
Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel sudah berada di kelasnya. Begitu juga dengan Brenda, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Milly, Lenny dan Tania.
Darren juga sudah bercerita tentang gadis yang memeluknya di halaman kampus kepada Brenda. Begitu juga kepada ketujuh sahabatnya dan ketujuh sahabat Brenda.
Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel dan teman-teman sekelas saat ini tengah mengerjakan beberapa tugas yang diberikan oleh dosennya.
Sementara dosennya saat ini kembali ke kantor karena ada rapat sedikit dengan rektor dan para dosen lainnya.
"Selesai!" seru Darren.
Setelah mengatakan itu, Darren merentangkan kedua tangannya keatas.
Melihat apa yang dilakukan Darren. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel tersenyum. Begitu juga teman-teman sekelasnya.
Semua teman sekelasnya sangat menyukai kepribadian Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel. Salah satunya adalah kebaikannya.
Baik teman sekelasnya maupun semua mahasiswa dan mahasiswi mengenal Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel dengan kebaikannya.
Mereka semua sangat menghargai dan menghormati Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel. Tak pernah mereka sekali pun mencari masalah dengan Darren maupun dengan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel. Apalagi memusuhi mereka semua.
Bagi mereka semua, Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel seperti dewa penolong untuk mereka semua. Mereka selalu datang tepat waktu disaat mereka dibully oleh mahasiswa yang berstatus sebagai keponakan dari rektor. Dan juga ketika mereka dibully oleh kelompoknya Jessica. Walaupun kenyataannya ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang tak menyukai mereka.
Darren berdiri dari duduknya. Dirinya hendak ke toilet mau melapor.
"Mau kemana?" tanya Axel ketika melihat Darren yang tiba-tiba berdiri.
"Melapor," jawab Darren.
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel saling memberikan tatapan bingung. Setelah itu, mereka kembali menatap wajah Darren.
"Melapor? Maksudnya?" tanya Dylan.
"Ke toilet. Kenapa? Mau nemenin? Kebetulan aku butuh teman nongkrong disana," ucap dan tanya Darren sembari menarik turunkan alisnya.
Mendengar ucapan dan pertanyaan dari Darren. Dylan mengalihkan perhatiannya kearah lain.
"Ih, Najis! Pergi sendiri sana," usir Dylan.
"Yey! Tadi nanya. Sekarang ngusir. Nggak jelas lu kurus," jawab Darren.
Setelah mengatakan itu, Darren pun pergi meninggalkan kelasnya untuk menuju toilet.
Dylan yang mendengar ucapan dari Darren menyumpah serapah sahabat kelincinya itu.
Sementara Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry dan Axel tertawa kencang. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
^^^
Gilang saat ini berada di toilet. Setelah selesai dengan urusannya, Gilang langsung memutuskan untuk kembali ke kelas.
Namun ketika Gilang ingin melangkah meninggalkan toilet dan baru sepuluh langkah, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.
Tanpa membuang waktu lagi, Gilang langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Valen. Ada apa?"
"Kamu dimana sayang?"
"Dimana lagi kalau bukan di kampus. Kenapa? Udah kangen ya?"
"Ih, tahu aja. Oh iya, sayang! Aku ke kampus kamu ya. Aku akan minta kakak aku buat antar aku kesana. Setelah itu, kita pergi jalan-jalan. Kamu mau nggak?"
"Tentu. Apa yang tidak buat kamu?"
"Benarkah?"
"Iya."
__ADS_1
"Yakin?"
"Yakin."
"Kamu nggak ada acara lainkan?"
"Nggak. Aku sedang kosong hari sampai dua hari ke depannya. Kalau pun ada acara hari ini atau besok. Aku akan batalkan dan lebih memilih kamu."
Mendengar jawaban dari Gilang. Valen yang di seberang telepon tersenyum menyeringai. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika rencananya beberapa bulan ini berjalan lancar. Valen mengira bahwa dia sudah menaklukkan Gilang sepenuhnya.
"Terima kasih ya sayang! Aku bahagia memiliki kamu. Kamu selalu ada untuk aku."
