KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Perempuan Tak Tahu Malu


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Semua anggota keluarga sudah berada di rumah termasuk Erland dan Agneta, kelima putranya yaitu Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin, Evan dan Carissa, ketiga putranya yaitu Daffa, Tristan dan Davian.


Sedangkan untuk Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Darka memang sudah berada di rumah sejak pukul 1 siang yang lalu. Untuk Gilang, beberapa menit yang lalu izin keluar membeli sesuatu.


Carissa pulang dari butiknya terlebih dahulu singgah ke supermarket untuk berbelanja keperluan rumah. Seperti makanan, minuman, bahan-bahan untuk dimasak dan keperluan lainnya untuk satu bulan. Begitu juga dengan Agneta.


Agneta dan Carissa belanja banyak bahan makanan untuk stok satu bulan. Keduanya juga tak lupa membeli cemilan untuk putra-putranya dan juga keponakan-keponakannya.


Darren saat ini berada di ruang tengah bersama kelima adiknya dan ketiga sepupunya. Mereka mengobrol dan bercanda bersama.


"Terkadang menjadi seorang saudara lebih baik dari pada menjadi superhero," sahut Adrian.


"Ya, benar! Saudara lebih mengetahui segalanya tentangmu. Salah satunya adalah mengetahui ketika dirimu sedang senang. Ketika mengetahui hal itu, saudara-saudaramu mulai memorotimu," sela Mathew.


Mendengar perkataan dari Mathew membuat Darren, Daffa, Tristan, Davian menatap cengo Mathew. Begitu juga dengan Adrian, Nathan, Ivan dan Melvin.


Mathew yang sadar bahwa dirinya tengah ditatap oleh kakak dan adiknya langsung mengalihkan perhatiannya dari ponselnya untuk melihat satu persatu wajah merekanya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa wajahku terlalu tampan ya sehingga kalian semua menatapku begitu," ucap Mathew dengan bangganya.


Mendengar perkataan dari Mathew. Darren, Daffa, Tristan, Davian, Adrian, Nathan, Ivan dan Melvin langsung membuang wajahnya dan menatap ponsel masing-masing.


Ketika Darren serta kakak dan adiknya tengah mengobrol di ruang tengah. Mereka semua dikejutkan dengan suara bell berbunyi.


Ting! Tong!


Ting! Tong!


Seorang pelayan yang bekerja di rumah Darren berlari ke ruang tamu untuk membukakan pintu.


Dan tak butuh lama, pelayan itu datang dan menemui Darren dan yang lainnya di ruang tengah.


"Siapa yang datang?" tanya Darren kepada pelayannya.


"Seorang gadis, tuan muda."


"Seorang gadis? Siapa?" tanya Daffa.


"Gadis itu mencari tuan muda Gilang."


Mendengar perkataan dari pelayannya. Darren pun mengerti.


"Dimana dia sekarang?" tanya Darren.


"Diluar, tuan muda. Saya tidak berani menyuruhnya masuk, karena dia baru pertama kali kesini."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Bibi sudah melakukan yang benar. Ya, sudah! Bibi boleh kembali. Oh iya! Bibi nggak usah menyiapkan apapun untuk tamu itu. Bibi fokus aja sama pekerjaan Bibi."


"Baik, tuan muda."


Setelah itu, pelayan itu pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk kembali ke dapur.


"Dari mana dia tahu alamat rumahku? Kakak Gilang nggak mungkin memberikan alamat rumahku keorang lain," batin Darren.


Setelah itu, Darren beranjak dari duduk dan melangkah menuju ruang tamu. Dan diikuti oleh Daffa, Tristan, Davian, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.


^^^


Kini Darren, Daffa, Tristan, Davian, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin sudah berada di ruang tamu.


Ketika mereka sampai di ruang tamu. Mereka melihat gadis itu sudah duduk dengan indah di sofa.


Darren, Daffa, Tristan, Davian, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menduduki pantatnya di sofa.


"Siapa yang nyuruh lo masuk, hah?!" bentak Darren dengan menatap tajam gadis itu.


Gadis itu dengan santai menjawab dengan posisi yang masih duduk dengan nyaman di sofa.


"Apa begini cara kau menyambut tamu?" tanya gadis itu.


"Jawab saja pertanyaanku, sialan!" teriak Darren.


"Sopan kata lo. Lo masuk ke rumah orang tanpa seizin pemilik rumah, lalu dengan seenaknya lo duduk di sofa rumah orang. Dan sekarang lo minta gue buat sopan sama lo. Enak aja kalau ngomong." Darren berbicara dengan tatapan amarahnya.


