KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Keterkejutan Jerry Mendengar Suara Ramon


__ADS_3

Terdengar alunan musik menggema di sebuah club yang terkenal di kota Hamburg, Jerman. Club yang selalu ramai dikunjungi oleh para pebisnis untuk mencari kesenangan dan juga untuk menghilangkan rasa lelah akan pekerjaannya di kantor.


Di sofa besar yang terletak di sudut ruangan yang ada di dalam klub tersebut terlihat seorang pemuda tampan duduk sendirian. Pemuda itu hanya ditemani dengan tiga botol minuman di atas meja yang duanya botolnya sudah dalam keadaan kosong. Pemuda yang duduk sendirian itu adalah Darren.


Darren saat ini tidak sadar bahwa dia berada di club dan dalam keadaan setengah mabuk. Darren bisa berada di klub tersebut karena pikirannya yang sedang kacau. Moodnya sedang buruk sehingga otaknya tidak bisa berpikir jernih. Ditambah lagi, saat ini tubuhnya dikuasai oleh sosok Rendra.


Tanpa Darren/Rendra ketahui, ada sekitar 5 laki-laki yang sejak tadi memperhatikan dirinya. Kelima laki-laki itu menatap Darren dengan tatapan tak suka. Dua diantaranya menatap penuh dendam kearah Darren.


Flashback On


Braakk..


Darren menggebrak meja dengan keras ketika mendengar ucapan dari rekan bisnisnya. Darren tidak terima jika rekan kerjanya itu membatalkan kerjasama secara sepihak sementara proyek sedang berjalan.


"Anda tidak bisa seenaknya membatalkan kerjasama ini! Proyek yang kita jalankan baru tiga bulan. Saya sudah mengeluarkan uang sebesar USD$50.000. Apa anda pikir semua uang itu turun dari langit begitu saja! Apakah anda tidak berpikir berapa besar kerugian perusahaan saya?!" bentak Darren dengan tangannya menunjuk kearah rekan kerjanya itu.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Daren membuat laki-laki itu hanya tersenyum. Senyuman yang mengandung kelicikan dengan tatapan meremehkan.


"Maafkan saya tuan Darren. Tapi keputusan saya sudah bulat. Saya akan tetap mundur dari proyek ini. Silahkan cari orang lain untuk melanjutkannya. Kalau begitu saya permisi."


Laki-laki itu kemudian berdiri dari duduknya, lalu kakinya melangkah menuju pintu keluar.


Cklek..


Pintu ruang kerja Darren terbuka, dan kemudian laki-laki itu pun pergi meninggalkan Darren sendirian.


Namun tanpa disadari oleh laki-laki itu bahwa nyawanya dalam bahaya. Darren telah merencanakan sesuatu untuk membalaskan rasa sakit hati akan pengkhianatan yang dilakukan oleh rekan kerjanya itu.


***


Keesokan harinya dimana laki-laki itu sudah berada di parkiran perusahaan miliknya. Dia saat ini benar-benar bahagia karena sudah berhasil membuat rekan kerjanya kehilangan uang banyak akan proyek kerja sama tersebut.


Kakinya melangkah menuju pintu masuk perusahaannya dengan senyuman mengembang di bibirnya.


Namun detik kemudian..


DUUAAARRRR...


Seketika tubuh laki-laki terhempas ke belakang akibat ledakan yang tiba-tiba sehingga membuat perusahaannya hangus terbakar.


"Tidaaaaakkk!"


Laki-laki itu berteriak ketika melihat perusahaannya hangus terbakar akibat ledakan yang cukup dasyat. Tatapan matanya tak bergerak menatap kearah kobaran api yang melahap perusahaan yang sudah dia bangun dari nol dan sudah berdiri selama 8 tahun.


"Tidak.. Ini tidak mungkin. Perusahaanku," ucap laki-laki itu histeris.


Drrtt.. Drrtt..


Suara ponsel berbunyi. Laki-laki itu langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya di genggamannya, tatapan matanya melihat nomor ponsel yang sangat dia hafal pemiliknya.


Kemudian laki-laki itu langsung menjawab panggilan dari nomor tersebut dengan tangan yang bergetar.


"Bagaimana? Hadiah dariku menarik, bukan? Ini belum seberapa. Kau belum mengalami kerugian besar. Jika dihitung total kerugian yang kau alami masih setengah dari uangku yang habis untuk proyek tersebut. Jadi, dengan kau kehilangan perusahaan. Kau tidak akan bisa membangun perusahaan kembali. Aku pastikan, kau selamanya tidak akan bisa lagi menjadi pebisnis di dunia ini, kecuali berkat belas kasih orang."


Tutt.. Tutt..


"Aarrgghhh! Brengsek! Awak kau Darren. Aku akan membalasmu!"


Flashback Off

__ADS_1


Kedua laki-laki itu menatap penuh amarah dan dendam kearah Darren. Keduanya ingin membalas atas apa yang dilakukan oleh Darren tiga tahun yang lalu.


Detik kemudian, kedua laki-laki itu berdiri dari duduknya. Diikuti tiga laki-laki lainnya. Kemudian kelimanya melangkahkan kakinya menghampiri Darren.


***


"Bagaimana? Apa kalian menemukan keberadaan Darren?" tanya Erland kepada ketujuh sahabat-sahabat putranya.


"Belum Paman Erland. Kami benar-benar kehilangan Darren. Padahal Darren bersama kami di perusahaan Micro Sinopec," jawab Dylan.