"Sama-sama."
Setelah itu, baik Gilang mau Valen sama-sama mematikan panggilannya.
Setelah itu, Gilang kembali melangkahkan kakinya untuk kembali ke kelas.
Namum lagi-lagi langkahnya terhenti ketika mendengar suara dari seseorang. Dan Gilang mengenal suara tersebut.
"Eemm. Sepertinya tanda-tanda ada yang mau berkhianat nih!"
Darren menatap wajah Gilang dengan tatapan marahnya.
"Darren, kamu!"
"Iya, ini aku. Kenapa? Kakak Gilang kaget ya," jawab Darren.
Gilang tersenyum mendengar ucapan dari adik kesayangannya itu, lalu kakinya melangkah mendekati kesayangannya yang saat ini sedang bersandar di dinding dengan tatapan matanya menatap dirinya.
Setelah berdiri di hadapan adiknya itu. Gilang membelai lembut kepalanya agar adiknya itu tidak marah lagi terhadap dirinya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, hum? Dan kenapa kamu bisa berpikiran jelek tentang kakak?"
"Habis aku kesal akan perkataan kakak Gilang barusan. Kakak Gilang akan ada waktu untuk cewek gila itu. Sementara untukku dan keluarga, kakak Gilang nggak akan ada waktu sama sekali. Bahkan kakak Gilang seenaknya bilang jika kakak Gilang akan membatalkan acara denganku atau dengan yang lain demi gadis gila itu."
Gilang memegang kedua bahu Darren. Matanya menatap tepat di manik coklat adiknya itu.
"Sekarang lihat kakak," sahut Gilang.
Darren pun langsung menatap manik hitam kakaknya itu.
"Dengarkan kakak. Bukannya kita sudah membahas masalah ini sebelumnya, hum?"
"Iya. Aku tahu. Tapi...."
"Kakak mengerti akan ketakutan kamu terhadap kakak. Percayalah! Semuanya akan baik-baik saja. Dan semuanya akan berjalan sesuai apa yang kita inginkan."
Gilang menarik tubuh adiknya ke dalam dekapannya, lalu memeluk tubuhnya itu erat. Gilang tahu bahwa adiknya saat ini benar-benar takut jika semua yang mereka bahas dan mereka rencanakan tidak berjalan sesuai yang mereka inginkan.
"Aku takut, kakak Gilang!"
"Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah!"
Tanpa Gilang dan Darren ketahui. Seseorang menguping pembicaraan mereka itu. Orang itu menatap Gilang dan Darren dengan tatapan sedih dan juga takut.
Orang itu telah mendengar apa yang dibicarakan oleh Gilang dan Darren.
Sama hal seperti Darren. Orang itu juga merasakan ketakutan jika apa yang direncanakan oleh keduanya mengalami kegagalan.
Setelah mendengar pembicaraan Gilang dan Darren, orang itu pun pergi. Niat awalnya orang itu ingin ke toilet. Namun niatnya terhenti ketika melihat dan mendengar pembicaraan Gilang dan Darren.
^^^
Di kelas Brenda, Elsa, Alice, Vania, Felisa, Milly, Lenny dan Tania tampak heboh saat ini dimana Brenda dan ketujuh sahabatnya tengah diserang dengan Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda.
Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda menyerang Brenda dan ketujuh sahabatnya karena telah mengganggu usaha mereka buat dekatin Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel.
__ADS_1
"Dasar wanita murahan!"
Plak!
Arianna menampar keras wajah Tania sehingga membuat Tania meringis.
"Tania!" teriak Brenda, Elsa, Alice, Vania, Felisa, Milly dan Lenny.
Brenda, Elsa, Alice, Vania, Felisa, Milly dan Lenny menatap tajam Arianna.
Ketika Brenda, Elsa, Alice, Vania, Felisa, Milly dan Lenny ingin membantu Tania. Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda menghalanginya.
"Kalian disini saja!" seru Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda bersamaan.
