
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dan sebentar lagi anggota keluarga Smith akan melaksanakan makan malam bersama.
Saat ini anggota keluarga Smith tengah berkumpul di ruang tengah minus Darren, Agneta dan Carissa.
Agneta dan Carissa berada di dapur. Mereka membantu para pelayan menyiapkan makan malam. Sementara Darren berada di kamarnya. Darren sedang berbicara dengan ketujuh sahabat-sahabatnya lewat video call.
"Kakak Gilang," panggil Nathan.
"Iya. Ada apa, hum?" jawab dan tanyanya Gilang.
"Apa gadis itu pacar kakak Gilang ya?" tanya Nathan.
"Gadis? Pacar?" tanya Erland dan Evan bingung dengan menatap kearah Nathan.
"Maksud kamu apa? Kakak Gilang nggak ngerti," ucap Gilang.
"Tadi siang ada seorang gadis datang kesini. Dia nyariin kakak Gilang. Dan lebih parahnya lagi, dia belum disuruh masuk sama bibi yang kerja sama kakak Darren. Tapi dia nya udah masuk dan duduk di sofa ruang tamu tanpa ada rasa berdosa sama sekali. Dan itu sukses buat kakak Darren marah."
"Sialan. Besar juga nyalinya dengan mendatangi rumah Darren. Pasti saat ini dia berpikir bahwa rumah ini adalah rumah anggota keluarga Smith. Tapi tidak apa-apalah. Itu akan menjadi urusan Darren. Dia belum tahu bagaimana pedasnya mulut Darren. Aku ingin melihat ketika dia berhadapan dengan Darren," batin Gilang.
"Gilang," panggil Darka.
Gilang yang tengah memikirkan tentang gadis itu dan juga perkataan dari Nathan terkejut mendengar namanya dipanggil. Gilang langsung melihat kearah Darka.
"Ada apa?"
"Apa kamu yang ngasih alamat rumah Darren ke dia?" tanya Darka.
"Aku tidak pernah ngasih alamat rumah Darren ke dia. Jangankan alamat rumah Darren. Alamat rumah kita saja, aku tidak kasih."
"Kalau kamu tidak memberikan alamat rumah Darren ke perempuan itu. Dari mana perempuan itu tahu rumahnya Darren?" tanya Dzaky.
"Aku juga nggak tahu, kakak Dzaky. Tapi beneran. Aku tidak memberikan alamat rumah Darren ke dia," jawab Gilang.
"Kalau bukan kamu yang memberikan alamat rumah Darren. Perempuan itu tahu dari mana?" tanya Adnan.
"Apa jangan-jangan perempuan itu menguntit kakak Gilang ketika kakak Gilang mau pulang?!" seru Melvin.
Mendengar seruan dari Melvin membuat mereka semua langsung membenarkan apa yang dikatakan oleh Melvin.
"Kakak setuju apa yang dikatakan Melvin. Bisa jadi perempuan gila itu menguntit kamu ketika kamu pulang," sahut Davin.
"Bisa jadi," sela Andra.
"Aku juga sepemikiran dengan Melvin. Perempuan itu pasti ngikutin Gilang sampai kesini. Hanya saja perempuan itu tidak langsung menunjukkan dirinya. Tujuannya melakukan semua itu adalah jika Gilang nggak juga ngajak dia ke rumah. Maka dengan begitu dia sendiri yang datang dengan alibi ingin bertemu dengan Gilang." Darka berbicara sembari membayangkan rencana-rencana licik yang sedang dimainkan oleh perempuan itu.
"Setuju!" seru Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Daffa, Tristan, Davian, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Terus apa yang terjadi ketika perempuan itu datang kesini?" tanya Evan.
"Yang jelas kakak Darren marah ketika melihat perempuan itu dengan santainya duduk di ruang tamu. Padahal pelayan bilang kalau perempuan itu berada diluar dan belum disuruh masuk sebelum mendapatkan izin dari kita, terutama dari kakak Darren sipemilik rumah," jawab Ivan.
"Kakak Darren udah nyuruh dia pergi. Bahkan kakak Darren ngomongnya baik-baik. Tapi perempuan itu nyolot ketika berbicara dengan kakak Darren. Bahkan perempuan itu mengatakan kepada kakak Darren 'apa begini caranya menyambut tamu. Nggak ada sopannya sama sekali'. Mendengar perkataan dari perempuan itu, kakak Darren langsung marah dan balik nyerang perempuan itu dan mengatakan bahwa perempuan itu masuk tanpa seizin pemilik rumah."
