KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kegiatan Baksos


__ADS_3

Darren dan sahabat-sahabat sudah berada di Kampusnya. Begitu juga dengan kedua kakaknya yaitu Gilang dan Darka.


Pada hari ini di Kampus UNIVERSITY NATIONAL JERMAN merupakan momen spesial bagi mahasiswa dan mahasiswi untuk membantu masyarakat kurang mampu dalam perayaan tersebut, tim PDLSSM menyelenggarakan kegiatan bakti sosial (Baksos) berbagi kasih dengan membagikan 500-1000 paket sembako kepada masyarakat yang kurang mampu. Dan juga memberikan sumbangan berupa uang tunai untuk anak-anak Panti Asuhan ORANGE VALLEY NURSING HOMES dan JAMIYAH CHILDREN'S HOME.


Rombongan PDLSSM yang dipimpin oleh Darrendra Smith selaku ketua kegiatan di Kampus UNIVERSITY NATIONAL JERMAN dan turut hadir para pengurus panti asuhan dan warga-warga yang kurang mampu.


Di lapangan Kampus yang begitu luas terlihat anak-anak Panti Asuhan dan Warga-warga yang kurang mampu telah memenuhi lapangan Kampus.


Bakti sosial atau lebih dikenal sebagai BAKSOS merupakan salah satu kegiatan wujud dari rasa kemanusiaan antara sesama manusia. Bakti Sosial merupakan suatu kegiatan dimana dengan adanya kegiatan ini kita dapat merapatkan kekerabatan kita, untuk mewujudkan rasa cinta kasih, rasa saling menolong, rasa saling peduli mahasiswa dan mahasiswi kepada masyarakat luas yang sedang membutuhkan uluran tangan mereka.


Tujuan dari diadakan kegiatan bakti sosial masyarakat adalah untuk meningkatkan kepedulian dan rasa social terhadap kodisi masyarakat pedesaan yang makin hari makin memprihatinkan, baik dari segi kebutuhan ekonomi maupun dari segi lapangan pekerjaan, terciptanya masyarakat yang peduli terhadap sesama, memberi motivasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesadaran dalam meningkatkan wawasan.


Pertama-tama kegiatan tersebut dibuka oleh pembawa acara dan dilanjutkan sambutan-sambutan oleh ketua PDLSSM yaitu Darrendra Smith. Serta sambutan dari Rektor.


Setelah pembukaan yang dibacakan oleh pembawa acara dan kata sambutan dari Darrendra Smith selaku ketua dan Lian Darka Smith selaku wakil serta sambutan dari Rektor. Dan kini tiba saat pembagian sembako pada warga yang kurang mampu dan sumbangan untuk anak-anak panti Asuhan.


Dengan dibagikannya sembako dan sumbangan untuk anak-anak Panti Asuhan pakaian layak dapat sedikit membantu keadaan ekonomi para warga-warga tersebut.


Setelah memakan waktu sekitar 3 jam. Akhirnya kegiatan pada hari ini selesai dan berjalan dengan sangat lancar.


***


Kini Darren dan ketujuh sahabatnya berada di kelas. Begitu juga dengan kedua kakaknya. Mereka semua melepaskan rasa lelah tubuh mereka setelah 3 jam berdiri dan membagikan 1000 sembako untuk warga-warga yang kurang mampu dan 1000 sumbangan untuk anak-anak Panti Asuhan.


"Ach, lelahnya!" seru Axel, Rehan dan Darel sembari menidurkan tubuh mereka di atas meja. Mereka tidak peduli jika meja-meja itu kotor.


Sementara Darren, Qenan, Willy, Dylan dan Jerry tersenyum melihat ketiga sahabatnya yang sudah pingsan di atas meja.


"Ren. Kau baik-baik saja?" tanya Willy.


"Aku baik-baik saja, Will! Kau tidak perlu khawatir." Darren menjawab pertanyaan dari Willy sembari tersenyum.


"Ren. Jika kau lelah dan tidak enak badan. Pulang saja!" seru Jerry khawatir.


"Aku antar ya!" seru Qenan.


"Aish. Kalian ini sudah seperti Mamaku saja. Bawel, cerewet dan menyebalkan. Aku baik-baik saja, oke!" Darren menjawab dengan menatap wajah Willy, Qenan, Dylan dan Jerry.


"Oh, iya. Aku hampir lupa!" seru Dylan tiba-tiba.


"Ada apa?" tanya Darren, Qenan, Willy dan Jerry bersamaan.


"Kalian sudah pada tahu tentang dua kelompok mafia yang melindungi Samuel dan pamannya dibantai habis oleh kakak Enzo dan kakak Devian?" tanya Dylan.


"Sudah," jawab Darren, Qenan, Willy dan Jerry bersamaan.


"Aku dapat kiriman video dari kakak Jason," saut Qenan.


