
"King!"
Dua anggota mafia datang melapor di hadapan ketua mafia yaitu Noe yang saat ini sedang mempersiapkan alat-alat tempur untuk menyerang markas milik Kartel.
"Ada apa?"
"Ada beberapa orang yang berkendara motor menghadang motor milik tuan Elzaro dan kelima sahabatnya ketika hendak pergi menuju kediaman tuan Darren."
Mendengar laporan dari dua anggotanya, seketika Noe menghentikan kegiatannya. Tatapan matanya menatap kedua anggota mafianya itu.
"Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan mereka sekarang?"
"Tuan Elzaro dan kelima sahabatnya itu berhasil lepas dari sekelompok motor itu, King! Tapi sekelompok motor itu tidak tinggal diam. Mereka mengejar tuan Elzaro dan kelima sahabatnya itu."
"Apa kalian sudah mengirimkan orang-orang untuk membantu mereka?"
"Sudah King!"
"Tapi!"
"Tapi apa?"
"Jumlah mereka bukannya berkurang, malah justru bertambah."
"Jadi maksud kamu, cara menyerang mereka sama dengan ketika mereka menyerang Darren beberapa hari yang lalu?"
"Iya, King! Tuan Elzaro dan kelima sahabatnya sudah berhasil mengalahkan dua kelompok bermotor. Ketika kedua kelompok bermotor itu kalah, malah datang lagi beberapa kelompok bermotor lainnya sehingga membuat tuan Elzaro dan kelima sahabatnya terlihat lelah. Bahkan mereka juga beberapa kali mendapatkan pukulan dan tendangan, walau tak seberapa."
Mendengar laporan dari dua anggota mafianya membuat Noe marah. Dalam pikirannya saat ini kenapa masalah adik laki-lakinya tidak selesai-selesai. Dan kenapa orang-orang diluar sana senang dan hobi mengusik adik laki-lakinya melalui orang-orang yang sangat disayangi oleh adik laki-lakinya itu.
Noe sangat kenal dengan sifat dan karakter dari adik laki-lakinya yaitu Darren dan juga adik laki-lakinya yang lain yaitu ketujuh sahabatnya Darren. Kedelapan adik laki-lakinya itu memiliki ikatan persahabatan sekaligus ikatan persaudaraan yang begitu kuat. Jika satu sakit, maka yang lain juga ikut sakit. Jika satu dalam masalah, maka yang lain langsung memiliki perasaan tak enak dan langsung mencari tahu dan membantu.
Noe menatap kedua tangan kanannya yang kebetulan saat itu bersama dirinya di ruang persenjataan yaitu Zaky dan Razky.
"Zaky, Razky!"
"Iya, King!"
"Aku serahkan tugas ini kepada kalian berdua. Bawa sekitar 1000 anggota mafioso kalian masing-masing. Bantu Elzaro dan kelima sahabatnya."
"Baik, King!"
"Seperti biasa. Bagi menjadi 6 kelompok penyerangan. Kelompok pertama, kelompok kedua dan kelompok ketiga secara bertahap menghabisi kelompok bermotor tersebut. Dan untuk kelompok keempat, kelompok kelima dan kelompok keenam. Cari dimana letak kelompok bermotor itu bersembunyi. Setelah itu, habisi mereka semua."
"Baik, King."
Setelah itu, Zaky dan Razky keluar dari ruang persenjataan untuk mempersiapkan anggota-anggotanya untuk menolong Elzaro dan kelima sahabatnya.
"Kali ini kalian semua akan habis ditanganku dan ditangan keempat sahabat-sahabatku. Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh kedelapan adik laki-lakiku. Apalagi orang-orang terdekatnya." Noe berbicara dengan penuh amarah.
Noe, Ziggy, Devian, Enzo dan Chico saat ini di markas masing-masing tengah mempersiapkan penyerangan untuk kelima kelompok mafia yang berada di posisi nomor enam, nomor tujuh, nomor delapan, nomor sembilan dan nomor sepuluh di dunia dan di Jerman.
