
Darren melepaskan pelukannya dari Gilang dan Darka. Dan setelah itu, Darren menatap wajah kedua kakaknya itu.
"Tidak apa-apa, kak. Biarkan aku melanjutkannya agar mereka tahu kesalahan mereka padaku."
"Mama meminta kalian untuk menikah karena saat itu Mama sedang sakit keras dan umur Mama tidak akan lama lagi. Mama melakukan hal itu semata-mata hanya untuk kebahagiaan suami dan ketujuh putra-putranya, terutama aku. Aku terlahir berbeda dengan kalian. Kalian lahir dengan keadaan yang sehat. Sementara aku terlahir dengan kondisi yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Aku memiliki masalah di jantungku. Aku memiliki jantung yang lemah. Mama menitipkan putra-putranya pada adik perempuannya. Mama meminta agar adik perempuannya menyayangi putra-putranya seperti menyayangi putra-putranya sendiri. Mama juga meminta pada adik perempuannya agar memberikan kasih sayang dan perhatian lebih untukku karena aku yang paling lemah. Dan aku bersyukur adik perempuan Mama melakukan tugasnya dengan baik. Menjadi Ibu yang baik untukku. Maka dari itulah, aku tidak mempedulikan statusnya karena aku benar-benar menyayanginya."
"Namun rasa sayangku berubah menjadi benci dimana saat pertama kalinya perempuan yang aku sayangi, perempuan yang aku banggakan, perempuan yang selalu ada di hatiku, perempuan yang sudah merawatku dan membesarkanku telah memperlakukanku sangat buruk. Dia menamparku hanya karena aku bersikap kasar pada putra-putranya yang lain. Padahal dia tahu dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana putra-putranya memakiku, menghinaku, memukuliku. Tapi dia hanya diam saja. Ketika aku membalas putra-putranya, dia marah dan langsung menarik tanganku dan akan memberiku hukuman. Kemudian aku memberontak dan berkata kasar padanya. Justru aku mendapatkan tamparan keras darinya. Dari situlah, kebencianku muncul. Dan aku bersumpah tidak akan pernah sudi menyebut kata Mama untuknya. Hanya ada satu Mama di hatiku, dia adalah Mama kandungku Belva Carlise Garcia. Dan mulai detik ini namaku adalah Darrendra Garcia."
"Tidak! Darren, maafkan Mama sayang. Maafkan Mama. Mama tahu kesalahan Mama sangat besar padamu. Mama tahu Mama telah melanggar janji Mama pada Mamamu. Tapi Mama mohon sayang, berikan kesempatan Mama untuk memperbaiki semuanya. Mama mohon, nak! Jangan hukum Mama seperti ini." Agneta seketika menangis histeris ketika mendengar perkataan dari Darren. Dirinya tidak ingin dibenci oleh putranya itu.
GREP!
Agneta langsung memeluk tubuh Darren dan menangis dipelukan putranya itu. "Mama mohon jangan hukum Mama seperti ini, sayang! Mama akan melakukan apapun asal kamu mau maafkan Mama." Agneta berucap terisak.
Erland yang melihat Agneta memeluk putranya. Bahkan putranya itu tidak memberontak sama sekali, dirinya pun ikut ke dalam pelukan tersebut. Erland memeluk erat tubuh putra dan istrinya. Dan terdengar suara isakan dari keduanya. Sementara Darren hanya diam tanpa membalas pelukan tersebut. Namun air matanya mengalir begitu saja membasahi wajahnya.
Mereka semua yang melihatnya adegan tersebut ikut menangis. Di dalam hati mereka masing-masing. Mereka berharap Darren mau memaafkan kedua orang tuanya.
Namun beberapa detik kemudian...
"Lepaskan," ucap Darren.
"Biarkan seperti ini untuk beberapa detik lagi, sayang." Erland berucap lirih.
"Aku bilang lepaskan. Apa kalian berdua ingin membunuhku?!" teriak Darren.
Seketika Erland dan Agneta melepaskan pelukan mereka. Dan dapat mereka lihat. Begitu juga dengan yang lainnya, Darren yang kini terengah-engah.
"Aahh.. aahh.. aahh.."
"Sayang. Maafkan Papa, Nak!" Erland membelai rambutnya.
"Sayang, Maafkan Mama," lirih Agneta yang merasa bersalah sembari menggenggam tangan putranya.
"Sejak kapan kalian menjadi liar seperti ini, hah?! Tadi sibantet dan sialien yang memelukku kekencangan. Sekarang Papa dan Mama. Apa kalian memang benar-benar ingin melenyapkanku dari dunia ini?" ucap dantanya Darren dengan nada kesal.
Tanpa sadar Darren baru saja menyembut kata Papa dan Mama. Dan disertai bibir yang dimanyunkan.
