KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Jatuh Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

Dan detik kemudian...


Samuel memeluk tubuh Darren dan menangis disana. "Terima kasih, Darren! Terima kasih banyak. Aku berjanji padamu, ketujuh sahabatmu dan orang-orang terdekatmu. Tidak akan ada lagi Samuel yang jahat. Yang ada hanya Samuel yang baik."


"Aku percaya padamu, Samuel Frederick!" sahut Darren.


Setelah mengatakan itu, Samuel pun melepaskan pelukannya. Samuel menatap wajah pucat Darren.


"Semoga Tuhan memberikan kesembuhan pada jantungmu agar kau tidak lagi merasakan kesakitan," ucap Samuel tulus.


Mendengar ucapan dan doa tulus dari Samuel membuat Darren dan yang lain secara bersamaan mengamiinkannya.


Setelah itu, Samuel pergi meninggalkan kediaman keluarga Smith dan diikuti oleh beberapa anggotanya yang tersisa sekitar lima puluh. Samuel memutuskan untuk ke rumah sakit menemui ibunya.


Sedangkan Gustavo langsung dibawa secara paksa oleh anggota mafia Devian dan Noe untuk dibawa ke kantor polisi.


Baik Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya, para ayah, para kakak-kakaknya dan kelima kakak mafianya menatap kepergian Samuel dan Gustavo. Mereka semua bahagia melihat Samuel yang benar-benar berubah.


Bahkan Samuel mau meminta maaf dan mengakui semua kesalahannya selama ini.


Mereka semua percaya terhadap Samuel, karena mereka bisa melihat dari tatapan mata Samuel. Terlihat kesungguhan disana. Samuel tidak lagi berpura-pura.


Dan pada akhirnya. Baik Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya, anggota keluarga mereka dan kelima kakak-kakak mafianya merasakan kelegaan dan juga kebahagiaan.


Akhirnya masalah yang mereka hadapi telah selesai. Dan ternyata permusuhan antara Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dengan Samuel hanyalah kesalahpahaman. Kesalahpahaman tersebut disebabkan oleh Gustavo paman dari Samuel.


Gustavo tidak mengakui kesalahannya kepada Samuel dimana dirinya bertengkar hebat dengan kakak laki-lakinya yang tak lain ayah dari Samuel.


Gustavo merahasiakan hal itu karena takut akan kebencian Samuel kepada dirinya. Gustavo tidak ingin dibenci oleh keponakannya sendiri, karena Gustavo begitu menyayangi keponakannya itu. Begitu juga dengan kedua keponakan perempuannya.


Demi rasa bersalahnya terhadap kakak laki-lakinya yaitu Delon Frederick. Samuel berjanji pada dirinya untuk menjaga ketiga keponakannya itu.


Gustavo mengajarkan banyak hal kepada Samuel. Salah satunya adalah berbisnis. Dan setelah satu tahun bisnis yang dijalankan oleh Samuel akhirnya membuahkan hasil. Perusahaan yang dibangun oleh Samuel menjadi sukses. Begitu juga dengan perusahaan peninggalan sang ayah.


Tepat satu setengah tahun perusahaan milik Samuel berkembang. Samuel pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Pamannya tentang kematian ayahnya.


Gustavo yang mendapatkan pertanyaan tersebut dari Samuel sedikit ketakutan. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa. Apakah dirinya harus jujur atau sebaliknya?


Tiba-tiba terlintas ide kotor di pikirannya. Gustavo mengatakan pada Samuel bahwa ayahnya meninggal karena dibunuh oleh kedelapan teman-teman satu sekolah ayahnya dulu. Gustavo juga mengatakan bahwa kedelapan teman-teman ayahnya itu musuh berat ayahnya. Kedelapan teman-teman ayahnya itu selalu bermain curang sehingga kedelapan teman-teman ayahnya itu selalu menang disetiap proyek yang diadakan oleh perusahaan-perusahaan besar.


Dengan kemenangan yang diraih oleh kedelapan teman-teman ayahnya itu membuat perusahaan ayahnya selalu tersisihkan


Memang benar apa yang dikatakan oleh Gustavo kalau Delon, ayahnya Samuel memang bermusuhan dengan ayahnya Darren dan para ayah dari ketujuh sahabatnya.


Permusuhan itu dimulai ketika mereka masih sama-sama sekolah dulu. Delon bersama kelompoknya selalu mencari masalah dengan Erland dan ketujuh sahabatnya. Delon dan kelompoknya selalu menjatuhkan Erland dan ketujuh sahabatnya di depan semua guru.


Namun dengan kepintaran dan kecerdikan Erland dan ketujuh sahabatnya, mereka selalu berhasil lolos.


