
Kini Darren dan semua anggota keluarganya sudah duduk di sofa ruang tengah.
Setelah apa yang dilakukan oleh Darren terhadap Valen. Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin tak henti-hentinya memuji kakak kesayangannya.
Sampai detik ini kelimanya masih saja bersorak hebok sembari sesekali memberikan ciuman sayang di pipi Darren.
Sedangkan Darren hanya bisa pasrah sembari memutar bola matanya malas melihat kelakuan kelima adiknya itu. Jika dirinya punya sihir. Mungkin kelima adiknya itu sudah dibuat mingkem olehnya.
Mendengar keributan di bawah, Gilang yang sedari tadi berada di dalam kamarnya langsung turun untuk melihat keributan yang terjadi di bawah.
"Ada apa ini? Kenapa ribut banget sih?" tanya Gilang yang sudah duduk di sofa.
Melihat kehadiran Gilang. Mereka semua menatap kearah Gilang.
"Ada nenek lampir diluar, kakak Gilang!" seru Ivan dan Melvin.
"Hah! Nenek lampir?" tanya Gilang balik.
Gilang menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Dirinya benar-benar tidak mengerti maksud dari perkataan Ivan dan Melvin.
"Gadis pujaan hatinya kakak Gilang lagi diluar, noh!" Darren berucap dengan melirik sekilas Gilang.
"Valen," ucap Gilang.
"Nggak tahu. Iya, kali! Coba cek aja sendiri. Semoga saja udah pulang." Darren berbicara sembari menaikkan kedua bahunya keatas.
Melihat cara berbicara Darren dan ekspresi wajahnya. Gilang hanya bisa pasrah. Dirinya tahu apa yang menyebabkan mood adiknya itu buruk.
"Ren," panggil Gilang.
"Aku masih marah sama kakak Gilang. Jadi jangan coba-coba merayuku, karena itu nggak akan mempan," ucap Darren.
Darren berdiri dari duduknya. Dirinya baru ingat jika pagi ini harus ke perusahaan Micro Sinopec. Seharusnya sudah sejak sejam yang lalu Darren pergi. Namun gara-gara kedatangan Valen membuat kepergiannya tertunda.
"Papa, Mama, Paman, Bibi, kakak-kakaku yang paling jelek dan kelima adik laki-lakiku yang paling butek. Aku pergi dulu ya. Kemungkinan aku pulang sekitar 7 malam. Sehabis dari perusahaan Micro Sinopec. Aku akan mampir dulu ke suatu tempat."
Darren tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya dan ketujuh sahabatnya akan ke markas BRUISER.
"Iya, sayang!" Erland, Agneta, Carissa dan Evan menjawab bersamaan.
"Hati-hati, Ren!" seru para kakak-kakaknya, termasuk ketiga kakak sepupunya.
"Hati-hati, kakak Darren!" seru kelima adik laki-lakinya.
Setelah berpamitan, Darren pun pergi meninggalkan keluarganya tanpa melihat kearah Gilang.
Gilang yang merasa diacuhkan dan diabaikan oleh adik kelincinya menatap tak percaya kearah adiknya.
__ADS_1
"Yak, Darren!" teriak Gilang, lalu berlari mengejar adiknya itu.
Sementara Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya tersenyum melihat keduanya.
^^^
Kini Gilang sudah berada diluar. Dirinya berhasil mengejar Darren dengan mencekal pergelangan tangannya. Dan saat ini Gilang yang masih memegang tangan Darren.
"Ih. Apaan sih, kakak Gilang. Lepasin," ucap Darren sembari menarik tangannya.
Gilang menatap wajah Darren. Dapat Gilang lihat bahwa adiknya itu terlihat sedang marah.
"Kamu masih marah sama kakak?" tanya Gilang.
"Menurut kakak Gilang?" tanya balik Darren.
Gilang menatap kearah Darren, adiknya. Sedangkan Darren justru melihat kearah lain.
Ketika Gilang ingin mengeluarkan ilmu andalannya untuk membujuk adik kelincinya, tiba-tiba Valen datang menghampirinya.
"Gilang." Valen langsung bergelayut manja di tangan kiri Gilang.
Darren melirik sekilas ke samping. Setelah itu, Darren kembali ke tatapan semula.
"Kamu kenapa?" tanya Gilang melihat Valen yang kesakitan.
"Tuh. Tanya saja sama laki-laki yang ada di hadapan kamu. Dia yang sudah buat aku seperti ini," ucap Valen.
Gilang melihat kearah Darren. Sementara Darren masih melihat kearah lain.
