
Helena menatap tak percaya kearah Brenda. Dirinya tidak menyangka jika Brenda adalah sahabat dekat dari Darren.
"Kau jahat Brenda. Kau tega menipuku selama ini," ucap Helena.
"Hahahahaha."
Seketika Brenda tertawa keras ketika mendengar perkataan Helena yang mengatakan bahwa dirinya jahat.
"Apa aku tidak salah dengar, hah?! Kau menyebutku wanita jahat. Kalau aku jahat, lalu kau pantasnya disebut apa? Oh iya, aku tahu! Kau lebih pantas disebut sebagai wanita murahan yang kerjaannya menggoda laki-laki yang kaya raya. Kau pergi setiap malam ke bar dengan memakai pakaian yang kurang bahan, lalu kau menggoda setiap laki-laki yang ada disana." Brenda berucap dengan penuh penekanan dan juga tatapan dinginnya.
Sementara Willy, Qenan, Jerry, Dylan, Rehan, Axel dan Darel menatap Brenda dengan tatapan kagum mereka masing-masing. Dan menatap jijik Helena.
Mendengar perkataan dan hinaan dari Brenda untuk putrinya membuat Riana langsung memberikan tamparan keras ke wajah Brenda.
PLAAKKK!
"Brenda!" teriak Darren, Willy, Qenan, Jerry, Dylan, Rehan, Axel dan Darel.
Brenda menatap marah kearah Riana ibunya Helena. Dirinya tidak terima jika perempuan yang ada di hadapannya ini berani menamparnya.
"Kau berani menamparku, hah?! Ibuku saja belum pernah sekali pun menamparku!" bentak Brenda tepat di depan wajah Riana.
"Terus kau mau apa? Apa kau ingin membalas tamparanku? Jika kau berani menamparku. Berarti ibumu itu adalah wanita yang paling buruk di dunia ini. Ibumu itu wanita yang tidak becus dalam mendidik anaknya. Apalagi anak sepertimu. Kau anak yang tidak bisa menghargai dan menghormati orang yang lebih tua darimu!" teriak Riana.
Brenda mengepalkan kuat kedua tangannya. Dirinya benar-benar marah jika ibunya disebut ibu yang terburuk di dunia.
"Ibumu itu hanya bisa menghabiskan uang ayahmu untuk keperluan yang tak penting sehingga tidak ada waktu mendidik anak-anaknya!" bentak Riana.
"Ibumu....."
PLAAAKKK!
"Aakkhhh!" teriak Riana merasakan perih di wajahnya akibat tamparan keras dari seseorang.
"Mama."
"Bibi Agneta."
Yang menampar Riana adalah Agneta. Agneta datang bersama suami dan anggota keluarga lainnya. Mereka masuk ke dalam ruang rawat Darren dengan pintu rawat Darren yang tidak tertutup. Dengan kata lain pintu ruang rawat Darren terbuka lebar.
Ketika mereka tiba di depan ruang rawat Darren dengan pintu yang terbuka lebar. Mereka mendengar keributan di dalam.
Agneta menghampiri Brenda dan Riana. Sementara Erland dan keenam putra-putranya menghampiri Darren yang masih berdiri di samping tempat tidurnya. Baik Erland maupun keenam putra-putranya menatap khawatir putranya/adiknya itu.
"Kamu baik-baikkan sayang?" tanya Erland dengan tangannya mengusap kepala putranya
"Aku baik-baik saja, Papa!" jawab Darren.
"Kamu yakin, hum?" tanya Andra yang juga mengusap kepala adiknya.
"Yakin, kakak Andra," jawab Darren lagi.
Darren menatap wajah Dzaky dan Adnan. Dzaky dan Adnan yang mengerti seketika tersenyum.
"Ada apa, hum?" tanya Adnan.
"Katakanlah," ucap Dzaky.
__ADS_1
"Pergilah ke ruangannya Bibi Celsea. Nathan di rawat disana," ucap Darren.
"Apa? Di rawat? Apa yang terjadi ketika kami tidak ada, Darren?" tanya Davin.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi kemungkinan besar para sampah itu telah melakukan hal yang buruk terhadap Nathan ketika aku sedang tidur. Kemungkinan Melvin tahu, karena ketika aku bangun hanya ada Melvin dan Nathan yang sudah tergeletak di lantai," jawab Darren.
"Lah Adrian, Mathew dan Ivan kemana? Kenapa mereka ninggalin Nathan dan Melvin?" tanya Gilang.
