
Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya bersama dengan kekasihnya termasuk Bianca, kekasih dari Daniel Carlo tengah melangkah menuju pintu keluar Mall. Setelah beberapa jam menjelajahi seluruh isi Mall, mereka semua pun memutuskan untuk pulang.
Mereka semua berjalan sembari mengobrol dan tertawa kecil ketika salah satunya melontarkan kata-kata lucu. Tanpa mereka sadari bahwa beberapa orang menunggu mereka diluar Mall.
Ketika Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para kekasihnya beserta Bianca tiba diluar, tiba-tiba beberapa orang tersebut menghadang jalannya bahkan orang-orang tersebut menutup akses jalan.
Sementara para pengunjung Mall yang berlalu-lalang seketika berlari untuk menyelamatkan diri dengan mereka menepi.
Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan menatap tajam kearah orang-orang yang menghadang jalannya.
"Minggir kalian!" bentak Jerry.
"Kami akan minggir dan memberikan jalan untuk kalian asal kalian serahkan gadis itu pada kami!" ucap salah satu orang-orang itu dengan berteriak sembari menunjuk kearah Bianca.
Baik Darren, Qenan, Willy maupun Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan langsung melihat kearah tunjuk laki-laki dimana laki-laki itu menunjuk kearah Bianca. Begitu juga dengan Brenda, Elsa, Alice, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania.
Setelah itu, mereka semua kembali melihat kearah laki-laki itu dan orang-orangnya.
"Hahahaha." Dylan seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan serta permintaan dari laki-laki di hadapannya itu. "Kau pikir kau itu siapa yang seenaknya memerintah kami untuk menyerahkan gadis itu kepadamu dan para manusia-manusia busuk di belakang dan di sampingmu itu!" teriak Dylan.
Mendengar ucapan kejam dari pemuda di hadapannya membuat laki-laki menggeram marah. Begitu juga dengan rekan-rekannya. Mereka tidak terima akan ucapan pemuda itu.
"Aku katakan sekali lagi. Serahkan gadis itu pada kamu!" bentak laki-laki itu.
"Jika kita menolak untuk menyerahkan gadis itu padamu dan antek-antek busukmu itu, kau mau apa?! Apa yang akan kau dan antek-antekmu itu lakukan?" kini Darren yang bersuara dengan tatapan matanya yang menajam.
"Jika kalian menolak untuk menyerahkan gadis itu kepada kami, maka jangan salahkan kami jika kami akan membunuh kalian semua!" bentak laki-laki itu.
Darren tersenyum di sudut bibirnya mendengar ucapan terlalu pede dari laki-laki di hadapannya. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan. Mereka semua tersenyum menyeringai bak iblis.
"Yakin kalian bisa membunuh kami?" tanya Qenan.
"Kenapa tidak? Kalian hanya berjumlah delapan orang. Selebihnya perempuan. Apa yang bisa kalian lakukan. Begitu juga mereka yang hanya perempuan?!" bentak laki-laki itu meremehkan.
Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan kembali tersenyum menyeringai disertai dengan tatapan matanya yang makin menajam.
"Kau terlalu percaya diri, Tuan!" ejek Rehan.
"Bukan percaya diri. Tapi ini kenyataan. Coba kalian berapa jumlah kami? Kamu ada sekitar 25 orang, sedangkan kalian hanya berjumlah 8 orang. Jadi, kami bisa menghabisi kalian semua!" sahut laki-laki itu dengan percaya diri yang begitu tinggi.
"Kita buktikan!" seru Axel.
Setelah itu, orang-orang tersebut langsung menyerang Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Sementara Brenda, Elsa, Alice, Felisa, Lenny, Vania, Milly dan Tania mundur bersama dengan Bianca.
"Brenda dan kalian semua! Jaga dan lindungi kak Bianca. Aku yakin jika laki-laki itu ada di sekitar Mall ini!" perintah Darren kepada Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Baik," jawab Brenda, Elsa, Alice, Felisa, Lenny, Vania, Milly dan Tania.
Bugh..
Bugh.. Duagh..
Sreekk.. Sreekk..
Kreekk.. Kreekk..
Bugh.. Bugh..
Duagh..
Terdengar bunyi pukulan, tendangan, tarikan dan pelintiran yang diberikan oleh Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan terhadap orang-orang yang menyerangnya sehingga membuat orang-orang tersebut berteriak kesakitan.