Tania menatap marah kearah Arianna. Dirinya tidak terima jika ada orang yang berani menamparnya selain kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya. Itu pun jika dirinya bersalah.
Tapi sekali pun dirinya bersalah, kedua orang tua dan kedua kakak laki-lakinya itu tidak akan main tangan terhadap dirinya.
"Lo berani nampar gue, hah?!" teriak Tania.
"Emangnya lo siapa? Gue nggak takut sama lo. Lo tuh hanya wanita murahan, wanita rendahan dan wanita nggak tahu diri!" bentak Arianna.
Mendengar hinaan demi hinaan yang diberikan oleh Arianna membuat Tania menjadi murka.
Datik kemudian.
Duagh!
Seketika Tania memberikan tendangan kuat tepat di perut Arianna sehingga membuat Arianna berteriak kesakitan sambil meremat perutnya akibat tendangan tak main-main dari Tania.
Sementara Brenda, Elsa, Alice, Vania, Felisa, Milly dan Lenny bersorak heboh dan tertawa.
"Aakkhhh!"
Tubuh Arianna terhuyung ke belakang. Wajahnya berubah membiru akibat kesulitan bernafas karena tendangan di perutnya membuatnya susah bernafas.
Melihat apa yang dilakukan oleh Tania terhadap Arianna membuat Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda terkejut dan juga syok. Mereka tidak menyangka jika Tania akan melakukan itu terhadap Arianna.
Bukan hanya Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda saja yang menatap ngeri Tania. Bahkan seisi kelas juga menatap ngeri kearah Tania. Begitu juga si anak baru yang beberapa jam yang lalu memeluk Darren.
"Lo nyebut gue sebagai wanita murahan, wanita rendahan dan wanita nggak tahu diri. Apa gue nggak salah dengar, hah? Yang murahan itu lo. Yang rendahan itu lo. Dan yang nggak tahu diri itu juga lo!" teriak Tania.
"Lo yang ngejar-ngejar Jerry. Padahal Jerry nggak suka sama lo. Jerry udah berusaha baik dan lembut saat nolak lo. Tapi lo masih aja ngejar-ngejar dia. Bahkan lo juga tahu bahwa gue dan Jerry udah jadian. Tapi lo masih aja ngejar-ngejar Jerry. Sekarang gue tanya sama lo. Siapa yang murahan disini?!" bentak Tania.
Tania ingin balik menyerang Arianna. Namun Brenda langsung memeluk tubuh Tania.
"Udah, Tan! Lawan lo udah nggak bisa apa-apa. Bukan sifat kita yang nyerang lawan yang udah nggak berdaya."
"Tapi dia udah ngehina aku, Brenda! Aku nggak terima," sahut Tania.
"Iya. Aku tahu. Tapi ingat! Dia ngatain kamu wanita murahan. Itu artinya dia sebenarnya nggak ngatain kamu. Tapi justru dia tengah ngatain dirinya sendiri. Kan dia yang selalu ngejar-ngejar Jerry. Dia yang selalu berusaha menghancurkan hubungan kamu dan Jerry." Brenda masih berusaha membujuk Tania.
Elsa, Alice, Vania, Felisa, Milly, dan Lenny menghampiri Brenda dan Tania. Mereka juga ikut membujuk dan menghibur Tania.
"Yang dikatakan Brenda benar, Tan! Udah ya. Jangan nyerang dia lagi. Dia udah nggak berdaya sekarang," ucap Felisa.
"Coba lihat noh," sela Alice.
Tania melepaskan pelukannya Brenda dan matanya langsung menatap kearah Arianna.
"Wajahnya udah pucat. Kemungkinan bentar lagi dia mati," ucap Elsa asal.
"Hust!" Brenda langsung memberikan pelototan kepada Elsa.
Mendapatkan pelototan dari Brenda. Elsa hanya memperlihatkan senyuman manisnya.
Setelah itu, Brenda menarik tangan Tania untuk pergi meninggalkan kelas. Dan diikuti oleh Elsa, Alice, Vania, Felisa, Milly dan Lenny di belakang.
__ADS_1