Noe, dua tiga tangan kanannya yaitu Diaz, Rodya dan Zoya. Ziggy, tiga tangan kanannya yaitu Ruby, Billy dan Mark. Chico, tiga tangan kanannya yaitu Garra, Zidan dan Dirga. Devian, tiga tangan kanannya yaitu Carly, Leo dan Yohanes. Enzo, tiga kanannya yaitu Tommy, Zee dan Jason. Mereka semua masing-masing dengan 1000 anggota mafianya akan menyerang markas mafia Kartel, mafia Medellin, mafia Yardeis, Salvatrucha dan mafia Nostra.
Baik Noe, Ziggy, Devian, Enzo, dan Chico sudah berjanji pada dirinya sendiri dan juga berjanji kepada kedelapan adik laki-laki untuk menghabisi semua keenam kelompok mafia yang sudah mengusiknya dan orang-orang terdekatnya.
Noe, Ziggy, Devian, Enzo, dan Chico tidak akan membiarkan semua musuh-musuhnya selamat dan hidup. Semuanya harus mati. Tidak ada kata ampun untuk orang-orang yang sudah mengusik kedelapan adik laki-lakinya itu beserta orang-orang terdekatnya.
__ADS_1
***
Di jalan raya yang sepi pengendara motor terlihat sekelompok orang-orang yang sedang bertarung. Mereka adalah Elzaro dan kelima sahabatnya dan beberapa kelompok bermotor.
Sejak setengah jam yang lalu Elzaro dan kelima sahabatnya bertarung melawan para kelompok bermotor itu. Mereka tidak tahu dari kelompok mana orang-orang bermotor itu berasal. Apakah dari kelompok organisasi khusus, kelompok mafia atau musuh-musuh dari rekan kerja keluarganya. Elzaro dan kelima sahabatnya tidak tahu.
Elzaro dan kelima sahabatnya sudah mengalahkan lebih dari 150 orang-orang bermotor itu. Dan saat itu kondisi tubuh mereka sudah lelah dan juga terluka, walau tidak parah. Tapi tetap saja pertarungan tersebut membuat Elzaro dan kelima sahabatnya benar-benar lelah dan sedikit kesakitan di beberapa bagian tubuhnya.
"Kalau seperti ini, kita benar-benar akan mati disini!" Melky berucap sembari tangannya menyeka cairan merah di sudut bibirnya.
Mendengar ucapan dari Melky membuat Elzaro, Diego, Derry, Glen dan Allan hanya diam. Tatapan mata mereka menatap penuh amarah kearah orang-orang yang begitu bersemangat ingin menghabisi dirinya dan sahabat-sahabatnya.
"Kita semua akan baik-baik saja. Kita jangan sampai kalah dengan para pecundang-pecundang itu. Mereka menang karena mereka itu membawa anggota banyak dan mereka mengeroyok kita. Coba kalau mereka melawan kita satu-satu. Aku yakin mereka semua akan kalah," ucap Elzaro yang tatapan matanya menatap semua orang-orang yang ada di sekitarnya dan kelima sahabatnya.
"Kalian jangan menyerah. Pikirkan keluarga kita. Lakukan demi mereka," ucap Elzaro lagi.
Baik Elzaro maupun kelima sahabatnya saling memberikan tatapan. Setelah itu mereka tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Serang mereka semua. Habisi mereka!" teriak salah satu pria yang tak lain adalah sang pemimpin sembari menunjuk kearah Elzaro dan kelima sahabatnya.
"Baik!" teriak bersamaan para anak buahnya.
Disaat kelompok bermotor itu hendak menyerang Elzaro dan kelima sahabatnya secara bersamaan dengan bermaksud hati ini segera menyelesaikan pekerjaan mereka, tiba-tiba terdengar suara bunyi letusan senjata api yang mengakibatkan semua kelompok bermotor itu tewas seketika.
Suara-suara letusan senjata api berbunyi dari segala arah yang mana para kelompok bermotor yang menunggu giliran untuk melakukan penyerangan terhadap Elzaro dan kelima sahabatnya memang sudah bersembunyi disekitar lokasi tersebut. Kelompok bermotor itu berada disana karena mendapatkan kiriman sinyal dari kelompok bermotor yang pertama menyerang Elzaro dan kelima sahabatnya.
Elzaro dan kelima sahabatnya seketika terkejut ketika mendengar suara letusan senjata api. Di tambah lagi dengan musuh-musuhnya yang terkapar tak bernyawa.