"Mereka sudah berada di ruangannya bibi Chelsea. Aku langsung menyuruh mereka kesana ketika mereka kembali," jawab Darren.
"Ya, sudah! Kami akan kesana," sahut Dzaky dan Adnan bersamaan.
Setelah itu, Dzaky dan Adnan pun pergi meninggalkan ruang rawat Darren untuk menuju ruangan Celsea.
"Wajar saja kelakuan putrimu sangat buruk. Kau saja yang berstatus sebagai seorang ibu tidak mencerminkan layaknya seorang ibu." Agneta berbicara dengan menatap marah Riana.
"Kau orang luar. Jadi jangan ikut campur!" bentak Riana sembari menunjuk wajah Agneta.
Agneta tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar perkataan Riana.
"Orang luar katamu. Hei, nyonya! Anda sadar tidak, hah! Anda saat ini berada dimana? Anda saat ini berada di rumah sakit. Dan anda berada di ruang rawat putra saya Darrendra Smith. Jadi yang orang luar itu adalah anda. Bukan saya!"
"Dan satu lagi nyonya Riana. Gadis yang baru saja anda tampar ini adalah calon menantu saya. Dengan kata lain gadis ini adalah calon istri dari putra saya Darrendra Smith!"
UHUUKK!
Darren dan Brenda sama-sama terbatuk ketika mendengar perkataan dari Agneta. Bahkan keduanya membelalakkan matanya menatap kearah Agneta. Baik Darren maupun Brenda, keduanya tampak syok.
Sementara Erland, Davin, Andra, Gilang, Darka, Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian. Serta Willy, Qenan, Jerry, Dylan, Rehan, Axel dan Darel tersenyum gemas dan juga geli ketika melihat reaksi yang menurut mereka begitu lucu dari Darren dan Brenda.
"Brenda sudah menjadi bagian dari keluarga Smith. Brenda itu adalah kekasih dari putra saya. Dan Brenda begitu mencintai putra saya. Jadi siapa pun yang berani menyakiti Brenda, maka orang itu akan berhadapan dengan saya."
"Brenda, apa benar kau mencintaiku." Darren berbicara di dalam hatinya sembari matanya terus menatap wajah Brenda.
Erland, Davin, Andra, Gilang, Darka, Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian tersenyum menatap wajah Darren yang saat ini tengah menatap wajah Brenda.
Erland kemudian mengusap lembut kepala belakang putranya.
"Brenda memang benar mencintaimu, sayang. Kita semua sudah tahu kalau Brenda itu begitu mencintai kamu."
Darren melihat wajah ayahnya. "Papa tahu dari mana? Bahkan Papa dan yang lainnya belum mengenal Brenda."
Erland, Davin, Andra, Gilang, Darka, Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian tersenyum mendengar perkataan dari Darren.
"Brenda sendiri yang mengatakan semuanya pada kami," sahut Carissa.
"Awalnya Brenda tidak ingin cerita. Tapi kita yang memaksanya. Lebih tepatnya Mama," ucap Davin.
Darren melangkah mendekati ibunya yang saat ini bersama Brenda. Setelah berada di dekat Brenda dan ibunya. Darren menatap lekat wajah Brenda, terutama manik coklat Brenda.
Brenda yang ditatap seperti itu seketika menjadi gugup. Baru kali ini Brenda ditatap oleh Darren seperti itu.
"Ngapain lo natap gue kayak gitu. Gue tahu kalau wajah gue ini cantik. Dan lo terpesonakan?"
Darren membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan terlalu percaya dirinya Brenda.
Detik kemudian....
__ADS_1
TAK!
Darren dengan seenaknya memberikan jitakkan gratis tepat di kening Brenda sehingga membuat Brenda meringis.
"Sifat lu gak pernah berubah dari dulu. Selalu saja membanggakan kecantikan di depan laki-laki. Udah berapa banyak laki-laki yang terpesona sama lu, hah?!"
Mendengar perkataan kejam dari Darren membuat Brenda mengumpat kesal.
"Gue hanya membanggakan kecantikan gue hanya di depan orang yang gue cintai. Jijik gue membanggakan kecantikan gue di depan laki-laki yang sama sekali nggak gue sukai," jawab Brenda.
"Eoh! Benarkah? Kalau gitu, sekarang kasih tahu gue siapa orangnya?" tanya Darren.