"Gue masuk ke rumah ini karena gue sudah disuruh masuk sama perempuan kampung itu," jawab gadis itu bohong.


"Nggak usah berdalih lo. Lo pikir gue bakal percaya sama perkataan lo. Pelayan gue itu nggak akan mau membawa masuk tamu yang nggak pernah datang kesini. Pelayan gue akan nyuruh tamu itu nunggu diluar dengan posisi pintu memang sedikit dibuka. Alasannya biar tamu tersebut nggak tersinggung."


"Itu urusan lo mau percaya atau nggak. Yang jelas perempuan kampung itu udah nyuruh gue masuk," jawab gadis itu kekeh.


"Seperti yang gue katakan barusan. Pelayan gue nggak akan nyuruh tamunya masuk ke dalam jika tamunya itu baru pertama kali datang kesini. Atau lo mau gue tunjukin sesuatu biar kebohongan lo terkuak, hum!" Darren menatap meremehkan gadis itu.


Gadis itu hanya diam dengan matanya menatap tajam Darren. Gadis itu masih duduk dengan tenangnya di sofa.


Darren mengambil ponselnya. Setelah itu, Darren tengah mengetik sesuatu disana.


Beberapa detik kemudian..


Darren memberikan ponselnya kepada gadis itu.


"Lo lihat ini. Gue yakin lo bakal terkejut," sahut Darren.

__ADS_1


Gadis itu mengambil ponselnya Darren, lalu melihat apa yang ada di ponsel Darren.


Seketika gadis itu terkejut ketika melihat rekaman atau video di layar ponsel Darren.


"Sial," batin gadis.


Setelah itu, gadis itu kembali meletakkan ponsel Darren di atas meja. Dan Darren langsung mengambil kembali ponselnya.


"Bagaimana? Terbukti bukan kalau lo berbohong dengan mengatakan bahwa lo udah disuruh masuk sama pelayan gue." Darren berbicara dengan tersenyum di sudut bibirnya.


Ketika gadis itu ingin berbicara, Darren sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Mendingan lo pergi dari sini. Lain kali yang sopan kalau bertamu ke rumah orang. Jika belum dapat izin untuk masuk ke dalam. Jangan beraninya masuk ke rumah orang. Itu namanya maling."


Mendengar perkataan dari Darren. Dan juga pengusiran yang dilakukan oleh Darren membuat gadis itu marah. Gadis itu seketika berdiri dan menatap tajam Darren.


"Lo nggak bisa ngusir gue seperti ini. Gue datang-datang jauh-jauh buat cari Gilang. Gue rela batalin janji gue sama keluarga gue hanya untuk ketemu dengan Gilang. Dan lo seenaknya ngusir gue!" teriak gadis itu.


"Peduli setan. Itu urusan lo dan derita lo. Ngapain juga gue harus peduli sama perempuan modelan kayak lo," jawab Darren.


"Udahlah kakak cantik. Mending kakak cantik pergi aja. Kakak Gilang nya nggak ada di rumah. Jadi percuma saja kakak cantik disini," ucap Adrian lembut.


Gadis itu menatap tajam kearah Adrian. "Diam lo! Jangan ikut campur!" bentak gadis itu.


Mendengar perkataan dan bentakan dari gadis itu membuat Adrian terkejut dan juga takut.


"Nggak usah ngebentak adek gue, sialan! Apa yang dikatakan adek gue itu benar. Kakak Gilang nggak di rumah!" bentak Darren.


"Mendingan lo pergi dari sini sebelum kesabaran gue habis," ucap Darren.


"Lo ngancam gue!" bentak gadis itu.


"Baiklah kalau itu mau lo."


Darren berdiri dari duduknya, lalu melangkah keluar rumah. Dan tak butuh lama, Darren datang dengan dua anak buahnya.


"Seret perempuan sialan ini keluar dari rumahku. Perempuan ini sudah mengotori rumahku," perintah Darren.


"Baik, Bos!"


Setelah itu, dua anak buahnya langsung menarik paksa tangan gadis itu untuk dibawa keluar rumah.


"Yak! Lepaskan tangan gue. Biarkan gue disini. Gue mau bertemu dengan Gilang!" teriak gadis itu sembari memberontak.


"Pekerjaan selesai," ucap Darren.

__ADS_1


Darren menutup pintu rumahnya. Setelah itu, Darren melangkah menuju ruang tengah dan diikuti oleh Daffa, Tristan, Davian, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.


__ADS_2