"Aku juga dapat kiriman video itu dari kak Yohanes!" seru Willy.


"Aish! Kalian ini bagaimana sih? Jelaslah kalian mendapatkan kiriman video itu dari kak Jason dan kak Yohanes. Kan memang tugas mereka berdua mengambil video tersebut menggunakan alat yang mereka pasang di tubuh mereka." Darren menjawab sembari menatap kesal Qenan, Willy, Dylan dan Jerry.


"Hehehehe." Qenan, Willy, Jerry dan Dylan hanya terkekeh.


Melihat keempat sahabatnya terkekeh tanpa merasa bersalah sama sekali membuat Darren bertambah kesal.


"Ach, bodoh! Aku pulang." Darren langsung berdiri dari duduknya dan kemudian melangkah keluar kelas meninggalkan sahabat-sahabatnya.


"Yak, Ren!" teriak Qenan, Willy, Dylan dan Jerry


Mendengar teriakan Qenan, Willy, Dylan dan Jerry. Axel, Rehan dan Darel langsung bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Darel dengan wajah setengah ngantuknya.


"Ada kuntilanak di belakang kalian bertiga," jawab Qenan asal.


Mendengar jawaban dari Qenan. Axel, Rehan dan Darel seketika bangun dari tidurnya, lalu berlari terbirit-birit keluar kelas.


"Hahahahaha." Qenan, Willy, Dylan dan Jerry tertawa.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Anggota keluarga Smith sudah berada di meja makan untuk melakukan ritual malam mereka yaitu makan malam. Hanya satu orang yang belum bergabung. Siapa lagi kalau bukan Darrendra Smith.


Erland, Agneta, Darka dan Gilang. Serta yang lainnya menatap bangku kosong. Kemudian mereka saling menatap satu sama lainnya. Bahkan mereka saling memberikan kode.


Mereka semua memikirkan bagaimana caranya untuk menyuruh Darren makan malam. Darren saat ini masih di kamarnya. Mereka semua takut untuk masuk ke kamar Darren setelah kejadian beberapa hari yang lalu dimana Darren yang begitu marah pada mereka. Bahkan Darren mengancam agar mereka untuk tidak memasuki kamarnya.


FLASBACK ON


Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Jika kalian masih ingin aku menginap di rumah ini. Jika kalian masih ingin aku sering main ke rumah ini. Aku minta pada kalian untuk tidak mencampuri urusan pribadiku. Selama aku berada di rumah ini. Tolong hargai privasiku. Terutama saat aku berada di dalam kamar. Jika kalian melanggar, maka selamanya aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi di rumah ini." Darren berbicara dengan penuh penekanan dan ancaman.


Mendengar penuturan dari Darren membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika Darren akan berbicara seperti itu.


FLASBACK OFF


"Bagaimana ini? Siapa yang akan memanggil Darren?" tanya Adnan.


"Tidak mungkin kan jika Darren tidak makan malam!" ucap Dzaky.


"Bibi. Kenapa tidak Bibi saja yang manggil Darren. Secara Darren kan sayang sama Bibi," ucap Andra.


Carissa pun beranjak dari duduknya. Namun ketika Carissa ingin melangkah, tiba-tiba Carissa menghentikan langkahnya.


"Maaf Nyonya, Tuan, Tuan muda. Pasti lagi nungguin Tuan muda Darren ya?" Erland dan yang lainnya mengangguk bersamaan.


"Begini Tuan, Nyonya, Tuan muda. Maaf kalau saya lupa memberitahunya. Tuan muda Darren sekitar pukul 5 sore pergi keluar. Katanya hanya sebentar."


"Kalau Darren perginya pukul 5 sore. Seharusnya Darren sudah ada di rumah sekarang!" seru Darka.


"Bibik. Apa Darren bilang kalau dia akan pulang ke rumah ini lagi?" tanya Agneta.


"Iya, Nyonya. Tuan muda Darren bilang dia akan pulang ke rumah ini lagi. Tuan muda Darren keluar ada urusan sebentar. Begitu yang dikatakan oleh tuan muda Darren pada saya."


Mendengar ucapan dari sang pelayan. Baik Darka, Gilang, Erland dan anggota keluarga lainnya bernafas lega. Mereka takut jika Darren masih marah dengan mereka lalu pergi meninggalkan rumah. Walau mereka semua tahu jika Darren memang memilih untuk tinggal sendiri dan hanya menginap beberapa hari saja di rumah kediaman Smith bersama mereka.


"Ya, sudah. Terima kasih, Bi!" Agneta berbicara dengan pelayannya.


"Sekali lagi maafkan saya yang kelupaan memberitahunya."


"Tidak apa-apa, Bibi!" saut mereka.


Setelah itu, pelayan tersebut kembali ke dapur untuk membersihkan sisa kerjaannya. Setelah itu, barulah dirinya akan istirahat.


