KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kekecewaan Darren


__ADS_3

Saat dalam pelukan, Darren menatap sendu Gilang. Dan detik kemudian, Darren melepaskan pelukannya. Kini Darren tengah menatap wajah Gilang.


"Kakak Gilang."


Gilang yang mendengar adik bungsunya memanggilnya seketika tersenyum. Gilang menatap wajah tampan adiknya itu.


"Darren," lirih Gilang.


"Kakak.... Hiks... Kakak Gilang. Apa kakak Gilang akan berdiri disitu terus? Apa kakak Gilang tidak ingin memelukku... Hiks?" Darren bertanya disertai isak tangisnya.


Tanpa sadar, air mata Gilang meluncur begitu saja membasahi wajah tampannya saat mendengar penuturan dari sang adik. Gilang seakan tidak percaya apa yang barusan didengarnya. Apakah ini mimpi atau kenyataan? Apakah Gilang tidak salah dengar.


Melihat keterdiaman dan ketidakpercayaan Gilang saat mendengar ucapan dari Darren membuat penghuni yang ada di dalam ruang rawat Darren tersenyum gemas.


"Dasar kakak bantet sialan! Apa kau tidak ingin memeluk adikmu ini, hah?! Apa kau ingin aku membencimu seumur hidupmu!" teriak Darren melengking.


Mendengar teriakan dari Darren membuat Gilang tersadar.


Lalu detik kemudian....


"Darren."


GREP!


Gilang langsung menghambur ke dalam pelukan adiknya itu.


Darren yang mendapatkan pelukan dari kakak bantetnya itu juga tak kalah memeluknya. Darren memeluk erat tubuh Gilang.


"Kakak... Hiks... Kakak Gilang, aku merindukanmu," ucap Darren terisak.


"Darren... Darren... Hiks... Darren. Kakak juga merindukanmu. Kakak menyayangimu. Maafkan kakak... Hiks...  Maafkan kakak." Gilang menangis terisak kala mengucap kata-kata itu.


"Aku sudah memaafkan kakak. Jadi jangan pernah mengucapkan kata itu lagi."


"Kakak berjanji akan selalu ada di samping kamu. Kakak akan selalu menjaga kamu."


"Kakak tidak perlu berjanji padaku. Cukup dengan kakak memperlihatkan kesungguhan kakak itu sudah membuktikan bahwa kakak benar-benar menyayangiku dan peduli padaku."


"Baiklah."


Gilang melepaskan pelukannya lalu menatap wajah tampan adiknya.


Lalu.....


Gilang memberikan ciuman-ciuman sayangnya di seluruh wajah adiknya itu sehingga membuat Darren kewalahan dibuatnya.


"Kakak Gilang, hentikan!" Gilang pun menghentikan kegiatannya menciumi wajah adiknya. 


Semua yang melihat adegan tersebut tersenyum bahagia.


"Aish! Sejak kapan kakak Gilang menjadi seperti ini? Kakak Darka saja tidak memberikanku ciuman. Padahal aku ingin. Nah! Sementara kakak Gilang seperti orang kerasukan saat menciumiku. padahal aku tidak memintanya," sahut Darren dengan bibir yang dimanyunkan


"Hahahahaha."


Semuanya tertawa saat mendengar keluhan yang dilontarkan oleh Darren.

__ADS_1


"Jadi kamu ingin kakak cium juga?" tanya Darka.


"Tidak. Sudah cukup kakak Gilang yang mewakilkan ciuman dari kakak Darka. Aku tidak mau kakak menciumku juga," jawab Darren.


"Yah! Gak adil dong." Darka pura-pura merajuk.


"Tidak usah merajuk. Kakak Darka pikir aku bakal luluh. Jawabannya, tidak."


Gilang dan Darka benar-benar bahagia akhirnya adik kesayangan mereka kembali ke pelukannya. Adik kesayangan mereka sudah memaafkannya. Dan mereka berjanji dan bertekad untuk selalu menjaga, melindungi dan akan selalu membuat adik mereka tersenyum.


"Terima kasih, Darren." Darka dan Gilang menjawab bersamaan.


"Terima kasih kembali. Jangan pernah meninggalkanku dan jangan pernah menjauh dariku," ucap Darren sambil menatap wajah Gilang dan Darka.


"Tidak akan. Kita akan selalu bersama-sama," jawab Gilang.


"Selamanya," ucap Darka menambahkan.


Saat ketiganya sedang asyik dengan dunia mereka sehingga mereka tidak menyadari orang-orang yang ada di sekitarnya membuat mereka cemburu dan juga menatap horor ketiganya.


