KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Keterkejutan Helena


__ADS_3

Para anggota keluarga Darren dan para anggota keluarga ketujuh sahabatnya juga ikut tersenyum melihat interaksi para putra-putra dan adik-adik mereka.


"Aku harap Papa kalian tidak menawar lukisan-lukisanku. Biarkan saja orang lain," cicit Darren.


"Mana bisa begitu, Ren!" Jerry langsung menyela.


"Bodo," jawab Darren.


Darren membuang wajahnya dan menatap ke arah pembawa acara. Dirinya benar-benar kesal saat ini.


"Baiklah, kita lanjutkan. Sekarang ada sepuluh lukisan. Lima disamping kiri saya dan lima disamping kanan saya. Saya akan buka harga 3 miliar untuk lima lukisan disamping kiri saya dan 3,5 miliar disamping kanan saya."


"3,2 miliar untuk lukisan sebelah kiri," Meja nomor 10.


"3,6 miliar lukisan sebelah kiri," Meja nomor 30.


"4 miliar untuk lukisan sebelah kanan," Meja nomor 34.


"4,2 miliar lukisan yang sebelah kiri," Meja nomor 3.


"6 miliar untuk lukisan sebelah kanan," Meja nomor 15.


"6 miliar untuk lukisan sebelah kiri," Meja nomor 18.


"Apa masih ada yang menawar?"


"Sepertinya tidak ada yang menawar lagi. Jadi lima lukisan yang disebelah kanan saya ini terjual 6 miliar kepada meja nomor 15 yaitu Darren Galeri Of Art. Dan lima lukisan disebelah kiri saya terjual pada meja nomor 18 yaitu keluarga Ramoz Arca Orlando!" seru pembawa acara itu.


"Sial. Kenapa harus pria brengsek itu yang membeli lukisanku," batin Darren.


Darren menatap tajam kearah Ramoz. Para sahabatnya yang melihat hal itu, mereka pun melihat kearah pandangan Darren. Saat mereka melihat orang tersebut, mereka juga menatap tak suka.


"Jadi pria tua itu juga datang?" tanya Rehan.


"Apa wanita murahan itu datang juga?" tanya Qenan dengan nada tak suka.


"Aku sangat yakin pasti wanita murahan itu juga datang " jawab Willy yang mengerti dari pertanyaan Qenan.


"Wanita murahan? Maksud kalian apa, sih?" tanya Axel bingung.


"Kalian tidak amnesia kan? Kalian pasti tahu siapa anak perempuan dari pria tua sialan itu?" tanya Willy.


"Helena!" seru Rehan, Axel, Dylan, Jerry dan Darel bersamaan.


"Ya! Siapa lagi kalau bukan dia," jawab Qenan.


"Bukannya wanita itu di Australia?" tanya Darel.


"Dia udah balik kali," jawab Qenan.


"Bahkan dia sudah berani datang ke Perusahaan Accenture dan dengan berani memeluk Darren," ucap Willy menambahkan.


"Apa?" teriak mereka pelan.

__ADS_1


"Ren!" seru Rehan, Axel, Dylan, Jerry dan Darel, kecuali Qenan dan Willy.


"Hm." Darren mengangguk.


^^^


Setelah dua jam acara pameran lelang lukisan dan semua lukisan sudah terjual. Kini mereka memasuki acara penutup. Semua para tamu undangan dipersilahkan untuk mencicipi makanan dan minuman yang telah disiapkan. Mereka juga saling berkenalan dan mengobrol satu sama lainnya.


"Erland," panggil seseorang.


Erland yang dipanggil langsung menolehkan wajahnya untuk melihat kearah orang tersebut.


Erland sempat berpikir dan berusaha mengingat pria yang berdiri di depannya.


"Siapa, ya?" tanya Erland.


"Apa kau benar-benar lupa padaku, Erland?" tanya pria itu menatap sinis padanya.


"Aku benar-benar tidak mengenalmu," jawab Erland.


Erland pun pergi meninggalkan pria itu untuk kembali ke mejanya.


"Apa kau masih ingat bagaimana istri pertamamu meninggal? Atau jangan-jangan kau sudah melupakan istri pertamamu itu, hum?" ucap pria itu dengan kerasnya sehingga semua tamu mendengarnya. Termasuk Darren dan sahabat-sahabatnya.


Erland berhenti dan langsung membalikkan badannya. "Apa maksudmu?"


Pria itu berjalan menghampiri Erland. "Jangan pura-pura tidak mengerti, Erland! Kau sebenarnya tahu apa penyebab kematian istri pertamamu itu. Kau membunuh istri pertamamu demi ingin menikah dengan perempuan lain. Dan perempuan itu adalah adik iparmu sendiri."


BUGH!


"Jangan asal bicara kau!" bentak Erland.


Erland menatap tajam wajah pria itu, seketika dirinya tahu siapa pria tersebut. "Ternyata kau, Ramoz Arca Orlando. Aku pikir kau sudah mati. Ternyata masih hidup," ucap Erland dengan nada mengejeknya.


"Brengsek!" bentak Ramoz.


"Aku tidak pernah membunuh istriku. Aku sangat mencintainya. Aku menikah lagi karena itu permintaan istriku sendiri," jawab Erland.


