KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Hampir Terungkap


__ADS_3

[Di Kediaman Wilson]


Pagi hari Brenda terbangun dengan perasaan yang nyaman dan lebih tenang. Sinar mentari pagi masuk melewati celah jendela kamarnya yang masih tertutup rapat.


Perlahan disibaknya selimut yang menutupi pinggang hingga kaki, lalu turun menapakkan kakinya melangkah menuju jendela kamar dan membukanya lebar.


Dingin rasanya, saat kakinya bersentuhan langsung dengan lantai kamar. Udara sejuk kita Jerman terasa begitu menyejukkan dan menyenangkan hatinya, menyerbu masuk meniupkan hawa segar yang menyehatkan paru-parunya.


Brenda merentangkan kedua tangannya ke atas, dipejamkannya matanya sesaat. Brenda bisa bernapas lega setelah semalaman dia tertidur dengan nyenyak selesai mengerjakan tugas-tugas kampusnya yang melelahkan.


Setelah membersihkan diri, Brenda keluar menuju balkon. Brenda menghirup udara pagi dengan memejamkan matanya dan merentangkan kedua tangannya ke atas.


"Ach, segarnya!" seru Brenda.


Setelah pusa berdiri di balkonnya sambil melihat pemandangan indah kota Jerman. Brenda pun memutuskan untuk turun ke bawah.


Brenda menuruni anak tangga sembariĀ  mengingat rambutnya yang berantakan.


"Kakak Brenda udah bangun," sapa Raya ketika melihat kakak perempuannya melangkah menuju ruang makan.


Brenda tersenyum menatap adik perempuannya.


"Iya, Raya cantik."


Mendengar jawaban dari kakak perempuannya. Raya tersenyum.


"Kamu udah bangun, sayang?" tanya Liana pada putri kelimanya.


"Iya, Mama! Aku telat bangun karena aku tidurnya kemaleman habis nyelesain tugas-tugas kampus," jawab Brenda.


"Jaga kesehatan kamu. Jangan begadang tiap malam," ucap Rangga.


"Iya, kak Rangga."


"Usahakan juga ngerjain tugas-tugas kampusnya pagi atau siang disaat kamu masih di rumah. Nanti sisanya baru selesaikan malam. Jadi kamu nggak akan tidur kemaleman," ucap Maura menasehati adik perempuannya.


"Iya, kak Maura sayang."


Mendengar jawaban dari Brenda membuat Maura tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.


Dan setelah itu, mereka pun memulai sarapan paginya.


"Kak Rangga, kak Barra." Brenda memanggil kedua kakak laki-lakinya.


"Ada apa?" tanya keduanya.


"Bagaimana penyelidikan kak Rangga dan kak Barra akan kecelakaan yang menimpa Papa? Apa kakak Rangga dan kakak Barra sudah mendapatkan bukti dan pelakunya?" tanya Brenda.


"Belum," jawab Rangga dan Barra bersamaan.


"Terakhir anak buah kakak mengatakan mereka membutuhkan waktu satu bulan untuk penyelidikan tersebut karena kecelakaan yang menimpa Papa sudah lama sekali," sahut Barra.


"Lalu bagaimana dengan kamu?" tanya Maura.


"Aku belum dapat kabar dari anggotaku. Tapi katanya akan segera menghubungi jika mendapatkan petunjuk," jawab Brenda.


"Oh iya. Aku lupa memberitahu kalian!" seru Brenda.


Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya langsung melihat kearah Brenda.


"Ada apa, sayang?" tanya Liana.


"Iya, Brenda. Ada apa?" tanya Riana.


"Kemarin sepulang aku dari kampus. Aku bertemu dengan tante Megan. Dan tante Megan ada di negara ini."


Mendengar jawaban dari Brenda membuat mereka semua terkejut, terutama Liana.


"Beneran tante kamu ada di negara ini sayang?" tanya Liana.

__ADS_1


"Iya, Mama."


"Tapi kenapa tante kamu itu nggak ngabari Mama?" tanya Liana lagi.


"Tante Megan bilang padaku bahwa dia baru sampai di Jerman kemarin. Lalu tante Megan istirahat dulu di Apartemen. Di hari yang ketiga barulah tante Megan akan kesini," jawab Brenda.


