
FLASHBACK ON
Darren dan ketujuh sahabatnya saat ini berada di ruang komputer. Mereka tengah membuat ticket untuk Pasar Murah yang akan mereka gelar pada hari sabtu dan minggu.
Tujuan Darren dan ketujuh sahabatnya mengadakan Pasar Murah itu adalah untuk membantu meringankan orang-orang yang tidak mampu membeli barang yang harganya mahal. Sementara orang-orang tersebut ingin memiliki barang tersebut.
Dan selain itu, uang dari hasil penjualan barang-barang mahal dan bermerek itu akan mereka gunakan untuk kegiatan amal mereka yang memang sudah menjadi kegiatan wajib mereka.
Bukan hanya Darren dan ketujuh sahabatnya saja yang berpartisipasi dalam acara Pasar Malam tersebut.
Brenda dan ketujuh sahabatnya yaitu Alice, Elsa, Lenny, Vania, Felisa, Tania dan Milly juga ikut dalan acara kegiatan yang diadakan oleh Darren dan sahabat-sahabatnya.
Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya masing-masing membuat ticket sebanyak 100 ticket. Dan total ticket berjumlah 800 ticket.
Ketika Darren tengah fokus membuat dan mencetak ticket itu, tiba-tiba Jerry bersuara.
"Ren," panggil Jerry.
"Hm." Darren hanya berdehem dengan tatapan matanya menatap layar komputer.
"Kamu yakin nggak akan menerima jabatan itu lagi?"
"Kamu sudah tahu jawabannya, Jer?"
"Coba kamu pikir-pikir lagi, Ren!"
Darren menghentikan kegiatannya. Begitu juga dengan Jerry dan yang lainnya.
Baik Darren maupun yang lain menatap wajah Jerry.
"Berikan satu alasan untuk aku mau menerima jabatan itu lagi?" tanya Darren.
"Mudah, Ren! Alasannya adalah kamu dan kita semua berani melawan orang-orang yang suka membully di kampus ini. Hanya kita yang berani. Sementara teman-teman kampus kita tidak." Jerry berucap sembari memberikan satu alasan kuat kepada Darren.
"Itu tidak termasuk kakak Gilang dan kakak Darka. Mereka sama seperti kita yang juga berani melawan para pembully itu," sela Qenan.
"Apa kamu nggak kasihan melihat teman-teman kampus kita dibully oleh orang-orang yang sok berkuasa di kampus ini?" tanya Darel.
"Setidaknya dengan kita semua kembali lagi dengan kegiatan organisasi kita, teman-teman kampus kita bisa merasakan kelegaan. Terutama untuk teman-teman kita yang kuliah disini lewat jalur prestasi dan beasiswa," ucap Willy.
"Mereka itu korban empuk bagi orang-orang kaya yang sombong," ucap Rehan.
"Bagaimana, Ren!" seru Dylan dan Axel.
Mendengar ucapan demi ucapan dari ketujuh sahabatnya dan melihat tatapan memohon mereka. Pada akhirnya, Darren pun menurunkan egonya.
"Baiklah," jawab Darren.
"Jadi?" tanya Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel bersamaan.
"Aku akan menemui rektor dan membicarakannya lagi. Setelah aku menerimanya, kalian umumkan kepada semua anggota untuk berkumpul di aula."
__ADS_1
"Siap!" Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel bersamaan.
^^^
Setelah mendengar ucapan dan bujukan dari ketujuh sahabatnya, kini Darren sudah berada di ruang kerja rektornya.
Darren duduk di hadapan sang rektor di meja kerjanya.
"Apa tawaran beberapa jam yang lalu masih berlaku?" tanya Darren.
Mendengar pertanyaan dari mahasiswa di depannya membuat rektor itu tersenyum.
"Masih. Masa berlakunya selamanya," jawab rektor itu sembari tersenyum.
"Udah deh. Nggak usah pake senyam senyum begitu. Saya mau kembali menjabat menjadi ketua organisasi lagi bukan karena saya sudah memaafkan anda. Saya melakukan ini hanya untuk menghentikan pembullyan di kampus ini."
Mendengar ucapan dari Darren. Rektor itu hanya tersenyum. Di dalam hatinya, rektor tersebut tak mempermasalahkan alasan Darren mau kembali menjabat menjadi ketua organisasi. Kembalinya Darren dan timnya, itu sudah membuatnya bahagia.
"Baiklah, Darren. Saya mengerti dan saya hargai niat baik kamu untuk kembali menjabat menjadi ketua organisasi."
Rektor itu mengeluarkan dua map yang berwarna merah dan kuning, lalu kedua map itu didorong ke hadapan Darren.
"Ini, bacalah!"
Darren membuka kedua map itu. Setelah dua map itu terbuka, Darren pun membacanya.
Ketika Darren membaca isi dari kedua map itu. Darren dibuat terkejut akan isinya.
"Tidak, Darren. Saya dalam keadaan sadar ketika menuliskannya."
"Saya akan memberikan tanggung jawab penuh kepada kamu akan kampus ini. Saya hanya cukup bekerja di belakang layar saja. Apapun yang kamu lakukan dan apapun keputusan kamu. Saya sebagai rektor seratus persen memberikan hak penuh kepadamu dan timmu."