"Alah. Bisa saja itu karanganmu saja biar kedokmu tidak terbongkar di depan putra-putramu, terutama putra bungsumu. Iyakan?" ucap dan tanya Ramoz dengan menatap remeh Erland.


"Jaga bicaramu, Ramoz!" bentak Erland.


Saat pria itu ingin berbicara lagi, Agneta dan putra-putranya datang. Begitu juga dengan Carissa, Evan dan ketiga putranya.


"Kalau Paman tidak tahu kebenaran tentang keluarga kami. Lebih baik Paman tidak usah ikut campur. Urusi saja keluarga Paman," sahut Davin yang memberikan tatapan amarahnya.


"Apa yang tidak aku ketahui tentang kalian, hah? Kalian itu manusia yang keji. Kalian dengan teganya menghakimi putra dan adik bungsu kalian sendiri. Kalian menuduh dan mencapnya sebagai pembunuh. Kalian tidak mempercayainya. Kalian memukul dan memakinya. Kalian lebih percaya video itu dari pada putra atau adik bungsu kalian sendiri. Sekarang coba katakan padaku. Dari sudut mana yang tidak aku ketahui tentang keluarga kalian?" Ramoz berbicara dengan lantangnya dengan menatap remeh keluarga Smith.


"Papa. Jangan bicara seperti itu pada Paman Erland. Bagaimana pun Paman Erland ini adalah calon Papa mertuaku." tiba-tiba Helena datang dan mengatakan hal yang sangat mengejutkan untuk keluarga Smith. Begitu juga dengan Darren dan para sahabatnya.


"Apa maksud dari perkataanmu itu, hah?!" bentak Darka.


"Aku Helena. Aku adalah calon istri dari Darrendra Smith dan sebentar lagi aku akan menjadi menantu dan adik ipar kalian."

__ADS_1


"Jangan asal bicara kau. Aku percaya adikku. Adikku tidak mungkin menyukai wanita murahan sepertimu!" bentak Darka.


"Jaga bicaramu. Kau tidak berhak menghina putriku!" teriak Ramoz.


Ramoz mengangkat tangannya hendak menampar Darka. Namun tangannya langsung ditahan oleh Andra.


"Jangan coba-coba kau menampar adikku. Atau akan aku patahkan tanganmu ini!" bentak Andra, lalu menghempas kuat tangan Ramoz.


Helena melihat kearah Darren yang sedang bersama para sahabatnya. Mereka berdiri tak jauh dari anggota keluarga Smith.


Detik kemudian, Helena pun berlari kearah Darren.


GREP!


Tanpa ada rasa malu, Helena langsung memeluk tubuh Darren erat. Mereka yang melihat hal itu terkejut.


"Darren. Aku merindukanmu. Kenapa kau tidak membalas pesan dariku? Bahkan kau juga tidak menjawab panggilan telepon dariku," tanya Helena.


"Cih! Menjijikkan," batin para sahabat-sahabatnya Darren.


"Helena, lepaskan." Darren berusaha berbicara lembut. Helena justru makin mengeratkan pelukannya.


"Aku bilang lepaskan!" teriak Darren.


Namun Helena tidak mempedulikan teriak Darren.


Darren benar-benar muak dan juga risih saat Helena memeluk tubuhnya.


Dan pada akhirnya hanya dengan kekerasan yang bisa melepaskan pelukan Helena.


Darren menarik tangan Helena yang memeluk kuat pinggangnya, dibantu oleh Willy dan Jerry.


Setelah terlepas, Darren langsung mendorong kuat tubuh Helena sehingga tubuh Helena tersungkur di lantai.


BRUUKK!


"Jika kau ingin tubuhmu disentuh. Lebih baik kau cari laki-laki yang lain saja. Jangan denganku. Aku tidak berselera dengan tubuhmu itu. Kau terlalu murahan dan gampangan!" Darren berbicara dengan kerasnya sehingga semua orang mendengarnya.


"Helena, sayang. Kau tidak apa-apa, Nak?"


"Aku tidak apa-apa, Papa!" jawab Helena.


"Kau....," tunjuk Ramoz ke arah Darren. "Berani sekali kau menyakiti putriku!" bentak Ramoz.


"Jika kau tidak ingin putrimu disakiti, maka kau ajarkan putrimu itu dengan baik. Jangan diajarkan menjadi wanita murahan dan menggoda semua laki-laki yang kaya raya," jawab Darren dengan lantangnya.


Helena terkejut saat mendengar penuturan dari Darren. Untuk menutup ketakutannya, Helena masih terus mendekati Darren.


Helena berdiri, lalu melangkah mendekati Darren.


"Darren, kenapa kau bicara seperti itu padaku? Aku benar-benar mencintaimu. Hanya kau laki-laki satu-satunya yang aku kenal. Tidak ada laki-laki lain," ucap Helena yang tangannya ingin meraih tangan Darren. Namun Darren sudah terlebih dahulu menghindar.


"Kau pikir aku percaya. Jangan harap. Aku sama sekali tidak mempercayaimu, Helena Orlando," ucap Darren dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Darren langsung pergi meninggalkan tempat tersebut dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya. Begitu juga dengan para anggota keluarga mereka.


__ADS_2