Sementara para pengunjung Mall yang melihat adegan tersebut hanya bisa berdiam diri sembari berdoa. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk. Begitu juga dengan Brenda, Elsa, Alice, Felisa, Lenny, Vania, Milly dan Tania.
Ketika Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan sedang bertarung. Sementara Brenda, Elsa, Alice, Felisa, Lenny, Vania, Milly dan Milly fokus menatap kearah para kekasihnya sembari menjaga Bianca. Tanpa mereka sadari, Henry sang mantan Bianca datang menghampirinya. Henry hendak membawa pergi Bianca.
Ketika Henry hendak menyentuh Bianca dimana itu adalah kesempatan baginya karena Brenda, Elsa, Alice, Felisa, Lenny, Vania, Milly dan Tania tidak menyadari kehadirannya.
Usahanya seketika gagal karena salah satu pengunjung Mall yang tak lain seorang gadis kecil melihat Henry yang berjalan secara pelan dan berlahan-lahan menuju kearah Brenda, Elsa, Alice, Felisa, Lenny, Vania, Milly dan Tania seketika langsung berteriak.
"Kakak-kakak cantik, itu lihat ada laki-laki yang datang!" seru gadis kecil itu sembari tangannya menunjuk kearah Henry.
Mendengar seruan dan ucapan dari gadis kecil itu seketika membuat Brenda, Elsa, Alice, Felisa, Lenny, Vania, Milly dan Tania langsung melihat kearah tunjuk gadis kecil itu.
Seketika mereka semua terkejut dimana mereka melihat Henry mantan Bianca sudah berdiri beberapa meter dari hadapannya.
Yah! Henry seketika menghentikan langkahnya ketika mendengar teriakan dari seorang gadis kecil.
Brenda, Vania dan Tania langsung berdiri di depan Bianca bermaksud melindunginya.
"Mau apa kau?!" bentak Brenda dengan menatap tajam kearah Henry.
"Bukan urusanmu. Minggir! Dan serahkan Bianca padaku!" bentak Henry.
"Tidak akan!' Brenda balik membentak Henry.
"Lebih baik lo pergi!" bentak Tania.
__ADS_1
"Lo bukan siapa-siapanya kak Bianca lagi. Lo hanya masa lalu kak Bianca!" bentak Vania.
"Gue nggak peduli. Mau dia mantan gue, mau dia masa lalu gue. Yang gue inginkan sekarang adalah membawa Bianca bersama gue!"
Henry menatap tajam kearah Bianca. Dirinya harus memaksa Bianca ikut bersamanya.
"Ayo ikut gue!" bentak Henry bersamaan dengan tangannya langsung menarik tangan Bianca.
"Tidak akan!" bentak Bianca lalu menarik tangannya. "Gue tidak sudi ikut sama lo. Gue jijik sama lo. Bahkan gue sudah tidak mau balikan sama lo karena gue sudah punya kekasih yang jauh lebih baik dari lo. Dia tidak seperti lo yang suka nyakitin dan mempermainkan perempuan!" bentak Bianca.
Mendapatkan penolakan dan mendengar ucapan dari Bianca membuat Henry menggeram marah. Dia tidak terima jika perintahnya tidak dituruti.
Henry kembali menarik tangan Bianca, dan kali ini Henry berhasil. Namun sayangnya, usahanya itu mendapatkan perlawanan dari Brenda, Vania dan Tania yang mana ketiganya berusaha untuk melepaskan tangan Henry dari tangan Bianca.
"Lepaskan tangannya kak Bianca!" bentak Tania.
"Lo laki-laki brengsek, Henry! Lepaskan gue!" teriak Bianca.
"Lepaskan kak Bianca!" bentak Brenda yang masih terus melepaskan tangan Henry.
Detik kemudian..
Plaakkk..
Sreekk...
Bruukkk..
"Aakkhhh!"
"Aakkhhh!"
"Brenda!"
"Vania!"
Elsa, Alice, Felisa, Lenny dan Milly seketika berteriak melihat apa yang dilakukan oleh Henry terhadap Brenda dan Vania.
Henry memberikan tamparan keras di pipi Brenda, sedangkan untuk Vania. Henry menarik rambut Vania lalu mendorongnya hingga tersungkur di lantai.
Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan yang tadinya fokus menghajar musuh-musuhnya seketika terkejut ketika mendengar teriakkan dari para kekasihnya. Mereka langsung melihat kearah dimana Brenda, Elsa, Alice, Felisa, Lenny, Vania, Milly, Tania dan Bianca berada.
Seketika Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan terkejut ketika melihat Brenda yang memegang pipinya dan Vania yang tersungkur di lantai.
Duaagghhh..
Duaaagghh..
"Aakkhhh!"
Bruukkk..
Setelah itu memberikan tendangan kepada masing-masing tiga laki-laki itu, Darren dan Dylan langsung berlari menghampiri Brenda, Vania dan yang lainnya dengan penuh amarah terutama Darren. Bahkan warna bola mata Darren saat ini telah berubah menjadi abu-abu.
Duaagghhh..
Duaagghhh..
Darren dan Dylan langsung memberikan tendangannya secara bersamaan tepat di punggung Henry sehingga membuat tubuh Henry tersungkur ke depan.
"Ssshhh." Henry meringis kesakitan di bagian punggungnya.
Darren dan Dylan bersamaan berjalan menghampiri Henry. Keduanya tampak marah dengan tatapan matanya yang begitu mengerikan. Sekalipun Dylan tidak memiliki Altar Ego, bukan berarti Dylan tidak memiliki sisi kejamnya. Justru Dylan memiliki sisi kejam itu. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Darel dan Rehan.
Henry membalikkan badannya hendak menatap kearah Darren dan Dylan. Dia tidak terima dikeroyok begitu saja.
Namun setelah Henry membalikkan badannya, Darren dan Dylan langsung kembali memberikan tendangannya di perutnya.
Duaagghhh..
Duaagghhh..
"Aakkhhh!" teriak Henry bersamaan dengan tubuhnya tersungkur di lantai sehingga punggungnya menghantam cukup kuat lantai tersebut.
"Uhuukk!" Henry seketika memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Sementara para pengunjung Mall yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu seketika merinding. Mereka menatap syok dan takut kearah Darren dan Dylan.
Darren dan Dylan tersenyum menyeringai menatap kearah Henry yang saat ini tak berdaya.
"Lo nggak apa-apa, Brenda?" tanya Elsa sembari tangannya mengusap pipi Brenda yang bekas tamparan dari Henry.
"Gue baik-baik saja, Sa!" Brenda menjawab pertanyaan dari Elsa.
"Lo bagaimana, Van!" tanya Milly dan Lenny yang saat membantu Vania.
"Gue baik-baik saja," jawab Vania.
__ADS_1
"Kalian yakin?" tanya Bianca dengan tatapan khawatir dan bersalahnya.
"Iya, kak! Kak Bianca tidak usah khawatir ya," sahut Brenda dan Vania bersamaan.
"Maafkan kakak. Ini semua salah kakak. Kalian seperti ini karena melindungi kakak."
"Kakak ngomong apa sih. Kakak nggak salah. Yang salah itu bajingan itu," sahut Vania kesal. Dia tidak suka jika Bianca menyalahkan dirinya.
"Vania benar, kak Bianca! Kakak nggak salah. Yang salah itu adalah mantannya kakak," ucap Brenda.
"Darren! Dylan! Hentikan!"
Qenan, Willy, Axel, Jerry, Darel dan Rehan berteriak bersamaan dengan mereka berlari menghampiri Darren dan Dylan yang mana saat ini kedua begitu membabi-buta menghajar Henry.
Qenan, Willy, Axel, Jerry, Darel dan Rehan telah berhasil mengalahkan orang-orang yang menyerangnya. Keadaan mereka semua sangat buruk dan tak sadarkan diri.
Selesai selesai menghajar musuh-musuhnya. Qenan, Willy, Axel, Jerry, Darel dan Rehan langsung berlari menghampiri Darren dan Dylan yang mana keduanya tengah menghajar Henry.
Brenda, Vania, Milly, Tania, Elsa, Alice, Felisa, Lenny dan Bianca langsung melihat kearah Qenan, Willy, Axel, Jerry, Darel dan Rehan yang berlari menghampiri Darren dan Dylan. Seketika mereka terkejut ketika melihat Darren dan Dylan yang masih menghajar Henry.
