
Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan saat ini berada di kantin. Sedangkan kedua kakak-kakaknya sudah berada di kelas. Untuk Brenda, Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania juga berada di kelas.
Untuk kelas Darren lagi kosong. Maka dari itulah Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya berada di kantin.
"Apa rencana kamu sekarang, Ren?" tanya Dylan.
"Makan," jawab Darren sembari memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Mendapatkan jawaban yang tak mengenakkan dari Darren membuat Dylan mendengus.
"Lo hoby banget ngajak ribut gue, Ren!" ucap Dylan kesal.
Darren tidak mempedulikan ucapan dan nada kesal Dylan. Justru Darren saat ini tengah menikmati makan siangnya.
Sementara Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel dan Jerry tersenyum melihat kelakuan Darren dan wajah kesal Dylan. Memang satu hari ini Dylan dibuat kesal akan sikap Darren.
Puk!
Puk!
Axel dan Jerry menepuk pelan bahu Dylan sembari memberikan ketenangan dan ketabahan dalam menghadapi kelakuan jelek sahabat kelincinya.
"Harap dimaklumi," ucap Jerry.
"Orang sabar di sayang setan."
Axel berbicara tapi tatapan matanya menatap kearah Qenan ketika menyebut kata 'setan'.
"Nyebut kata setannya jangan liat ke gue, sialan!"
"Hehehe." Axel hanya cengengesan.
^^^
Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya berada di kelas. Saat ini mereka tengah mengerjakan beberapa tugas yang belum mereka selesaikan di rumah.
Untuk mempersingkat waktu dan tidak ingin membuang-buang energi pikiran, ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda lebih memilih menyalin semuanya dari tugas-tugas Brenda.
Melihat kelakuan ketujuh sahabat-sahabatnya membuat Brenda menghela nafas pasrahnya. Mau marah tapi nggak tegaan. Dibiarkan, dirinya yang kelelahan sendiri.
"Aish! Kalian ini," kesal Brenda.
Sedangkan Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania hanya memperlihatkan senyuman termanis mereka di hadapan Brenda.
Ketika Brenda, Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania tengah mengerjakan tugas-tugasnya. Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda datang mengganggu.
Brakk!
Pamela menggebrak meja yang ditempati oleh Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya sehingga membuat Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya terkejut. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
"Mau ngapain lagi sih mereka?" batin Brenda.
__ADS_1
Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya tak menghiraukan kedatangan teman-temannya Jessica. Justru Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya tetap melanjutkan mengerjakan tugas-tugas mereka.
Melihat Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya bersikap biasa saja membuat Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda marah.
Janet dan Lori tiba-tiba merampas buku tugasnya Felisa dan Vania. Dan detik kemudian, Janet dan Lori merobek-robek buku tersebut.
Melihat apa yang dilakukan oleh Janet dan Lori membuat Felisa dan Vania marah. Mereka tidak terima bukunya dirobek-robek gitu aja sama Janet dan Lori.
Felisa dan Vania langsung berdiri. Dan detik kemudian...
Felisa dan Vania langsung mendorong kuat tubuh Janet dan Lori sehingga punggung keduanya menghantam sudut meja. Akibat dorongan itu membuat Janet dan Lori berteriak kesakitan.
"Berani sekali kalian merobek-robek buku kita berdua!" teriak Vania.
"Kalian pikir buku-buku itu dibeli pake duit orang tua kalian, hah!" teriak Felisa.
Melihat Janet dan Lori didorong oleh Felisa dan Vania. Dan mendengar teriakan kesakitan dari keduanya membuat Arianna, Kelly, Kathy, Pamela dan Wanda menatap marah kearah Felisa dan Lori.
Arianna dan Pamela kemudian menyerang Felisa dan Vania. Namun dengan gesitnya tangan Brenda dan tangan Alice langsung mencekal tangannya Arianna dan tangannya Pamela.
"Nyerang ketika lawan lengah itu perbuatan buruk," ucap Brenda.
"Biarkan saja itu menjadi urusan mereka. Kita nonton saja disini," sela Alice.
Arianna dan Pamela menarik tangannya hingga terlepas. Baik Arianna maupun Pamela menatap tajam Brenda dan Alice.
"Brengsek! Kedua teman lo itu udah nyakitin kedua teman gue!" bentak Pamela.
"Itu salah mereka sendiri. Kan teman-teman lo yang nyari masalah duluan," jawab Brenda dengan santainya.