Elzaro dan kelima sahabatnya menatap bingung dan penasaran ke sekitarnya. Dan tatapan mata mereka mendapati beberapa kelompok bertopeng keluar dari persembunyian dengan mengarahkan senjatanya kearah kelompok bermotor tersebut yang kini tersisa 50 orang.
Zaky dan Razky melangkah mendekati Elzaro dan kelima sahabatnya dengan tatapan khawatir mereka masing-masing.
Dikarenakan Elzaro dan kelima sahabatnya belum mengenal dan mengetahui tentang kelompok bertopeng itu membuat Elzaro dan kelima sahabatnya hanya diam dengan tatapan matanya menatap kearah dua pemuda yang ada di hadapannya.
Elzaro dan kelima sahabatnya memang sudah tahu jika ada beberapa kelompok mafia yang dekat dengan keluarga Smith, keluarga William, keluarga Dominic, keluarga Dustine, keluarga Zordy, keluarga Antonius, keluarga Carlo dan keluarga Immanuel.
Jika Elzaro dan kelima sahabatnya sudah mengetahui wajah asli dari lima ketua mafia nomor satu di dunia dan di Jerman. Namun Elzaro dan kelima sahabatnya belum mengetahui nama dari lima kelompok mafia itu. Begitu juga dengan para tangan kanannya serta topeng yang digunakan.
Elzaro dan kelima sahabatnya berpikir jika tangan kanan dari kelima kakak-kakak mafianya Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel sama seperti tangan kanan para ayah mereka. Padahal dua tangan kanan yang selalu ikut mendampingi kelima kakak-kakak mafia Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel adalah seorang Prince yang tak lain adalah seorang wakil di markas.
Zaky dan Razky tersenyum di balik topengnya ketika melihat reaksi dari Elzaro dan kelima sahabatnya.
"Kalian tidak perlu takut padaku." Zaky pada akhirnya merubah suara dan intonasinya.
Ketika mendengar suara Zaky, seketika membuat Elzaro langsung mengenali suara tersebut.
"Kau kakak Zaky?"
Mendengar pertanyaan dari Elzaro. Zaky langsung menganggukkan kepalanya.
"Dan ini kakak Razky," ucap Elzaro sembari melihat kearah pemuda yang berdiri di samping Zaky.
"Iya, aku Razky."
"Kalian baik-baik saja?" Razky mengulangi pertanyaan dari Zaky.
"Iya. Kami baik-baik saja, walau sedikit terluka." Elzaro menjawab pertanyaan dari Razky dan diangguki oleh Doddy, Allan, Glen, Derry dan Melky.
__ADS_1
"Sekarang kalian pergilah ke rumah sakit. Obati luka-luka kalian. Sementara mereka semua itu biarkan menjadi urusan kami," sahut Zaky.
"Jika kalian mengkhawatirkan tentang kelompok bermotor lainnya yang akan menyerang kalian ketika di perjalanan. Kalian tidak perlu khawatir. Mereka semua sudah tewas sebelum kita semua datang kesini. Jadi kalian aman sampai tujuan," ucap Razky.
Mendengar ucapan dari Zaky dan Razky membuat Elzaro dan kelima sahabatnya tersenyum dan bernafas lega.
"Baiklah. Terima kasih!" seru Elzaro, Diego, Derry, Glen, Melky dan Allan.
"Sama-sama." Zaky dan Razky menjawab bersamaan.
"Hati-hati dan jangan sampai terluka," ucap Elzaro.
"Hm." Zaky dan Razky menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, Elzaro dan kelima sahabatnya langsung pergi meninggalkan lokasi untuk menuju rumah sakit.
Zaky dan Razky menatap kepergian Elzaro dan kelima sahabatnya sembari berkata, "Sifatnya tidak jauh beda dengan Darren," ucap Razky.
"Iya. Darren dan Elzaro memiliki sifat yang sama yaitu memiliki kekhawatiran terhadap orang-orang yang peduli padanya."
"Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel." Zaky menambahkan.
"Iya, kau benar!" Razky berucap.
***
Setelah selesai menghubungi Zeroun dan menceritakan tentang masalah kedua adik laki-lakinya. Darren pergi meninggalkan meja makan untuk menuju ruang tengah. Pikirannya saat ini benar-benar kacau. Darren tertekan akan masalah yang tak habis-habisnya.