"Ren," panggil Gilang.
Darren melirik sekilas untuk melihat kearah Gilang. Setelah itu, Darren kembali lagi ke tatapan semula.
Gilang yang melihat sikap adiknya hanya bisa pasrah.
"Kakak mau nanya. Apa benar kalau kamu......?" perkataan Gilang terpotong ketika melihat adiknya langsung melihat kearah dirinya.
"Iya. Aku yang udah buat dia kayak gitu. Kakak Gilang mau apa? Mau marahin aku? Mau bentak aku atau mau mukul aku?" Darren mencerca Gilang dengan banyak pertanyaan.
Mendengar ucapan dan pertanyaan serta tatapan marah dari adiknya Gilang seketika menelan ludahnya kasar. Dirinya benar-benar kelabakan dengan ucapan dan pertanyaan dari Darren.
"Aku udah berapa kali bilang sama kakak Gilang. Aku nggak pernah ikut campur urusan kakak Gilang dengan perempuan gila ini. Semua itu adalah urusan kakak Gilang."
"Kakak Gilang tahu apa yang aku suka dan apa yang nggak aku suka. Salah satunya adalah aku paling nggak suka jika ada orang asing masuk ke dalam rumahku. Orang yang nggak aku kenal. Orang yang kelakuannya menjijikkan. Orang yang nggak punya sopan santun sama sekali."
"Ini yang kedua kalinya perempuan gila itu masuk ke rumahku. Perempuan itu masuk menerobos gitu aja tanpa permisi. Bahkan perempuan itu bersikap kasar terhadap keluarga kita."
__ADS_1
Darren menatap nyalang kearah Valen. Dirinya saat ini benar-benar marah.
"Ini adalah peringatan terakhir buat lo. Jangan pernah lagi lo nginjakkan kaki di rumah gue. Apapun alasan lo, gue nggak peduli. Ini rumah gue. Gue beli rumah ini pake uang gue sendiri. Jadi lo jangan berani lagi buat datang kesini. Jika lo masih datang kesini dan lo masih berani menginjakkan kaki lo di dalam. Maka ucapkan selamat tinggal dengan nyawa lo."
Darren berbicara dengan aura yang benar-benar menakutkan. Valen yang melihat ekspresi wajah Darren sempat dibuat takut. Bahkan Gilang yang selaku kakak kandungnya merasakan hawa tak mengenakkan ketika menatap wajah Darren.
Gilang sadar bahwa adiknya itu paling tidak suka jika miliknya disentuh oleh orang lain. Apalagi orang itu adalah orang yang tidak ada hubungan dengannya atau orang yang baru dikenalnya. Ditambah lagi jika orang itu memiliki niat buruk terhadap dirinya dan orang-orang terdekatnya.
Setelah mengatakan itu, Darren langsung pergi meninggalkan Gilang dan Valen.
Sementara anggota keluarganya yang saat ini tengah mengintip di balik jendela mendengar apa yang sedang terjadi diluar.
Mereka semua tersenyum ketika melihat Gilang yang tak berkutik sama sekali di hadapan Darren. Justru terlihat wajah Gilang yang sedikit takut ketika melihat wajah tak bersahabat Darren.
Apa yang dirasakan Gilang itu juga dirasakan oleh Valen. Valen juga merasakan ketakutan ketika melihat wajah tak mengenakkan Darren.
Melihat itu membuat Erland, Agneta dan yang lainnya tertawa nista. Mereka tertawa sembari menutup mulut agar tidak terdengar oleh Gilang.
***
Darren saat ini berada di perjalanan menuju perusahaan Micro Sinopec. Dirinya sudah terlambat satu setengah jam. Janjinya Darren akan pergi sekitar pukul 8 pagi. Sekarang sudah setengah 10 pagi.
Ketika Darren tengah fokus menyetir, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Darren mengambil ponsel di saku celananya.
Setelah ponselnya di tangannya, Darren melihat nama salah satu sahabatnya yaitu Dylan tertera di layar ponselnya.
Tanpa membuang waktu lagi. Darren langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Lan."
"Kamu dimana, Ren?"
"Di jalan. Ada apa?"
"Aku dengar kamu mau ke perusahaan Micro Sinopec. Apa benar?"
"Iya."
"Perlu teman?"
"Eemmm. Kalau tidak mengganggu pekerjaanmu yang lain. Dengan senang hati."
"Baiklah. Aku langsung ke perusahaan Micro Sinopec."
"Oke. Kita bertemu disana."
Setelah itu, baik Darren maupun Dylan sama-sama mematikan panggilannya.
__ADS_1