
Darren masih berada di rumah sakit. Dan hari ini adalah hari kelima Darren di rawat di rumah sakit.
Baik Celsea maupun seluruh anggota keluarganya sepakat menahan Darren di rumah sakit. Tujuan mereka semua adalah supaya Darren mendapatkan perawatan dan pengawasan dari pihak rumah sakit, salah satunya dari Celsea sendiri selaku Dokter.
Mereka juga sepakat untuk menahan diri agar tidak terpancing, terpengaruh. Bahkan lulus setiap Darren meminta pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07:30 malam. Darren saat ini sedang tertidur setelah makan malam dan meminum obatnya.
Saat ini yang menemani Darren adalah Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
Sementara anggota keluarga lainnya masih berada di tempat masing-masing. Jika di rumah kemungkinan sedang bersiap-siap akan ke rumah sakit. Jika masih di perusahaan kemungkinan akan dalam perjalanan pulang ke rumah. Dan bisa juga mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Kakak Adrian, aku lapar!" seru Melvin.
Mendengar keluhan dari adiknya, Adrian melirik jam yang ada di tangan kirinya.
"Sudah setengah delapan malam. Udah waktunya makan malam," ucap Adrian pelan.
Adrian menatap satu persatu keempat adiknya. "Ya, sudah! kakak akan keluar membeli makan malam untuk kita. Kalian jaga kakak Darren,"
"Baik, kakak Adrian!" jawab Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.
Setelah itu, Adrian pun pergi meninggalkan keempat adiknya untuk membeli makan malam untuk dirinya dan untuk adiknya.
Sepuluh menit kepergian Adrian, tiba-tiba seseorang membuka pintu ruang rawat Darren.
CKLEK!
Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin langsung melihat seorang perawat perempuan masuk.
"Maaf mengganggu, tuan!"
"Ya, ada apa?" tanya Mathew selaku saudara tertua diantara keempatnya.
"Bisa ikut saya sebentar ke ruang Dokter. Dokter yang memeriksa pasien ingin menyampaikan sesuatu mengenai kondisi pasien."
Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin saling lirik. Mereka juga saling memberikan kode.
"Kakak Mathew saja," ucap Ivan.
"Tapi...." perkataan Mathew terpotong.
"Aku akan menemani kakak Mathew," ucap Ivan.
"Baiklah," jawab Mathew.
Setelah itu, Mathew menatap kearah perawat itu.
"Saya dan adik saya ini akan ikut dengan anda," ucap Mathew.
"Oh, baiklah kalau begitu. Mari ikut saya!"
Mathew melihat kearah Nathan dan Melvin. "Jaga kakak Darren. Tinggal kalian berdua di ruang ini. Jangan kemana-mana apapun keadaannya. Jika kalian mau pergi. Setidaknya tunggu yang lainnya datang dulu. Mengerti!"
"Mengerti kakak Mathew," jawab Nathan dan Melvin bersamaan.
Setelah itu, Mathew dan Ivan pergi meninggalkan ruang rawat Darren mengikuti perawat tersebut untuk menuju ruangan Dokter.
^^^
Di tempat lain di rumah sakit yang sama dimana ada beberapa orang yang sedari tadi mengintai dan mengawasi kearah ruang rawat Darren. Mereka memperhatikan sekelilingnya.
__ADS_1
Setelah semuanya dalam keadaan aman. Barulah mereka akan masuk ke dalam ruang rawat Darren.
"Kalian sudah siap?" tanya salah satu dari keempat orang itu.
"Sudah sejak kemarin persiapan kami," jawab kedua wanita itu.
"Ayo, kita masuk!"
Dan keempat manusia itu melangkah menuju ruangan rawat Darren.
^^^
Melvin berdiri dari duduknya. Melihat adik tiba-tiba berdiri. Nathan pun langsung melihat kearah adik laki-lakinya itu.
"Mau kemana?"
"Ke kamar mandi bentar. Mau melapor."
"Oh."
Setelah itu, Melvin melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dan kini tinggal Nathan sendiri yang duduk di samping ranjang Darren.
Tanpa disadari oleh Nathan. Pintu ruang rawat Darren di buka secara berlahan-lahan sehingga tidak menimbulkan suara pintu tersebut.
Setelah pintu ruang rawat Darren terbuka. Keempat manusia itu melangkah masuk ke dalam.
Setiba mereka di dalam. Mereka dikejutkan dengan salah satu adik Darren yang duduk di samping ranjang Darren.
"Sial. Masih ada orang ternyata," ucap seorang pria.
Salah satu dari mereka berlahan mendekati Nathan.
Dan detik kemudian....
Pria itu memukul bagian leher belakang Nathan sehingga membuat Nathan langsung tak sadarkan diri.
Setelah korbannya tak sadarkan diri. Pria itu dengan kasarnya mendorong kasar tubuh Nathan hingga kening Beomgyu terbentur sudut dinding.
BRUUKKK!
JEDUKK!
Melihat tidak ada lagi pengganggu. Keempat manusia itu mendekati ranjang Darren dengan menatap wajah Darren penuh amarah dan juga kebencian.