Melihat Darren yang meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan sarapannya membuat Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka menatap khawatir Darren. Begitu juga dengan Evan, Carissa, Daffa, Tristan, dan Davian. Tak jauh beda dengan keluarga Smith. Keluarga Mendez juga menatap khawatir terhadap Darren.
Setelah menyelesaikan sarapannya. Mereka semua memutuskan untuk menyusul Darren yang berada di ruang tengah.
Darren duduk di sofa dengan memikirkan banyak hal. Dia benar-benar tidak tahu lagi harus berpikir seperti apa dan harus bertindak seperti apa.
"Kenapa masalah selalu datang menghampiriku dan keluargaku? Masalah yang satu belum selesai, justru sekarang datang masalah baru. Bahkan masalah yang sudah lewat kembali muncul kepermukaan."
Darren memijit-mijit keningnya karena merasakan pusing di kepalanya akibat terlalu banyak memikirkan masalah.
"Kalau begini terus. Lama-lama aku benar-benar akan mati. Siapa yang sanggup coba jika diberikan masalah seberat ini dan sebanyak ini? Siapa pun tidak akan sanggup jika menghadapi lebih dari satu masalah."
Darren menghempaskan tubuhnya ke punggung sofa lalu meniduri kepala di punggung sofa sehingga tatapan matanya tertuju pada langit-langit rumahnya.
"Tuhan. Kenapa kau memberikan masalah sebanyak ini kepadaku melalui orang-orang terdekatku? Apa kesalahanku? Apa juga kesalahan orang-orang terdekatku? Kenapa masalah tak pernah habis-habisnya mendatangiku dan orang-orang terdekatku? Aku benar-benar lelah dan aku sudah nggak sanggup. Apakah takdir seperti ini yang kau berikan kepadaku? Apakah tidak ada kebahagiaan untukku dan untuk orang-orang terdekatku? Apakah aku akan selalu menderita dengan ada masalah setiap hari sampai aku mati?"
Darren memejamkan kedua matanya. Dan tanpa diminta, air matanya mengalir dari kedua sudut matanya.
"Jika memang ini adalah takdirku. Dan jika memang tidak ada kebahagiaan yang menghampiriku. Lebih baik kau ambil nyawaku. Jangan kau siksa aku seperti ini. Sudah cukup kau memberikan rasa sakit di jantungku sejak aku lahir hingga sekarang. Jangan kau menambahkannya lagi. Aku benar-benar nggak kuat."
Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka sudah menangis terisak ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darren. Bahkan Erland dan Agneta berulang kali hampir terjatuh akibat tubuhnya yang lemah ketika mendengar perkataan dari putranya. Dan untungnya Baren dan Nuria langsung menahan bobot tubuh Erland dan Agneta.
Sementara Reymond, Yufal, Soraya, Livia, Lidia, Khary serta anak-anak mereka berusaha memberikan ketenangan kepada Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, Melvin Evan, Daffa, Tristan dan Davian.
Reymond, Yufal, Soraya, Livia, Lidia, Khary serta anak-anak mereka juga merasakan hal yang sama seperti keluarga Smith. Mereka semua menangis melihat kondisi dan mendengar ucapan dari Darren.
Erland melepaskan rangkulan tangan Baren. Setelah itu, kakinya melangkah menghampiri putranya di ruang tengah. Dia tidak akan membiarkan putranya itu bersedih sendirian, menghadapi masalahnya sendirian dan membiarkan putranya menanggung semuanya. Putranya itu melakukan semuanya demi melindungi dirinya dan keluarga Smith. Jadi, bagaimana bisa dia membiarkan putranya itu menanggungnya sendirian.
Melihat ayahnya yang melangkah menuju ruang tengah dimana adiknya berada. Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka juga ikut menyusul sang ayah. Mereka juga sama seperti ayahnya tidak akan membiarkan Darren menanggung masalah sendirian. Bagaimana pun masalah tersebut adalah masalah keluarga. Jadi mereka harus menghadapinya bersama-sama.
__ADS_1
Agneta dan yang lainnya juga ikut menyusul Erland, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka menuju ruang tengah dimana Darren berada.