KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Janji Tulus Davin Terhadap Darren


__ADS_3

Darren saat ini sedang duduk di sofa ruang tengah. Tatapan matanya fokus menatap ke layar laptop miliknya. Tatapan matanya begitu mengerikan. Bagi siapa saja yang melihatnya, maka orang tersebut akan ketakutan setengah mati.


"Kalian akan mati di tanganku," ucap Darren.


Tap..


Tap..


Tap..


Terdengar beberapa suara langkah kaki menuju ruang tengah sehingga membuat tatapan matanya yang tadi mengerikan berubah normal. Begitu juga dengan warna bola matanya.


"Ren!" seru semua kakak-kakaknya termasuk ketiga kakak sepupunya.


Darren langsung melihat keasal suara. Dan dapat dilihat olehnya semua kakak-kakaknya termasuk tiga kakak sepupunya telah duduk di sofa dengan menatap dirinya tersenyum.


"Lagi sibuk ya?" tanya Davin.


Darren tersenyum. "Tidak kak. Hanya mengecek saja. Kakak tidak ke kantor hari ini?"


"Sebentar lagi. Begitu juga dengan Andra," jawab Davin.


"Berarti Papa sendirian di kantor?" tanya Darren.


"Kalau Papa kamu sendirian di kantor. Terus karyawan dan karyawati Papa kamu mau kamu kemanain?" tanya Davian tersenyum evil menatap wajah tampan adik sepupunya itu.


Mendengar jawaban dari kakak sepupunya itu membuat Darren mendengus kesal.


"Balas dendam ternyata ya," ucap Darren dengan wajah kesalnya.


"Hehehehe." Davian seketika terkekeh mendengar ucapan dari adik bungsunya itu.


Darren melihat kearah Andra. Dia ingin menanyakan tentang perempuan yang sudah mengaku hamil anak kakaknya.


"Kak Andra."


"Ada apa, hum?"


"Apa perempuan itu masih mengganggu kakak? Apa dia masih mendatangi kakak dan memaksa kakak untuk menikahinya?"


Mendengar pertanyaan dari Darren membuat Andra tersenyum. Begitu juga dengan Davin dan yang lainnya.


"Tidak. Sudah dua minggu ini perempuan itu tidak lagi mendatangi kakak untuk meminta pertanggung jawaban kakak."


Darren tersenyum mendengar jawaban dari Kakak keduanya itu. Dia juga berharap perempuan tersebut tidak mengusik kakaknya.


Davin yang duduk di samping adiknya seketika mengangkat tangannya dan kemudian membelai kepala belakangnya.


Mendapatkan sentuhan di kepalanya, Darren seketika langsung melihat kearah kakaknya yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Kakak boleh nanya nggak?"


"Kakak mau nanya apa?"


"Eemm.. Ada dua pertanyaan yang ingin kakak ajukan. Dan dua-duanya itu penting untuk kakak. Kalau kamu mau jawab kakak berterima kasih sekali. Jika kamu tidak ingin jawab, tak masalah. Kakak nggak akan marah. Bagaimana pun itu adalah hak kamu."


Darren tersenyum ketika mendengar ucapan dari kakak tertuanya. Dia sangat mengerti akan maksud kakaknya yang mengatakan hal seperti itu.


"Kakak mau nanya apa. Tanyakan aja. Aku akan jawab."


Davin seketika tersenyum bersamaan dengan tangannya mengusap-usap lembut kepala belakang adiknya itu.


"Pertama, ini masalah jantung kamu. Dan kedua, masalah Rendra!" Davin berucap sembari menatap wajah tampan adiknya.


Darren kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. Dia tidak langsung menjawabnya. Sedangkan Davin melihat keterdiaman adiknya memakluminya.


"Ren," ucap Davin.


"Apa yang ingin kakak ketahui tentang Rendra dan jantungku?" tanya Darren.


