan dan Darel sudah sejak jam pelajaran tadi mengeluh lapar. Cacing-cacing di perutnya sudah berdemo minta untuk diberi makan.
Sama halnya dengan sahabatnya yang lain. Lalu Darren? Darren tetap bergaya cool walaupun perutnya merasa lapar.
Ketika mereka tiba diluar dan hendak melangkahkan kakinya menuju kantin, tiba-tiba Arianna dan keenam teman-temannya datang.
"Jerry! Gue ikut ke kantin ya?"
Arianna yang berparas cantik dengan tubuh molek, bergelayut di lengan Jerry.
Melihat Arianna yang sudah memeluk pengerannya membuat Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda tak mau kalah. Mereka juga melakukan apa yang dilakukan oleh Arianna.
"Sayang, kita ikut ya!" seru mereka dengan kompak.
Bukan rahasia lagi, Arianna dan keenam teman-temannya selalu mendekati ketujuh sahabatnya Darren. Tidak peduli bagaimana pun penolakan yang sudah mereka terima. Mereka tetap mengejar dan mendekati ketujuh sahabatnya Darren.
"Lepas!" sentak Jerry yang merasa risi dan tidak suka dengan tingkah Arianna yang gampang bergelayutan seperti anak monyet.
"Apaan sih lo pegang-pegang gue. Jijik tahu," ucap kejam Dylan kepada Lori.
"Ngapain lo peluk-peluk gue? Lepasin nggak," ucap Axel merasa jijik akan kelakuan Wanda.
Sedangkan Qenan, Willy, Rehan, Darel hanya diam tanpa melakukan perlawanan.
Baik Qenan, Willy maupun Rehan dan Darel saling memberikan tatapan. Dan setelah itu mereka tersenyum penuh arti.
Dan detik kemudian...
"Rektor, Dekan!" seru keempatnya.
__ADS_1
Mendengar seruan dari Qenan, Willy, Darel dan Rehan. Seketika Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda melepaskan tangan orang yang mereka sukai.
Setelah tangan mereka terlepas. Mereka pun pergi begitu saja meninggalkan Arianna dan ketujuh sahabatnya yang saat ini tengah melihat kearah Rektor dan Dekan yang dimaksud oleh Qenan, Willy, Darel dan Rehan.
^^^
Kini Darren dan ketujuh sahabatnya telah di kantin. Mereka akan memesan makanan ketika para kekasihnya datang.
"Ren," panggil Dylan.
"Hm." Darren menjawab dengan deheman sembari matanya fokus menatap layar ponselnya.
"Sekarang katakan ke kita apa kesalahan dengan mobil itu?" tanya Dylan.
Mereka menatap lekat wajah Darren dan berharap Darren mau memberitahu mereka.
Darren mengambil ponselnya. Kemudian Darren membuka sebuah foto yang dikirim oleh salah satu karyawan di Showroomnya.
Setelah mendapatkan foto itu, Darren memperlihatkannya kepada Axel, Jerry dan Dylan.
"Ini lihatlah sendiri."
Jerry yang kebetulan dekat duduknya dengan Darren langsung mengambil ponsel Darren. Sedangkan yang lainnya mendekat kearah Jerry agar bisa ikut melihatnya.
"Ren, inikan...."
"Iya, Xel. Mobil yang meledak tiba-tiba saat putaran kesepuluh ternyata belum dipasang benda itu," ucap Darren.
"Kok bisa?" tanya Qenan.
"Iya. Kami masih ingat," jawab mereka kompak.
"Setelah selesai berbicara dengan kakak Enzo. Aku melupakan keberadaan benda itu. Dan tanpa sadar aku langsung menutup kap mesin mobil itu."
Ketika mereka tengah membahas benda yang terlupakan oleh Darren. Qenan melihat kedatangan kekasihnya bersama sahabat-sahabatnya.
"Tuh, mereka datang!" seru Qenan sambil menunjuk kearah Elsa dan sahabat-sahabatnya.