"Wooii, masih ada orang disini!" seru Axel.


"Kalian pikir kami datang kesini hanya untuk menonton drama Lee bersaudara, hah?!" seru Qenan.


"Mau sampai kapan dramanya akan selesai," ujar Dylan.


Mendengar aksi protes yang dilayangkan oleh ketiga sahabatnya. Darren langsung mengalihkan pandangannya melihat kearah sahabat-sahabatnya.


Lalu detik kemudian...


"Hah." mereka semua hanya bisa menghela nafas akan sikap dan perkataan Darren.


"Dasar sialan," umpat ketujuh sahabatnya secara bersamaan.


"Darren, sayang." Erland memanggil putra bungsunya dengan lembut.


Darren yang mendengar Ayahnya memanggilnya langsung menolehkan wajahnya melihat kearah sang Ayah.


"Ada apa?" tanya Darren dengan wajah dingin dan datarnya.


Erland melangkah mendekati ranjang Darren. Melihat ayahnya yang melangkah mendekati ranjang adiknya, Gilang dan Darka pun memberikan ruang pada Ayahnya itu.


Kini Erland sudah berdiri tepat di hadapan putranya. Tangannya membelai lembut rambut putranya lalu mencium keningnya.


Setelah itu Erland menggenggam tangan putra bungsunya itu dan menciumnya berulang kali.


"Darren. Maafkan Papa, sayang. Papa.. Papa ingin menjelaskan tentang Mamamu. Mama kandungmu. Papa mohon, kamu jangan percaya dengan semua yang diucapkan oleh pria bajingan itu saat di acara Pameran lukisan. Itu semuanya tidak benar, sayang." Erland berbicara dengan berlinang air mata.


Erland menangis. Dirinya berharap jika putra bungsunya dari istri pertamanya yaitu Belva percaya padanya.


"Papa mohon, sayang! Percayalah pada Papa, Nak! Papa tidak pernah mengkhianati Mamamu. Papa sangat mencintai Mamamu." Erland terisak ketika berbicara dengan putranya.


Mereka semua yang mendengar penuturan dan isak tangis Erland ikut merasakan kesedihan. Mereka semua juga menangis.


Sementara Darren, tatapan matanya hanya fokus ke depan. Di dalam hatinya, Darren tidak tega melihat Ayahnya menangis. Darren ingin sekali memeluk Ayahnya. Namun karena egonya, Darren harus menahan hasratnya untuk memeluk Ayahnya itu.

__ADS_1


"Apa Tuan pikir aku adalah kalian?" Ucap Darren dingin.


Mereka yang mendengar penuturan dari Darren terkejut. Mereka semua tidak menyangka jika Darren menyebut kata 'Tuan' untuk Ayahnya sendiri. Darren enggan untuk memanggil Ayahnya dengan sebutan 'Papa'.


"Darren, sayang. Jangan seperti itu, Nak! Bagaimana pun orang yang kau panggil Tuan itu adalah Papa kandungmu sayang!" seru Emma menasehati Darren.


"Iya, Nak! Dia adalah Papamu. Baik buruknya, dia tetaplah Papamu. Kau tidak boleh seperti itu, sayang." Evelyn juga ikut membujuk Darren.


"Bibi tahu perasaanmu dan juga rasa sakitmu! Tapi mau sampai kapan kamu seperti ini? Apa sudah tidak ada ruang di hatimu untuk Papa, Mama dan juga saudara-saudaramu?" ucap dan tanya Bella.


"Ayolah, sayang! Berdamailah dengan hatimu, lawan egomu dan maafkanlah mereka. Bibi sangat yakin pasti di hatimu saat ini ingin sekali memeluk Papamu kan?" Revina berbicara lembut sembari menatap wajah tampan Darren.


"Kami semua yang ada disini bukannya ingin ikut campur dalam masalahmu dengan keluargamu, Nak! Kami semua bicara seperti ini karena kami sudah menganggapmu sebagai putra kami sendiri, bagian dari keluarga kami. Kami benar-benar menyayangimu!" seru Yocelyn.


"Iya, sayang. Kami semua menyayangimu," sela Sophia.


Darren hanya diam saja mendengar ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh Ibu dari para sahabatnya untuknya. Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.


Mereka yang melihat Darren yang menangis menjadi tidak tega. Hati mereka benar-benar sakit saat melihat Darren menangis, terutama anggota keluarganya.


