
Darren saat ini sedang berkumpul dengan anggota keluarganya di ruang tengah. Mereka semua menghabiskan waktu bersama disana.
"Erica kemarin menghubungi aku," sahut Darren.
Mendengar ucapan dari Darren, semuanya langsung melihat kearah Darren.
"Yang benar sayang?" tanya Erland.
"Iya, Papa!"
"Erica bilang apa sayang?" tanya Agneta.
"Banyak sih. Tapi satu hal yang buat aku kaget."
"Apa itu Darren?" tanya Andra.
"Erica bilang padaku kalau kakak Tristan kecelakaan di Amerika."
Mendengar perkataan Darren membuat mereka semua terkejut.
"Terus bagaimana keadaan Tristan sekarang? Apa dia baik-baik saja?" tanya Dzaky.
"Erica bilang kakak Tristan baik-baik saja. Tidak ada luka serius. Kakak Tristan hanya mengalami luka lecet di kening dan lengan," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Erland, Agneta dan putra-putranya yang lain bernafas lega.
"Ach, syukurlah. Papa senang mendengarnya."
Gilang menatap wajah adik laki-lakinya itu. Dia ingin menanyakan soal perkataannya ketika berbicara didepan semua orang di acara ulang tahun perusahaan Accenture kemarin.
"Ren," panggil Gilang.
"Kenapa manggil-manggil," jawab Darren tanpa melihat kearah kakak laki-lakinya itu.
"Kok gitu jawabnya?" tanya Gilang.
"Nggak tahu. Pengen aja," jawab Darren asal.
Mendengar jawaban asal dari Darren membuat Gilang menghela nafasnya. Sementara Erland, Agneta dan yang lainnya hanya tersenyum.
"Tadinya kakak niatnya mau belikan kamu susu pisang," ucap Gilang pelan.
Darren yang mendengar ucapan dari kakaknya itu seketika membulatkan matanya. Darren langsung melihat kearah kakak laki-lakinya itu.
"Kakak Gilang." Darren memanggil Gilang dengan suara yang begitu lembut.
Mereka yang melihat wajah memelas dan mendengar suara lembut Darren tersenyum. Darren seketika berubah menjadi anak kecil berusia 5 tahun.
"Kakak Gilang yang paling tampanĀ di keluarga Smith. Lihat dong kesini," ucap Darren lagi.
__ADS_1
Gilang yang sedari menahan senyumannya mendengar panggilan lembut dan manja dari adikkesayangannya seketika langsung melihat kearah adiknya itu.
Darren yang melihat reaksi dari kakak kesayangannya itu tersenyum lebar.
"Kakak Gilang jadikan belikan susu pisang untukku?" tanya Darren.
"Memangnya kapan kakak akan belikan susu pisang untuk kamu? Kakak nggak ada tuh janji mau belikan," jawab Gilang.
"Tadi barusan kakak Gilang ngomong gitu."
"Kamu salah dengar kali," balas Gilang tersenyum melihat wajah memelas adiknya itu.
Seketika Darren mempoutkan bibirnya mendengar jawaban dari kakaknya itu.
***
Di sebuah Apartemen terlihat seorang gadis cantik sedang mengerjakan sesuatu. Kathleen sedang membuat laporan keuangan perusahaan dan juga beberapa tugas kampusnya.
Gadis itu adalah Kathleen tanpa ada embel-embel marga Johnson di belakang namanya. Kathleen telah melepaskan marga itu ketika keluar dari rumah tersebut.
Ketika Kathleen tengah sibuk dengan tugas-tugasnya, tiba-tiba terdengar suara bell berbunyi.
Kathleen berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu utama Apartment miliknya.
Sebelum Kathleen membuka pintu Apartemennya, Kathleen terlebih dahulu melihat ke layar yang ada di dinding di sebelah pintu.
Seketika Kathleen tersenyum jahat ketika melihat mantan keluarganya atau dengan kata lain keluarga penipu telah berdiri di depan pintu Apartemennya.
"Mau apa kalian kemari, hum?" tanya Kathleen dengan bersandar di dinding.
Donita meraih gagang pintu Apartemen Kathleen. Niat wanita paruh baya itu hendak membukanya agar dia dan kedua anaknya bisa masuk ke dalam.
Namun pintu Apartemen itu tidak bisa dibuka. Dan yang bisa membukanya hanya Kathleen.
"Kenapa nyonya? Nggak bisa buka pintunya?" ejek Kathleen.
"Buka pintunya dan biarkan kami masuk!" bentak Donita.
"Wah, hebat sekali anda. Datang-datang ke tempat saya langsung marah-marah dan mengancam saya untuk membuka pintu Apartemen saya. Memangnya kalian siapa?!"
Mendengar ucapan dari Kathleen membuat Donita marah. Begitu juga dengan Safira dan Salman.
Plak!
Donita memberikan tamparan di pipi Kathleen.
"Dasar perempuan tidak tahu diri. Beginilah caramu berterima kasih padaku dan suamiku, hah!" bentak Donita.
Mendapatkan tamparan di pipinya membuat Kathleen benar-benar marah saat ini. Dia tidak terima diperlakukan seperti ini. Sudah cukup kesabarannya selama ini melihat perlakuan ketiga manusia di hadapannya ini kepadanya.