__ADS_1
"Terus apa jawaban dari perempuan itu?" tanya Adnan.
"Kakak Adnan sudah tahulah apa yang akan dijawab oleh perempuan itu. Orang-orang licik seperti perempuan itu pasti akan mengatakan kebohongan demi niatnya," sahut Mathew.
"Dengan kakak Darren menunjukkan bukti. Seketika perempuan itu langsung kicep dan tak berkutik sama sekali," ucap Adrian.
"Bukti?" tanya mereka dengan kompak, termasuk Gilang. Mereka melihat kearah Adrian.
"Iya. Kakak Darren memperlihatkan sebuah rekaman dimana perempuan itu masuk gitu aja ke dalam rumah. Sementara pelayan menyuruhnya menunggu diluar," jawab Adrian.
"Ketika melihat rekaman itu. Wajah perempuan itu langsung syok dan tak percaya apa yang dilihat olehnya," ujar Davian.
"Setelah memperlihatkan rekaman itu, Darren langsung menyuruh perempuan itu pergi. Tapi emang dasar perempuan itu tidak memiliki rasa malu. Perempuan itu tetap dengan posisinya duduk santai di sofa sehingga membuat Darren benar-benar kelepasan," kata Daffa.
"Apa yang terjadi, kakak Daffa?" tanya Gilang dan Darka bersamaan.
"Darren memanggil dua anak buahnya, lalu memerintahkan anak buahnya menyeret perempuan itu keluar dari rumah," jawab Tristan.
"Kakak Gilang tahu tidak bahwa perempuan gila itu sempat ngebentak kakak Adrian," pungkas Melvin.
"Hah! Benarkah?" tanya Gilang terkejut.
"Iya, benar. Tanyakan saja sama kakak Daffa, kakak Tristan dan kakak Davian. Mereka lihat kok," jawab Melvin.
Gilang melihat kearah Daffa, Tristan dan Davian. Daffa, Tristan dan Davian langsung menganggukkan kepalanya.
"Brengsek!" Gilang benar-benar marah terhadap gadis itu.
Ketika mereka tengah membahas tentang perempuan yang tak tahu malu menurut mereka, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara langkah kaki seseorang menuruni anak tangga.
Kini Darren sudah berdiri di ruang tengah. Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya yang kini juga tengah menatapnya.
"Papa, Paman Evan dan semuanya. Aku izin keluar sebentar. Dan sepertinya aku nggak ikut makan malam bersama kalian," ucap Darren.
Erland berdiri dari duduknya dan diikuti oleh yang lainnya.
"Memangnya kamu mau kemana, sayang?" tanya Erland.
"Ada pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini juga, Papa!" jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka langsung paham. Pekerjaan yang dimaksud oleh adiknya itu adalah untuk memberikan pelajaran kepada keluarga yang telah menipu perusahaan miliknya.
"Apa nggak bisa diselesaikan besok, Nak?" tanya Erland menatap khawatir putranya itu.
"Tidak bisa, Papa. Pekerjaanku itu harus selesai malam ini juga," jawab Darren dengan memperlihatkan senyuman manisnya di hadapan ayahnya. Darren tahu bahwa ayahnya saat ini sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Tapi, sayang...."
"Papa tidak perlu khawatir, oke! Cukup Papa doakan aku, karena doa Papa itu yang aku butuhkan." Darren berbicara sembari memberikan satu kecupan di pipi ayahnya.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Positif thinking saja. Itu lebih baik," ucap Darren dan kembali memberikan kecupan kedua di pipi ayahnya.
Darren sengaja memberikan dua kecupan pada ayahnya agar ayahnya tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
Melihat apa yang dilakukan oleh Darren membuat Evan, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, Melvin, Daffa, Tristan dan Davian tersenyum bahagia
Sementara Erland yang mendengar perkataan lembut dari putranya. Dan juga mendapatkan dua kecupan di pipinya. Seketika hatinya merasakan kehangatan. Putranya begitu pandai membuat dirinya tenang.
