KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kejahilan Erica


__ADS_3

[Kediaman Smith]


"Erica senang Sus datang!" seru Erica yang saat ini memeluk Vazza.


Vazza yang mendapatkan pelukan dari majikan kecilnya apalagi ketika mendengar ucapannya membuat hatinya menghangat. Dia benar-benar bahagia mantan majikan kecilnya itu tidak melupakan dirinya disaat dia mendapatkan pengasuh baru.


"Sus juga senang bisa bertemu dengan Erica. Erica apa kabar?"


"Sehat, Sus! Kalau Sus, bagaimana?"


"Sama, Sayang! Sus juga sehat. Seperti yang Erica lihat sekarang ini."


Melihat dan mendengar obrolan ringan antara Erica dan Vazza membuat Erland, Agneta dan anggota keluarga Smith lainnya tersenyum bahagia, apalagi ketika melihat wajah bahagia Erica.


Ketika anggota keluarga Smith, Erica dan Vazza sedang berkumpul di ruang tengah, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju ruang tengah.


Baik Erland, Agneta, putra-putranya dan semua anggota keluarga termasuk Vazza yang sedang memangku Erica melihat kearah orang tersebut.


Detik kemudian...


"Papa!"


Erica langsung turun dari pangkuan Vazza dan berlarian kearah ayahnya.


Grep..


Erica langsung menubruk tubuh ayahnya itu dan memeluknya erat dan langsung dibalas dengan ayahnya dengan menggendongnya.


Yah! Orang itu adalah Darrendra Smith yang baru sampai di rumah setelah selesai urusannya di Kampus dan di dua perusahaan miliknya.


Erica memberikan ciuman di kedua pipi Darren sehingga membuat Darrendra tersenyum lebar. Dan setelah itu, Darren membalas dengan memberikan ciuman di kedua pipi Erica plus keningnya.


Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian tersenyum melihat interaksi Erica dengan Darren. Begitu juga dengan Vazza.


Vazza tersenyum bahagia dan bersyukur karena majikan kecilnya yang dulu dia asuh sampai besar mendapatkan kasih sayang dari Darren yang tak lain rekan kerja dari majikannya Fransisko Mondella.


"Tuan, Nyonya! Lihatlah putri kalian. Nona Erica hidupnya sudah bahagia. Nona Erica mendapatkan ayah yang begitu menyayanginya. Tuan dan Nyonya tidak perlu bersedih lagi di atas sana karena banyak yang menyayangi dan melindungi putri kalian." Vazza berucap di dalam hatinya sembari tatapan matanya menatap kearah Erica di dalam gendongan Darren.


Gilang yang peka akan sekitarnya melihat kearah Vazza pengasuh Erica. Dia melihat Vazza menangis ketika melihat Erica di dalam gendongan Darren, adik bungsunya.


Gilang seketika paham dan mengerti. Vazza menangis sembari melihat kearah Erica dan Darren, lebih tepatnya Erica karena Vazza merasakan kebahagiaan ketika melihat majikan kecilnya itu.


Vazza yang sadar bahwa dia menangis langsung menghapus air matanya. Dia tidak ingin ada yang melihatnya.

__ADS_1


Namun Vazza terlambat karena Gilang sudah melihatnya. Bahkan Gilang mengetahui alasan dibalik dia menangis.


"Eh, Nona Vazza! Anda disini?" tanya Darren bersamaan dengan dirinya menduduki pantatnya.


"Iya, Tuan!" Vazza menjawab perkataan dari Darren.


"Jangan panggil saya, Tuan! Panggil Darren saja."


"Kalau begitu jangan panggil saya dengan sebutan Nona. Panggil nama saja," balas Vazza.


"Hahahaha."


Bukan Erland, bukan Agneta, bukan kakak-kakaknya, bukan juga kelima adik-adiknya, Paman, Bibirnya dan kakak-kakak sepupunya yang tertawa. Yang tertawa itu adalah Erica.


Mendengar tawa keras dari Erica membuat semuanya melihat kearah Erica termasuk Darren.


"Kenapa tertawa?" tanya Darren dengan menatap putrinya bingung


"Papa itu lucu sekali. Begitu juga dengan Sus."


"Lucu? Dimana letak lucunya? Papa sedang tidur ngelawak," ucap dan tanya Darren.


"Papa bertanya sama Sus masih dengan memanggil Sus dengan sebutan Nona. Sementara Sus menjawab pertanyaan dari Papa juga masih menggunakan sebutan Tuan. Yang lebih parahnya lagi, Papa meminta kepada Sus untuk memanggil nama saja. Begitu juga dengan Sus yang meminta dipanggil nama juga. Bukankah itu lucu?"


