KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menceritakan Kondisi Jantung Darren


__ADS_3

Kini Darren dan anggota keluarganya sudah berada di ruang tengah lengkap dengan ketujuh sahabatnya, Brenda beserta sahabatnya.


Ketika di dalam perjalanan pulang ke rumah Darren. Willy menghubungi Alice dan menceritakan kejadian yang terjadi di Arena Serkuit hingga berakhir Darren kambuh. Willy meminta untuk memberitahu Brenda dan yang lainnya.


Darren saat ini tengah bersandar di punggung sofa dengan memejamkan kedua matanya. Dan jangan lupa tangannya yang masih memegang dada kirinya.


Melihat kondisi Darren saat ini membuat mereka semua menatapnyanya khawatir dan juga takut. Mereka semua menangis karena harus kembali melihat Darren kambuh.


Darren seketika membuka kedua matanya. Setelah itu, Darren beranjak dari posisi duduknya.


"Aku mau ke kamar. Tubuhku benar-benar tidak bisa diajak kerja sama," ucap Darren dengan suara lirihnya.


"Kakak Davin antar ya," sahut Davin.


"Nggak perlu. Aku bisa pergi ke kamarku sendiri," jawab Darren.


Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan anggota keluarganya, kekasihnya dan para sahabatnya.


Namun baru beberapa langkah, tubuh Darren terhuyung ke samping. Dan detik kemudian...


Bruk!"


Darren jatuh tak sadarkan diri di lantai yang dingin.


"Darren!"


"Kakak Darren!"


"Papa!"


Mereka semua berteriak ketika melihat Darren yang jatuh tak sadarkan diri di lantai.


"Angkat Darren ke punggung kakak," ucap Davin.


Andra, Daffa dan Tristan mengangkat tubuh Darren dan meletakkan di atas punggung Davin.


Setelah tubuh Darren berada di atas punggung Davin. Davin pun membawa Darren ke kamarnya yang ada di lantai dua. Dan diikuti oleh yang lainnya di belakang.


^^^


Darren sudah berada di tempat tidurnya. Mereka semua menatap wajah pucat Darren.


Erland duduk di samping ranjang putranya. Dirinya menangis karena harus kembali melihat putranya kesakitan.


"Sayang," lirih Erland dengan tangannya mengusap lembut kepalanya.


"Ren."


"Darren."


"Kakak Darren."


Mereka semua berucap lirih menyebut nama Darren. Dan jangan lupakan air mata yang meanak sungai membasahi wajah masing-masing.


Cklek!


Pintu kamar dibuka oleh seseorang. Dan semua yang ada di dalam kamar Darren langsung melihat keasal suara.


"Mama," ucap Axel.

__ADS_1


Yang membuka pintu kamar Darren adalah ibunya Axel yaitu Celsea sekaligus Dokter pribadi Darren.


Celsea melangkah mendekati ranjang Darren untuk memeriksa keadaannya.


Melihat Celsea yang melangkah mendekati ranjang Darren. Erland yang melihat itu langsung berdiri dari duduknya dan memberikan ruang kepada Celsea agar bisa memeriksa putranya.


Celsea mengeluarkan alat kedokterannya dari dalam tas. Setelah itu, Celsea pun mulai memeriksa kondisi Darren.


Beberapa detik kemudian...


"Bagaimana, Celsea?" tanya Erland.


Celsea menatap satu persatu orang-orang yang ada di dalam kamar Darren.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Darren bisa kambuh?" tanya Celsea.


"Ada kejadian di Arena Serkuit ketika kita sedang uji coba mobil-mobil itu, Ma?" Axel menjawab pertanyaan dari ibunya.


"Kejadian apa?" tanya Celsea lagi.


"Sepuluh dari mobil yang kita uji coba. Satu mengalami kegagalan. Mobil itu meledak diputaran ke sepuluh," jawab Axel.


Mendengar penjelasan dari putranya membuat Celsea terkejut. Selama ini, baik putranya mau para sahabat putranya tidak pernah mengalami kegagalan dalam pembuatan mobil-mobil tersebut.


Celsea menatap wajah pucat Darren. Dirinya benar-benar tidak tega jika melihat Darren kambuh.


Setelah itu, Celsea menatap kearah Erland yang terlihat ketakutan terhadap putranya.


"Kondisi Darren kembali memburuk. Jantungnya benar-benar lemah kali ini," ucap Celsea.


Deg!


Mendengar perkataan dari Celsea seketika membuat tubuh Erland terhuyung ke belakang. Air mata mengalir begitu saja membasahi wajahnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Celsea.


Carissa dan Evan selaku Paman serta Bibi kesayangan Darren. Dan ketiga kakak sepupunya juga tampak syok. Mereka juga menangis dengan mulut mengumandangkan nama Darren.


Tak jauh beda dengan anggota keluarga Darren. Brenda, ketujuh sahabat Darren dan juga sahabat-sahabatnya Brenda sudah menangis terisak ketika mendengar ucapan dari ibunya Axel. Mereka semua menatap Darren yang saat ini masih belum sadar di tempat tidur.


"Ren... Hiks," isak Brenda.


"Ren," lirih ketujuh sahabatnya.


Brenda menatap wajah Celsea, ibunya Axel dengan wajah basahnya.


"Bibi Celsea," panggil Brenda.


Celsea yang dipanggil langsung melihat kearah Brenda yang kini tengah menangis.


"Ada apa, sayang?"