DEG!
Brenda seketika bungkam ketika Darren menanyakan cowok yang disukai oleh dirinya.
Melihat keterdiaman Brenda. Darren sekarang yakin bahwa Brenda benar-benar mencintainya. Ditambah lagi ketika dirinya mendengar perkataan dari anggota keluarganya yang mengatakan bahwa Brenda begitu mencintainya.
Darren tersenyum menatap wajah malu Brenda. Dirinya tahu jika Brenda saat ini berusaha membuang rasa malunya dan rasa deg-degan nya.
"Mau sampai kapan kau akan memendam perasaanmu itu terhadapku, Brenda?" batin Darren.
Setelah itu, Darren menatap wajah ibunya. "Mamaku sayang. Dengarkan perkataan putramu yang tampan ini ya. Aku tidak menerima penolakan untuk saat ini. Keadaan saat ini sangat genting. Jadi Mama harus mengikuti permintaanku."
Mendengar perkataan Darren yang begitu lembut, walau terkesan mengancam membuat mereka semua tersenyum gemas, kecuali Helena, ibunya Helena dan kedua Pamannya Helena.
Agneta mengusap lembut pipi putih putranya itu. "Baiklah, pangeran tampan Mama. Apa permintaanmu? Mama dengan senang hati mengabulkannya."
Darren tersenyum mendengar jawaban dari ibunya. Dan ketika Darren ingin membalas jawaban dari ibunya, tiba-tiba Nathan datang bersama Dzaky, Adnan, Adrian, Mathew, Ivan dan Melvin.
"Nathan," panggil Davin dan Andra bersamaan ketika melihat Nathan masuk terlebih dahulu.
Mereka semua melihat kedatangan Nathan bersama dengan Dzaky, Adnan, Adrian, Mathew, Ivan dan Melvin.
"Papa, Mama, Kakak!" Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Bagaimana lukanya?" tanya Erland sembari menyentuh dan mengusap luka yang ada di pelipis Nathan.
"Kata bibi Celsea tidak apa-apa. Hanya lecet sedikit saja," jawab Nathan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Gilang.
"Aku nggak tahu Kakak Gilang. Yang aku ingat ketika terakhir kepergian kakak Adrian, Kakak Mathew dan Ivan. Aku dan Melvin duduk di sampai ranjang kakak Darren. Dan beberapa menit kemudian, Melvin pamit mau ke kamar mandi. Dan tak lama setelah itu, seseorang memukul leher belakangku sehingga membuat aku pingsan." Nathan menjelaskan apa yang diingat olehnya.
Mendengar cerita dari Nathan membuat anggota keluarga Smith marah. Mereka semua marah karena berani mengusik anggota keluarga Smith.
"Terus kalian bertiga kemana dan kenapa pergi meninggalkan Nathan dan Melvin?" tanya Darka menatap wajah Adrian, Mathew dan Ivan.
Melvin yang melihat ketiga kakaknya akan dimarahi langsung membuka suara.
"Kakak Darka. Jangan marahi kakak Adrian, kakak Mathew dan kakak Ivan. Mereka bukan sengaja ninggalin Melvin dan kakak Nathan berdua saja. Kakak Adrian pergi membeli makanan untuk makan malam, karena kalian lama sekali datangnya. Kami sudah sangat lapar. Dan untuk Kakak Mathew dan kakak Ivan, mereka pergi ke ruangannya bibi Celsea. Ada perawat yang datang kesini dan meminta salah satu anggota keluarga dari kakak Darren. Katanya dokter yang memeriksa Kakak Darren ingin menyampaikan sesuatu. Makanya kakak Mathew yang pergi dan ditemani Kakak Ivan."
"Ternyata kami dibohongi. Setelah kami sampai di depan ruangnya bibi Celsea. Ada yang memukul kami dari belakang." Ivan yang berucap.
Mendengar cerita dari Melvin dan Ivan membuat Erland, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian marah.
"Brengsek!" umpat Davin.
__ADS_1
Davin benar-benar marah saat ini. Matanya menatap tajam kearah Helena, ibunya Helena dan kedua laki-laki yang berdiri tak jauh dari ibunya Helena.
Bukan hanya Davin saja yang menatap marah Helena, ibunya Helena dan kedua pamannya Helena. Anggota keluarganya dan ketujuh sahabat-sahabat Darren juga menatap tajam kearah Helena, ibunya Helena dan kedua pamannya Helena.