Sementara Erland, Agneta dan anggota keluarganya tersenyum gemas ketika melihat wajah terkejut sekaligus syok Darren dan Vazza ketika mendengar jawaban dari Erica.


"Apa yang dikatakan Erica ada benarnya. Kita semua masih saja memanggil Vazza dengan sebutan Nona Vazza. Begitu juga dengan Vazza yang masih memanggil kita dengan sebutan Tuan dan Nyonya, padahal kita sudah sering bertemu dan berkumpul seperti ini." Evan berucap sembari menjelaskan sekaligus membenarkan apa yang dikatakan oleh Erica.


Mereka semua tersenyum menatap wajah Erica yang saat ini masih tersenyum menatap wajah tampan ayahnya.


"Udah pintar kamu sekarang, hum? Apalagi cara kamu ngomongnya. Siapa yang ngajari?"


"Paman Darka." Erica langsung menjawab pertanyaan dari ayahnya.


Erica mengatakan itu karena dia ingin mengerjai Paman kesayangannya di hadapan ayahnya. Dia tahu bahwa Pamannya itu akan kalah debat dengan ayahnya.


Mendengar jawaban dari Erica seketika membuat Darka terkejut dengan kedua matanya membelalak sempurna.


Sementara Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya termasuk Vazza tersenyum ketika melihat wajah terkejut Darka.


"Yak, Erica!"


Darren langsung melihat kearah kakak aliennya itu dengan tatapan matanya yang membesar.

__ADS_1


"Kakak Darka.... Eeemmmm...." Darren menggeram sembari menyebut nama kakaknya itu.


"Yak, Ren! Jangan dengarin kata-kata Erica. Kakak tidak pernah mengajarkan hal-hal buruk padanya," ucap Darka.


"Jika kakak tidak pernah mengajarkan Erica hal-hal yang buruk. Kenapa Erica pintar sekali ngomongnya. Dia berbicara udah seperti orang dewasa saja," jawab Darren dengan menatap horor kakaknya itu.


Erica sudah senyam-senyum melihat perdebatan ayah dan pamannya. Apalagi ketika mendengar pertanyaan, ucapan dan jawaban dari keduanya.


Darren yang melihat putrinya tersenyum merasakan kebahagiaan di hatinya. Dia lebih suka melihat putrinya tersenyum dari pada bersedih.


Dan untuk perkataan Erica yang memfitnah Darka, sebenarnya Darren tahu bahwa Erica sengaja mengatakan itu. Putrinya itu hanya ingin menjahili kakaknya. Putrinya juga tahu bahwa kakaknya itu akan selalu kalah berdebat dengannya.


Darren menatap wajah cantik putrinya. Dan dibalas langsung oleh putrinya.


"Jadi Papa tidak percaya dengan Erica yang mengatakan bahwa Paman Darka yang mengajarkan Erica berbicara layaknya orang dewasa?"


"Papa percaya." Darren menjawab pertanyaan dari putri bersamaan dengan memeluk tubuh putrinya itu.


Sementara Darka membelalakkan matanya tak percaya akan jawaban dari adiknya mengenai pertanyaan dari keponakannya.


"Darren, kamu jangan percaya sama Erica. Erica itu bohong sama kamu!"


"Aku lebih percaya putriku dari pada kakak Darka yang berstatus kakakku. Hubungan ayah dan anak tidak akan putus. Sementara hubungan kakak dan adik bisa putus." Darren juga ikutan seperti putrinya menjahili kakaknya.


"Hahahahahaha!"


Seketika Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Daffa, Tristan, Davian, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin tertawa keras ketika mendengar jawaban kejam dari Darren yang ditujukan untuk Darka.


Sementara Erland, Agneta, Evan, Carissa dan Vazza hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala melihat keduanya.


"Malang sekali nasibmu, Nak!" ledek Dzaky dan Adnan bersamaan.


"Kasihan... Kasihan...," ucap Daffa.


"Ikhlaskan semuanya, kakak Darka!" seru Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.


"Sialan kalian!" umpat kesal Darka.


"Jangan mengatakan kata-kata kotor di hadapan Erica, kakak Darka!"


Seketika Darka langsung mengatub mulutnya ketika mendengar ucapan dari Darren sehingga Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Daffa, Tristan, Davian, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin kembali tertawa.


"Hahahahahaha."

__ADS_1


Darren dan Erica tersenyum melihat wajah pasrah bercampur kesal Darka. Keduanya berhasil menjahili Darka, terutama Erica.


__ADS_2