Grep..
Qenan dan Axel memeluk tubuh Darren dari belakang. Sementara Willy dan Jerry memeluk tubuh Dylan. Kemudian mereka menarik keduanya menjauh dari Henry yang saat ini sudah tak berdaya.
"Lepaskan gue!" teriak Dylan sembari memberontak.
Sedangkan Darren menatap tajam kearah Henry dan disertai kepalan kuat di kedua tangannya.
"Cukup, Lan! Dia sudah tidak berdaya," bujuk Jerry.
"Gue nggak peduli. Dia sudah menyakiti dua perempuan sekaligus. Pertama kak Bianca. Dan kedua Vania. Mereka berdua berharga dalam hidup gue dan hidupnya kak Daniel." Dylan berucap dengan sorot matanya yang tajam kearah Henry.
"Kita tahu hal itu, Lan! Tapi dia sudah tidak berdaya. Apa lo masih tetap terus menghajarnya?" ucap dan tanya Willy.
"Ren," panggil Axel yang menyadari bahwa Darren sejak tadi tidak memberikan reaksi apapun.
"Ren, lo baik-baik saja kan?" tanya Qenan.
Darren tetap diam, namun tatapan matanya masih fokus menatap kearah Henry.
Detik kemudian, Brenda dan Vania berjalan menghampiri kekasihnya masing-masing. Mereka sangat paham apa yang dirasakan oleh kekasihnya itu. Dan mereka tidak ingin kekasihnya itu kalap dengan membunuh Henry.
Kini Brenda dan Vania sudah berdiri di hadapan Darren dan Dylan. Keduanya menatap wajah tampan kekasihnya itu.
Qenan, Axel, Jerry dan Willy seketika langsung melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh agar Brenda dan Vania bisa berbicara dan membujuk Darren dan Dylan.
Brenda dan Vania berlahan mengusap lembut pipi putih Darren dan Dylan sehingga membuat keduanya sadar dan langsung menatap wajah cantik kekasihnya.
"Aku baik-baik saja." Brenda dan Vania mengucapkan kata yang sama di hadapan Darren dan Dylan.
Darren dan Dylan kemudian mengangkat tangannya untuk menyentuh kekasihnya. Jika Darren menyentuh pipi putih Brenda yang terlihat berbekas, sedangkan Dylan mengusap lembut kepala belakang Vania. Dia tahu bahwa kepala kekasihnya itu pasti masih sakit akibat tarikan yang dilakukan oleh Henry.
"Apa masih sakit?" tanya Dylan lembut.
"Tadi iya. Sekarang tidak lagi sejak kamu mengusapnya," jawab Vania sembari tersenyum.
Mendengar jawaban dari Vania membuat Dylan ikut tersenyum dengan tangannya masih mengusap-usap kepalanya.
"Pasti ini sakit?" tanya Darren sembari mengusap pipi putih Brenda.
Brenda tersenyum mendengar ucapan dari Darren. "Tapi sekarang tidak lagi karena kamu sudah mengobatinya dengan usapan penuh cinta," jawab Brenda.
Darren tersenyum mendengar jawaban dari Brenda. Setelah itu, Darren menarik tubuh Brenda dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Maaf."
"Untuk apa?"
"Aku lagi-lagi gagal melindungi kamu sehingga kamu berhasil disakiti oleh orang lain."
Brenda tersenyum mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Darren. Dirinya benar-benar bahagia akan sikap Darren padanya.
"Kamu tidak pernah gagal dalam hal apapun termasuk dalam melindungi aku. Kamu adalah laki-laki yang terbaik dalam hidup aku. Jadi, jangan pernah kamu menyalahkan diri kamu sendiri atas apa yang menimpaku."
Brenda melepaskan pelukannya lalu menatap wajah tampan Darren.
"Kita pulang sekarang ya."
"Baiklah."
"Lebih baik kita pulang sekarang!" seru Rehan dan Darel bersamaan.
"Baiklah!"
Dylan melihat kearah Bianca. "Kak Bianca baik-baik saja?"
"Kakak baik-baik saja, Lan! Kamu tidak perlu khawatir, oke!"
__ADS_1
Dylan tersenyum lega mendengar jawaban dari Bianca.
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan Mall tersebut untuk menuju rumah masing-masing.