Darren menatap lekat tepat di mata rektornya. Dapat dilihat oleh Darren, ada kesungguhan disana.
"Baiklah. Saya terima. Ingat! Jika anda coba-coba mempermainkan saya lagi. Saya tidak akan mengampuni anda."
"Baiklah."
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan ruang kerja rektornya.
FLASHBACK OFF
^^^
Brenda dan ketujuh sahabatnya saat ini tengah mengerjakan beberapa soal yang diberikan oleh dosennya. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
Soal yang diberikan oleh dosennya sangat banyak dan terlihat begitu sulit. Jika tidak teliti dan fokus, bisa-bisa soal-soal itu akan semakin sulit dan juga lama dikerjakannya.
Ketika Brenda dan ketujuh sahabatnya tengah fokus mengerjakan soal-soal itu, tiba-tiba datang seseorang ke meja dimana Brenda berada.
"Hei, kau!" teriak seorang gadis tepat di hadapan Brenda.
__ADS_1
Baik Brenda dan ketujuh sahabatnya langsung melihat kearah gadis yang berdiri di depan meja Brenda dan Alice. Begitu juga dengan teman-teman-teman sekelasnya.
Setelah melihat gadis yang ada di hadapannya, Brenda kembali menatap buku tugasnya. Dan kembali mengerjakan tugas-tugasnya. Begitu juga sebaliknya dengan sahabat-sahabatnya.
Melihat respon yang diberikan oleh Brenda membuat gadis itu menatap tajam kearah Brenda.
"Jauhi Darren," ucap gadis itu tiba-tiba.
Mendengar ucapan dari gadis yang ada di hadapannya membuat Brenda seketika menghentikan tangannya menulis. Brenda terkejut ketika mendengar dua kata yang keluar dari mulut mahasiswi baru itu.
"Apa aku tidak salah dengar? Dia nyuruh aku buat jauhi Darren. Emangnya dia siapanya Darren?" batin Brenda.
Alice melirik Brenda yang ada di sampingnya. Begitu juga dengan Brenda. Keduanya saling lirik.
Setelah itu, baik Brenda maupun Alice kembali mengerjakan tugas-tugasnya. Mereka tidak ingin tugas-tugasnya tidak kelar-kelar hanya karena satu hama pengganggu.
Gadis yang ada di hadapannya itu adalah Connie Noberto, mahasiswi baru di kampus tempat Darren berkuliah. Dirinya baru tiga berstatus menjadi mahasiswi baru disana.
Tujuan Connie berkuliah di kampus yang sama dengan Darren adalah agar bisa lebih dekat lagi dengan Darren. Dirinya ingin lebih jauh lagi masuk ke dalam kehidupan Darren.
"Gue ulangi sekali lagi. Jauhi Darren. Darren itu milik gue. Gue adalah kekasihnya. Gue udah lama pacaran sama Darren sebelum lo. Darren hanya menganggap lo sebagai pelampiasan saja, karena Darren lagi kangen gue. Sekarang gue udah kembali. Jadi gue minta sama lo untuk pergi dari kehidupan Darren." Connie berbicara sembari menatap jijik dan tak suka Brenda.
Sedangkan Brenda dan ketujuh sahabatnya terdiam di tempat masing-masing ketika mendengar ucapan panjang yang keluar dari mulut gadis di hadapan mereka.
Di dalam hati mereka masing-masing berkata, 'dari mana gadis itu memiliki kepercayaan tingkat tinggi berbicara ngaur seperti ini'.
Brenda dan Alice, Vani dan Elsa, Lenny dan Milly serta Felisa dan Tania saling memberikan lirikan mata masing-masing.
Setelah itu, mereka dengan kompak menatap wajah gadis yang ada di hadapannya itu.
"Hei, nona! Jika ingin berakting kenapa nggak main sinetron saja. Indosiar lagi butuh pemain Antagonis. Nah, nona bisa mendaftar disana!" seru Felisa.
"Hahahaha." Brenda, Alice, Milly, Lenny, Vania, Elsa dan Tania tertawa ketika mendengar perkataan dari Felisa. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
Mendengar perkataan dari Felisa dan suara tawa dari seisi kelas membuat Connie marah. Dirinya tidak terima dipermalukan seperti ini.
Connie menatap marah Brenda. Sedangkan Brenda hanya bersikap biasa saja.
Ketika Connie ingin membalasnya, Brenda sudah terlebih dahulu menghentikannya.
"Sudah ya, nona cantik! Jangan ganggu kami. Lebih baik nona pergi dari kelas ini. Apa nona nggak lihat jika kami sedang mengerjakan tugas? Tugas kami banyak, nona! Jika nona tetap disini dan mengajak kami mengobrol, maka tugas-tugas kami tidak akan selesai."
Mendengar perkataan dari gadis di hadapannya membuat Connie menggeram marah disertai kedua tangannya yang mengepal kuat.
Connie pun akhirnya memutuskan pergi meninggalkan kelas Brenda dengan wajah penuh amarah.
Melihat kepergian Connie seketika suasana kelas berubah berisik dengan suara tawa mereka semua.
"Hahahahaha."
Untuk Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda tidak berada di kelas. Mereka saat ini tengah membolos.
__ADS_1