KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Perubahan Sikap Talia


__ADS_3

Disini lah Darren dan ketujuh sahabatnya beserta dengan para kekasihnya berada. Di pinggiran jalanan kota.


Darren, ketujuh sahabatnya dan para kekasihnya tengah membagikan sembako kepada warga yang kurang mampu. Baik Darren, ketujuh sahabatnya maupun Brenda dan ketujuh sahabatnya memberikan masing-masing dua bingkisan sembako kepada satu kepala keluarga.


"Papa," lirih Darren.


Darren menangis ketika melihat ketujuh sahabatnya, kekasihnya dan kekasih para sahabatnya yang membagi-bagikan sembako kepada warga yang kurang mampu sembari meminta satu doa yang mana doa itu ditujukan untuk ayahnya.


"Papa! Aku berharap Papa baik-baik saja disana. Cepatlah kembali," batin Darren.


Brenda yang sudah selesai dengan kegiatannya tak sengaja melihat Darren yang dalam keadaan menangis.


Brenda langsung menghampiri Darren dan seketika Brenda memberikan pelukan hangat untuk kekasihnya.


Seketika isak tangis Darren pecah di pelukan Brenda. Dirinya saat ini benar-benar hancur. Sampai detik ini, dirinya belum mendapatkan kabar mengenai kondisi ayahnya.


Sementara Brenda yang mendengar isak tangis Darren merasakan sesak di dadanya. Dia paham apa yang dirasakan oleh kekasihnya karena dulu dia pernah merasakan kehilangan sosok seorang ayah.


"Brenda. Aku merindukan Papaku," isak Darren.


"Aku tahu itu. Kamu yang sabar, oke! Aku yakin Paman Erland baik-baik saja. Dan aku lebih yakin lagi jika Paman Erland akan kembali. Kembali ke dalam pelukan kamu, putra kesayangannya."


Brenda berbicara begitu lembut dengan tangannya mengusap-usap punggung bergetar Darren.


Sementara disisi lain, di lokasi yang sama dimana ketujuh sahabatnya dan ketujuh sahabatnya Brenda menangis ketika mendengar ungkapan kerinduan Darren terhadap ayahnya.


Setelah merasakan Darren yang sudah tenang. Brenda melepaskan pelukannya. Setelah itu, Brenda menatap wajah tampan kekasihnya itu.


"Apa masih mau dilanjutkan? Atau kita....."


"Aku masih kuat. Kita langsung ke panti asuhan."


"Baiklah."


Setelah itu, Darren dan yang lainnya langsung pergi meninggalkan lokasi untuk menuju panti asuhan. Ada empat panti asuhan yang akan didatangi oleh Darren, Brenda dan para sahabat-sahabatnya.


Sementara untuk anggota Bruiser disuruh kembali ke markas setelah mereka selesai melakukan tugasnya.


***

__ADS_1


Ziggy, Noe, Devian, Enzo dan Chico sudah berada di kediaman keluarga Dominic.


Kedatangan kelimanya disambut dengan sangat baik oleh David sekeluarga. Bahkan di kediaman Dominic juga hadir Aldez, Dellano, Valeo, Eric, Hendy, dan Dario beserta anggota keluarganya.


"Apa rencana selanjutnya, Nak Ziggy?" tanya Valeo.


"Apa yang akan kalian lakukan setelah mendapatkan kabar mengenai lokasi jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh Erland?" tanya Dario.


"Aku, Noe, Chico, Enzo dan Devian sudah membahas masalah ini bersama. Jadi, kita memutuskan mengirim masih-masing tiga tangan kanan kita bersama tiga puluh anggota mafioso kita ke lokasi jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh paman Erland," sahut Ziggy.


"Setibanya mereka di lokasi. Mereka akan melakukan pemeriksaan tempat jatuhnya pesawat itu. Serta mencari keberadaan Paman Erland dan penumpang lainnya," ucap Devian.


"Mereka akan berbagi tugas disana," ucap Enzo.


"Sementara kami disini terus memantau mereka dengan alat-alat yang sudah kami persiapkan ketika mereka tiba disana," ucap Noe.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Ziggy, Devian, Enzo dan Noe membuat Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric, Hendy dan Dario tersenyum lega.


"Apa perlu kita memberitahu keluarga Smith?" tanya Hendy.


"Jangan dulu, Paman!" cegah Chico.


"Ada baiknya, kita cari tahu dulu tentang kondisi hutan dan kondisi semua penumpang terutama Paman Erland. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kepada para tangan kanan dan para anggota mafioso kami alami ketika sedang menjalankan tugasnya." Chico menjawab pertanyaan dari Hendy.


"Benar apa yang dikatakan oleh Chico. Jika kita memberitahu keluarga Smith atau Darren langsung. Takutnya akan membuat mereka akan kembali terpuruk. Mereka semua pasti sangat bahagia ketika mendengar kabar tentang penemuan pesawat yang ditumpangi oleh Erland." Chico berucap.