Permusuhan itu berlanjut sampai mereka lulus sekolah dan sukses memiliki perusahaan masing-masing. Delon tidak pernah berhenti untuk terus mengusik kehidupan Erland dan ketujuh sahabatnya.


Dan tentang kematian Delon. Baik Erland maupun ketujuh sahabatnya sama sekali tidak mengetahui apapun. Mereka sama sekali tidak terlibat atas kematian Delon. Justru Erland dan ketujuh sahabatnya datang melayat ke kediaman Frederick. Bagaimana pun perlakuan Delon terhadap mereka. Delon adalah teman satu sekolah mereka. Lebih tepatnya teman sekelas mereka.


Sejak ide kotor itu keluar begitu saja di pikiran seorang Gustavo. Dan sejak seorang Gustavo mengarang cerita tentang kematian Gustavo Frederick, kakak laki-lakinya. Sejak itulah karakter Samuel berubah. Bahkan Samuel mempercayai semua perkataan dari Pamannya itu jika ayahnya meninggal karena dibunuh.


Dan dari situlah kejahatan Samuel dimulai. Samuel meneror satu persatu anggota keluarga dari kedelapan teman-teman ayahnya dulu.


"Kalian semua! Bersihkan semua mayat-mayat ini. Kubur mereka!" perintah Enzo kepada para mafiosonya.


"Baik, King!"


"Jangan ada yang tertinggal satu mayat pun. Periksa semua, termasuk di luar!" seru Devian.


"Siap, King!"


Mendapatkan perintah dari ketua mereka. Para mafioso pun langsung menjalankan tugasnya untuk membersihkan semua mayat-mayat para musuh.

__ADS_1


BRUUKK!


Seketika tubuh Darren jatuh tak sadarkan diri ketika semua orang tengah menatap kepergian Samuel dan Gustavo. Dan ditambah lagi pikiran mereka yang memikirkan masalah yang mereka hadapi akhirnya telah selesai.


"Darren!" teriak Brenda yang kini memeluk tubuh Darren.


Brenda menjadikan tubuhnya tameng untuk tubuh Darren agar tidak terjatuh di lantai.


Mendengar teriakan Brenda membuat mereka semua menatap kearah Darren dan Brenda.


Ketika mereka melihat kearah Brenda dan Darren. Mereka semua terkejut dan berteriak.


"Darren!"


"Darren!"


Mereka semua berlari menghampiri Darren dan Brenda.


Erland mengangkat kepala Darren dan meletakkannya di atas pahanya. Erland menangis melihat kondisi putranya. Ditambah lagi wajah putranya yang sudah pucat.


"Sayang... Hiks," isak Erland mengusap rambut dan wajah putranya itu.


"Ren," isak Brenda.


"Axel, hubungi ibumu dan suruh kemari. Sekarang!" seru Zaky.


"Tapi laser-laser itu?"


"Lasernya akan mati sendiri jika orang-orang yang di dalam paviliun itu keluar dan membuka pintu paviliun," jawab Razky.


Mendengar jawaban dari Razky membuat mereka semua menatap kearah Zaky dan Razky.


"Jadi maksud nak Razky. Semua laser yang telah terpasang di setiap sudut paviliun itu akan langsung mati jika salah satu orang yang ada di dalam keluar dan membuka pintu paviliun itu. Begitu?" tanya Dellano.


"Jadi ini arti dari perkataan Darren sebelumnya," sahut Hendy.


"Darren mengatakan apa tuan?" tanya Razky.


"Darren mengatakan jangan ada yang keluar dari paviliun itu. Apapun yang terjadi. Jika ada yang keluar, maka musuh-musuh akan membunuh mereka semua," jawab Hendy.


Mendengar jawaban dari Hendy. Mereka semua kembali menatap Zaky dan Razky.


"Jika Darren sudah mengatakan seperti itu. Berarti semua yang ada di dalam paviliun itu harus mematuhinya. Sekali pun nanti mereka melihat salah satu dari anggota keluarga ada yang mati. Mereka yang ada di dalam paviliun itu bisa melihat keluar. Sementara orang yang berada di luar tidak bisa melihat sama sekali." Zaky berucap sambil menatap para ayah dari Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Jika salah satu orang yang ada di dalan paviliun itu keluar. Alasan orang itu keluar karena melihat salah satu anggota keluarganya mati. Maka semua laser-laser itu akan mati. Dan dengan begitu musuh-musuh tersebut akan dengan mudah membantai habis semua orang yang ada di dalam paviliun itu." Razky meneruskan perkataan dari Zaky.


Mendengar penjelasan dari Zaky dan Razky membuat mereka semua mengangguk mengerti.