Ketika mereka tengah memikirkan Darren, tiba-tiba mereka mendengar suara mobil di luar rumah.


Mendengar suara mobil tersebut. Mereka semua melihat dengan cara mengintip dari jendela. Mereka sengaja untuk mengintip terlebih dahulu. Mereka akan membukakan pintunya ketika Darren sudah berdiri di depan pintu dan ketika ingin menekan bell. Mereka ingin melihat ekspresi wajah Darren yang bingung dan juga terkejut ketika pulang.


"Itu Darren sudah turun dari mobilnya dan sekarang Darren melangkah kemari!" seru Daffa.


"Hei, lihatlah. Seperti Darren sedang berbicara dengan seseorang di telepon!" seru Davian.

__ADS_1


Mereka masih mengintip Darren dari jendela ruang tamu. Mereka semua bisa melihat bagaimana Darren yang berbicara sembari tersenyum manis. Darren berbicara dengan seseorang di telepon sembari melangkahkan kakinya menuju pintu rumah.


Kini Darren sudah berdiri di depan pintu rumah keluarganya sambil masih berbicara dengan di telepon.


"Terima kasih informasinya Brenda."


"Sama-sama, Ren. Kapan kita akan memulai memainkan permainan ini, Ren?"


"Permainan otomatis dimulai ketika wanita murahan itu masih menghubungimu dan masih mempercayaimu sebagai temannya. Permainan pertama. Kau tunjukkan foto-foto kedekatan kita dengan wanita sialan itu."


"Baiklah."


"Ya, sudah. Aku tutup teleponnya. Kirim salam untuk Bibi. Sabtu besok aku akan datang mengunjunginya."


"Benarkah? Awas kalau sampai kau membatalkan niatmu itu. Mama pasti senang jika kau datang. Apalagi kau juga sudah lama tidak mengunjungi Mama."


"Iya, ya. Kali ini aku akan datang mengunjungi Bibi."


"Baiklah. Aku tunggu. Aku akan buatkan makanan favoritmu dan tidak lupa minuman kesukaanmu."


"Hm."


Baik Brenda maupun Darren sama-sama mematikan panggilannya. Setelah selesai berbicara dengan Brenda. Darren memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.


Ketika Darren hendak menekan bell rumah. Namun belum sempat Darren menekannya. Pintu tersebut sudah terlebih dahulu dibuka dari dalam.


CKLEK!


"Selamat datang di rumah keluarga Smith, pangeran tampan Darrendra Smith!" seru anggota keluarganya yang kini telah berdiri berjejer


Reflek seketika tubuh Darren terkejut dan terhuyung ke belakang karena saking terkejutnya. Dan jangan lupa wajah manisnya itu. Sementara anggota keluarganya tersenyum melihat wajah terkejut Darren.


"Aish. Tidak lucu!"


Darren langsung melangkah masuk tanpa mempedulikan anggota keluarganya. Dirinya saat ini sangat kesal akan kelakuan anggota keluarganya yang telah membuatnya terkejut.


Namun detik kemudian, terukir senyuman manis di bibirnya. Darren merasakan kebahagiaan dan juga kenyamanan saat melihat anggota keluarganya menyambut kepulangannya.


^^^


Kini Darren dan anggota keluarga sudah di meja makan. Darka dan Gilang berhasil membujuk adiknya untuk makan malam sebelum pergi menuju kamarnya.


"Makan yang banyak ya sayang!" seru Erland sembari memasukkan satu potong ayam goreng ke piring Darren.


"Terima kasih, Papa." Darren tersenyum menatap wajah ayahnya.


"Sama-sama sayang. Papa tidak ingin kamu sakit," jawab Erland.


"Iya. Asal Papa tidak berencana menyuruhku makan banyak karena ingin melihatku gemuk!" seru Darren.


Mendengar penuturan dari Darren. Mereka semua tersenyum, termasuk Erland.


"Tidak sayang. Justru Papa menyuruhmu makan banyak agar tubuhmu tidak kurus," ucap Erland yang menggoda putranya.


"Papa, itu sama saja. Papa tidak mau melihatku kurus. Berarti Papa senang melihatku gemuk. Hanya saja Papa tidak mengatakan yang sebenarnya," sahut Darren dengan menatap horor Ayahnya dan mulut yang berkomat-kamit.


Erland menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk menjelaskan perkataannya barusan. Namun ketika Erland ingin menjelaskannya, Darren sudah terlebih dahulu membuka suara.


"Aku sudah lapar dan tidak bisa ditunda lagi. Kalau mau membahasnya nanti saja setelah selesai makan malam!"


Setelah itu, mereka semua pun memutuskan untuk melanjutkan makan malam sampai selesai.

__ADS_1


__ADS_2