Mereka secara bersamaan tersenyum melihat para bidadari hatinya berjalan menghampirinya.
"Kok lama?" tanya Darel.
"Biasalah ada gangguan sedikit," jawab mereka dengan kompak sambil menduduki pantatnya di samping pacarnya masing-masing.
"Kalian ketemu sama tujuh ular betina itu?" tanya Dylan.
"Hm." mereka kembali menjawab dengan kompak.
"Kalian habis apain mereka? Kok mereka tiba-tiba berubah jadi ular betina yang bringas?" tanya Lenny.
"Kita nggak ngapa-ngapain mereka. Mereka saja yang ngapa-ngapain kita," jawab Rehan.
Mendengar ucapan dari Rehan. Seketika Elsa, Alice, Tania, Felisa, Lenny, Milly dan Vania menatap tajam para kekasihnya masing-masing.
"Jangan gitu dong lihatnya. Seram tahu," ucap Qenan.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Qenan. Elsa dan yang lainnya kembali dengan wajah imutnya, kecuali Brenda.
Brenda dan Darren saat ini tengah menonton drama percintaan para sahabat-sahabatnya. Sesekali keduanya tersenyum melihat tingkah gemas mereka.
"Kayak kamu nggak tahu aja yang," ucap Willy.
"Mereka kan selaku nemplok nggak jelas setiap melihat kita," ucap Axel.
"Hm." seru Axel dan lainnya, kecuali Darren.
"Aku sudah memesan makanan dan minuman. Kalian mau terus mengobrol atau...." perkataan Darren terpotong dikarenakan ketujuh sahabatnya langsung bersuara.
"Makan!"
Setelah mengatakan itu, pesanan pun datang. Dan disajikan di atas meja.
***
Di perusahaan ER terlihat para karyawan tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hanya beberapa karyawan saja yang tampak sedikit santai karena pekerjaannya sudah selesai.
Soviana keluar dari ruang kerjanya. Niat awalnya untuk menemui OB untuk dibuatkan kopi manis.
Namun ketika tiba diluar, matanya tak sengaja melihat sosok orang yang begitu dibencinya beberapa hari ini. Orang itu adalah Kathleen Johnson.
Soviana melihat Kathleen yang keluar dari ruang kerjanya Davin dengan sebuah map di tangannya.
Setelah itu, Kathleen hendak melangkah menuju ruang kerjanya.
Melihat itu, Soviana langsung mengejarnya agar Kathleen tidak masuk ke dalam ruang kerjanya.
Sret!
Soviana berhasil mencekal tangan Kathleen sehingga membuat wanita itu berhenti.
"Soviana," ucap Kathleen, lalu menarik kuat tangannya.
"Kamu kenapa? Tiba-tiba datang langsung menarik tanganku," ucap dan tanya Kathleen.
"Kamu ngadu apa aja sama Bos Andra?" tanya Soviana ketus.
"Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti," ucap Kathleen.
"Alah! Nggak usah ngeles deh. Kamu kan yang ngadu sama Bos Andra tentang apa yang aku lakuin dua hari yang lalu," tuduh Soviana.
"Janga asal nuduh kamu. Ngapain juga aku harus ngadu sama Bos Andra atas apa yang kamu lakuin ke aku. Nggak ada gunanya juga buat aku. Aku disini hanya kerja. Bukan cari masalah apalagi mencari perhatian Bos."
"Kamu pikir aku bakalan percaya sama kamu!" bentak Soviana
"Itu hak kamu mau percaya atau tidak. Lagian bukan urusanku juga."
Setelah mengatakan itu, Kathleen pergi meninggalkan Soviana untuk menuju ruang kerjanya. Dirinya harus segera membuat laporan yang diminta oleh Bosnya.
Sementara Soviana menatap nyalang Kathleen dengan kedua tangannya mengepal kuat.
"Awas lo, Kathleen. Aku bakal balas lo," batin Soviana.
__ADS_1