"Nggak usah berlagak seakan-akan kalian itu korban disini," ejek Elsa.
"Orang-orang juga pada tahu siapa korban dan siapa tersangkanya," pungkas Milly.
Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda menatap tajam Brenda, Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania.
"Sebelum kalian semua kuliah disini. Hidup kita-kita semuanya tenang!" bentak Arianna.
"Hidup kalian semuanya tenang disaat tidak ada kami. Tapi hidup para mahasiswi disini seperti di neraka karena ada kalian," ejek Tania.
"Kalian selalu membully mahasiswi-mahasiswi disini tanpa belas kasihan," ujar Lenny.
"Jadi apa yang kalian alami dan kalian rasakan setelah kedatangan kami ke kampus ini itu adalah karma," ucap Alice.
"Kalian berpikir jika semua orang itu bisa kalian bully, termasuk kita-kita. Nyatanya pikiran kalian itu salah. Kita bukan cewek-cewek yang lemah. Dan kita nggak akan diam aja menerima setiap bullyan dari kalian," sahut Vania.
"Mending kalian cabut dari sini. Dan kembali ke kandang kalian. Dari pada disini buat semua yang ada disini mau muntah melihat tampang jijik kalian," ucap Felisa dengan kejamnya.
Mendengar perkataan kejam dari Felisa membuat Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda menggeram marah. Mereka tidak terima atas perkataan dari Felisa.
Pamela hendak menampar wajah Felisa. Dan dengan gerakan cepat. Felisa langsung menangkap tangan Pamela, lalu memelintirnya.
__ADS_1
"Aakkhhh!"
Pamela berteriak merasakan kesakitan di pergelangan tangannya akibat dipelintir oleh Felisa.
"Pamela!" teriak Arianna, Kelly, Kathy, Janet, Lori dan Wanda.
Brenda, Alice, Elsa, Milly, Vania, Lenny dan Tania tersenyum mengejek kearah Pamela dan teman-temannya.
Felisa menyudahi kegiatannya. Setelah itu, Felisa mendorong kasar tubuh Pamela sehingga tubuh Pamela mengenai meja.
"Sudah. Pergi sana. Ngapain masih disini. Enek tahu," sahut Milly.
Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda menatap nyalang Brenda, Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania.
"Aku peringatkan kepada kalian. Menjauhlah dari Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya," sahut Arianna.
"Hahahahaha."
Brenda, Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania tertawa keras.
"Kenapa kami harus menjauh dari para kekasih kami. Kalian bukan siapa-siapa mereka!" seru Brenda, Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania bersamaan.
"Udah sana pergi. Ngapain masih disini," usir Brenda.
"Awas kalian," ucap Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda bersamaan.
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kelasnya Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
^^^
Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya telah selesai urusannya di kantin. Kini Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah melangkahkan kakinya menuju kelas, karena hari ini adalah materi sejarah. Baik Darren maupun ketujuh sahabat-sahabatnya memutuskan untuk mengikuti materi kuliah sejarah.
Sejam yang lalu Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tidak mengikuti materi kuliah bahasa mandarin. Mereka dengan kompaknya menyuruh teman-teman sekelasnya untuk meminta izin kepada dosen pembimbing. Dan dengan kompaknya juga semua teman-teman sekelasnya langsung mengabulkan keinginan mereka itu.
Ketika Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah melangkahkan kakinya menuju kelas. Darren tak sengaja melihat gadis yang saat itu hampir tertabrak oleh kakaknya.
Seketika Darren menghentikan langkahnya dengan tatapan matanya terus menatap gadis itu yang kini sedang berjalan kearahnya.
"Hei, kau. Kita bertemu lagi," sapa gadis itu kepada Darren. Sementara Darren menatap gadis itu dingin dan datar.
"Dimana kelasnya Gilang?" tanya gadis itu.
"Ada urusan apa kau mencari kakakku?" tanya Darren balik.
"Itu bukan urusan kamu," jawab gadis itu ketus.
"Oh iya? Kalau begitu cari aja sendiri. Itu bukan urusanku," jawab Darren.
Setelah itu, Darren pergi meninggalkan gadis itu dan disusul oleh ketujuh sahabat-sahabatnya.
Mendengar ucapan dari Darren dan melihat kepergian Darren membuat gadis itu marah.
__ADS_1
"Sial," ucap gadis itu menatap marah kearah Darren.
Setelah itu, gadis itu pun pergi untuk mencari keberadaan Gilang.