"Apa perkataan Bibi barusan tentang kondisi jantungnya Darren itu benar? Bibi bohongkan? Darren baik-baik sajakan?" tanya Brenda dengan tatapan berharapnya.


Celsea menatap sedih wajah Brenda. Sejujurnya Celsea tidak ingin mengatakan tentang kondisi Darren kepada orang-orang yang begitu menyayangi Darren.


Namun Celsea tidak ada pilihan. Bagaimana pun mereka semua harus tahu kondisi Darren yang sebenarnya. Jadi, jika sewaktu-waktu Darren kambuh. Mereka semua sudah siap dan tidak terkejut.


"Itu benar, sayang! Untuk saat ini jantung Darren benar-benar lemah. Ini adalah yang kedua kalinya Darren kambuh setelah keluar dari rumah sakit," sahut Celsea yang sudah menangis.


"Tidak... Hiks. Bibi bohong. Darren baik-baik saja... Hiks," isak Brenda.

__ADS_1


Brenda yang berdiri tak jauh dari tempat tidur Darren berlahan maju. Setelah berada di samping ranjang Darren. Brenda berjongkok dengan lutut sebagai tumpuannya.


Brenda menangis menatap wajah pucat Darren. Bibirnya bergetar dengan disertai air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.


"Kenapa Tuhan nggak adil terhadap lo, Ren? Kenapa... Kenapa Tuhan memberikan banyak rasa sakit kepada lo? Apa sakit di jantung lo itu nggak cukup sehingga lo harus ngerasain sakit yang lain?"


Deg!


Anggota keluarga Smith terkejut ketika mendengar perkataan terakhir dari Brenda yang mengatakan 'sakit yang lain'. Mereka berpikir 'Apa Darren memiliki sakit yang lain? Kalau iya? Kenapa Darren tidak jujur?'


Bukan hanya anggota keluarga Smith saja. Celsea sebagai Dokter yang menangani Darren juga ikut terkejut ketika mendengar perkataan terakhir dari Brenda.


"Brenda," panggil Darka dengan nada yang sedikit membentak.


Brenda langsung menatap kearah Darka. Dan dapat Brenda lihat Darka yang menatap dirinya tajam.


"Iya, kakak Darka."


"Apa maksud dari perkataan kamu barusan? Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Darka.


"Sayang." Agneta mengusap lembut punggung Darka.


Mendengar pertanyaan dari Darka. Seketika Brenda merutuki kebodohan yang tanpa sadar mengatakan tentang kondisi Darren.


Dikarenakan tidak mendapatkan jawaban dari Brenda membuat Darka menggeram marah.


"Brenda Wilson! Jawab pertanyaanku! Kenapa kau berbicara seperti tentang adikku!" bentak Darka.


Brenda berdiri dari posisi berlututnya, lalu matanya menatap wajah Darka yang kini tampak marah menatapnya.


"Sebenarnya... Sebenarnya kondisi Darren memang tidak baik-baik saja beberapa minggu ini. Tapi Darren tidak memperlihatkannya kepada kita. Selain merasakan sakit di jantungnya. Darren juga sering merasakan sakit di kepalanya."


Bagaikan dihantam palu besar di kepala mereka masing-masing. Erland, Agneta, Davin dan sepuluh adik laki-lakinya, Evan, Carissa beserta ketiga putranya terkejut ketika mendengar perkataan dari Brenda.


"Kamu jangan asal, Brenda!" kini Gilang yang bersuara.


"Melihat Darren kesakitan di jantungnya. Itu sudah membuat kami semua ketakutan. Apalagi jika Darren merasakan sakit yang lainnya," ucap Dzaky.


Erland menatap wajah Brenda. Dirinya ingin tahu alasan kenapa Brenda sampai berbicara seperti itu.


"Brenda sayang. Sekarang katakan kepada Paman. Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Apa kamu tidak bahagia jika Darren dalam keadaan sehat-sehat saja?" tanya Erland.


Mendengar pertanyaan dari Erland membuat Brenda langsung menggeleng ribut. Bukan itu maksud dirinya.


Brenda ingin mengatakan yang sebenarnya apa yang didengar olehnya saat di rooftop itu.


Namun ketika Brenda ingin membuka mulutnya, Qenan sudah terlebih dahulu bersuara.


"Karena Brenda mendengar sendiri dari mulut Darren saat itu, Paman Erland!" seru Qenan.


Erland melihat wajah Qenan. Begitu juga dengan anggota keluarga Darren lainnya.


"Brenda dan Darren sama-sama ada di rooftop kampus. Walau keduanya ada disana, tapi Darren tidak tahu jika ada Brenda di rooftop itu juga. Darren mengeluarkan semua keluh kesahnya dan juga rasa sakitnya yang dirasakan selama ini. Dan apa yang keluar dari mulut Darren, itu semua didengar oleh Brenda."


Erland, Agneta, putra-putranya dan yang lainnya menangis ketika mendengar penjelasan dari Qenan dan juga Brenda.


"Paman... Hiks. Darren sedang sakit. Darren sedang tidak baik-baik saja saat ini," isak Brenda.


Agneta mendekati Brenda. Dan setelah itu, Agneta langsung memeluk tubuh Brenda.

__ADS_1


"Hiks... Bibi, aku takut. Aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Darren. Aku mencintai Darren, Bibi... Hiks," isak Brenda di pelukan Agneta.


Agneta mengusap lembut punggung Brenda dan memberikan ketenangan kepada calon menantunya itu. Di dalam hatinya, Agneta juga merasakan ketakutan yang sama seperti Brenda. Dirinya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap putranya.


__ADS_2