"Axel, buruan hubungi ibumu. Darren butuh pertolongan!" seru Noe sembari matanya menatap kearah wajah pucat Darren.


Mendengar seruan dari Noe. Axel pun tersadar. Axel melihat kearah Darren dengan tatapan khawatirnya. Dan detik kemudian, Axel pun langsung menghubungi ibunya.


"Hallo, Mama!"


"Hallo, sayang. Bagaimana?"


"Semua aman. Sudah selesai."


"Ach, syukurlah."


"Mama, buruan kemari. Darren butuh Mama. Darren pingsan. Wajah pucat sekali. Aku takut, Mama!"


"Tapi.. Itu laser-lasernya?"


"Tidak apa-apa. Lasernya otomatis akan mati sendiri jika pintunya dibuka dari dalam."

__ADS_1


"Buruan, Mama!"


"Iya, sayang."


Setelah selesai berbicara dengan ibunya. Axel mematikan langsung teleponnya. Dan Axel mengalihkan perhatiannya melihat kearah Darren.


"Ren," lirih Axel. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel.


"Darren... Bangun sayang. Lihatlah kakak disini. Jangan tinggalin kakak. Bertahanlah." Darka menangis melihat kondisi adiknya.


"Darren kesayangannya, kakak. Kakak juga disini. Kita semua disini. Bertahan ya sayang," isak Gilang.


Mereka semua menangis kala melihat kondisi Darren. Apalagi melihat wajah Darren yang sudah pucat.


"Darren!"


"Kakak Darren!"


Agneta, kelima putranya, Salsa, Carissa dan para ibu-ibu dari ketujuh sahabat-sahabatnya Darren berteriak sembari berlari menuju dimana Darren dan yang lainnya berada. Mereka semua dalam keadaan menangis.


"Mama," panggil Axel kala melihat kedatangan ibunya.


"Bibi Celsea," ucap Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka dengan isak tangis mereka.


Mereka memberikan ruang untuk Celsea agar bisa memeriksa Darren. Celsea menangis melihat kondisi Darren saat ini.


"Radeva," panggil Celsea.


"Iya, Mama."


"Ambilkan alat-alat medis Mama di bagasi mobil."


"Baik, Mama."


Radeva langsung berlari keluar rumah untuk menuju mobil ibunya.


Kemana pun Celsea pergi. Alat-alat medisnya selalu tertata rapi di dalam bagasi mobilnya. Celsea tidak pernah mengeluarkannya.


Ketika mendapatkan kabar jika akan ada penyerangan terhadap keluarganya. Dan seluruh keluarganya diminta untuk datang ke rumah keluarga Darren. Disaat itulah filling seorang Celsea muncul. Celsea langsung kepikiran Darren.


Dan sebelum pergi ke rumah keluarga Darren. Celsea menyiapkan semua alat medisnya, terutama alat medis yang akan dibutuhkan oleh Darren.


Tak butuh waktu lama, Radeva datang membawa alat-alat medis yang memang dibutuhkan oleh Darren saat ini.


"Ini, Mama!"


Celsea melihat kearah putra sulungnya. "Terima kasih sayang."


"Darren mendapatkan dua tembakan di lengan dan di pinggangnya. Dan dilihat dari kondisi Darren saat ini adalah Darren banyak kehilangan darah. Lebih parah luka tembak di pinggangnya," ucap Celsea.


Celsea berbicara sambil mengecek kondisi tubuh Darren dengan menggunakan Stetoskop.


Ketika Stetoskop itu berhenti tepat di dada kiri Darren. Seketika Celsea membelalakkan matanya. Tubuh Celsea seketika bergetar.


"Da-darren," lirih Celsea.


Melihat perubahan raut wajah Celsea. Seketika membuat Erland, Agneta dan yang lainnya merasakan ketakutan luar biasa.


"Celsea, ada apa? Katakan padaku," ucap dan tanya Erland.


"Bibi Celsea. Jangan diam saja. Katakan pada kami. Ada apa? Kenapa dengan Darren?" tanya Darka yang menangis menatap wajah Celsea.


"Tidak... Ini tidak boleh terjadi. Darren, kamu harus kembali. Jangan menyerah sayang. Apa kamu tidak ingin merayakan kemenangan kamu bersama ketujuh sahabat-sahabat kamu," batin Celsea.


Celsea membuka satu persatu kancing ke meja Darren. Setelah kancing ke meja Darren terbuka setengah dan memperlihatkan dada putih Darren. Celsea kemudian meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada Darren. Kemudian Celsea menekan secara berlahan dada Darren.

__ADS_1


__ADS_2