Mendengar jawaban dari Brenda. Liana dan anak-anaknya yang lain mengangguk paham.


"Memang ada acara? Setahu kita tante Megan itu sibuk. Tante Megan itu jarang punya waktu untuk leha-leha. Bahkan waktu untuk dirinya sendiri nggak ada," ucap Riana.


"Benar tuh!" seru Maura, Rangga, Barra dan Raya.


"Tante Megan ada proyek besar di negara ini. Jadi rencana tante Megan selama tante Megan di negara ini. Tante Megan akan sering-sering mengunjungi kita. Tante Megan bilang jika tante Megan rindu sama kita semua, terutama sama Mama." Brenda berbicara sembari menjelaskan pertemuannya dengan Megan kemarin.


Megan adalah adik perempuan dari ayahnya Brenda yang tinggal di Australia. Megan begitu menyayangi Liana, kakak iparnya. Begitu juga dengan keenam keponakannya.


Dikarenakan Megan mendapatkan tender besar di negara Jerman. Megan sudah berencana untuk menghabiskan waktunya bersama Liana dan keenam keponakannya.


***


Darren dan keluarganya saat ini berkumpul di ruang tengah. Baik Darren maupun anggota keluarganya menghabiskan waktu bersama dikarenakan hari ini adalah hari minggu.


"Kak Gilang," panggil Darren.


Gilang yang tengah fokus dengan ponselnya langsung melihat kearah adiknya.


"Ya, Ren. Ada apa, hum?" tanya Gilang.


"Apa kakak Gilang masih ingat sama kejadian kemarin?" tanya Darren.


Mendengar pertanyaan dari Darren membuat Darren dan yang lainnya langsung menatap Darren.


"Darren, sayang. Kejadian apa maksud kamu, Nak?" tanya Erland khawatir.


Darren melihat kearah ayahnya dan dapat Darren lihat tersirat kekhawatiran di wajah ayahnya itu.


Ketika Darren ingin menjawab pertanyaan dari ayahnya. Gilang bersuara terlebih dahulu.


Mendengar perkataan dari Gilang membuat semuanya terkejut, kecuali Darren dan Darka.


"Gilang, ada apa? Ceritakan pada kami," ucap dan tanya Andra.


"Kemarin ketika aku, Darka dan Darren dalam perjalanan ke Kampus. Seseorang nyeberang gitu aja tanpa melihat kiri kanan sehingga aku reflek nginjak rem mobilku. Dan ketika kita keluar. Perempuan itu kesakitan sembari memegang lututnya," jawab Gilang.


"Oh, Tuhan! Untung kamu cepat menginjak rem mobilmu, Nak! Mama nggak tahu apa yang bakal terjadi sama perempuan itu," ucap Agneta.


"Yaelah, Mama! Kenapa Mama harus memikirkan hal itu. Kalau perempuan itu beneran ketabrak udah jelas pasti matilah. Kalau sudah mati tinggal dikubur aja," sahut Darka tanpa beban sama sekali.


Mendengar perkataan dari Darka. Mereka semua geleng-geleng kepala. Tidak habis pikir dengan perkataan Darka.


Gilang melihat kearah adiknya. Dapat dilihat oleh Gilang ada raut khawatir disana.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu, hum?" tanya Gilang.


Mereka semua menatap wajah Darren. Mereka semua ingin tahu kenapa Darren menanyakan hal itu kepada Gilang, terutama Gilang.


"Sebenarnya... Sebenarnya aku curiga dengan perempuan itu kak Gilang. Apalagi aku sempat melihat wajah perempuan itu saat sedang bersama kakak ketika kakak menanyakan keadaannya," jawab Darren.


"Sekarang katakan pada kak Darka. Kecurigaan apa yang kamu rasakan ketika menatap wajah perempuan itu?" tanya Darka.


"Aku merasakan bahwa perempuan itu sengaja melakukannya. Tujuannya hanya satu," jawab Darren.


"Apa?" tanya mereka semua secara bersamaan.


"Ingin mendapatkan kakak Gilang. Dan menjadikan kakak Gilang sepenuhnya menjadi miliknya," jawab Darren lagi.


DEG!