"Doa Papa selalu menyertaimu. Kemana pun kamu pergi doa-doa Papa selalu mengantarmu. Papa menyayangimu. Tetaplah sehat," ucap Erland dengan mengusap lembut pipi putih putranya.
Darren tersenyum. "Papa juga. Tetaplah sehat. Jangan lelah dalam bekerja. Seperti yang sudah pernah aku katakan pada Papa. Jika Papa sudah tidak sanggup lagi untuk bekerja. Berhentilah. Biarkan kami putra-putra Papa yang bekerja."
"Terima kasih, sayang!"
Darren melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. "Aku harus pergi sekarang. Dari sini aku harus ke markas kakak Ziggy dulu. Kemungkinan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Axel dan Jerry sudah disana."
Setelah itu, Darren pun pergi meninggalkan anggota keluarganya. Namun langkah seketika terhenti ketika mendengar perkataan dari keenam kakaknya.
"Hati-hati!"
"Pulanglah dengan selamat!"
"Jangan terluka!"
Darren membalikkan badannya dan melihat keenam kakaknya yang menatap dirinya. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Aku janji."
Setelah itu, Darren benar-benar pergi meninggalkan kediamannya untuk menuju markas The Crips.
Erland menatap satu persatu wajah keenam putranya. Erland benar-benar penasaran akan perkataan dari keenam putranya itu.
"Apa maksud kalian barusan? Kenapa kalian bicara seperti itu?" tanya Erland.
"Apa kalian tahu tentang pekerjaan adik kalian malam ini?" tanya Evan.
Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka saling memberikan tatapan. Mereka bingung mau menjelaskan dari mana.
"Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka. Jawab Papa!"
"Darren ingin memberikan pelajaran kepada musuh-musuhnya, Papa!" Davin langsung menjawab pertanyaan dari ayahnya.
"Musuh-musuh yang telah menipu perusahaan Accenture. Musuh-musuh yang telah mengaku-ngaku sebagai rekan bisnis perusahaan Accenture yang berasal dari tiga negara itu. Malam ini Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan dibantu oleh tangan kanan serta beberapa anggota akan mendatangi kediaman para penipu itu." Andra berbicara sembari menjelaskan tentang pekerjaan yang akan dilakukan oleh adiknya malam ini.
Mendengar penjelasan dari keenam putranya membuat Erland terkejut.
"Tapi kenapa Darren tidak cerita pada Papa?"
"Darren tidak cerita pada Papa karena Darren tidak ingin buat Papa khawatir. Darren berbohong saja, Papa udah kayak gini. Apalagi kalau Darren jujur sama Papa. Papa akan lebih khawatir lagi," sahut Davin.
"Papa. Aku tahu Papa sangat mengkhawatirkan Darren. Tapi aku minta sama Papa. Jangan diperlihatkan didepan Darren. Cukup hanya kita saja yang tahu. Darren nggak usah mengetahuinya. Kalau kita menunjukkan rasa khawatir kita setiap Darren membahas musuh-musuhnya, itu akan membuat Darren tidak nyaman. Dengan kita memperlihatkan sisi ketakutan kita didepan Darren. Itu akan membuat Darren tertekan. Darren membutuhkan doa dari kita, bukan rasa khawatir kita." Darka berbicara sembari memberikan penjelasan dan ketenangan kepada ayahnya.
"Darka benar, Papa! Yang dibutuhkan Darren adalah doa kita semua. Dengan kita mendoakan Darren. Dengan begitu hati kita akan lebih tenang. Begitu juga dengan Darren," ucap Andra.
"Baiklah, sayang. Maafkan Papa."
"Tidak, Papa! Papa tidak salah. Papa seperti ini karena rasa takut dan rasa khawatir Papa terhadap putra-putra Papa, terutama Darren. Papa memikirkan kesehatan Darren. Kami juga sama seperti Papa. Kami juga khawatir terhadap Darren setiap Darren memikirkan masalahnya. Tapi kami tidak menunjukkannya didepan Darren." Davin berbicara lembut kepada ayahnya dengan tangannya mengusap lembut punggung ayahnya.
__ADS_1
"Sekarang Papa duduk. Dan tenangkan pikiran dan hati Papa. Mungkin saat ini Papa masih memikirkan Darren," ucap Davin lalu membantu ayahnya duduk kembali di sofa.