Mendengar ucapan dari Darren. Apalagi saat Darren menyebut kata Papa dan Mama. Hal itu sukses membuat Erland dan Agneta bahagia.
Walau mereka tahu Darren menyebutnya tanpa sadar. Namun bagi mereka adalah hal yang sangat istimewa. Mereka tahu bahwa putranya tidak benar-benar membencinya.
"Bibi Celsea. Izinkan aku pulang, ya. Ini sudah dua hari aku di rumah sakit. Besok adalah uji coba mobil-mobilku dan aku harus ikut dalam pengujian itu."
"Tapi kamu...." ucapan Celsea terhenti.
"Aku mohon, Bibi. Aku janji pada Bibi. Bibi tidak akan mendengar kabar dari sikurus itu tentang keadaanku. Aku akan jaga kesehatan tubuhku dan aku juga janji kali ini jantungku tidak akan kambuh. Aku mohon, Bibi!"
TAK!
"Aww! Axel, kenapa kau menjitakku sialan?"
"Masih berani bertanya, hah?! Apa mau lagi?" tanya Axel yang tangannya siap untuk menjitak kening Darren kembali.
__ADS_1
"Jauhkan tanganmu itu." Darren langsung menepis tangan Axel.
Darren kembali melihat kearah Celsea. "Bibi sayang. Bibiku yang paling cantik dari bibi bibiku yang lainnya. Boleh, ya." Darren memperlihatkan wajah memelasnya.
Sementara yang lainnya hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum gemas melihat wajah memelas Darren. Wajahnya yang imut, manis dan menggemaskan. Itulah yang dipikirkan oleh mereka.
"Sesuai dengan perkataanmu. Bibi izinkan kau pulang. Jika sampai masuk ke rumah sakit lagi, maka kau akan dirawat selama satu minggu." Celsea berbicara dengan nada mengancam.
Saat Darren ingin berbicara, Celsea sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Ini bukan sekedar ucapan atau ancaman, anak kelinci! Tapi Bibi akan benar-benar melakukannya," ucap Celsea sarkas.
"Hahahaha."
Mereka semua tertawa saat mendengar Celsea yang menyebut anak kelinci untuk Darren.
"Wah, Bibi! Aku kagum pada, Bibi! Bibi memberikan nama yang sangat bagus untuk sitengil ini," ejek Qenan.
"Bahkan namanya sangat cocok untuk sikeras kepala ini. Anak kelinci. Hahahaha." Willy berucap dengan tawa khasnya.
"Bagaimana kalau kita ganti saja namanya menjadi anak kelinci? Namanya bukan Darren lagi. Jadi mulai hari ini dan seterusnya kita akan panggil dengan sebutan anak kelinci," sahut Jerry.
"Iya, ya! Kami setuju!" seru Axel, Dylan, Rehan dab Darel bersamaan.
"Hahahaha." mereka kembali tertawa.
"Ya, silahkan! Setelah itu kalian akan mendapatkan surat pemecatan dan surat pemutusan hubungan persahabatan dariku," jawab Darren.
"Eheeemm." Ziggy berdehem saat melihat Darren yang sedang tersenyum bahagia.
Darren yang mendengar suara deheman langsung melihat keasal suara tersebut. Seketika mata Darren membulat sempurna saat melihat lima sahabat-sahabat mafianya sekaligus kakak-kakak baginya. Sementara kelima sahabat mafianya itu memasang wajah sangar.
"Hehehehe. Kalian ada disini juga, kak."
"Iya. Kenapa?" tanya Noe.
"Sejak kapan?"
"1000 tahun yang lalu," jawab Ziggy asal.
Darren membelalakkan matanya dan bibir membentuk huruf o saat mendengar jawaban dari Ziggy.
"Berarti kalian sudah lama disini. Pantesan saja wajah-wajah kalian udah pada tuir," sahut Darren.
Kini mereka yang membelalakkan matanya saat mendengar ucapan dari Darren. Sementara yang lainnya tertawa pelan saat mendengar penuturan dari Darren.
"Dasar siluman kelinci sialan. Beraninya kau mengatai kami ini sudah tua, hah!" sahut Enzo kesal.
"Aku tidak menyebut kalian sudah tua. Aku hanya mengatakan bahwa wajah-wajah kalian itu sudah tuir," protes Darren.
"Itu sama saja, bodoh." Chico menjawab perkataan Darren dengan kesal.
"Beda," jawab Darren.
__ADS_1
"Dari mana bedanya. Itu kata-katanya sama Dodol," ujar Enzo.
"Sama dari mana. Yang satu tua dan yang satunya lagi tuir. Sekarang katakan padaku. Dimana letak kesamaannya," ucap dan tanya Darren.