__ADS_1
Kathleen menatap nyalang wanita Donita. Dan detik kemudian...
Plak! Plak!
"Aakkhhh!"
Donita mendapatkan dua tamparan dari Kathleen sehingga membuat sudut bibirnya berdarah.
Melihat apa yang dilakukan oleh Kathleen membuat Donita, Safira dan Salman terkejut. Mereka tidak menyangka jika Kathleen akan membalas tamparan dari ibunya.
"Memangnya kau itu siapa, hah?! Jangan kau pikir kau lebih tua dariku. Kau bisa seenaknya denganku. Sudah cukup kesabaranku selama ini menghadapi kebusukan dan keburukan kalian! Sudah cukup aku selama ini diam dan menerima cacian dan makan kalian! Jangan kalian pikir aku akan diam selamanya, hah!"
Penghuni Apartemen yang berdekatan dengan Apartemen milik Kathleen keluar. Mereka semua mendengar keributan dan juga teriakan dari Kathleen.
"Apa yang kau bilang barusan? Aku perempuan tidak tahu diri. Dan tidak tahu cara berterima kasih padamu dan suamimu? Apa perlu aku sebut satu-satu, apa saja yang telah aku berikan padamu, suamimu dan kedua anak-anakmu ini selama aku tinggal bersama keluargamu!"
"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan sebutkan satu-satu disini biar semua orang yang ada di Apartemen ini tahu siapa kau dan keluargamu. Kau, suamimu dan kedua anakmu tidak bekerja alias pengangguran. Akulah yang bekerja. Aku yang menafkahi kalian semua, aku yang memberikan uang buat kalian makan, aku yang memberikan kalian uang untuk membeli kebutuhan pribadi kalian. Dan aku juga yang membayar sewa rumah setiap bulan. Sementara rumah itu bukanlah rumah yang kalian sewa, melainkan rumah itu adalah rumah milikku yang diberikan oleh ayah angkatku yang tak lain adalah Bos dari suamimu yang bernama Arman."
Deg!
Donita, Safira dan Salman terkejut ketika mendengar perkataan terakhir dari Kathleen. Mereka tidak menyangka jika Kathleen tahu tentang kepemilikan rumah itu.
"Ja-jadi kau..." Donita berucap terbatas dan gugup.
"Iya. Aku sudah tahu semuanya. Kenapa? Apa kalian terkejut, hum?"
"Da-dari mana...." perkataan Donita terpotong.
"Kau tidak perlu tahu aku tahu dari mana. Bahkan kau memiliki niat busuk selama ini. Uang sewa yang aku berikan padamu setiap bulan tidak pernah kau gunakan. Kau menyimpan uang itu. Tujuanmu adalah untuk menyewa seorang pengacara. Kau ingin mengubah rumah itu menjadi milikmu."
Donita, Safira dan Salman kembali terkejut mendengar perkataan dari Kathleen.
"Dikarenakan rumah itu adalah milikku, makanya aku merebutnya. Setelah itu, aku menjualnya kepada keluarga kaya raya. Dan tujuan kedatangan kalian kemari untuk tinggal disini, bukan?! Jangan harap aku akan membiarkan kalian tinggal disini. Bukankah tujuan kalian sudah tercapai yaitu menginginkan aku pergi dari kehidupan kalian. Kenapa kalian justru datang kemari."
"Itu karena kau telah menjual rumah kami!" bentak Safira.
"Hei, nona! Ralat oke! Itu rumahku. Bukan rumahmu atau pun rumah orang tuamu. Jika saja kalian tidak licik dan tidak menipuku selama ini. Dan jika kalian bersikap baik padaku, maka kalian tidak akan kehilangan rumah itu."
Kathleen menatap nyalang Safira. Mendapatkan tatapan tajam dari Kathleen membuat nyali Safira menciut.
"Bagaimana kalau kita bermain sebuah permainan. Coba kalian hitung, berapa lama aku tinggal bersama kalian? Sudah berapa banyak uang yang aku berikan kepada kalian? Tolong kalian jumlahkan semuanya. Setelah itu, kembalikan semua uang-uang itu kepadaku. Jika kalian sanggup mengembalikan semua uang-uangku, maka aku akan mengembalikan rumah yang sudah aku jual itu. Atau kalau perlu, aku akan membeli rumah yang baru. Bagaimana? Sanggup?"
Mendapatkan tantangan dari Kathleen membuat Donita, Safira dan Salman seketika bungkam. Bagaimana bisa mereka mengumpulkan segitu banyak uang yang diberikan oleh Kathleen selama ini.
"Sekarang pergilah dari sini. Jangan pernah datang lagi kesini. Kalian tidak lupakan surat perjanjian yang sudah kalian tanda tangan. Dan kalian tidak lupakan jika aku akan melaporkan kalian ke polisi jika kalian kembali mengusik kehidupanku."
"Untuk hari ini aku memaafkan kesalahan kalian. Jika kalian datang lagi, maka polisi yang akan menyeret kalian dari sini."
Kathleen berbicara dengan menatap tajam Donita, Safira dan Salman.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun, ketiganya pun pergi meninggalkan Apartemen Kathleen.