"Hei, Darren. Aku datang. Kedatanganku kali ini adalah untuk membunuhmu. Kau sudah melukai Papaku, kau sudah membuat kedua kakiku lumpuh. Dan kau juga sudah membuat kedua orang tuaku kehilangan segalanya." wanita itu berbicara dengan penuh amarah.
Wanita itu adalah Helena Orlando. Helena datang bersama dengan ibunya dan kedua Pamannya.
Helena membuka selimut yang menutupi tubuh Darren. Setelah selimut itu terbuka, Helena melihat baju Darren bagian bawah tersingkap sehingga memperlihatkan perban yang menempel di pinggang Darren.
Helena tersenyum menyeringai ketika melihat itu. Helena yakin jika luka yang di pinggang Darren tersebut belum pulih seratus persen. Bahkan bisa dibilang masih rawan.
Helena sudah tahu kondisi kesehatan Darren selama ini. Salah satunya adalah Darren yang memiliki masalah di jantungnya.
Helena berlahan mengarahkan tangan kanannya untuk menekan kuat luka yang ada di pinggang Darren. Sementara salah satu pamannya hendak memukul kuat dada kiri Darren.
Namun ketika keduanya hendak menyakiti Darren, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan seseorang. Tak terkecuali Darren.
"Siapa kalian?!" teriak Melvin.
Ketika Melvin keluar dari kamar mandi. Melvin langsung berteriak ketika ada empat orang yang sudah berdiri di dekat ranjang kakak kesayangannya. Bahkan dua dari empat orang itu akan menyakiti kakaknya itu.
__ADS_1
Melvin juga terkejut ketika melihat kakaknya yang lain yaitu Nathan dalam keadaan tak sadarkan diri di lantai.
"Kakak Nathan!" teriak Melvin.
Helena, ibunya dan kedua pamannya langsung melihat kearah Melvin. Mereka menatap marah kearah Melvin.
Tanpa mereka sadari Darren langsung membuka kedua matanya ketika mendengar teriakan kedua dari adiknya.
Darren melihat ke arah Nathan yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
Melihat kondisi adiknya yang tergeletak di lantai dengan darah yang keluar dari kepalanya membuat amarah Darren keluar.
Darren menatap keempat orang yang ada di hadapannya yang kini tengah menatap marah ke arah adiknya yang lain.
DUUAAGGHH!
Darren tanpa memikirkan luka di pinggangnya langsung menendang kuat punggung salah satu paman dari Helena sehingga membuat pria itu terhuyung ke depan.
SREEKK!
"Aakkhhh!" Helena tiba-tiba berteriak sembari memegang lehernya. Lebih tepatnya sesuatu benda yang saat ini mencekik kuat lehernya.
"Helena!" teriak Riana ketika melihat putrinya yang dicekik dengan menggunakan tali infus oleh Darren.
Yah! Darren mencabut paksa infus dari tangannya, lalu melilitkan tali infus itu ke leher Helena dengan sangat kuat.
"Menjauhlah dari adikku atau kalau tidak perempuan murahan ini mati di tanganku," ucap Darren dengan menatap penuh amarah.
"Aakkhh!" teriak Helena yang merasakan tali infus itu makin kencang mencekik lehernya.
Mendengar teriakan Helena membuat pria yang ingin mendekati Melvin akhirnya menjauh dari Melvin.
"Melvin, periksa Nathan!"
"Baik, kakak Darren."
Melvin langsung berlari menghampiri Nathan yang saat ini dalam keadaan tak baik-baik saja.
"Kakak Darren. Darahnya banyak sekali!" teriak Melvin yang sudah menangis melihat kondisi Nathan.
Mendengar teriakan dan ucapan dari Melvin membuat Darren menjadi kalap. Darren makin menarik kuat selang infus yang mencekik leher Helena.
"Aakkhhh!" teriak Helena.
"Lepaskan putriku, brengsek! Apa kau ingin membunuhnya, hah?!"
"Kenapa? Apa kau takut jika aku akan membunuh putrimu yang murahan ini, hah?! Bukankah kalian datang kesini juga ingin membunuhku, hum?" Darren tersenyum di sudut bibirnya.
BRAAKK!
Pintu ruang rawat Darren dibuka paksa oleh seseorang. Setelah itu, masuklah tujuh pemuda tampan dan satu gadis cantik ke dalam ruang rawat Darren sembari berteriak.
"Darren!"
Mereka adalah Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan dan Darel dan Brenda.
Mereka semua menatap tajam kearah Helena, ibunya dan kedua pamannya Helena.
"Wah! Nekat juga kau Helena. Apa kau tidak takut mati, hah?! ucap dingin Qenan.
"Oh, Tuhan! Nathan!" teriak Axel ketika melihat Nathan yang tak sadarkan diri dengan luka di kepala di pelukan Melvin. Axel langsung menghampiri Nathan dan Melvin.
__ADS_1
Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel dan Brenda melihat kearah Nathan dan Melvin.