"Kami bahkan sudah mencarinya di perusahaan Accenture. Tapi Darren juga tidak ada disana," ucap Qenan dan diangguki oleh Willy.


Mendengar jawaban dari kedua sahabat putranya membuat Erland tampak sedih. Putranya itu pergi dari rumah sudah sejak pagi sampai sekarang belum kembali. Bahkan keberadaan putranya itu tidak diketahui.


Melihat kekhawatiran dan kesedihan di wajah Erland membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan ikut merasakan kesedihan. Apa yang dirasakan oleh Erland itu juga yang dirasakan oleh mereka.


"Tuhan, lindungi putraku dimana dia berada. Jauhkan putraku dari orang-orang yang tak menyukainya," doa Erland di dalam hatinya.


"Ren, kamu dimana?" batin Davin, Andra, Dzaky dan Adnan.


"Kakak berharap kamu baik-baik saja diluar sana, Ren!" batin Gilang dan Darka.


"Tuhan, aku mohon. Lindungi kakak Darren!" Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin berdoa di dalam hatinya masing-masing.


"Sayangnya Mama. Kamu dimana, nak?"


"Darren," ucap lirih Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian bersamaan.


Ketika mereka semua tengah bersedih memikirkan Darren, tiba-tiba terdengar beberapa suara langkah kaki menuju ruang tengah. Dengan kompak mereka semua melihat keasal suara tersebut.


"Kakak Ziggy, kakak Chico, kakak Noe, kakak Devian, kakak Enzo!" sapa Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan bersamaan.


Yah! Orang-orang yang datang itu adalah kelima ketua mafia nomor satu di dunia dan di Jerman.


"Kami sudah tentang Darren yang hilang tiba-tiba. Paman Erland tidak perlu khawatir karena aku dan yang lainnya sudah memberikan perintah kepada para tangan kanan kami untuk mencari keberadaan Darren," sahut Ziggy.


Erland seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari salah satu kakak-kakak mafia putranya. Dia benar-benar bahagia dan bersyukur bahwa putranya disayangi, dijaga di dilindungi oleh kelima ketua mafia yang dikenal kejam.


"Terima kasih, nak Ziggy. Terima kasih juga untuk kalian," tutur Erland.


"Sama-sama, Paman!"


"Kami melakukan ini karena kami sudah menganggap Darren seperti adik kandung kami sendiri. Termasuk Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan."


"Mereka adik laki-laki kami!"


Drrtt.. Drrtt..


Ponsel milik Jerry berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk.


Jerry langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya. Ketika ponselnya ada di saku celananya, tatapan mata Jerry menatap lekat nomor yang tertera di layar ponsel miliknya itu.


"Nomor ini seperti aku kenal. Ini nomornya Ramon. Tapi apa benar yang menghubungi Ramon?" ucap dan tanya Jerry di dalam hatinya.


Melihat Jerry yang hanya melihat ke layar ponselnya membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Darel dan Rehan bingung. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Je!" seru Qenan, Willy, Axel, Dylan, Darel dan Rehan bersamaan.


"Ach, iya!"

__ADS_1


"Angkat!" sahut Darel.


"Ach, iya. Baiklah!"


Setelah itu, Jerry pun menjawab panggilan dari nomor tersebut.


"Hallo."


"Hallo, Bos Jerry!"


Deg..


Seketika tubuh Jerry terhuyung ke belakang ketika mendengar suara yang begitu dia kenal. Yah! Jerry kenal suara itu. Suara itu adalah suara tangan kanannya yaitu Ramon.


"Jer!"


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Darel, Rehan menatap khawatir Jerry. Begitu juga dengan anggota keluarga Smith, kelima kakak mafianya, Elzaro dan kelima sahabatnya.


"Ra-ramon! Kamu Ramon?" tanya Jerry.


Deg..


Mendengar Jerry menyebut nama Ramon membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Darel dan Rehan terkejut.


"Iya, Bos. Ini saya Ramon. Saya dan Hansel selamat dalam kejadian itu."


"Ba-bagaiman ceritanya?"


"Nanti saya akan ceritakan semuanya sama Bos dan Bos yang lainnya."


"Ach, baiklah. Sekarang katakan padaku. Ada apa kau menghubungiku?"


"Ini masalah Bos Darren. Saya tahu jika Bos Jerry dan yang lainnya sedang mengkhawatirkan keberadaan Bos Darren yang tidak tahu ada dimana. Saya dan Hansel sudah mendapatkan lokasi dimana Bos Darren berada saat ini."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Jerry ketika mendengar ucapan dari Ramon yang mengatakan tentang keberadaan Darren.


"Katakan padaku sekarang. Dimana Darren?"


"Saya akan kirim serlock lokasi kepada Bos."


"Baiklah."


Tutt.. Tutt..


Panggilan terputus..


"Jer, itu tadi Ramon?" tanya Rehan.


"Iya."


"Bagaimana....?"


"Ramon bilang kalau dia dan Hansel berhasil diselamatkan."


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Darel dan Rehan tersenyum ketika mendengar ucapan dari Jerry. Mereka bahagia dua tangan kanannya itu selamat.


"Ramon akan mengirimkan serlock lokasi keberadaan Darren," sahut Jerry.


"Jadi?!"

__ADS_1


"Iya. Ramon dan Hansel mengetahui keberadaan Darren saat ini."


"Ach, syukurlah." mereka semua berucap syukur karena telah mengetahui keberadaan Darren.


__ADS_2