"Namun jika usaha kita gagal menemukan keberadaan Paman Erland. Atau anggap saja Paman Erland tidak selamat. Coba bayangkan apa yang akan terjadi kepada semua anggota keluarga Smith, terutama Darren. Darren adalah orang pertama yang tidak akan bisa menerima kenyataan tersebut. Secara Darren hanya memiki Paman Erland, walau masih memiliki Bibi Agneta." Chico kembali melanjutkan ucapannya.


Mendengar perkataan dan penjelasan dari Chico membuat Aldez, David, Dellano, Valeo, Hendy, Dario beserta para istri mengangguk setuju. Mereka semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Chico.


"Baiklah. Kita akan merahasiakannya dari keluarga Smith," ucap Dario.


"Pokoknya masalah ini jangan sampai bocor di telinga semua anggota keluarga Smith. Jika satu saja yang mengetahuinya, maka akan dengan mudah tersebar kepada anggota keluarga lainnya," ucap Noe.


"Oh iya! Cari tahu juga siapa saja yang menjadi tangan kanannya Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel," usul Devian.


"Mereka memiliki tangan kanan yang sama," ucap Enzo.


"Dan untuk masalah ini ada baiknya juga Qenan, Willy, Axel Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tidak usah tahu. Mereka dekat dengan Darren. Takutnya apa yang kita sampaikan, apa yang akan disampaikan oleh tangan kanan mereka berujung sampai ke telinga Darren. Sekali pun kita membicarakan masalah ini kepada mereka dan meminta mereka untuk merahasiakannya dari Darren. Nanti jika sampai Darren tahu dengan sendirinya. Takutnya akan jadi bumerang untuk mereka. Darren akan berpikir jika mereka sengaja membohonginya dan berakhir mereka akan bertengkar." Ziggy menjelaskan tentang apa yang dipikirkan olehnya tentang sifat sensitif Darren yang tidak suka dibohongi.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari Ziggy membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka juga tidak ingin Darren dan ketujuh sahabatnya sampai bertengkar akan masalah ini.


***


Di kediaman keluarga Norin tampak begitu ramai dimana dua keluarga tengah berkumpul. Dua keluarga itu adalah keluarga Norin dan keluarga Aldama.


Dua keluarga tersebut sudah mengetahui apa yang dialami oleh Talia, karena Talia sudah menceritakan apa yang dialaminya ketika bertemu dengan Davin di cafe terkenal di negara Jerman.


"Papi tidak menyangka jika Davin telah mengetahui kebohongan kita selama ini."


"Apalagi Mami. Mami pikir Davin hanya tahu kalau Talia sudah mengkhianati dia. Ternyata Davin juga mengetahui kebusukan kita semua."


"Gagal deh untuk menjerat Davin kembali dan membawanya masuk ke dalam keluarga kita," ucap adik perempuan dari ibunya Talia.


"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya saudari ipar dari ayahnya Talia.


"Apapun yang terjadi. Sekali pun Davin menolakku. Aku akan tetap mengejarnya. Dulu aku memang tidak mencintai Davin. Tapi sekarang aku benar-benar mencintainya," ucap Talia dengan penuh keyakinan.


Mendengar perkataan dari Talia membuat semua anggota keluarganya terkejut.


"Talia, kamu....."


"Iya, Mami! Talia benar-benar mencintai Davin. Talia juga tidak tahu apa yang sudah terjadi terhadap diri Talia. Tapi Talia berani bersumpah bahwa Talia benar-benar mencintai Davin."


"Apa karena Davin putra dari keluarga Smith?" tanya sang ayah.


"Sekali pun Davin bukan putra dari keluarga Smith. Talia benar-benar mencintai Davin, Papi!"


Talia menatap wajah seluruh anggota keluarganya. Begitu juga dengan anggota keluarganya yang juga menatap dirinya.


"Papi, Mami. Sudah saatnya kita berhenti untuk menipu semua orang. Sudah cukup kita selama ini makan dengan hasil menipu orang. Talia benar-benar tidak ingin hidup seperti ini selamanya. Bagaimana pun Talia ingin memiliki suami yang tulus mencintai Talia. Begitu juga dengan Talia yang mencintai suami Talia dengan tulus."


"Tapi jika Papi, Mami dan kalian semua tetap pada keputusan kalian. Dan kalian tetap dengan pekerjaan kalian. Itu urusan kalian. Talia nggak akan ikut campur. Tapi Talia benar-benar ingin berhenti. Talia ingin jadi perempuan baik-baik."


"Jika seandainya kamu berubah. Namun hasilnya tetap sama yaitu Davin tetap menolak kamu. Apa yang akan kamu lakukan, Talia?" tanya saudari sepupu Talia dari pihak ayahnya.


"Kalau hal itu terjadi. Talia ikhlas. Talia nggak akan memaksa Davin lagi. Dan Talia nggak akan ganggu Davin lagi. Bagaimana pun Davin berhak bahagia bersama gadis lain. Yang terpenting niat Talia tulus untuk berubah. Tidak main-main."


Setelah mengatakan itu, Talia pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk menuju kamarnya di lantai dua.

__ADS_1


__ADS_2