"Apa anda pikir aku adalah kalian yang percaya begitu saja dengan perkataan orang lain? Aku bukanlah kalian. Aku adalah Darren. Aku tidak akan segampang itu percaya dengan ucapan orang lain. Apalagi orang yang tidak aku kenal sama sekali. Sebelum aku mempercayai perkataannya, aku akan terlebih dahulu mencari semua bukti-bukti tersebut. Tidak seperti kalian!" teriak Darren sembari menatap tajam kearah Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky dan Adnan. Jangan lupakan air matanya makin deras mengalir.


"Saat itu kalian semua langsung percaya dengan apa yang kalian lihat dan dengan apa yang kalian dengar. Kalian memakiku, kalian memarahiku, kalian membentakku, kalian menghinaku. Bahkan kalian mencapku sebagai pembunuh dan juga seorang monster yang kejam. Bahkan dengan teganya mengatakan hal yang sangat menyakitkan untukku yaitu kalau aku memanipulasi keadaan agar aku terhindar dari tuduhan, seakan-akan usahaku untuk membawa kakak Darka dan Melvin ke rumah sakit tidak ada artinya sama sekali. Bukan hanya itu saja. Kalian juga melakukan kekerasan padaku. Kalian memukuliku dan juga menamparku!" teriak Darren dengan tatapan amarahnya.


Darren kembali menatap wajah anggota keluarganya dengan wajah yang kacau, wajah yang basah dan juga mata yang memerah. Tatapan matanya kini fokus pada Ayahnya. Darren menatap sendu wajah Ayahnya itu.


"Sekarang katakan padaku. Apa kalian masih pantas aku maafkan? Apa aku harus mempercayai semua perkataanmu tentang Mama kandungku, walau nyatanya aku sudah tahu semua kebenarannya!" teriak Darren dengan tatapan penuh kekecewaan dan amarah.


DEG!


Mereka semua terkejut saat mendengar penuturan dari Darren. Mereka tidak menyangka jika Darren sudah mengetahui tentang Belva, ibu kandungnya.


"Jadi kamu sudah...." ucapan Erland terhenti.


"Iya. Aku sudah tahu semuanya. Aku tahu kalau istrimu itu bukan Mamaku. Dia adalah adik perempuan Mamaku," jawab Darren.


"Pantasan saja saat saat diacara Pameran lelang lukisan itu Darren bersikap biasa saja," batin Davin.


"Jadi ini alasan Darren, kenapa Darren sikapnya sangat tenang saat diacara Pameran lelang lukisan itu. Darren tidak terpancing akan ucapan pria brengsek itu," batin Andra.


"Sejak kapan kamu tahu kalau Mama Agneta bukan Mama kandung kita?" tanya Davin.


"Sejak kapan aku mengetahuinya, itu bukanlah hal yang penting. Dan jangan kalian berpikir aku akan memberitahu kalian semua. Aku tidak akan memberitahu kalian dari mana aku mengetahuinya," jawab Darren dengan nada ketus dan juga sinis.


"Dan untuk anda, Nyonya Agneta." Darren menatap wajah Agneta dengan air matanya yang masih setia mengalir. "Kau tahu, Nyonya. Awalnya aku tidak mempedulikan statusmu sebagai ibu tiriku. Bagaimana pun statusmu, kau tetaplah Mamaku. Kau Mamaku sekaligus Bibiku. Kau adalah adik kesayangan Mamaku. Dan kau juga sangat menyayangi dan menghormatinya. Bahkan aku juga tahu apa alasan kalian berdua menikah."


Agneta dan Erland menatap sendu wajah Darren. Mereka berdua menangis.


"Sayang," lirih keduanya.


"Kalian menikah karena permintaan dan permohonan dari Mama. Mama yang sudah meminta kalian untuk menikah. Mama melakukan hal itu agar putra-putranya dijaga dan dirawat dengan baik oleh kalian agar putra-putranya mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya, karena saat itu putra-putranya masih kecil-kecil, termasuk aku. Umurku saat itu masih satu tahun. Bahkan aku belum mengenal sosok Mama kandungku. Dan aku juga tahu apa alasan Mama meminta kalian menikah. Karena... karena." Darren langsung terisak.


Melihat Darren yang sudah terisak. Gilang dan Darka langsung memeluknya.


"Sudah, Ren! Jangan diteruskan. Kakak tidak sanggup melihat kamu seperti ini," hibur Darka.

__ADS_1


Darka dan Gilang benar-benar tidak sanggup melihat keadaan adiknya saat ini. Adiknya kembali teringat atas apa yang telah diterimanya dari keluarganya.


__ADS_2