Darren memang sengaja menjahili kelima sahabat mafia sekaligus kakak-kakaknya itu. Sudah lama juga dirinya tidak menjahili kelimanya.
"Tidak ada gunanya berdebat dengan anak kelinci ini. Percuma! Kita akan tetap kalah. Anak kelinci ini sangat pintar memainkan pikiran kita," Ucap Devian kesal.
Sedangkan Darren tersenyum kala mendengar ucapan dari Devian.
"Tuh! Kalian lihatkan bagaimana senyuman manisnya saat aku memujinya," ucap Devian lagi.
Mereka yang melihat Darren tersenyum hanya bisa pasrah dan geleng-geleng kepala.
"Dasar siluman kelinci sialan," umpat mereka secara bersamaan.
"Terima kasih pujiannya, kakak-kakakku yang tampan dan juga tuir," jawab Darren yang masih menjahili kelima kakak-kakak mafianya.
"Darren." mereka semua menggeram kesal dengan menatap horor Darren.
"Hahahaha." tawa Darren pun pecah.
***
[KEDIAMAN DARREN]
Darren pulang ke rumahnya. Awalnya Darren tidak ingin Gilang dan Darka ikut bersamanya. Namun karena mereka terus memaksa dan juga memohon. Akhirnya Darren pun mengalah dan mengajak kedua kakaknya itu pulang ke rumahnya.
Saat mereka melangkah masuk menuju ruang tengah, tiba-tiba Gilang melihat foto ibu kandungnya yang terpajang di dinding ruang tengah.
"Mama," ucap Gilang terisak.
Mendengar isakan Gilang sembari menyebut kata Mama membuat Darka, Darren dan yang lainnya menjadi sedih.
Gilang melangkahkan kakinya dan mendekati foto ibunya itu agar bisa lebih jelas menatapnya. Darka mengikutinya dari belakang. Sementara Darren dan yang lainnya tetap diam di tempat.
"Mama, maafkan Gilang. Maafkan Gilang yang sudah menyakiti Darren. Maafkan Gilang yang ikut menuduh dan tidak mempercayai Darren saat itu. Jangan marahi Gilang ya, Ma! Jangan benci Gilang. Gilang merindukan Mama. Gilang menyayangi Mama. Mama tahu tidak, sekarang ini hubunganku dan Darren sudah kembali membaik. Darren sudah memaafkan Gilang. Gilang benar-benar bahagia. Gilang janji sama Mama. Apapun yang terjadi, Gilang akan selalu ada untuk Darren. Gilang tidak akan pernah ninggalin Darren. Gilang akan berusaha untuk menjadi kakak yang baik untuk Darren. Oh iya, Mama! Saat ini Gilang dan Darka berada di rumah Darren. Rumah Darren sangat besar dan indah. Kalau Mama masih hidup. Mama pasti akan bangga pada Darren. Diusia Darren yang sekarang. Darren sudah berhasil memimpin tiga Perusahaan sekaligus." Gilang berbicara di hadapan foto ibunya dengan air matanya yang mengalir membasahi wajah tampannya.
"Mama. Darka rindu Mama. Maafkan Darka. Jika saat itu Darka tidak koma dan Darka cepat sadar mungkin Papa, Mama Agneta, kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky, kakak Adnan dan Gilang tidak akan memarahi Darren, membentak Darren, menuduh Darren, memukul dan menampar Darren sehingga Darren tidak akan pergi meninggalkan rumah. Sama seperti Gilang. Darka akan berusaha menjadi kakak yang baik untuk Darren. Darka akan selalu ada untuk Darren. Sekali pun Darka memiliki Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Tapi bagi Darka, Darren adalah yang utama. Darren adalah adik kandung Darka. Sedangkan mereka hanya adik tiri Darka. Darka mengaku salah sama Mama. Dulu Darka juga sempat melupakan Darren, mengabaikan Darren hanya demi kelima adik tiri Darka. Saat itu Darka benar-benar tidak menyadarinya. Mama, Maafkan Darka." Darka menangis terisak kala berbicara di hadapan foto ibunya.
Sementara Darren sudah menangis ketika mendengar penuturan dari kedua kakaknya itu. Dirinya benar-benar bersyukur saat ini. Kedua kakaknya telah kembali padanya.
"Mama," lirih Darren.
"Ren," lirih para sahabatnya dan para kakak-kakak mafianya.
GREP!
Ziggy menarik tubuh Darren ke dalam pelukannya. "Jika ingin menangis. Menangislah. Jangan ditahan. Keluarkan semua rasa sedih dan rasa sakit yang masih tersimpan di dalam hatimu, Ren!"
Dan seketika tangis dan isakan Darren pun terdengar. Darren menangis terisak di pelukan Ziggy.
Mereka yang mendengar tangisan dan isakan Darren merasakan sesak di dada mereka masing-masing.
__ADS_1