Mereka mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari Darren. Yang paling terkejut disini adalah Gilang.

__ADS_1


"Dan yang membuat aku makin curiga adalah wajah perempuan itu familiar sekali. Aku sepertinya pernah bertemu dengannya. Tapi aku lupa dimana dan kapan," ucap Darren.


Darren menatap wajah Gilang. Melihat tatapan Darren kearah Gilang membuat mereka semua paham. Darren saat ini tengah mengkhawatirkan Gilang.


"Apa kakak Gilang mau mendengarkan aku?" tanya Darren.


"Apa? Katakan, sayang. Apapun yang kamu katakan dan apapun yang kamu inginkan. Kakak akan mematuhinya," ucap Gilang dengan kesungguhan hatinya.


Gilang tahu jika adiknya itu mengkhawatirkan dirinya. Dan Gilang tidak ingin membuat adiknya itu khawatir padanya sehingga berimbas pada kesehatan jantungnya.


Gilang sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga kesehatan jantung adiknya itu.


"Aku minta sama kakak untuk berhati-hati dan waspada pada perempuan itu jika nanti kakak kembali bertemu dengannya. Kakak bersikap biasa saja. Tapi ingat! Kakak jangan sampai terpedaya."


"Baiklah! Kakak akan mengingat semua apa yang kamu katakan."


Darren menatap semua anggota keluarganya satu persatu. "Ini bukan hanya untuk kakak Gilang. Untuk kalian juga. Berhati-hatilah ketika kalian sedang berada di luar rumah. Waspada setiap kalian beradaptasi dengan beberapa orang. Terkadang kebaikan kita akan disalah artikan. Dan bahkan bisa menjadi bumerang untuk kita."


Mendengar perkataan dari Darren. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren. Kebanyakan orang akan menggunakan wajah polosnya dan kelemahannya untuk mendapatkan apa yang diinginkan.


"Baik, sayang."


"Baik, Ren!"


"Baik. Kakak Darren!"


Ketika mereka tengah membahas tentang perempuan yang hampir tertabrak oleh Gilang, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.


Darren yang mendengarnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Ketika ponselnya sudah berada di tangannya. Darren melihat nama 'Andrean' salah satu temannya dan juga teman dari ketujuh sahabatnya.


Tanpa membuang waktu, Darren langsung menjawab panggilan dari Andrean.


"Hallo, Andrean. Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku minta?"


"Sepertinya kau sudah tidak sabaran ya?" ledek Andrean di seberang telepon.


"Kau sudah tahu jawabannya, saudara Andrean."


"Hahahaha." Andrean tertawa mendengar jawaban dari Darren.


"Aku butuh jawaban dan juga informasi itu. Bukan tawa jelekmu, Andrean!"


"Oke... Oke! Begini, pertama aku mau minta maaf terlebih dahulu karena aku belum mendapatkan nama dan wajah dari pelaku atas kecelakaan yang menimpa ayahnya Brenda. Tapi aku mendapatkan fakta bahwa pelaku dari kecelakaan ayahnya Brenda adalah orang disekitarnya."


"Maksud kamu pelaku atas kecelakaan ayahnya Brenda tak jauh-jauh dari orang disekitar Brenda dan keluarganya?"


"Iya. Lebih tepatnya pelaku itu masih memiliki hubungan keluarga."


Mendengar jawaban dari Andrean membuat Darren benar-benar terkejut.


"Kalau aku boleh tahu. Dari pihak mana?"


"Dari pihak ibunya Brenda."


"Kamu yakin?"


"Iya, kenapa?"


"Setahu aku ibunya Brenda yatim piatu. Itupun Brenda yang menceritakannya padaku. Ibunya Brenda itu anak tunggal. Kekayaan milik kedua orang tua dari ibunya Brenda jatuh ke tangan ibunya Brenda."


"Untuk lebih jelasnya lagi. Kau tanyakan langsung kepada Brenda."


"Baiklah. Aku akan bertanya kepada Brenda."


"Oke. Beritahu aku jika kau sudah mengetahui siapa orang itu."


"Baiklah."

__ADS_1


Setelah itu, baik Darren maupun Andrean sama-sama mematikan teleponnya.


__ADS_2