"Kemarin kakak nggak sengaja dengar Paman Evan bicara sama Bibi Carissa. Paman Evan mengatakan bahwa Rendra telah kembali. Untuk jantung kamu, kakak memiliki firasat bahwa kamu kembali merasakan sakit di dada kiri kamu itu."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Davin membuat Darren hanya diam. Dia tidak menunjukkan reaksi apapun.


Davin menatap khawatir Darren. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tidak ingin membuat Darren tertekan akan pertanyaan dari Davin sehingga berujung jatuh sakit hanya karena memikirkan apa yang dikatakan oleh Davin.


"Apa yang kakak Davin dengar itu benar. Rendra telah kembali. Dan untuk jantungku, aku tidak bisa mengatakan apa aku kembali merasakan sakit itu lagi. Namun beberapa hari ini ini aku memang merasakan sakit dan sesak di dadaku," ucap Darren.


Mendengar ucapan dari Darren membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka menatap kearah Darren dengan tatapan sedih. Begitu juga dengan Daffa, Tristan dan Davian.


"Sejak kapan kamu merasakan sakit itu lagi?" tanya Dzaky.


"Sejak kejadian dimana aku sedang mencari keberadaan Nandito ketika kegiatan Touring beberapa hari yang lalu," jawab Darren.


Davin kembali mengusap kepala belakang Darren sebagai tanda dirinya memberikan sedikit ketenangan kepada adiknya itu.


"Jangan terlalu dipikirkan, oke! Apapun yang terjadi. Kakak akan selalu ada di samping kamu. Kakak tidak akan kemana-mana."


Darren langsung melihat kearah kakak tertuanya itu, lalu Darren tersenyum. Dia tersenyum akan perkataan kakaknya tersebut.


"Janji ya kakak Davin tidak akan pergi meninggalkan aku disaat aku membutuhkan kakak. Apapun yang terjadi kakak harus berada di samping. Ketika aku sakit dan terpuruk, kakak harus ada di sampingku."


Grep..


Davin langsung menarik tubuh adiknya itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Setelah itu, Davin mengusap-usap sayang punggung adiknya tersebut.


"Kakak janji akan selalu ada di samping kamu. Dan kakak tidak akan pernah ninggalin kamu," ucap dan janji tulus Davin.


"Kakak juga akan selalu di samping kamu. Kakak akan siap siaga disaat kamu kesakitan, Ren!" seru Andra dengan tangannya mengusap-usap kepala belakang adiknya.

__ADS_1


"Kakak juga Ren!" seru Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka bersamaan.


"Termasuk kita!" seru Daffa, Tristan dan Davian bersamaan.


Darren seketika melepaskan pelukannya. Kemudian menatap wajah semua kakak-kakaknya. Dapat Darren lihat bahwa semua kakaknya tersenyum tulus padanya.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Drrtt..


Drrtt..


Ponsel milik Darren berbunyi menandakan panggilan masuk.


Darren yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambilnya di saku celananya. Setelah ponselnya di tangannya, Darren melihat nama 'Willy' di layar ponselnya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi Darren pun langsung menjawab panggilan dari Willy. Dia tidak ingin membuat Willy terlalu lama menunggunya.


"Hallo, Wil!"


"Kamu dimana?"


"Di rumah. Kenapa?"


"Udah lihat videonya kan?"


"Sudah."


"Kapan kita melakukan pembalasan tersebut. Kamu nggak bermaksud menundanya kan?"


"Ya, nggaklah! Nanti sore kita akan melakukannya."


"Ya, sudah kalau begitu. Aku tutup teleponnya."


"Cuma itu?"


"Iya."


"Kamu menghubungi aku hanya untuk menanyakan tentang pembalasan tersebut. Tidak ada yang lain gitu?"


"Nggak! Hanya itu doang!"


Darren seketika mendengus ketika mendengar jawaban seenaknya dari Willy.


"Ya, udah! Pergi sana lo. Kelaut sekalian!"


Setelah mengatakan itu, Darren langsung mematikan panggilannya secara sepihak sehingga membuat Willy di seberang telepon mengumpat kesal.

__ADS_1


__ADS_2